Cewek Broken & Cowok Tajir

Cewek Broken & Cowok Tajir
Kesalahan Besar


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Danindra dan Atrees yang sudah kembali ke rumah Papa Pras hendak berangkat kuliah. Namun pagi itu wajah Atrees terlihat pucat, bahkan beberapa kali ia mondar mandir ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.


Kini semua sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Karna aroma masakan di atas meja makan, perut Atrees terasa mual kembali. Dan dengan cepat Atrees berlari menuju ke kamar mandi.


Oekkk..Oeeekk..


Danindra mulai panik dan segera menyusul Atrees ke kamar mandi diikuti oleh Mama Vio dan juga Papa Pras.


"Sayang, buka dong pintunya. Kamu muntah muntah lagi? Buka dong sayang pintunya, kita kerumah sakit sekarang ya," teriak Danindra panik.


"Atrees, kamu di dalam gak papa nak?" sahut Mama Vio.


Tak berapa lama, Atrees keluar sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Atrees gak papa kok mah, cuma perut Atrees rasanya penuh banget," ucap Atrees sambil berlari kembali ke dalam toilet.


Danindra menemani Atrees ke dalam toilet sambil memijat mijat tengkuk leher Atrees.


"Hari ini kita gak usah kuliah ya, aku mau nemenin kamu ke rumah sakit. Kita konsultasi sama dokter kandungan. Beberapa hari ini kami kan gak nafsu makan, aku takut semuanya akan berpengaruh sama anak kita," ucap Danindra.


"Benar nak, nanti biar papa telpon rektor kalian. Dan kamu mah, temani Danindra sama Atrees kerumah sakit ya, papa gak bisa ikut karna ada meeting penting dengan klien," sahut Papa Pras.


"Pasti pah, mama pasti akan nemenin mereka."


"Gak usah bunda, Atrees baik baik aja kok. Nanti dikasih minyak angin mualnya juga hilang."


"Eh gak bisa. Pokoknya kita ke rumah sakit sekarang ya mah. Danindra udah gak tega lihat Atrees lemes gini. Danindra panasin mobil dulu di garasi."

__ADS_1


"Iya Ndra. Kamu jangan panik kayak gitu. Ini sudah biasa di alami ibu hamil di usia kandungan yang masih muda. Tapi mama seneng lihat kamu perhatian dan peduli sama istri kamu," ucap Mama Vio.


"Ya sudah mama sama Atrees siap siap dulu. Papa pamit berangkat ke kantor dulu. Dan kamu jangan lupa bawa mobilnya jangan ngebut ngebut," sahut Papa Pras.


"Iya pah," jawab Danindra.


Atrees dan Mama Vio pergi ke kamar untuk bersiap pergi ke rumah sakit. Dan tak berapa lama setelah kepergian papanya, ada panggilan masuk di ponsel Danindra.


"Pagi Pak Totok, kenapa telpon saya pagi pagi gini?"


"Maaf mas, apa bisa saya bertemu Mas Danindra sekarang?ada hal yang mau saya bicarakan."


"Soal apa pak? Memang Pak Totok gak kerja? Papa saya barusan berangkat ke kantor, nanti kalau papa saya nyariin bapak gimana?"


"Saya sudah ijin sama Tuan Pras mas. Gimana mas? Ini soal kedua teman Mas Danindra yang saya kirim ke pedalaman Afrika."


"Itu masalahnya mas, ini sangat urgent mas. Kalau bisa kita bertemu secepatnya," jawab Pak Totok.


"Oke kita ketemu di apartemen saya aja nanti waktu jam makan siang. Karna sekarang saya mau ke rumah sakit sama mama dan istri saya. Sehabis dari rumah sakit, saya akan kabari bapak." ucap Danindra.


"Baik mas,"


"Ingat ya pak, jangan pernah cerita masalah ini sama papa dan mama saya. Apalagi sampai Atrees tahu. Dia sekarang lagi hamil muda, saya gak mau membuat dia teringat dengan traumanya dulu."


"Iya mas, selama ini semua masih aman. Dan bapak tidak tahu apa apa soal ini semua," jawab Pak Totok.


"Oke kalau gitu, sampai ketemu nanti siang."

__ADS_1


"Baik mas."


Pak Totok kini benar benar panik, karna diam diam Juan kabur dari rumah kontrakan yang ia sewa untuk menyembunyikan Juan. Ia merasa bersalah dengan Danindra.


"Juan, kamu memang anak yang gak tahu terima kasih. Harusnya aku tidak membebaskan kamu dan menuruti semua ucapan Mas Danindra. Sekarang kamu membuat aku di posisi yang sulit. Aku yakin pasti nanti Mas Danindra akan marah besar dan pastinya aku akan di pecat gara gara ulah kamu. Awas aja Juan, kalau kamu berbuat sesuatu yang membahayakan istri Mas Danindra. Gak segan segan aku akan bilang semua perbuatan kamu pada mama dan papa kamu. Ternyata aku sudah membuat kesalahan besar karna begitu saja percaya sama ucapan kamu," gumam Pak Totok sambil mengepalkan kedua tangannya.


Entah kenapa setelah menerima telpon dari Pak Totok, hatinya menjadi tak tenang. Ia merasa seperti ada hal buruk yang akan terjadi. Namun karna mengingat Juan yang sudah ia kirim ke luar negeri, perasaannya mulai sedikit tenang.


"Nada suara Pak Totok tadi seperti panik. Ada apa sebenarnya? Apa Juan dan Aya kabur? Argghh,, sudahlah lebih baik aku fokus dulu sama kandungan Atrees. Belum tentu juga apa yang aku pikirkan itu yang sedang terjadi. Mungkin ini hanya perasaanku saja," batin Danindra.


Beberapa menit kemudian, Atrees dan Mama Vio menghampiri Danindra. Dan mereka pun langsung pergi ke rumah sakit.


"Sayang, kamu lagi mikirin apa? Kok jadi diem?" tanya Atrees.


"Iya Ndra, benar kata Atrees. Mama lihat dari tadi kamu kayak cemas gitu," sahut Mama Vio.


"Enggak kok mah, sayang. Aku cuma masih cemas aja sama keadaan Atree."


"Oh, mama pikir ada apa. Ya mama maklum kok Ndra kalau kamu terlalu cemas. Kan memang baru pertama kali kamu menjadi seorang ayah. Sudah, mending kamu fokus nyetir aja. Nanti dokter akan jelasin semuanya kok," ucap Mama Vio.


"Iya sayang, aku udah gak mual kok. Badan aku juga lebih mendingan. Kamu jangan parno gitu ya. Aku sama anak kita baik baik aja kok," sahut Atrees.


Danindra melihat ke spion mobilnya dan menatap wajah Atrees. Ia tersenyum ke arah Atrees yang juga di balas senyuman oleh Atrees. Namun seketika senyuman Danindra hilang, saat melihat ada sebuah mobil yang dari tadi mengikuti dirinya.


"Mobil itu kenapa dari tadi mengikuti mobil ki ya. Pasti ada seseorang yang berusaha mengikuti aku. Lebih baik aku telpon Pak Totok dan minta dikirim beberapa bodyguard ke rumah sakit. Apa ini semua ada hubungannya dengan Juan? Lebih baik aku segera kirim pesan sama Pak Totok," batin Danindra.


Danindra dengan cepat mengambil ponselnya dan meminta bantuan dari Pak Totok. Untung saja Pak Totok langsung membalas pesan Danindra.

__ADS_1


Pak Totok sudah tahu siapa orang yang sedang mengincar mobil Danindra. Dan ia pun langsung menelpon beberapa anak buahnya untuk segera mengawal Danindra selama di rumah sakit secara diam diam, sesuai perintah Danindra.


__ADS_2