
"Danindra, kenapa kamu bawa mobilnya ugal ugalan gini. Kamu lupa kalau istri kamu itu lagi hamil. Udah pelan pelan aja bawanya," ujar Mama Vio.
"Iya sayang, kamu bawa mobilnya kenapa jadi ngawur gini sih. Pelan pelan aja yank," sahut Atrees.
"Gak papa mah, sayang. Aku pengen cepet sapi aja di rumah sakit."
Danindra kembali melihat ke arah spion, dan memang mobil itu masih berusaha mengikuti dirinya. Ia kini semakin menambah kecepatan mobilnya tanpa memperdulikan omelan mama dan istrinya.
Akhirnya mobil mereka tiba di depan lobby rumah sakit. Danindra bergegas turun dan membukakan pintu belakang.
"Ayo mah, yank kita turun," ucap Danindra.
"Ya ampun nak, jantung mama hampir ***** gara gara kamu. Untung aja kita selamat sampai sini. Kalau sampai ada apa apa, mama bakal nyuruh temen mama yang polisi buat cabut SIM kamu, ngerti!!" gerutu mama sembari memelototkan matanya.
"Iya iya mah, udah ayo kita masuk mah."
"Oh iya yank, mobil kamu gak kamu parkirin dulu?" tanya Atrees.
""Iya Ndra, mama sama Atrees nunggu kamu disini dulu aja. Lebih baik kamu taruh mobil kamu di parkiran sana, nanti kamu kena tegur pihak rumah sakit loh," sahut Mama Vio.
Bukannya menuruti ucapan mama dan istrinya, Danindra justru memanggil salah satu security untuk memindahkan mobilnya.
"Pak pak, sini," panggil Danindra sambil mengangkat tangannya.
"Oh iya pak, ada yang bisa saya bantu."
"Bisa saya minta tolong buat pindahin mobil saya pak? Saya keburu buru masuk ke dalam."
"Oh bisa pak."
"Terima kasih ya pak, oh iya ini kuncinya dan ini ada sedikit uang buat bapak beli kopi," ucap Danindra sambil memberikan beberapa lembar uang merah pada security tadi.
"Gak usah pak."
"Sudah gak papa pak, ambil aja. Ini rejeki buat bapak ya. Kalau gitu saya masuk dulu, nanti kuncinya bapak taruh di receptionist rumah sakit aja ya."
"Baik pak."
__ADS_1
Danindra kembali ke arah Atrees dan mamanya.
"Ayo masuk mah, sayang," ajak Danindra yang langsung mendapat tatapan tajam dari mama dan istrinya.
"Kenapa kok ngeliatin aku sampai kayak gitu," tanya Danindra kembali.
Plllaakk...
"Kamu itu bisanya cuma main perintah. Kenapa gak di pindahin sendiri. Malah nyuruh bapak security buat mindahin mobil kamu. Dasar kamu itu sama aja kayak papa kamu!!" teriak Mama Vio.
"Udah dong mah, malu di lihat orang. Danindra ini udah besar, kok masih di pukul sama di jelek kayak anak kecil," rengek Danindra.
Atrees yang semula kesal pada suaminya, kini malah terkekeh geli melihat mama mertuanya menghukum Danindra di depan umum.
"Hahahaha, ternyata suami gue punya rasa takut juga." batin Atrees sambil menutup mulutnya.
Dari jauh ada sepasang mata yang melihat kebahagian keluarga Danindra. Ia pun mengepalkan kedua tangannya, dan bergegas turun sambil membawa sebuah pistol di saku belakang celananya.
Setelah turun dari mobil, ia pun memakai kacamata hitam dan topinya. Ia mengarahkan pistol itu untuk mengincar kepala Atrees yang akan ia tembak nanti.
"Kalau gue gak miliki elo, Danindra pun juga." lirik Juan.
"Kamu memang pantas di hukum tuan Danindra. Saya menyesal karna dulu sudah percaya dengan ucapan kamu. Cepat turunkan pistol itu, atau saya sendiri yang akan membunuh kamu," gertak Pak Totok.
Juan lalu membuat pistol itu. Ia pun mengangkat kedua tangannya.
"Om, om salah paham. Ini gak seperti yang om lihat," ucap Juan yang berusaha membela diri.
"Kamu pikir saya buta, sekarang cepat kalian bawa anak ini ke markas kita. Nanti biar tuan Danindra sendiri yang akan membuat perhitungan dengannya."
Beberapa anak buah Pak Totok membawa Juan masuk ke mobil hitam miliknya.
Didalam mobil, Juan berusaha meyakinkan Pak Totok untuk memaafkan dirinya. Namun semua usahanya sia sia. Pak totok sudah terlanjur kecewa dan marah dengannya.
Pak Totok lalu mengambil ponselnya dan ia segera menelpon Danindra.
Melihat ada panggilan dari Pak Totok, Danindra pamit pada mamanya dan Atrees untuk pergi mengangkat telpon.
__ADS_1
"Mah, sayang, aku angkat telpon bentar ya,"
"Kenapa gak diangkat disini sih yank?" tanya Atrees.
"Iya, kamu ini kenapa sih Ndra. Mama lihat sikap kamu hari ini aneh banget," timpal Mama Vio.
"Aneh gimana sih mah, udah ya nanti aku jelasin ke kalian. Aku pergi kesana bentar."
"Tapi sayang..." teriak Atrees namun Danindra sudah pergi meninggalkan mereka.
Terlihat kekesalan di wajah Atrees, dan akhirnya Mama Vio pun berusaha meredakan kemarahan Atrees.
Di sudut ruangan, Danindra menelpon balik Pak Totok. Ia dapat merasakan ada hal yang baru saja terjadi.
"Hallo Pak, bapak ada dimana sekarang?"
"Maaf mas, saya sudah di jalan menuju markas besar keluarga. Ada hal yang ingin saya tunjukkan pada Mas."
"Apa itu Pak? Apa baru saja terjadi sesuatu?"
"Iya mas, maafkan saya ya mas karna kebodohan saya dulu saya hampir membahayakan nyawa keluarga mas," ucap Pak Totok yang seketika membuat Danindra bingung.
"*Kebodohan apa maksud kamu? Bicara yang jelas."
"Sebenarnya waktu mas nyuruh saya untuk membuang kedua teman mas, saya tidak sungguh sungguh mengirim mereka. Karna ternyata Juan itu adalah anak dari sahabat saya dan istri saya mas. Dan dia sudah berjanji untuk tidak mengusik kehidupan mas. Tapi ternyata dia berbohong. Dia tadi hampir menembak istri mas, namun untungnya saya dan anak buat saya datang tepat waktu. Dan kini dia sudah berada bersama kami dan akan kami bawa ke markas besar."
"BODOH!! kamu sudah gila Totok. Kalau tadi sampai terjadi sesuatu pada istri dan mama saya, saya akan pastikan kamu membusuk di penjara. Kamu itu orang kepercayaan keluargaku, tapi gara gara kamu aku hampir saja kehilangan orang yang begitu berarti di hidup saya. Kamu tahan dia sampai saya datang, sebentar lagi saya akan kesana. Jangan sampai Juan lolos lagi. Dan saya juga mau bicara sama kamu."
"Baik mas. Sekali lagi maafkan saya mas*," ucap Pak Totok namun ucapannya tak di respon oleh Danindra.
Danindra kini berjalan kembali menemui istri dan mamanya.
"Mah, Atrees, aku harus pergi sekarang. Ada hal penting yang harus aku selesaikan," pamit Danindra.
"Loh kamu mau kemana? Aku ikut," rengek Atrees sambil memegang lengan Danindra.
"Sebentar aja kok yank. Nanti kamu dan mama pulang sama sopir. Aku udah telpon sopir untuk kemari dan jemput kalian. Nanti aku pasti jelasin ke kamu tentang semuanya."
__ADS_1
"Memang kamu mau kemana sih Ndra?" sahut Mama Vio.
"Nanti aja ya mah dirumah Danindra cerita semua. Sekarang Danindra mau pergi dulu. Dan kalau ada apa apa, telpon aku aja ya. Aku pamit dulu ya mah, sayang," ucap Danindra sambil mencium pipi mama dan istrinya.