
Mama Priska pun berjalan mendekat ke arah Danindra yang masih duduk sambil menangkup wajahnya.
"Ndra, jujurlah sama mama. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mama Priska.
Danindra yang masih merasa bersalah, duduk bersimpuh di depan Mama Priska.
"Mah, maafin aku," ucap Danindra sambil menceritakan semua yang terjadi.
Mama Priska hanya menunduk lesu, ia sudah tidak dapat berkata dengan apa yang dialami oleh putrinya. Air matanya pun mulai jatuh. Dan karna rasa kecewanya, ia dengan segera melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman tangan Danindra.
"Ndra, kamu keterlaluan. Kenapa kamu jika bersikap kasar dengan istrimu sendiri. Atrees sedang mengandung anak kamu. Sikapnya berubah itu pun juga kemauan dirinya. Mama kecewa sama kamu," ucap Mama Priska sambil berdiri.
"Mah, aku tahu aku salah. Makanya aku mohon mah, bantu aku untuk meyakinkan Atrees. Aku janji mah aku akan berubah. Dan aku akan lebih ekstra perhatian dengan Atrees."
"Entahlah Ndra, kamu seperti mengingatkan kembali goresan yang Atrees alami. Dulu alasan mama bercerai dengan papanya Atrees karna dia selalu membentak dan bersikap kasar pada mama di depan Atrees. Makanya Atrees seperti trauma saat dia juga mengalami hal yang sama di rumah tangganya. Harusnya kamu tidak perlu mengurus anak yang bukan anak kamu. Kamu paham!!" teriak Mama Priska.
"Iya mah, aku mengerti. Aku janji aku tidak akan peduli lagi dengan Sandra ataupun anaknya."
"Hmmm, baiklah. Tinggal kita tunggu kabar dari dokter. Semoga Atrees dan calon cucu mama baik baik saja."
"Iya mah," jawab Danindra.
Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Atrees keluar dari ruangan. Danindra pun bergegas menghampiri dokter tersebut.
"Dok, gimana keadaan istri saya dan kandungannya? Mereka baik baik saja kan dok?" tanya Danindra.
"Iya dok, gimana keadaan putri saya dan bayinya? Mereka gak kenapa-napa kan?" sahut Mama Priska.
Dokter hanya menggeleng. Ia pun menarik nafas panjangnya sambil menepuk pundak Danindra.
"Maafkan kami mas. Karna pendarahannya terlalu banyak, istri anda mengalami keguguran. Kandungannya pun lemah. Dan kami ingin meminta persetujuan dari keluarga, untuk melakukan kuret pada pasien," ucap Dokter.
Danindra terduduk lemas, tangisnya pecah ketika ia harus kehilangan calon buah hatinya bersama Atrees. Ditambah, ia bingung harus berkata apa dengan Atrees nanti. Keyakinannya untuk mendapat maaf dari Atrees seakan sirna.
"Jadi maksud dokter anak saya kehilangan bayinya?" tanya Mama Priska.
"Iya bu, hanya saja ibunya masih bisa diselamatkan. Mungkin sebentar lagi pasien akan sadar. Silahkan masuk bu, dan saya tunggu persetujuan keluarga untuk melakukan kuret. Karna semakin cepat semakin lebih baik."
"Baik dok," jawab Mama Priska.
__ADS_1
Sebelum pergi Mama Priska hanya melirik sekilas ke arah Danindra tanpa berucap satu kata apapun.
Danindra masih duduk lemas di samping pintu. Hatinya hancur karna harapannya untuk memiliki seorang anak telah hancur karna kebodohannya.
"Arrrrghhhh, kenapa aku gak bisa mengontrol emosiku tadi. Aku yakin, Atrees akan membenci aku dan sekarang rumah tanggakj benar benar di ujung tanduk. Kamu bodoh Ndra, kamu bodoh," teriak Danindra sambil memukul dinding.
Saat dirinya masih menyalahkan dirinya sendiri, Mama Vio dan Papa Pras pun datang. Mama Vio berlari mendekati Danindra sedang memukulkan tangannya ke tembok.
"Danindra, ada apa? Kenapa kamu seperti orang gila begini?" tanya mama.
"Ndra, berhenti. Kenapa kamu disini? Mana mama mertua kamu dan bagaimana dengan kondisi Atrees?" tanya Papa Pras dengan suara lantang.
Danindra menghentikan kekesalannya. Ia kembali duduk sambil menangkup wajahnya kembali.
"Mama Priska ada di dalam," jawab Danindra lemah.
"Terus kenapa kamu disini? Kamu tidak menemani Atrees didalam dan bagaimana semua bisa terjadi sih Ndra?" tanya Mama Vio.
Danindra pelan pelan memberanikan diri untuk menatap wajah mama dan papanya.
"Atrees baik baik saja," jawab Danindra pelan.
"Alhamdulillah...," ucap Mama Vio namun langsung di potong Danindra.
"APA??" teriak Papa Pras.
"Bagaimana bisa. Apa kamu gak becus menjaga istri kamu!!" teriak Papa Pras sambil menarik krah baju Danindra.
"Pah sudah pah. Kita dengar penjelasan Danindra dulu. Tenang," ucap Mama priska sambil mengelus punggung suaminya.
Papa Pras pun melepas cengkraman di krah baju Danindra.
"Sekarang cepat kamu ceritakan pada kami. Bagaimana awal mula Atrees bisa keguguran?" tanya Papa Pras.
Danindra kembali menceritakan dari awal hingga kejadian terakhir yang membuat Atrees depresi. Sedangkan Mama Vio yang tak menyangka dengan kebodohan putranya seketika bersandar lemah di dinding.
"Ndra, kenapa kamu bisa lakukan itu. Apa mama mertua kamu sudah tau?" tanya Mama Vio.
"Iya mah, udah. Dan mama seperti benci dengan aku," jawab Danindra.
__ADS_1
Pllllaakkkk.....
Papa Pras menampar keras pipi Danindra karna sikapnya yang bodoh, hingga mereka harus kehilangan calon cucu mereka.
"ANAK BODOH!!! Berkali-kali papa sudah bilang, lupakan Sandra!! Apa kurangnya Atrees sebagai seorang wanita??" teriak Papa Pras.
"Dulu memang aku sangat mencintai Sandra pah, tapi setelah Atrees datang aku sudah gak ada perasaan apapun. Aku hanya kasihan dengan nasibnya," elak Danindra.
"Kasihan kamu bilang? Sekarang lihat karna rasa kasihan kamu dengan dia, kamu harus kehilangan calon anak kamu. Otak kamu dimana sebenarnya? Sudah papa mau masuk kedalam. Papa mau lihat kondisi menantu papa," ucap Papa Pras.
"Aku ikut pah," sahut Mama Vio.
"Ndra, mama kecewa sama kamu," bisik Mama Vio sambil berjalan masuk kedalam kamar Atrees.
Beberapa saat setelah kepergian papa dan mamanya, seorang suster kembali menemui Danindra.
"Maafkan pak, bagaimana? Apa operasi kuret untuk ibu Atreesnia bisa dilakukan nanti malam?" tanya suster.
"Iya sus, lakukan saja," jawab Danindra dengan tatapan kosong.
"Baik pak, silahkan tanda tangan di bawah ini ya pak."
"Baik," jawab Danindra sambil menandatangani kertas persetujuan operasi di depannya.
Danindra masih saja duduk dengan tatapan kosong. Air matanya kembali jatuh, karna menyesali ketika mengingat perlakuannya pada Atrees hingga membuat ia kehilangan janin di perut Atrees.
"Maafkan daddy nak, daddy bodoh. Daddy sudah membuat kamu meninggal. Maafkan daddy sayang," batin Danindra yang terus mengutuk dirinya sendiri.
Sesaat kemudian, Danindra memberanikan diri untuk masuk ke kamar istrinya. Dan ia melihat Atrees masih terbaring lemah dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
"Sayang," ucap Danindra mendekat ke arah Atrees.
Namun niat Danindra justru disambut buruk oleh Atrees.
"KELUAR!!!!" teriak Atress dengan suara keras.
"Maafin aku sayang," ucap Danindra sambil terus berjalan menghampiri istrinya.
"AKU BILANG KELUAR!!!" teriak Atrees kembali.
__ADS_1
Papa Pras yang tak tega melihat keadaan menantunya, langsung menarik lengan Danindra dan menyeret putranya keluar dari ruangan.
"Jangan buat keadaan istrimu semakin tidak stabil. Lebih baik kamu keluar, tunggu sampai kondisi istrimu membaik. Dia masih sedikit syok karna harus mengalami hal ini yang diakibatkan kebodohan suaminya sendiri," ucap Papa Pras sambil menarik Danindra keluar dari ruangan Atrees.