
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu di rumah Mama Priska.
"Sebentar," ujar mama.
Ceklek...
"Mah," sapa Danindra sembari mencium tangan mama.
"Danindra, masuk nak. Atrees ada di kamar."
"Iya mah. Tapi kalau Danindra boleh tahu ada apa ya mah?" Danindra mulai cemas. Takut akan kenyataan buruk yang harus ia terima akibat perbuatannya.
"Entah Ndra. Atrees gak mau bilang juga sama mama. Nanti apapun keputusan Atrees, mama harap kamu bisa terima ya Ndra."
"Maksud mama apa? Tolong jelasin ke aku mah."
"Sudah Ndra, jangan desak mama terus. Sekarang lebih baik kamu segera ke kamar. Atrees dari tadi sudah menanyakan kedatangan kamu sama mama."
"Baik mah, Danindra temui Atrees dulu ya."
"Iya Ndra," jawab mama.
Satu per satu anak tangga mulai di naiki Danindra. Rasanya langkah ini begitu berat, tak seringan dulu seperti saat ia masih bersama dengan Atrees.
"Ya Tuhan, sekali lagi aku mohon padamu. Kasih aku satu kali lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya," batin Danindra.
Tangan sudah ingin mengetuk, namun hatinya masih belum siap. Danindra kembali menurunkan tangannya dan hendak berbalik dari kamar Atrees.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka. Atrees sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Langkah Danindra kembali terhenti, dan ia pun segera membalikkan tubuhnya kembali.
"Atrees," ujar Danindra.
"Hmmm, sejak kapan kamu berdiri disini? Terus kenapa gak jadi ketuk pintu? Mau pulang?" tanya Atrees sinis.
"Enggak sayang. Aku hanya masih belum siap dengan semua yang akan aku dengar dari mulut kamu sekarang."
"Belum siap? Apa alasannya? Bukankah semua yang terjadi karna kebohongan yang kamu sembunyikan dari belakangku hingga kita harus.."
__ADS_1
Danindra tak bisa mendengar kata yang akan di ucapkan oleh Atrees. Jujur, hatinya juga masih sakit akibat kehilangan darah daging mereka. Danindra langsung menutup mulut Atrees dengan tangannya, menghentikan ucapan yang akan membuat hatinya kembali terluka.
"Trees maafin aku. Sampai kapan kamu mau menghukum aku seperti ini. Aku tahu aku salah, tapi tolong Trees kasih aku kesempatan. Aku sudah merasa bersalah dan menyesal atas kehilangan anak kita. Jangan buat aku tambah menyesal dan bersalah karna harus kehilangan kamu. Aku mohon Trees, kasih aku kesempatan sekali lagi," Danindra memeluk tubuh istrinya begitu erat, sengaja tak mau melepaskan meski Atrees berusaha terus menolak.
"Lepas Ndra, lepas."
"Enggak, aku gak akan lepasin kamu," Danindra tegas menolak permintaan Atrees. Pikirannya sudah tak sanggup jika harus melepaskan Atrees untuk selamanya.
"Kamu gak mau ajak aku pulang. Kalau kamu peluk aku terus, lebih baik aku tidur rumah mama lagi dan mengurungkan niat ku buat pulang ke rumah kamu," sontak ucapan Atrees membuat Danindra sedikit meregangkan pelukannya.
Perlahan tubuh Atrees terlepas dari delapan Danindra. Mata Danindra masih tak berkedip. Apakah ia salah dengar? Entahlah. Namun sepertinya ini mimpi.
"Ndra, kok diem? Mau pulang gak?" tanya Atrees.
Dipegangnya kedua pundak Atrees, memastikan kembali telinganya tak salah dengar. "Tunggu sayang tunggu. Aku gak salah denger? Kamu barusan bilang apa?"
Untuk pertama kalinya, Atrees tersenyum pada Danindra setelah hampir sebulan mereka tak berhubungan apalagi bertatap muka.
"Iya, aku kasih kamu satu kesempatan lagi. Dan aku harap jangan sia siain apa yang sudah aku beri sama kamu," ucap Atrees.
"Jadi maksud kamu sayang? Kamu maafin aku? Kamu mau pulang kerumah kita?"
Saking bahagianya, Danindra menggendong tubuh Atrees, membawanya berputar putar dan setelah itu menghujani wajahnya dengan begitu banyak kecupan.
Cup..Cup..Cup
"Makasih sayang. Aku janji aku gak akan melakukan hal yang akan menyakiti hati kamu lagi. Dan aku janji, ini terakhir kalinya aku berbohong sama kamu. Mulai detik ini, segala sesuatu akan aku ceritakan sama kamu."
"Aku pegang janji kamu Ndra. Tapi mungkin untuk beberapa waktu ke depan, kasih aku waktu sendiri. Luka itu masih ada Ndra dan gak semudah itu aku bisa bersikap seperti dulu sama kamu. Aku mohon kamu mau mengerti ya," Atrees kembali melepaskan tangan Danindra dengan sedikit memalingkan wajahnya.
"Iya aku ngerti sayang. Dan aku akan terus berusaha untuk mengobati lagi hati kamu yang sudah terluka," jawab Danindra.
Dari balik dinding, Mama Priska begitu terharu dengan keputusan putrinya. Ia tak menyangka, jika keputusan yang Atrees ambil berbeda dengan tebakannya.
"Mama bangga sama kamu Trees. Kamu lebih bisa bersikap dewasa di bandingkan mama. Mama pikir kamu akan berpisah dengan Danindra, tapi kamu lebih lapang menerima semua. Mama berdoa, semoga ini masalah terberat dalam bahtera rumah tangga kalian," gumam mama dalam hati.
Setelah puas melepas rindu, Danindra kembali menatap mata istrinya. Meski ia sudah mendapat maaf, tak dapat di pungkiri masih ada rasa kesal yang terpancar dari sorot mata Atrees.
"Sayang, kamu udah makan?" Danindra basa basi, memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka.
"Udah. Kita pulang sekarang?" tanya Atrees dengan nada yang masih sedikit sinis.
__ADS_1
"Besok aja ya, udah malam. Aku boleh kan tidur disini?"
"Hmmm, terserah. Tapi aku masih belum bisa tidur sama kamu."
"Iya gak papa. Aku tidur di kamar cena atau kamar tamu juga gak papa. Kamu istirahat ya, aku mau telpon mama dirumah buat kabari mereka tentang kabar bahagia ini."
"Iya, yaudah aku masuk ke kamar dulu," pamit Atrees.
Baru saja membalikkan badan, Danindra kembali memeluk tubuhnya dari belakang.
"Yank, jangan lama lama ya marahnya. Selama hampir sebulan aku seperti orang yang gak punya gairah untuk hidup. Kamu itu separuh hatiku yank, kalau kamu gak ada aku akan rapuh," Danindra menangis dalam pundak istrinya, menyandarkan kepalanya di bahu. Berusaha mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Deg..
Tak terasa air mata Atrees pun jatuh. Meski hatinya sakit, rasa kecewanya pun dalam, tapi ia juga tak tega melihat keadaan suaminya.
Tubuh yang semakin kurus, rambut yang mulai panjang. Memperlihatkan Danindra seperti orang yang tak bisa mengurus diri.
Pelan pelan Atrees menaruh tangannya di atas tangan Danindra yang melingkar di perutnya. Matanya terpejam, rasanya ingin sekali ia memeluk tubuh suaminya sekarang. Tapi bayangan akan kesalahan Danindra, masih tersimpan dalam memorinya.
"Ndra, jangan kayak gini. Aku sudah memaafkan kamu, cuma aku minta waktu," ujar Atrees.
"Iya sayang. Aku hanya ingin memeluk kamu sebentar saja. Sudah lama aku tak merasakan kehangatan seperti ini," pinta Danindra.
Atrees membiarkan suaminya untuk tetap memeluknya. Sesekali Danindra juga mengembus rambut istrinya, merasakan aroma rambut yang dulu setiap hari ia rasakan.
Beberapa menit berlalu, Danindra mulai melepaskan pelukannya kembali.
"Selamat malam istriku, semoga mimpi indah," sebuah kalimat penutup di ucapkan Danindra sebelum ia pergi meninggalkan Atrees di kamar.
"Iya Ndra, selamat malam. Semoga kamu juga mimpi indah," jawab Atrees sembari mencium pipi kanan Danindra lalu bergegas masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Klek..
Terdengar suara pintu sudah terkunci, dan Danindra masih saja terperanga di tempat yang sama.
Perlakuan Atrees barusan, masih membuatnya tak percaya. Kesedihan itu berubah menjadi kebahagiam. Danindra memegang pipi yang baru saja mendapat ciuman dari sang istri.
"Makasih Atress. Aku akan buktikan sama kamu, jika aku akan berubah menjadi lebih baik. Kita memang sudah kehilangan satu orang anak, tapi aku akan berusaha memberikan beberapa anak lagi setelah ini," sedikit lengkungan di bibir terurai dari bibir Danindra sembari berjalan pergi menuju kamar tamu.
Hatinya yang semula gusar kini terasa lega. Penantian dan kesabarannya menantikan maaf dari Atrees sudah membuahkan hasil. Tinggal saatnya ia membuktikan jika ia akan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1