
Setibanya di depan rumah Mama Priska, Atrees pun langsung berlari masuk meninggalkan Danindra yang masih berada di belakangannya.
Ting.. Tong...
Mama Priska pun langsung membukakan pintu dan melihat kedatangan putri dan menantunya.
"Atrees, Danindra, ayo masuk," ajak Mama Priska.
"Iya mah," jawab Atrees.
"Kok tumben malam malam kesini? Kalian mau menginap disini?" tanya mama.
"Iya mah, Atrees pengen makan masakan mama. Padahal tadi kita juga habis dari restoran. Tapi di tengah jalan Atrees pengen makan lagi, tapi masakan mama. Kayaknya dia lagi ngidam mah," jawab Danindra.
"Hahahaha, kamu yang sabar ya Danindra. Wajar, Atrees kan baru hamil muda, jadi dia lagi masa perubahan hormon. Kebetulan tadi Cena dan papa habis makan malam disini. Itu masih ada sisanya. Ayo sayang kita ke meja makan."
"Iya mah, emang mama masak apa?" tanya Atrees dengan wajah Sumringahnya.
"Banyak sayang, ada karedok, ayam bumbu kuning, perkedel, sama es buah."
"Wah enak tuh mah."
"Yaudah ayo nak kita makan. Danindra ayo ikut makan sekalian," ajak Mama Priska.
"Iya nanti aja Danindra nyusul mah. Danindra masih kenyang."
"Yaudah kalau gitu. Kita ke ruang makan dulu ya," pamit mama.
"Iya mah," jawab Danindra.
Sambil menghilangkan rasa bosannya, Danindra bermain game di teras depan rumah. Namun tiba tiba Sandra menelpon dirinya.
"Sandra? Ada apa dia telpon aku?Aku kan sudah pernah bilang, kalau aku dirumah jangan telpon aku. Nanti kalau Atrees tahu dia pasti akan salah paham lagi. Tapi kalau ini penting gimana? Lebih baik aku angkat sebentarlah," batin Danindra sambil berjalan keluar pagar.
Danindra pun akhirnya mengangkat telpon dari Sandra yang sedari tadi terus menghubungi dirinya.
"Halo San, ada apa?"
"Ndra, apa bisa besok kita bertemu?Aku ingin meminta tolong ke kamu untuk mengantar aku ke rumah sakit. Naya sakit Ndra."
"Naya sakit?"
"Iya Ndra."
"Maaf San, bukannya aku menolak tapi sekarang tugasku sudah selesai. Kenapa kamu tidak meminta tolong Juan. Bukankah kamu sudah bertemu dengannya."
__ADS_1
"Memang sudah, tapi hatiku masih sakit untuk menerimanya kembali. Aku lebih memilih kamu Ndra, aku rela bila harus kamu jadikan nomor dua. Aku sadar sekarang jika yang aku cintai itu kamu Ndra, bukan Juan."
"Gila kamu San, aku bukan tipe laki laki poligami. Aku mencintai istri dan calon anakku. Lagi pula aku sudah tidak mencintai kamu. Jadi jangan pernah kamu berpikiran jika aku akan melakukan hal itu."
"Tapi Ndra.."
"Sudah San, lebih baik mulai sekarang kamu urus kehidupan kamu sendiri. Karna sekarang aku juga sudah memiliki keluarga."
"Danindra..."
Danindra langsung mematikan panggilannya tanpa mendengarkan ucapan Sandra yang belum selesai. Namun saat berbalik, ia terkejut melihat Atrees sudah berdiri di belakangnya.
"Sayang, kok kamu ada disini?"
"Tadi yang telpon siapa? Sandra?" tanya Atrees dengan tangan yang mendekap di dadanya.
"Itu tadi ehmmm..," Danindra mulai bingung mencari alasan untuk Atrees.
Dengan mata berkaca-kaca Atrees pun menatap wajah Danindra dengan mata sayunya.
"Kenapa Ndra? Apa susahnya kamu itu jujur sama aku. Sebenarnya ada apa antara kamu dan Sandra? Kamu masih mencintai dia? Kalau memang iya, aku rela kamu bersamanya. Aku sadar Ndra, dia cinta pertama kamu. Pasti kamu susah melupakan dirinya, dan cinta kamu ke aku hanya pelarian. Nanti jika anak kita lahir, aku akan mengurus perceraian kita," ucap Atrees sambil memejamkan matanya dengan air mata yang mulai berjatuhan.
Danindra pun langsung mendekap tubuh Atrees dan memeluknya dengan erat.
"Bohong!!! Nyatanya selama ini kamu sabar menghadapi Sandra saat hamil. Tapi sama aku, kamu selalu kesal ketika aku meminta sesuatu. Kamu sadar tidak jika sikap kamu dengan aku dan Sandra itu berbeda. Lagipula aku sudah dengar pembicaraan kamu tadi. Aku bisa melihat kepanikan di wajah kamu mendengar anak Sandra sakit. Pergilah jika kamu mau pergi, aku tidak ingin kasih sayang anakku terbagi dengan anak dari wanita lain," ucap Atrees dengan nada meninggi sambil mendorong tubuh suaminya.
"Atrees tunggu, kamu jangan salah paham. Aku memang sangat menyayangi Naya. Tapi kasih sayangku tetap akan utuh untuk calon anak kita," Danindra menarik tangan Atrees dan berusaha memberi penjelasan padanya.
"Maaf Ndra, kasih aku waktu. Lebih baik kamu pulang, aku mau tidur dirumah mama."
"Enggak, aku gak akan biarin kamu tidur disini. Aku minta kamu pulang sama aku sekarang," bentak Danindra tepat di wajah Atrees.
Tangis Atrees kembali pecah. Sikap keras dan kasar Danindra kembali di tunjukkan. Bahkan sangat jelas ia mendengar pembicaraan Danindra dengan Sandra di telpon tadi tidak sekeras saat berbicara dengan dia kali ini.
"Kenapa? Nangis? Nangis aja terus. Kamu itu cuma bisanya nangis," teriak Danindra.
"Iya memang aku cuma bisa menangis saat tahu suamiku lebih bisa bersikap lembut dengan mantan kekasihnya. Buktinya sekarang, kamu bicara keras dan kasar sama aku. Tapi enggak saat kamu bicara di telpon dengan mantan kamu. Sekarang aku mau tanya sama kamu, jika aku yang bersikap seperti ini sama Juan apa kamu bisa terima?" teriak Atrees balik.
Tersulut emosi, Danindra mulai menaikkan tangannya dan hendak menampar Atrees. Atrees pun sudah memejamkan matanya, membayangkan pipinya akan di tampar oleh suaminya.
Namun Danindra mereda, tangannya ia turunkan lalu ia hempaskan.
"Jangan pernah aku dengar kamu sebut nama laki laki lain di depanku, MENGERTI!!!" teriak Danindra.
Atrees bersandar di pagarnya dengan badan yang mulai melemah. Mengetahui istrinya akan jatuh, Danindra dengan sigap menopang tubuh Atrees.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa?" tanya Danindra namun hanya pandangan kosong yang Atrees berikan.
Karna terlalu strees, tanpa sadar ada darah yang mengalir di sepanjang kaki Atrees.
"Sayang ini apa? Darah? Atrees sayang kamu kenapa?" tanya Danindra namun Atrees masih diam dengan pandangan kosongnya.
"Ya Tuhan, sayang kamu kenapa? Sayang maafkan aku," ucap Danindra yang merutuki kebodohannya.
"Mama...Mama...," teriak Danindra.
Tak lama kemudian Mama Priska keluar dan melihat kaget saat kondisi putrinya.
"Danindra ada apa? Atrees kenapa diam?"
"Mah darah mah, Atrees pendarahan."
"Ya Tuhan, cepat bawa Atrees ke rumah sakit Ndra," ucap mama panik.
Danindra dengan segera membawa Atrees kedalam mobil. Ia masih melihat pandangan kosong istrinya yang seperti orang depresi.
"Sayang, ngomong dong. Kenapa kamu diam," ucap Danindra namun masih tak ada jawaban dari Atrees.
Perlahan mata Atrees mulai terpejam dalam pelukan suaminya.
"Sayang, bangun sayang bangun..," teriak Danindra.
Setelah meletakkan Atrees di mobil diikuti Mama Priska, Danindra pun melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Hatinya hancur melihat kondisi Atrees saat ini. Ia pun menyesali sikapnya pada istrinya tadi.
"Ndra, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Mama Priska.
"Danindra gak tahu mah, tadi Atrees tau tau datang di belakang Danindra terus dia udah seperti itu?" Danindra berusaha membohongi mama mertuanya.
"Kamu yakin? Mama lihat tadi tatapan Atrees kosong Ndra. Kamu gak bohong kan sama mama? Kamu gak buat depresi Atrees kambuh kan?"
"Depresi mah?"
"Iya satu tahun yang lalu Atrees pernah depresi karna perceraian mama dan papa. Dan karna itu mama pernah membawanya ke psikiater,karna dia sama sekali gak mau bicara sama siapapun. Kalau kamu gak percaya tanya saja Indy dan Shintya. Mereka juga tau semuanya. Makanya mama yakin, pasti ada sesuatu yang membuat Atrees tertekan. Mama takut dia akan mengalami hal itu lagi. Apalagi sekarang dia lagi hamil. Cepat Danindra, darahnya semakin banyak. Mama takut Atrees dan bayinya gak akan selamat," teriak Mama Priska.
"Iya mah, ini udah mau sampai. Kamu sabar ya sayang. Baby, kamu harus kuat," ucap Danindra sambil menangis.
Dan saat tiba di rumah sakit dengan segera Danindra membopong tubuh Atrees. Atrees pun di bawa ke ruang IGD untuk segera mendapatkan perawatan.
Di sisi lain, Danindra mulai terduduk lemas. Sambil menangkup wajahnya, ia menangis sejadi jadinya. Ia tidak tahu jika istrinya yang tegar dan kuat ternyata mempunyai riwayat buruk.
"Sayang, maafkan aku. Aku memang suami bodoh. Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Kamu harus berjuang disana sayang. Karna kalau sampai terjadi dengan bayi kita, akulah yang paling bersalah disini. Aku terlalu memikirkan Sandra, tanpa memperdulikan dan memperhatikan perasaan istriku sendiri." batin Danindra.
__ADS_1