Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 10 Jadi, itu Aku


__ADS_3

Bab 10 Jadi itu aku


Yungi tidak berjalan ke arah dapur, tetapi ke arah rumahnya. Ia langsung masuk ke ruang kerja saat ia sudah memasuki rumahnya. Dia berjalan ke arah lemari dan membuka sebuah brankas kecil. Brankas itu adalah tempat menyimpan barang-barang pribadinya yang sifatnya hanya dia yang tahu apa arti barang-barang yang ia simpan di sana. Ketika ia membukanya, terdapat beberapa barang di sana. Kantung Jimat, gelang keberuntungan, dan satu anting yang sama yang Yungi pungut dari lantai di kamar Mina karena jatuh dari lemari. Yungi mengambil anting itu dari brankas dan menyamakannya. 


“Astaga! Jadi, itu kamu, Min?” Kaki Yungi mendadak lemas. 


Ia terduduk dengan wajah yang menunjukkan penyesalan. Ia menyender pada meja kerja dan masih menatap kosong pada anting-anting yang ia genggam erat di tangannya. Beberapa kali ia memukul keningnya pelan seolah berusaha keras menyingkirkan sebuah ingatan. 


Ada sebuah episode dalam kehidupannya, ketika ia merasa benar-benar dalam keadaan yang terpuruk, tepatnya waktu ia di tingkat dua di universitas pada suatu malam di hari ulang tahunnya. Ia benar-benar sendirian. Dia baru saja putus dengan Gina dan  yang ia tahu semua teman-teman geng Cirlce 7 pergi berlibur dengan keluarganya masing-masing. Sebelumnya mereka sudah merayakan ulang tahun Yungi lebih awal dan Yungi tidak keberatan. Jadi, ia memutuskan pergi ke sebuah klub malam dan bersenang-senang. Ia tak suka sendirian dan tak mau merasa kesepian. Oleh karena itu, ia pikir suasana di klub malam yang selalu hingar bingar dengan suara musik dan sorakan akan setidaknya membuatnya nyaman. 


Dia bersenang-senang mengajak beberapa perempuan yang tidak ia kenal berjoget dan mojok dan sampai akhirnya ia benar-benar mabuk. Ia tidak keluar dari klub itu. Malahan membuka sebuah ruang VIP dan mengundang beberapa orang untuk berpesta dengannya. Begitulah sampai akhirnya pukul setengah tiga pagi dan petugas harus membersihkan ruangan. Yungi masih berada di sana. Salah satu petugas berinisiatif menelfon siapa saja yang ada di nomor Hpnya Yungi dan secara kebetulan Mina adalah orang yang terakhir mengucapkan selamat ulang tahun kepada Yungi melalui perbincangan di telfon, jadi dia lah orang yang dikontak si petugas kebersihan itu. 


Mina datang menjemputnya. Yungi benar-benar mabuk parah. Orang Bule bilang keadaan seperti itu adlaah completely wasted. Yungi saja tidak mengenali dia. Mina membawa Yungi ke hotel terdekat saja karena Mina tidak tahu di mana Yungi menyimpan kunci apartemennya dan juga terlalu malam dan jauh jika ia harus mengantarkan Yungi ke sana. 


“Untung saja aku belum terbang ke Jepang! Si brengsek ini benar-benar ga bisa jaga dirinya!” Mina menggerutu kesal sambil melajukan mobilnya ke arah hotel. Ia mendapat bantuan dari seorang petugas hotel untuk membopong Yungi ke kamar dan Mina bahkan meminta bantuan si petugas itu pula untuk menyediakan minuman yang dapat meredakan seseorang dari hangover. 


Setelah Yungi merebah, Mina berpikir akan pergi dan meninggalkan dia tidur sendirian, tapi Yungi tetiba bangun dan menangis dan memohon padanya agar menemani dia. Malam itu, bagi Mina, Yungi benar-benar memerlukan seseorang untuk menemaninya. Yungi mengatakan hal-hal yang biasanya tak ia kemukakan. Mungkin inilah yang disebut bahwa orang paling jujur adalah ketika mabuk. 


Bagi Mina, menemani artinya duduk saja di sana mendengarkan cerita Yungi yang tidak suka kesepian atau sendirian, tentang bagaimana sedihnya ia karena putus dengan Gina atau dirinya yang tidak telalu dekat dengan orang tuanya. Dia juga bercerita tentang beruntungnya dirinya memiliki Geng Circle 7 dalam hidupnya dan sempat juga berkomentar tentang masing-masing anggota geng termasuk Mina. 


Meskipun begitu, bagi Yungi kata menemani itu mempunyai definisi yang berbeda sehingga ini menjadi lain cerita. Saat ia memeluk Mina dan Mina mengiyakan untuk menemaninya, Yungi langsung menindihnya. Mina tentu saja kaget. Ia melawan, bahkan dengan kuat berteriak kepadanya, mencoba menyadarkannya bahwa yang sedang ia paksa untuk tidur dengannya itu temannya. Mina menangis dan memohon sebenarnya karena itu pertama kali untuknya dan ia tak ingin melakukan dengan seseorang yang tak akan pernah mengingat dirinya keesokan harinya. Namun, semuanya sia-sia. Malam itu, Yungi melakukannya kepadanya. Dan itu adalah pertama kali untuknya. 


Keesokan harinya, Yungi bangun dan ia tidak mendapatkan siapa pun di sisinya. Tapi, ia mendapati satu anting bunga sakura yang tak sengaja ia injak di lantai saat ia akan menuju kamar mandi dan saat ia kembali dari kamar mandi dengan lebih segar, ia melihat ada beberapa percak darah di atas ranjang. Yungi mengernyitkan alisnya. Ia mencoba memahami apa yang terjadi tadi malam. Petugas kebersihan datang ke kamarnya dan ia bertanya kepadanya. Petugas kebersihan bilang bahwa tadi pagi ia melihat seorang perempuan keluar dari kamar ini dengan keadaan yang cukup menyedihkan. Tubuhnya gemetaran dan ia tak berhenti menangis. 


Tidak perlu lama untuk Yungi memperkirakan keadaan, bahwa ia sudah memperkosa seorang perempuan yang sudah membantunya dan perempuan itu masih perawan. Dia banyak mengeluarkan kata kasar kepada dirinya dan juga menyesali tindakan yang keterlaluan dan super kelewatan. Kejadian hari itu sebenarnya membuat dirinya berjanji bahwa jika dia minum pertama tidak akan sendirian dan tidak akan sampai mabuk total. 


Kejadian hari itu ia tutup dengan sangat rapat di hati dan pikirannya. Namun, ia masih sangat berharap untuk bisa menemukan si perempuan agar ia bisa meminta maaf atas tindakannya yang tidak bertanggung jawab itu. Ia memeriksa CCTV sebenarnya, tapi tak berfungsi. Sepertinya kamera di sana hanya sebagai dekorasi saja untuk menakut-nakuti. Ia juga pergi ke klub malam dan petugas kebersihan di sana menjelaskan bahwa seorang perempuan yang bernama Mina ia telfon dan memintanya untuk menjemputnya. 


Ia kaget tapi tak berhenti di sana. Ia menelfon Mina dan meminta penjelasan, tapi Mina menjawab ia menerima telfon tapi ia tidak menjemput Yungi karena ia sudah ada di Jepang. Sekarang ia tahu kebenarannya. Mina berbohong kepadanya. Tapi kenapa? Apa alasannya?. Sekarang ia juga paham kenapa Jay dengan cepat membantunya. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah bahwa Jay mengetahuinya. Mungkin Mina bercerita kepadanya karena bagaimana pun hubungan mereka memang sudah dekat sejak sebelumnya. Oleh karena itu, pada saat di pesta sebelumnya, Mina memilih dare daripada mengatakan yag sejujurnya. Mina melindungi dirinya. 


“Jadi, itu aku. Lelaki pertamanya. Aku mengambil paksa sesuatu yang menjadi kebanggaannya dan ia tidak mengatakan apa-apa. Kamu goblok Yungi!” lirih Yungi kepada dirinya sendiri. Yungi memegang pelipisnya. Ia sekarang tengah mengaduk-aduk minuman rempah yang ia masak di dapur. 


Tak lama kemudian, ia berdiri di depan pintu kamar. Ia menghela napas panjang dan mengambil sebuah keputusan. Jika Mina menutup masalah itu rapat-rapat, itu artinya Mina tidak ingin membahasnya. Tapi, ia akan bertanya padanya, jika waktunya sudah tepat. Begitu pikirnya. 


“Min, bangun, maaf lama!” lirih Yungi. Dirinya masih terpengaruh akan ingatan yang kini saat melihat Mina kejadian pada malam itu di hotel semakin jelas. 


“Min!’ lirih Yungi. Ia menepuk bahu Mina pelan. 


Mina membuka matanya. 


“Oh, jam berapa ini?” sahutnya sambil bangkit dari tidurnya. 


“Jam satu malam,” sahut Yungi. 


“Oh? Kenapa kamu belum tidur?” Mina agak kaget. Ia mengucek matanya lembut dan kemudian duduk. 


“Tadi aku mencari bahannya dulu. Ada yang kurang,” sahut Yungi menahan diri. Ia mencoba tersenyum. 


“Oh, kamu jalan ke swalayan, maksudnya?” Mina menatap Yungi.


“Hmm!” Yungi mengangguk. 


“Aduh segitunya. Kan masih bisa besok, Yun!” sahut Mina lagi. 


“Aku ga mau kamu keterusan. Nanti rencana kita ke Jepang berantakan,” sahut Yungi sambil mengacak rambut Mina iseng. 


“Oh gitu ya! Makasih deh!” sahut Mina sambil meminum teh rempahnya. 


“Habiskan,” ujar Yungi.


“Iya, mau,” jawab Mina. 


“Sudah,” sahut Mina. 


“Besok, ga usah pake baju yang terbuka lagi, nanti tambah parah sakitnya!” Yungi bilang sambil menyimpan gelas di atas nakas. 


“Mama nanti ngomel!” jawab Mina pelan. Wajahnya terlihat lesu.

__ADS_1


“Aku akan bilang sama Mama. Tenang aja!” ujar Yungi. 


“Hmm, selamat mencoba!” ujar Mina sambil mesem.


Yungi tersenyum. 


“Tidur sebelah aku ya! Jam tiga atau empat-an lah, kita digerebek!” sahut Mina lagi, mengingatkan.


“Iya,” ujar Yungi singkat. 


Mereka  tidur menyamping berhadapan. 


“Night Yun!” bisik Mina sambil senyum lalu memejamkan matanya.


“Hmm,” jawab Yungi. 


Sekejap Yungi menutup matanya tapi tak lama kemudian ia membukanya  lagi. Ia baru menyadari banyak hal. Harum tubuh Mina memperkuat ingatan dirinya pada kejadian malam pertama Mina di hotel. Dan adegan malam itu, semuanya, tetiba menjadi jelas, bagaimana ia memaksa Mina melakukan dengannya dan semua hal yang tak patut ia lakukan kepada wanita, khususnya karena wanita itu adalah salah satu sahabatnya.


Ia mengepalkan tangan dan tak terasa air matanya mengalir dan ia tercekat, berusaha menahan tangisannya. Ia tak menyadari isak tangisnya membangunkan Mina dan Mina menatap Yungi bingung.


“Yungi, kamu kenapa?” bisik Mina. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk.


“Maaf, aku bangunin kamu, ya!” bisik Yungi. Ia dengan cepat mengusap air matanya. 


“Kamu ga apa-apa? Kok nangis sih! Segitunya kamu ga mau seranjang sama aku,” lirih Mina sambil menatap Yungi.


“Ga, bukan kayak gitu, Min.” Yungi menjawab.


“Denger, Min. Aku mau ngomong bentar sama kamu, boleh?” tanya Yungi dengan suara pelan. 


Mina menatap Yungi yang memasang wajah serius.


“Harus sekarang? ini pagi buta,” sahut Mina sambil menunjuk jam dinding. 


“Ah, kamu bener! Besok aja!” sahut Yungi.


“Tidur aja! Lagian kamu perlu istirahat. Kamu sakit, kan! Maafin aku ya!” bisik Yungi. 


“Kamu juga,” sahut Mina.


“Iya,” sahut Yungi. 


Keduanya merebah dan memejamkan mata. Tak lama Mina sudah kembali pada tidurnya, tetapi tidak dengan Yungi. Setelah setengah jam, Yungi bangun lagi dan perlahan ia berjalan keluar kamar. Mina membuka matanya. Ia menyadari kegelisahan suaminya itu. Ia duduk sejenak mengumpulkan kesadarannya kemudian menyusulnya. 


Ia melihat Yungi duduk di ayunan sebelah kolam renang, memikirkan sesuatu dengan serius. Sejenak ia diam saja di sana memperhatikannya. 


“Kamu cinta Yungi, Min?” suara pelan papanya dari belakangnya mengagetkan dia.


“Pah!” Mina menoleh.


“Mina sayang dia,Pah,” jawab Mina pelan. 


“Itu jauh lebih baik,” sahut Papanya sambil mengelus kepala Mina dan tersenyum. 


“Sudah waktunya move on loh! Gimana pun Tuhan kasih caranya lewat anak-anak, kami, siapa saja, Kamu harus bisa menjaganya dengan baik.” Papanya menunjuk ke arah Yungi. 


“Papa ini laki-laki. Papa yakin Yungi cinta kamu. Cuma sekarang dia lagi bingung aja!” sahut Papanya.


“Jadi, kalau lagi bingung gitu, jangan dibiarin sendirian.” Papanya melanjutkan. 


Mina hanya diam. Dia hanya tersenyum.


“Sana samperin sebelum mama bangun dan bikin kehebohan,” ujar papanya.


Mina mengangguk dan ia memeluk papanya sebentar. 


Mina berjalan kembali ke kamar mengambil baju hangat Yungi lalu menyusulnya ke kolam renang. 

__ADS_1


“Kalau kita sakit, ga ada yang jagain anak-anak,” sahut Mina dari belakang Yungi. 


Yungi menoleh dan tersenyum. Ia menerima baju hangat dari Mina dan mengucapkan terima kasih. 


“Kenapa ga tidur?” tanya Mina.


“Itu pertanyaan untukmu,” ujar Yungi. 


“Ah, ga bisa tidur sekarang. Penasaran sama yang mau kamu omongin,” sahut Mina. 


“Maaf!” sahut Yungi. 


“Ga apa-apa. Mau ngomong apa sampai nangis gitu!” sahut Mina.


Mereka berdiri berhadapan di tepi kolam renang. 


Yungi diam sejenak. Dia menatap Mina lembut dan menyunggingkan senyuman. 


Mina balik menatapnya dengan ekspresi di wajahnya yang terlihat bingung. Namun, ia masih berusaha menyunggingkan senyuman. 


“Min,” sahut Yungi.


“Hmm?” Mina mengangkat kedua alisnya. 


“Aku ga mau gagal untuk yang ketiga kalinya. So, I wanna work it with you. Our family I mean,” ujar Yungi. 


Wajah Mina terlihat kaget. Matanya membelalak. 


Yungi mendekati Mina. Ia menyimpan kedua tangannya di bahu Mina. 


“Bisakah kamu kasih kesempatan sama aku?” Yungi menatap Mina yang masih terlihat kaget. 


“Can you open your heart for me?” tanya Yungi. 


Wajahnya agak memerah. Ia jelas terlihat malu. Senyumnya sudah menunjukkan begitu. Mina semakin kaget. 


Sepanjang sejarah mereka kenal satu sama lain, Yungi tidak pernah menyatakan perasaan. Selalu pihak perempuan. Dan kalau itu sungguhan Mina harus tersanjung. Itu artinya break the record, Si Yungi sang Casanova, akhirnya menyatakan. 


“Yungi?” Mina juga terihat malu. 


“Hm?” Mata Yungi menatap Mina lembut. 


“Kamu ga kesurupan?” tanya Mina. Dia menatap Yungi. Tangannya menuju kening Yungi dan merabanya sejenak. Dia memiringkan wajahnya terlihat berpikir.


Biasanya kalau Mina menjawab seperti ini Yungi pasti langsung balik respons dengan jawaban-jawaban yang ketus dan mengesalkan. Namun, kali ini ia diam. Ia malah menyunggingkan senyuman. 


Yungi mendekatkan wajahnya dan entah kenapa Mina hanya diam merasakan tubuhnya yang menegang dan membiarkan Yungi memberinya satu kecupan hangat di bibir mungilnya. 


“Tolong berikan aku kesempatan!” lirih Yungi. Tatapannya menghangat. 


Mina tersenyum. Ia berjinjit dan mengecup pipi Yungi dan menyunggingkan senyum. 


Yungi menelan ludah. 


“Ini artinya, iya, kan?” Yungi memastikan. 


Mina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu. 


Yungi tersenyum bahagia. Matanya berbinar. 


Mereka saling menatap sambil menyunggingkan senyuman. Kedua mata membuka percakapan dan tak lama kemudian bibir mereka sudah bersentuhan. Mereka cukup lama melakukannya sampai akhirnya berpelukan.


“Meni lila kitu wae ge si Yungi mah nya, Pah! Boloho budak teh!Kurang naon atuh si Mina teh sakitu bageurna! (Kenapa Lama sekali ya untuk melakukan seperti itu Yungi itu, ya Pah! Dia anak yang bodoh! Mina kurang apa. Dia sangat baik, kan)” ketus ibunya. Mereka menyaksikan keduanya dari kejauhan.  Ayah Mina hanya tersenyum. 


“Mamah sayang, kita bobo lagi yuk!” bujuk papanya dengan suara manja. 


Mamanya langsung menurut dan berjalan dengan ayahnya ke kamar untuk melanjutkan tidur.

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2