Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 38 Curhat


__ADS_3

Mereka masih di dalam perkebunan teh, berlindung di dalam mobil karena hujan yang masih deras. Kelihatannya masih jauh untuk menuju kata reda padahal waktu sudah menunjukkan pukul  empat sore. 


“Pernikahan kita udah hampir enam bulan, kan?” Yungi memastikan. Ia menatap Mina lembut. Mina menganggukka kepalanya. 


“Nah, selama itu, aku hidup dari uangmu ya?” Nada Yungi sekali lagi memastikan. Mina tersentak kaget. 


“Tolong jangan kaget! Aku ga ada maksud bilang yang negatif. Aku sedang menjelaskan situasiku saat ini kepadamu.” Yungi tersenyum. Ia mengambil tangan Mina.


“Sebenarnya kamu mau bilang apa?” Tatapan Mina melembut seiring dengan nada bicaranya yang tenang. 


“Banyak hal dan semuanya menyangkut uang.” Yungi menjeda. Mina tak merespons. Ia menunggu Yungi menyelesaikan bicaranya. 


“Min, kamu tahu aku menikah denganmu dalam keadaan bangkrut. Hanya ada 300 ribu rupiah  tersisa di rekeningku dan rumah yang kamu tahu itu pun punya anak-anak. Kamu juga tahu bahwa setelah kita menikah orang tuaku memberi kita uang hadiah pernikahan, tapi sebenarnya itu bukan uangku. Itu uangmu. Ibu memberikannya lewat aku karena dia tahu kamu ga akan mau menerimanya. Ibu bilang dia sangat berterima kasih kepadamu karena menjaga anak-anakku dan aku. Aku belum memberikannya kepadamu karena aku bingung bagaimana memulai pembicaraan ini. Aku sangat khawatir dengan banyak hal. Kalau aku bilang ini, aku takut kamu tersinggung nanti kamu nyangka itu upah ngurus anak  atau pikiran lainnya dan aku khawatir kita akan bertengkar.” Yungi menjelaskan. 


“Uang itu yang mama sama papa kamu kasih waktu itu yang 3 M itu, kan?” Mina memastikan.


“Iya” jawab Yungi sambil menganggukkan kepala. 


“Eh, tapi itu hadiah pernikahan. Jelas-jelas mama kamu ngomong gitu kok!” Mina mengingat-ingat kembali yang dikatakan mama Yungi. 


“Iya benar, waktu kita berdua berbicara dengan mama dan papa, mereka memang bicara kalau itu kado pernikahan, tapi mama WA aku lagi. Sebentar,” ujar Yungi. Dia meraih Hpnya di saku kemejanya kemudian membukanya melihat-lihat sebentar lalu menunjukkan chatan dirinya dengan Ibunya di WA. 


Mina diam mengamati chatan dalam HP di tangannya.  Setelah selesai, ia memberikan HP kembali kepada suaminya. 


“Secara pribadi, aku tak bisa menerimanya. Tapi aku tahu kau akan terus memaksaku untuk menerimanya. Jadi, aku akan memberi jalan tengah saja. Aku akan terima dan menyimpannya untuk anak-anak. Bukannya aku bermaksud sombong, Yun, tapi tanpa uang itu pun aku sudah hidup cukup baik. Bahkan sebenarnya, uang yang kau kirim setiap bulan untuk Yuna dan Juna sewaktu kau masih bekerja di luar kota dan sudah bercerai dengan Erika, aku tak pernah menyentuhnya. Semuanya aku simpan di tabungan Yuna dan Juna. Aku tak perlu terima kasihmu dan orang tuamu, karena aku benar-benar sayang anak-anakmu. Bahkan jika waktu itu kau menikah dengan Soraya, rasa sayangku kepada mereka tak akan berkurang.” Mina menjeda. Ia menatap Yungi yang terlihat agak kaget. 


“Jujur, saat kamu memutuskan menikah dengan Soraya, aku juga punya kekhawatiran sendiri. Aku khawatir kalian pindah jauh dan pasti membawa anak-anak. Aku, ... “ Mina tak melanjutkan. Suaranya tercekat. Matanya berkaca-kaca. 


“Eh, aduh, Min jangan nangis! Aku khawatir sama dede bayi kita nih!” Yungi terlihat bingung dan kikuk.


“Iya, aku ga akan nangis,” ujar Mina sambil tersenyum. 


“Waktu itu aku agak dilema sebenarnya. Di satu sisi aku sedih kamu ditinggalkan lagi sama perempuan yang kamu sayang, plus yang kedua lebih parah karena dia ambil harta kamu juga. Tapi di sisi lain, aku juga bahagia, soalnya kalau kamu ga jadi nikah anak-anak pasti masih sama aku kan!” Mina nyengir. 


“Segitunya, Min?” Yungi ikut tertawa.


“Nah, makanya kalau kamu sayang sama anak-anak, biar terus bersama emang keputusna kamu buat nikahin bapaknya itu udah bener,” sahut Yungi dengan nada bangga lalu tersenyum tengil.


“Ih si Yungi, maneh pikasebeleun (kamu menyebalkan)!” Mina menggelengkan kepala. 


Mereka diam sejenak.


“Terus waktu liburan di Jepang kamu beliin aku cincin dan bayarin ini itu, duitnya dari mana?” tanya Mina jadi penasaran.


“Oh, itu ya! Iya aku jual satu karya aku. Copyrightnya aku lepas,” ujar Yungi santai.


“No way, Yungi! Ga boleh atuh! Kenapa ga bilang?” Mina terkejut. Ia tahu karya Yungi dalam kaitannya dengan profesionalismenya itu bernilai sangat tinggi. 


“Ga apa-apa. Aku juga punya harga diri. Aku sangat ingin membuat kalian bahagia. Dan itu tujuanku sekarang,” ujar Yungi lagi. 


Mina menatap Yungi dengan penuh kasih sayang. Ia memegang tangannya dan menciumnya lembut. 


“Itu tujuanku juga,” sahut Mina sambil masih menyunggingkan senyum.


“Lalu?” sambung Mina.


“Lalu apa?” Yungi mengangkat kedua alisnya. 


“Tentu saja kekhawatiranmu yang lain,” ujar Mina.


“Yang lain?” Yungi menelan ludah. Ia mengalihkan pandangannya.


“Aku emang se-transparan itu, Min?” Yungi menggaruk kepalanya pelan. 


“Aku temanmu dan sekarang istrimu. Cukup tahu karakter dan gelagatmu kalau kamu lagi banyak pikiran. Aku bilang banyak ya, bukan satu!” Mina memiringkan kepalanya sambil senyum. 


Yungi tertawa. 


“Baiklah! Aku nyerah! Aku ceritain semuanya,” ujar Yungi. 

__ADS_1


Ia menarik napas panjang dan saat melakukanya bau air hujan bercampur dengan tanah menelusup ke hidungnya. 


“Aku tidak menyukai pekerjaanku saat ini. Aku tahu ini baru berjalan satu bulan, tapi ini bukan aku,” ujar Yungi. 


“Kamu ga mau jadi dosen?” Mina memastikan. 


Yungi menganggukkan kepalanya. 


“Kalau begitu berhenti. Kenapa harus menyiksa dirimu?” Mina berbicara dengan entengnya.


“Hah! Kamu gila ya! Aku melakukan ini karena aku mau dekat dengan kamu sama anak-anak,” sahut Yungi. 


“Tapi kamu ga suka pekerjaan itu kan? Masih ada cara lain yang membuatmu dekat dengan aku sama anak-anak juga. Jangan mempersulit dirimu sendiri. Kenapa kamu harus menyiksa diri kamu sendiri hanya untuk kami. Kalau begitu kamu sendiri ga bahagia. Kontrak awal dengan universitas itu hanya enam bulan kan?” Mina bertanya.


“Iya, enam bulan,” jawab Yungi.


“Syukurlah. Kalau begitu bertahanlah sampai selesai kontrak. Setelah itu, jika mereka menawari lagi jangan kamu ambil. Sementara kamu bertahan di sana apa rencanamu?” tanya Mina. 


“Perusahaan konsultan kamu sama teman-teman kamu gimana?” tanya Mina lagi.


“Aku mengundurkan diri. Mereka mengambil profitku beberapa kali dan aku tak suka dengan cara kotor mereka,” jelas Yungi. 


“Nah, kamu pinter tuh! Bagus! Ga usah memperpanjang hal-hal yang buat kamu ga nyaman, Yun! Cut aja! Tapi caranya baik-baik kan?” Mina menatap Yungi.


“Iya, aku bilang sama mereka aku ga bisa nerusin soalnya aku sangat sibuk,” ujar Yungi.


Mina mengangguk. 


“Jadi, basically sekarang kamu nganggur, kan?” tanya Mina lagi. 


“Sebenarnya sih ga bener-bener nganggur,” jawab Yungi.


Mina mengernyitkan alisnya.


“Selama ini, pemerintah masih minta bantuan aku buat beberapa hal terkait perencanaan pembangunan di beberapa daerah di Indonesia. Kerjanya masih daring, tapi lima tahun ke depan aku diminta mereka buat eksekusi ke beberapa pelosok.” Yungi menjelaskan dengan hati-hati. 


“Oh, gitu! Artinya kamu kayak dulu lagi?” Mina menatap Yungi. 


“Kamu suka pekerjaannya, kan?” tanya Mina.


“Iya. Aku suka ke lapangan daripada di balik meja. uangnya juga lebih besar dan bermakna. Sekali dapet kontrak bisa milyaran meski kotor ya, bukan keuntungan bersih. Tapi lebih worth it sih1 Aku masih bisa menggaji tim dan masih dapet keuntungan juga,” ujar Yungi.


“Kalau gitu lakukan!” sahut Mina sambil tersenyum.


Yungi tersentak kaget. 


“Tapi Min, aku khawatir kayak dulu lagi. Erika dan aku, gara-gara ini ... “


“Aku bukan Erika, Yun! Aku akan bertahan untuk keluarga kita. Aku akan berkunjung di mana saja kamu ditempatin. Ga apa-apa.Kalau kamu suka, ambil aja. Ini ga permanen juga kan? Kalau permanen aku khawatir, khususnya soal hubungan kamu sama anak-anak." Mina menatap Yungi lagi.


“Kontrak total sepuluh tahun. Lima tahun aku bekerja daring dan sesekali mungkin harus mengunjungi beberapa tempat tapi ga lama, Hanya survei, biasanya satu sampai tiga hari atau paling lama seminggu. Nah, sisanya yang lima tahun itu, di kontrak bilang aku harus mengawasi pekerjaannya. Jadi, aku harus tinggal di tempat-tempat itu selama waktu kontrak.” Yungi menjelaskan. 


“Uhm, gitu!” Mina tampak sedang berpikir.


“Tapi, kamu jangan khawatir, aku baru tanda tangan kontrak yang lima tahun ini,” sambung Yungi karena Mina terlihat serius. 


“Aku ga keberatan,” ujar Mina. 


“Aku dukung keputusan kamu,” sambungnya. 


Yungi terperangah. 


“Makasih, Min.” Yungi berbicara dengan ekspresi di wajahnya terharu. 


“Lebih ringan kan?” Mina tersenyum.


Yungi mengangguk sambil membalas senyuman Mina.


“Sudah kubilang. Tidak akan seburuk yang kamu pikirkan kalau kamu komunikasikan. Jangan pikirkan tentang uang. Kita saling dukung saja. Kalau kau di posisiku, aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama dan ini bukan utang yang suatu hari harus kamu perhitungkan lalu bayar. Kita bersama karena anak-anak kan! Tolong pikirkan saja kebahagiaan mereka. Dengan begitu aku juga akan bahagia,” sahut Mina. 

__ADS_1


“Uhm,” ujar Yungi sambil menganggukkan kepala. 


“Baiklah! Kalau begitu kita pulang. Hujannya sepertinya tidak akan berhenti,” ujar Yungi. Dia memperbaiki posisi duduknya sambil melihat ke arah luar. 


“Kamu tahu yang paling enak ketika sedang hujan seperti ini?” tanya Mina sambil menatap Yungi. 


“Apa? Minum susu? kopi? mendengarkan musik? Apa?” Yungi memberikan beberapa pilihan tapi Mina terus menggelengkan kepala. 


“Apa?” Yungi penasaran. Pikirannya Mina ngidam sesuatu. 


Mina mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Yungi. 


“Apa ini?” Yungi tersenyum dan mengamati kotak kecil yang diberikan Mina dan dia menganga. 


“Kamu mau, Min?” Yungi menelan ludah. 


Dia mengalihkan tatapannya pada Mina setelah ia tahun bahwa kotak yang ia pegang adalah satu pak k*nd*m yang isinya tiga. 


“Aku suka itu khususnya saat hujan,” bisik Mina sambil mengedipkan satu matanya.


“Wow!” Yungi tersenyum.


“Kalau gitu ayo pulang!” ujar Yungi.


“Yakin tahan?” Mina mengangkat satu alisnya.


“Ya udah kita ke hotel yang deket aja,” sahut Yungi lagi. 


“Ga ah! Mau di sini aja!” sahut Mina dan ia langsung menurunkan sandaran mobil. 


“Hah!” Yungi melotot.


Mina yang sudah merebah melihat ke arahnya sambil tersenyum.


“Kamu ga mau?” tanya Mina. 


“Mau lah! Cuma kalau di sini, gimana kalau ada orang lewat!” Yungi menggaruk kepalanya.


“Tumben mikirin orang!” jawab Mina sambil tersenyum dan ia perlahan menurunkan roknya.  


“Astaga! Kamu tuh!” Yungi langsung berpindah kursi. 


“Aku yang akan melakukannya,” lirih Yungi.


Mina tersenyum. Ia menangkup wajah Yungi dan menariknya mendekati wajahnya dan mereka berciuman. 


Mereka melakukannya dan setelah beberapa lama mereka akhirnya selesai dan merapikan dirinya di kursi masing-masing. 


“Kamu ga apa-apa?” tanya Mina setelah melihat mereka merapikan diri dan Yungi masih diam. 


“Eh! Ya, tapi, kayaknya aku masih mau,” ujar Yungi dengan wajah memerah. 


Mina tertawa kecil. Ia tahu Yungi tak pernah cukup sekali, kecuali Mina yang memberhentikannya. 


“Kita lanjutkan di rumah,” bisik Mina. 


“Tapi kan dokter bilang ga boleh terlalu sering.” Yungi menatap Mina. 


“Iya aku yang ga boleh terlalu sering. Kamu mah bebas!” ujar Mina. 


“Maksud kamu apa, Min?” Yungi pikir Mina memintanya dia melakukan dengan orang lain. 


Mina hanya tersenyum lalu membuat gerakan dengan lidah dan mulutnya dan mengarahkan matanya pada kepunyaan Yungi. Setelah itu dia tersenyum dan mengedipkan satu matanya. 


Wajah Yungi memerah. 


“Ayo pulang,” sahut Mina. 


Yungi mengangguk dengan wajah yang sumringah. 

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2