Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 27 Menatap Langit yang Sama


__ADS_3

“Ayah menyapamu ya, Nak! Sayangnya dia tidak tahu dan Ibu minta maaf karena dia tidak akan pernah tahu. Ayo kita berjuang bersama, ya!” Lirih Mina sambil menatap dan mengelus perutnya yang masih rata. Saat itu dia masih di pesawat dan belum take-off sama sekali. Ini seolah memberikan Mina waktu untuk bernapas lega sebelum ia melakukan perjalanan dan perjuangan yang panjang, berjuang sendirian di negara orang. 


Awalnya ia pikir begitu, bahwa ia akan sendirian dan tidak akan ada yang tahu kebenarannya tentang sisi dirinya yang itu, tapi itu salah. Setibanya ia di Jepang, ia memilih untuk menyewa apartemen kecil dan kemudian melakukan kewajiban sebagai mahasiswa yang ikut pertukaran pelajar, kuliah, praktek, dan membuat laporan. Selama empat bulan pertama, kehidupannya hanya berkutat di area itu dan tidak ada penampakan yang jelas dari perutnya sebab Mina selalu menggunakan pakaian yang serba longgar. 


Beberapa kali teman gangnya video call dirinya, yang tentu saja termasuk Yungi di dalamnya dan ia masih mengangkatnya, bercakap-cakap seperti biasanya ngalor ngidul dan wajahnya dibuat terlihat bahagia. Memasuki term ke-2 dia mulai sibuk dengan banyak hal dan dia mulai jarang menerima telfon dari teman-temannya karena dia sendiri sudah memberitahu mereka bahwa dia akan sangat sibuk dan tidak bisa menerima telfon terlalu sering. Tentu saja teman-teman dan keluarganya memakluminya. 


Pada periode itulah dia bertemu dengan Yuki. Tepatnya di rumah sakit saat mereka memeriksakan kehamilan mereka. Mereka menjadi teman, terlebih Yuki tahu bahwa Mina sendirian. Tidak perlu lama untuk mereka menjadi akrab karena keduanya memiliki cerita yang hampir sama dan setelah usia kandungan mereka mencapai hampir 9 bulan, bayi Yuki dinyatakan meninggal. Itu pukulan yang hebat untuknya dan Mina-lah yang menemaninya. Mereka memutuskan akan tetap bersama dan berjuang membesarkan anak Mina bersama. 


Dalam banyak hal, bisa dikatakan Mina sangat beruntung. Pertama, dia mempunyai teman untuk melalui hal-hal berat itu dan kedua dia bisa mempercepat program pertukaran kuliahnya tiga bulan lebih cepat sebelum kelahirannya. Jadi, dia punya waktu yang banyak untuk mempersiapkan kelahirannya dan semester baru. 


Selama periode kehamilannya itu, Mina mengakui entah kenapa sering kali ia merindukan Yungi. Dia sangat ingin Yungi menemaninya, memeluknya, mengelus punggungnya, atau memijit kakinya. Dia sering mengambil telfonnya, menekan-nekan sesuatu di sana sampai akhirnya muncul nomor telfon Yungi dan berniat menelponnya, tapi kemudian membatalkannya. Entah kenapa dia selalu seperti itu sampai pada suatu periode saat usia kandungannya memasuki 7 bulan, Yungi tetiba menelfonnya. Mina kaget, tapi ia menerimanya. 


“Apa, Yun?” tanya Mina memulai percakapan. 


“Kok apa Yun sih? Berapa lama kita ga kontakan coba? Gimana kabar kamu, ... sehat?” tanya Yungi. 


Yang di Jepang tengah bersandar pada ranjangnya mengelus perutnya dengan lembut sambil menyunggingkan senyum. Meskipun begitu, matanya berkaca-kaca. Betapa ia ingin berteriak kepada lelaki yang tengah bersuara itu bahwa ia sangat membutuhkannya sekarang, tapi bibirnya kelu. 


Yang di Indonesia berdiri di balkon apartemennya menatap pemandangan langit malam yang ada di hadapannya. Dia juga sama, entah kenapa wajahnya mengguratkan ekspresi kesedihan yang si pemilik wajahnya sendiri bahkan tak paham kenapa hatinya begitu sakit saat mendengar suara perempuan yang notabene berstatus sebagai teman tapi sering bertengkar itu. 


“Sehat, Yun.” Mina menjawab pendek.


“Kok lemes sih jawabannya,” ujar Yungi seolah dia bisa mendeteksi  sesuatu. 


“Mau aku ke situ?” tanya Yungi. Nadanya bercanda. 


“Boleh!” jawab Mina dengan nada bercanda lagi. 


“Oke, tapi mungkin Minggu depan. Minggu ini aku masih UAS,” sahut Yungi. 


“Astaga! Aku pikir kamu bercanda. Ga usah, Yun, lagian aku ga akan punya waktu buat jamu kamu, nanti aja lah tahun depan. Kayaknya kalau tahun depan aku lebih luang!” sahut Mina memberi alasan dan lebih tepatnya mengulur waktu. 


“Uhmm,” gumam Yungi. 


Sepi sekejap. 


“Kok aku kangen kamu ya, aneh!” lirih Yungi. Suaranya lebih tenang. 


“Kangen bertengkar, maksud kamu!” Mina berusaha untuk tenang. 


“Ih, Mina aku serius,” ujar Yungi. 


“Iya, emang pasti gitu. Kita ga akan pernah tahu betapa berharganya seseorang sampai kita kehilangan orang itu. Pasti kangen aku lah! Kan aku teman yang berharga, hahahah!” Mina menjawab.


“Iya kayaknya. Aku ngaku deh, kamu emang temen paling baik,” sahut Yungi. 


“Makasih, Yun. Aku juga ngaku deh, kamu emang temen paling brengsek, hahahaha!” Mina tertawa renyah.

__ADS_1


“Ih kamu tuh malah ngajakin bertengkar!” Yungi nyolot. 


“Tapi aku ga pernah ninggalin kamu, kan?” sambung Mina lagi sambil tersenyum. 


Hening lagi.


“Min, pengen liat wajah kamu dong!” nada Yungi memohon. 


“Kenapa? penting gitu?” tanya Mina.


“Kan kangen!” ujar Yungi.


“Boleh ya! ganti video call!” ujar Yungi lagi.


“Ga ah! Aku foto aja lah wajah aku!” ujar Mina lagi. 


“Udah itu aja?” Mina bertanya lagi. 


“Pengen liat langit Jepang juga sih!” Yungi beralasan. 


“Ya elah! Sama aja Yungi! Kan langit cuma itu. Kalau kamu liat ke atas langit yang kamu liat dan yang aku liat ya sama, itu-itu juga,” terang Mina. 


“Ih, kamu mah! ya nggak atuh! yang di kamu kan baunya Jepang yang di aku mah bau Indonesia,” ujar Yungi. 


Mina tertawa. 


Wajah mereka mulai tampak di layar masing-masing. 


“Waah!” Yungi tersenyum. Wajahnya terlihat sumringah.


“Kenapa, Yun?” tanya Mina heran. 


“Bagus langitnya!” ujar Yungi karena Mina menelfonnya dengan latar belakangnya langit Jepang, sementara Mina menunjukkan hanya wajahnya saja. 


“Oh!” Mina menjawab pendek. 


Yungi bohong. Ketika ia melihat wajah Mina di layar Hpnya ia terkagum. Mina tampak lebih cantik dan bercahaya. Ia memancarkan aura keibuan dan sorot matanya berbinar indah memancarkan tatapan yang memberikan rasa nyaman dan tenang ke hatinya. Namun, dia tak bisa mengeluarkan kata-kata itu sebab menurutnya aneh jika ia mengatakan itu kepada seorang teman. 


Andai saja Mina tahu bahwa entah kenapa semenjak Mina pergi, dia begitu tersiksa sendirian. Dia dilanda penyakit atau masalah yang aneh dan semuanya itu selalu berkaitan dengan Mina. Masalah dia selalu tetiba merasa mual dan muntah-muntah pada pagi atau sore atau kadang-kadang dini hari Yungi anggap karena pola makannya yang memang tidak benar, khususnya setelah Mina pergi, nafsu makannya memang menurun. 


Pada saat yang sama, dia juga sering sekali menginginkan sesuatu yang amat kuat, seperti makanan atau minuman yang bahkan ia tidak suka. Lalu, ketika dia membeli dan akan memakannya, pikirannya tetiba teringat kepada Mina. Dan menurutnya, di situlah letak keanehannya. 


Beberapa kali dia bermimpi dia berjalan-jalan dengan Mina dan dalam mimpinya itu Mina tengah hamil besar dan mereka bergandengan tangan menikmati udara pagi atau sore sambil saling menyunggingkan senyuman terlihat bahagia. 


Pada waktu yang lain, dia juga bermimpi dia menggendong dua bayi di tangan kanan dan kirinya dan dia ingat bayi itu berjenis kelamin lelaki dan perempuan. Mereka sangat cantik dan tampan dan wajah bayi itu sangat mirip dengan Mina dan dirinya. 


Bagaimana bisa Yungi akan bilang semua itu kepada Mina? Lagipula bagi Yungi itu hanya sebuah pertanda bahwa dia terlalu merindukan Mina dan itu juga tak wajar. Setelah Mina tidak ada, dia tidak pernah bermain-main dengan perempuan mana saja. Ia tolak semua ajakan itu dan selalu saja itu karena perempuan yang sedang bersekolah di Jepang itu. 

__ADS_1


Yungi menyadari sepenuhnya, ia jatuh cinta kepada Mina. Namun, ia juga sepenuhnya memahami bahwa cintanya itu bertepuk sebelah tangan. Satu-satunya cara adalah dia harus melupakan perasaan itu dan melanjutkan hidupnya. Jika dia menyatakan perasaannya dan Mina menolaknya hubungannya dengan dia sebagai teman yang sudah berlangsung lama itu akan selesai sudah. Jadi, itulah kesimpulannya, melupakan dan melanjutkan. Namun, ternyata itu tidak mudah. Meskipun Mina sedang jauh dari hidupnya, perasaan kehilangan dan kesepian itu menarik dirinya terlalu dalam. Yungi hanya berharap pada waktu yang akan menyelesaikan segalanya dan mungkin Mina benar bahwa dia perlu mencari seseorang yang sungguh-sungguh untuknya agar dia bisa menghapus jejak Mina di hatinya. 


Waktu terus berjalan. Mina melahirkan dan baru saja ia diliputi kebahagiaan, bayi kembarnya mengalami masalah internal. Sang dokter menemukan bahwa keduanya menderita sebuah penyakit langka yang belum ditemukan obatnya sehingga baru saja mereka berusia satu tahun,  kedua bayinya meninggalkan dunia. Mina terpukul dan dia mengalami depresi. Untungnya pada saat bayinya berusia delapan bulan, Mina sudah menyelesaikan sekolahnya. 


Pada saat wisuda itu, keluarga dan teman-temannya hadir, termasuk juga Yungi dan saat mereka bertemu, Yungi membawa seorang perempuan bernama Sandra bersamanya. Mereka sempat makan malam bersama, jalan dan nongkrong juga dan setelah itu, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing lalu kembali ke Indonesia. 


Selama depresi, Mina dirawat di sebuah rumah sakit. Dia berada di bawah tanggung jawab Yuki dan Irie dan itu termasuk dalam garantor untuk visa dan kehidupannya di sana. Yuki dan Irie yang merawatnya, orang asing yang kemudian menjadi keluarga kedua Mina. Selama setahun Mina berjuang dengan kesehatan mentalnya dan pada suatu hari setelah hampir setahun ia berada dalam fase itu, ia akhirnya menyadari sesuatu dan ia ingin sembuh. 


Begitulah! Mina berjuang melawan masalahnya dan dia berangsur pulih. Setelah setahun lamanya, ia dinyatakan sehat dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia melanjutkan hidupnya. Tentu saja ia sering berkabar dengan Yuki dan Irie dan setelah itu, ia mendapatkan beasiswa di Prancis dan melanjutkan sekolahnya ke sana. 


Yungi sudah bisa melanjutkan hidupnya. Ini bisa dilihat dari cara dia berinteraksi dengan Mina, khususnya ketika ia kembali. Yungi berpikir mungkin waktu itu saat ia jatuh cinta kepada Mina itu hanya karena ia terbawa perasaan saja. Ia berpikir semuanya salah paham dan itu adalah pergolakan batinnya saja. Tidak ada yang boleh tahu soal itu. Toh hubungannya dengan Mina masih berjalan sama seperti biasanya. 


Yungi melanjutkan sekolahnya ke Amerika. Dia juga menerima beasiswa. Di sana, ia benar-benar mendedikasikan hidupnya pada kuliahnya dan hobinya. Nah, pada waktu dia bergabung dalam sebuah klub musik di sana, ia bertemu dengan Erika. Mereka menjadi dekat karena sering nongkrong bersama dan mereka sepakat menjalin hubungan tapi santai, alias tanpa ikatan. Ini mirip dengan teman tapi bercinta dan keduanya sama sekali tidak keberatan. 


Menjelang kelulusannya, Yungi mendapatkan kabar bahwa Mina dijodohkan dengan anak kolega orang tuanya yang bernama Awan. Sebenarnya ada sesuatu di hatinya, rasa sakit yang tidak bisa didefinisikan, saat ia mendengar berita itu. Namun, lagi-lagi Yungi mengelak dan menolak perasaan itu. Dia hanya berpikir perasaan aneh itu muncul karena dia pasti tidak akan bisa lagi mengandalkan Mina jika sesuatu terjadi kepadanya dan dia akan kehilangan teman terbaiknya. 


“Sudah berapa lama kalian saling kenal?” tanya Yungi saat dia dan Awan punya kesempatan untuk mengobrol. Semua anggota gang berkumpul pada suatu hari di Amerika saat mereka liburan musim Semi. 


“Belum lama, karena kan kami dijodohkan,” ujar Awan dengan ramah. 


“Uhm, kok mau?” tanya Yungi lagi.


“Siapa yang ga mau kalau perempuannya Mina. Kayaknya kamu lebih ngerti daripada aku. Kalian temenan lama, kan?” Awan melirik ke arah Mina sejenak lalu menatap Yungi. 


Yungi agak terhenyak tapi dia berusaha tenang dan anggukan kepala sambil tersenyum adalah sikap yang disodorkan kepada Awan sebagai responsnya. 


“Kamu bahagia?” tanya Jay. Itu juga masih pada pertemuan yang sama. 


“Yang paling penting orang tuaku bahagia,” ujar Mina sambi tersenyum.


“Yang paling penting kamu bahagia, Min,” sahut Jay lagi sambi menatap dengan lembut. 


“Oh, kamu selalu perhatian dan baik sama aku, Jay. Makasih ya!” sahut Mina. 


“Boleh peluk kamu?” tanya Jay. 


“Boleh lah!” ujar Mina sambil senyum.


“Awan ga akan marah?” tanya Jay lagi sambil melirik ke arah Awan yang tengah berbicara dengan Yungi. 


“Tentu saja tidak. Kan dia tahu, kita temenan,” ujar Mina. Dia yang menghampiri Jay dan langsung memeluknya sambil tersenyum. 


“Kok aku ga suka liat Mina dan Jay pelukan!” ujar Awan sambil menatap ke arah Mina dan Jay yang sedang berpelukan. 


“Oh!” Yungi melihat ke Awan dan ke Mina dan Jay yang sedang pelukan. 


Tak lama dari kumpulan itu, Mina menikah dengan Awan dan setelahnya gang Circle 7 jarang berkumpul karena kesibukan masing-masing. 

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2