
Malam itu hujan sangat deras. Jam yang menempel di dinding menunjukkan waktu hampir pukul sebelas malam. Yungi masih berada di basecamp. Sebenarnya ia ingin pulang sejak tadi, tapi ia bawa motor, jadi daripada ia basah dan sakit, lebih baik ia urungkan niatnya dan memilih menunggu hujannya reda. Ia menyesal tadi tidak segera pulang, padahal Vee dan Justin sudah memperingatkannya tentang hujan besar yang akan terjadi pada malam.
Ia tengah asyik bermain dengan Hpnya ketika seseorang menurunkan gagang pintu. Ia melotot. Di pikirannya siapa yang akan datang pada waktu selarut ini kecuali seseorang yang jahat dan akan mencuri sesuatu di basecampnya itu. Dengan cepat Yungi meraih tongkat pemukul bisbol dan mendekati pintu dan saat pintu dibuka dengan cepat ia mengayunkan tongkat itu sekenanya dan itu membuat orang yag dikenai pukulan itu berteriak kesakitan.
“Minaa!” Yungi kaget dan ia menghentikan pukulannya.
“Sakit Yungi! Brengsek kamu!!” Mina kesal. Untung saja tongkatnya itu tidak memukul kepalanya melainkan lengan bagian atasnya.
“Maaf, Min! Aku pikir kamu pencuri!” ujar Yungi sambil dengan segera membawa Mina ke kursi.
“Kamu basah gini! Abis dari mana emang?” Yungi menatap Mina.
“Latihan ice skating, ga mau pulang. Pusing juga Mama ngomel di rumah. Jadi, aku mau tidur di sini aja malem ini,” sahut Mina sambil berdiri mencari handuk untuk mengeringkan rambutnya.
“Kok kamu tahu aku ada di sini?” Yungi agak kaget karena ketika tadi Mina berteriak, ia tidak ragu meneriakkan namanya.
“Kan ada motor kamu di luar? Kamu kejebak juga?” tanya Mina.
“Iya, aku mau pulang dari tadi, eh malah keburu hujan,” sahut Yungi lagi.
“Min, mau diobatin ga itu tangannya?” tanya Yungi lagi dengan nada menyesal.
“Ga apa-apa, nanti aku kompres sendiri,” ujar Mina.
Dia mengisi ceret dengan air dan menyalakan kompor untuk mendidihkannya.
“Mau kopi atau coklat, Yun?” tanya Mina.
“Cokelat deh, aku ngopi dari tadi,” ujar Yungi.
Mina mengangguk. Ia membalikkan tubuhnya dan membuat dua minuman di cangkir.
“Bajunya basah gitu. Kok ga ganti dulu?” tanya Yungi lagi. Nadanya terdengar khawatir.
Tom and Jeri kalau lagi akur ga ada yang ngalahin keakrabannya. Ini momen langka yang bandingannya 98% lawan 2%. Nah, yang dua persen inilah yang bisa dilihat sekarang.
“Iya, sekalian nanti!” ujar Mina lagi.
Ia berjalan menuju Yungi dan memberikan secangkir cokelat hangat, lalu menyimpan cangkirnya sendiri di atas meja. Ia berjalan menuju kamar mandi dan tak lama kemudian sudah keluar dengan rambut basahnya berbalut handuk. Ia memakai kaos putih yang cukup longgar dan celana panjang yang juga longgar di badannya.
“Kamu pakai baju siapa?” Yungi kaget melihat penampilan Mina.
“Jay,” ujar Mina kalem.
__ADS_1
“Emang si Jay udah ngijinin?” tanya Yungi.
“Iya, kan aku pernah pinjem juga yang ini,” ujar Mina lagi santai. Dia duduk di sebelah Yungi dan meraih cangkir susu cokelatnya yang masih hangat.
“Emang kamu ga nyetok baju di sini?” Yungi bertanya lagi.
“Nyetok sih, cuma minggu kemarin aku bawa pulang semua buat dicuci, terus lupa bawa lagi,” sahut Mina.
Yungi melafalkan Oh yang panjang.
“Ah oh oh aja!” komentar Mina. Dia menyisip cokelat hangatnya lalu membuka aplikasi Video di Hpnya.
“Serius amat?” ujar Yungi melirik ke arah Mina lalu mengintip ke video yang ia tonton. Itu pertandingan ice skating. Tubuhnya condong mendekati tubuh Mina dan kedua mata berfokus pada video.
“Itu pasangan, Min. Kamu emang ga apa-apa digrepein gitu?” Yungi bercanda. Yang mereka tonton bukan Mina melainkan pesaing Mina.
“Digrepein gimana? Ini mah style mereka aja Yun kayak gitu. Emang bawain narinya sensual gitu! Tapi mereka juara kedua tahun lalu,” ujar Mina dengan santainya.
“Terus kamu sama pasangan juga?” tanya Yungi sambil menoleh ke arah Mina dan dia agak terhenyak sebab baru menyadari bahwa jarak mereka sangat dekat. Kalau Mina menoleh, hidung mereka pasti akan bersentuhan. Yungi menelan ludah, bau sampo dari rambut Mina menyeruak ke hidungnya.
“Aku kompetisinya solo. Aku lagi fokus sama yang cowoknya soalnya dia juga ikut kompetisi solo, berarti dia kan saingan aku,” sahut Mina dan jawaban Yungi hanya bergumam.
“Tuh liat! Duh ini cowok jago banget! Aku harus ekstra latihan nih!” Mina masih fokus pada videonya dan sekali lagi Yungi hanya bergumam.
“Am em am em aja kamu, Yun!” Mina menoleh dan bibir mereka bersentuhan dan itu membuatnya kaget. Secara refleks, ia mundur dan membuatnya malah jatuh terlentang dan tangannya tak sengaja menarik baju Yungi sehingga Yungi juga jadi jatuh menimpa tubuh Mina. Mereka bertatapan dengan kedua jantung yang berdegup kencang.
“Uhm,” gumam Yungi tapi ia tak meminggirkan tubuhnya melainkan mencium Mina. Mina diam. Ia terlihat sangat tegang dan tak berapa lama kemudian mereka sudah bermesraan. Hujan menjadi saksi keintiman mereka berdua di base camp. Suara yang menyerukan keintiman mereka yang tengah bercinta itu tersalip suara gemericik hujan yang semakin lama terdengar semakin deras sampai akhirnya Yungi meneriakkan nama Mina sekerasnya saat ia mencapai puncak kenikmatan.
“Min, berhenti udah!” lirih Yungi sambil mencoba menyingkirkan lidah Mina dari pipinya.
“Min! Please! Atau aku ga akan bisa nahan lagi nih!” bisik Yungi sambil sekali lagi mengenyahkan lidah Mina yang menjilati pipi Yungi, tapi saat ia mendengar suara gonggongan si Guki, anjingnya, ia mengernyitkan alisnya lalu membuka matanya.
“Astagaaaa! Apa ini??????” Yungi berteriak sangat keras dari kamarnya. Ternyata, ia mimpi melakukan dengan Mina dan kini celananya basah.
Yungi masih duduk di atas kasurnya. Tangannya menekan pelipisnya dalam-dalam.
Kenapa harus Mina sih? Pikirnya? Kan bisa Vee atau Jini kalau mimpi. Kenapa harus si datar itu? Pikir Yungi lagi.
Kesadarannya baru terkumpul saat bunyi HP terdengar. Ia meraih HP di atas nakas dan tanpa melihat siapa penelponnya dia mengangkatnya.
“Halo?” Dia berbicara dengan malas.
“Yungiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!” Suara Mina sangat kencang dan itu membuat Yungi benar-benar kaget.
__ADS_1
“Mi... Mina!” jawab Yungi. Bicaranya agak gugup.
“Kamu di mana? Ini rombongan udah mau berangkat! Awas jangan bilang kamu masih tidur ya! Ditonjok siah (Aku tonjok kamu)!”.
“Eh aduh, i-iya emang aku baru bangun!” jawab Yungi lagi.
“Maneh! Kalakuan! (Kamu tuh kelakuanmu itu)”. Klik HP ditutup dan Yungi bengong.
***
“Mina di mana?” Tanya Yungi yang datang terlambat ke tempat kemah di daerah utara kota.
“Masih di dalem hutan, ngumpulin foto sesuai tugas guru.” Vee yang sejak tadi selesai duduk dengan santai di antara teman-teman lain di pos utama.
“Astagaa!” Wajah Yungi terlihat bersalah.
Dua hari sebelumnya, guru Biologi mengumpulkan semua anak kelas dua untuk memberinya tugas lapangan. Mereka dibagi ke dalam kelompok yang terdiri atas dua orang. Kelompok-kelompok itu akan dikirim ke beberapa lokasi dan diawasi oleh guru-guru juga. Mereka semua mengambil nomor di dalam sebuah mangkuk besar dan sungguh sebuah kebetulan Yungi berkelompok dengan Mina. Mereka tentu saja saling keberatan. Banyak yang mau bertukar dengan Mina dan Yungi agar mereka sekelompok dengan Mina atau Yungi, tetapi guru tidak mengizinkan. Alhasil, mereka jadi tetap bersama dalam satu kelompok. Kebetulan acaranya hari Sabtu, jadi alarm tubuh si Yungi tak bisa mendeteksi suara kokok ayam di pagi hari karena sepertinya alam bawah sadarnya tahu bahwa itu hari libur.
Setelah meminta maaf karena terlambat dan izin guru, dia pergi menyusul Mina ke dalam hutan. Hutan itu cukup aman. Tidak ada hewan-hewan buas di sana, kecuali mungkin ular. Bagaimana pun hutan itu sudah dijadikan tempat perkemahan.
Yungi meyusuri jalan-jalan di dalam hutan sesuai dengan peta yang diberikan oleh guru dan sampai pada akhir tujuan, ia tidak bisa menemukan Mina. Ia benar-benar merasa bersalah, pake acara mimpi basah segala lagi dan si Mina juga lawan mainnya. Tambah-tambah jadinya rasa bersalahnya. Yang paling mengecewakannya lagi, ia lupa membawa Hpnya saking dia buru-burunya membayangkan amarah Mina yang pastinya tidak bisa ia redakan dengan segera.
Matahari sudah hampir tenggelam. Alat penerangan yang ia andalkan hanyalah lampu senter abal-abal yang ia ambil asal di gudang sebelum ia pergi. Dan ia masih bingung ke mana mencari Mina padahal rute yang ia telusuri sudah sesuai dengan yang ditandai guru. Sejenak ia duduk di atas batang pohon yang cukup tua berpikir lama, mencoba berpikir menjadi Mina, kira-kira di mana dia akan berada pada saat seperti ini. Ia tahu guru dan petugas perkemahan pasti akan mencari mereka juga.
Ia tidak takut dan khawatir soal hutannya, tapi lebih khawatir dengan keadaan Mina. Itu anak orang kalau hilang dia yang akan jadi penyebabnya dan dia tidak mau itu terjadi. Berpikir jadi Mina juga tidak berhasil karena dia juga tidak terlalu dekat dan tidak benar-benar kenal Mina secara pribadi. Dan jika dipikir-pikir,sepertinya tidak ada yang benar-benar kenal dengan Mina, bahkan Justin teman TK atau Gladys tetangganya. Semuanya pasti akan bilang yang mirip tentang Mina, entahlah itu yang sesungguhnya dari seorang Mina atau yang dicitrakan olehnya agar orang berpikir dirinya seperti itu.
Yungi menarik napas panjang. Ia berjalan asal menuju arah pulang dan tak sengaja ia menemukan gundukan batu kecil di pinggir jalan dan itu baru. Sepertinya seseorang sengaja membuatnya begitu. Ia mengikuti gundukan batu kecil itu sampai ke sebuah gua kecil. Sebenarnya tidak benar-benar gua. Itu hanya seperti bekas pohon usianya ribuan tahun dan terbelah sehingga tengahnya mebuat celah dan terbuka besar. Seseorang bisa masuk dan duduk di sana.
“Mina!” Wajah Yungi sumringah. Ia melihat Mina tengah bersandar di sana dan terlihat lemas, menutup matanya.
“Minaa!” suara Yungi lebih keras terdengar. Mina membuka matanya. Saat ia sadar Yungi yang tengah berlari mendekatinya, Mina menangis keras.
“Min, maaf ya! Maaaf ya!” Yungi benar-benar menyesal.
“Koplok siah maneh!!! (Bodoh kamu!!!)!” Nada Mina benar-benar kesal.
“Iya, aku koplok Min, kamu boleh maki sama pukul aku, tapi nanti ya! Sekarang kita keluar dulu, kita pulang ya!” ujar Yungi.
“Kaki aku keseleo!” sahut Mina di sela-sela tangisannya.
“Iya aku gendong!” sahut Yungi.
Mina tidak berbicara, Ia masih menangis di gendongan Yungi dan saking lelahnya ia akhirnya tertidur.
__ADS_1
Keesokan harinya Mina bangun dan ia sudah ada di rumah sakit dan Yungi tengah tertidur di sampingnya.
Bersambung