Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 20 Pelukan Pertama


__ADS_3

Bab 20 Pelukan Pertama


Semenjak Mina masuk anggota sementara tim Cheerleading sekolah, intensitas pertemuan antara dia dan Yungi menjadi sangat sering. Itu karena anggota tim itu berlatih di pinggir lapangan basket atau kadang-kadang di luar tapi masih dekat dengan lapangan basket tempat Yungi dan teman-temannya berlatih. Dan gara-gara ini pula Yungi jadi sering menemukan Genta tengah duduk di pinggir lapangan menunggui Mina latihan sambil membawa video mengabadikan momen-momen Mina berlatih dan menemukan raut wajah Mina yang bahagia saat Genta memberikan semangat untuknya. 


Secara tak sadar kadang-kadang dia melihat kedekatan mereka dengan tatapan yang miris seolah menyayangkan seorang Mina malah jadian dengan seorang Genta. Tapi itu tak hanya dirinya. Beberapa teman basketnya bahkan sering mengatakan hal-hal yang tidak sopan di belakang mereka atau menunjukkan sikap jijik tapi tidak secara langsung. 


Meskipun demikian, itu hanya sebentar karena lama kelamaan mereka menjadi lebih biasa, tidak menerima mereka menjadi pasangan, tapi menyerah pada kenyataan sebab sepertinya keduanya tidak mempedulikan siapa saja yang memandang mereka dengan tidak sopan atau mengatakan sesuatu kepada mereka yang tidak berkenan. 


Terlebih Genta sekarang menjadi lebih terbuka. Ia mulai berbicara kepada teman-temannya, bahkan mengundang mereka ke acara ulang tahunnya. Acaranya ini tidak abal-abal, diadakan di sebuah aula ballroom hotel bintang lima yang megah. Orang kaya mah bebas. Ayah Genta adalah pengusaha supplier alat-alat olahraga terkenal di Eropa dan Asia Tenggara dan ibunya adalah ketua organisasi Ekonomi se-Asia tenggara dan Genta adalah pewaris tunggal dari semu aset itu. Bisa dipahami jika beberapa teman di sekolah berpikir buruk kepada Mina dengan menggosip bahwa Mina mau jadian dengan Genta karena kekayaannya itu. Mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya. 


Sore itu Mina baru saja selesai latihan ice skating, dia keluar dari studio dan baru saja akan berjalan menuju tempat parkir ketika seorang laki-laki gemuk memakai seragam sekolah yang sama dengannya berdiri di hadapannya. Mina agak kaget karena kemunculannya yang tiba-tiba. 


“Maaf, aku ga tertarik untuk pacar-pacaran atau nikah. Aku ga pernah kepikiran untuk itu, jadi maaf, aku ga bisa terima kamu,” ujar Mina berkata dengan sopan. Ia mengatupkan kedua tangannya dan menyimpannya di dadanya. Lelaki gemuk yang bernama Genta itu ternyata menyengaja datang ke studio latihannya untuk menyatakan perasaannya. Dan dia baru saja mengalami penolakan. 


Ada beberapa alasan mengapa Mina tidak bisa menerima dia jadi pacarnya, tetapi ukuran tubuh dan standar wajah tidak termasuk dalam daftar alasannya itu. Tidak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadi Mina karena Mina tidak pernah bilang apa-apa dan juga jarang membawa temannya ke rumahnya. 


Mina lahir dan besar di dalam keluarga yang cukup unik. Orang tuanya terlampau dramatis dalam hal kemesraan dan selalu menuntut khususnya anak-anak perempuan mereka untuk bisa menjadi para istri yang berdedikasi kepada para suaminya, khususnya dalam hal kebutuhan biologis mereka. Pemikiran ini lahir dari neneknya, ibu dari ibunya yang pernah ditinggalkan oleh suaminya karena selingkuh dengan alasan neneknya tidak bisa memuaskan mantan kakeknya itu di ranjang. Alih-alih berpikir bahwa sang mantan kakek itu bukan orang yang baik, neneknya malah terobsesi untuk membuat anak-anak perempuannya menjadi orang-orang yang bisa memuaskan suaminya. Nenek Mina mengajari semua anaknya yang tentu saja termasuk ibunya bagaimana cara membuat lelaki bertekuk lutut kepadanya. Dan ajarannya berhasil. Setidaknya ibunya adalah bukti hidup dari ajarannya itu. Lalu ibunya mengajarkan kepada dua anak perempuannya hal yang sama, Mina dan Sesil. Sedari kecil mereka sudah diajari bagaimana bersikap sebagai seorang wanita harus bersikap di hadapan lelaki, bagaimana perempuan harus merawat diri dan banyak lagi. Semuanya adalah untuk menjadikan lelaki ada dalam genggamannya. Sesil tentu saja menyukainya. Ia bahkan sudah mempraktekkan itu sejak TK, dan ini berbeda dengan Mina yang menganggap semua ajaran ibunya adalah hal yang tidak wajar dan gila, sehingga alih-alih mengikuti ajara ibunya, Mina malah berpikir sebaliknya, dia memilih untuk sendiri sampai mati. Dia berpikir mempunyai banyak teman dan menjadi manfaat untuk orang lain itu jauh lebih baik bagi dirinya daripada memiliki seseorang yang kemudian harus dengan susah payah ia jaga.  


Brug. Lelaki gembil itu tetiba berlutut.


“Min, aku mohon terima aku jadi pacar kamu setidaknya sampai aku meninggal,” sahut Genta dan tetiba dia menangis. Mina terbelalak. Dia tentu saja sangat kaget dengan perkataan si lelaki itu. 


“Maksud kamu apa?” Mina masih kaget. Ia meminta Genta untuk berdiri. Akhirnya mereka memilih sebuah bangku di dekat studi untuk berbicara. 


Genta menderita tumor usus. Ini ada kaitannya dengan kelebihan berat badan dia dan dia dideteksi hanya akan hidup sampai enam bulan ke depan. Ia ingin mempunyai kenangan yang indah semasa ia di SMP menjalani hidup seperti anak-anak remaja lainnya. Orang tuanya yang sibuk tidak pernah memahami isi hatinya. Meskipun begitu, mereka menuruti keinginan Genta untuk tetap berada di sekolah sampai selesai. 


“Dari mana kamu tahu aku?” tanya Mina


“Dan kenapa harus aku? Gladys, Victoria, Jini, Fransiska, ada banyak yang lebih seksi dan cantik loh di sekolah!” Mina menjelaskan. 


Genta tersenyum.


“Karena cuma kamu yang nyapa dan kasih aku roti waktu di acara inisiasi sekolah,” ujar Genta dengan lantang.


“Dan dari sana aku suka sama kamu,” ujar Genta lagi dengan wajah memerah. 


Mina tersenyum. 


“Ahahaha kamu lucu, Gen. Ya udah, oke deh.” Mina menjawab sambil tersenyum. 


Lalu mulailah mereka membuat skenario. Mina yang akan mendekati Genta untuk pertama kalinya dan begitulah akhirnya mereka jadian. 


Saat Genta ulang tahun, Mina tentu saja menghadiri acaranya. Ia bahkan menjadi tamu kehormatan dan orang tua Genta sangat menyukai Mina karena sikapnya yang sopan dan ramah. Saat acara ulang tahun selesai, Genta meminta maaf kepada Mina karena tidak bisa mengantar pulang karena tetiba orang tuanya membuat acara sendiri. Mina tentu saja tidak marah. Ia sangat paham dan ia memutuskan pulang sendiri alih-alih menghubungi ayahnya untuk menjemputnya. 


Ia tengah berjalan di trotoar menuju halte bus dengan agak tertatih-tatihsebab sepatu berhak tingginya telah membuat luka lecet di bagian belakang kakinya saat sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari sana. Yungi keluar dari mobil itu dan berjalan menuju Mina. 


“Mau ikut pulang ga?” Yungi langsung menawari. 


Mina agak terkejut dan ia menghentikan langkahnya. Yungi berjalan mendekati dia dan menunjuk ke arah kakinya. 


“Kaki kamu sakit kan? Aku anter kamu pulang,” sahut Yungi lagi. 


“Eh, ga usah, aku mau naik bus aja,” ujar Mina menolak.


“Papa kamu pernah anter aku pulang kan. Jadi, aku mau bales kebaikannya. Ayo!” Yungi bilang lagi. 


“Ga ah, ga usah!” ujar Mina. 


“Kamu keras kepala ya! Aku ga akan ngapa-ngapain kamu kok!” Yungi pikir Mina takut kepada dia karena dia pernah mencium dia sebelumnya. 


Mina diam sejenak. 


“Aku mau ke apotek dulu, mau beli obat buat kaki aku,” ujar Mina akhirnya bilang alasan kenapa tidak mau diantar pulang. 


“Di rumah kamu ga ada obat emang?” tanya Yungi. 


“Mama suka ngomel. Aku ga suka dengernya,” ujar Mina pelan. 


“Ya ga usah didenger,” sahut Yungi.


“Tsk!” Mina berdecak kesal. 


“Udahlah! Kamu ga akan ngerti juga!” gumam Mina. Dia melanjutkan langkahnya dengan tertatih-tatih melewati Yungi. 


“Astaga! Ini cewek badung amat!” gumam Yungi dengan nada kesal.


“Ya udah! Aku anterin ke apotek.” ujar Yungi dengan suara agak keras dan dengan cepat berjalan mendahulu Mina lalu membungkuk di depannya. Itu membuat Mina kaget. 

__ADS_1


“Mau apa?” tanya Mina. 


“Naik. Aku bawa kamu ke apotek,” sahut Yungi sambil menoleh dan menatap Mina. 


“Ih, ga ah!” jawab Mina dan ia mundur. 


“Eh, kamu tuh! Mau aku gendong kamu ala pengantin?” Yungi berdiri dan siap menggendong.


“Eh jangan!” Mina kaget.


“Nah, kan, makanya! Naik!” sahut Yungi lagi sambil memberikan punggungnya. 


Mina tidak punya pilihan. Kakinya terasa semakin perih juga. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Yungi dan Yungi menggendongnya menuju ke mobilnya. 


“Eh ini mau dibawa ke mana?” Mina kaget sebab mobilnya melewati sebuah apotek dan tidak berhenti. 


“Ke apotek kan?” tanya Yungi memastikan.


“Iya, itu apoteknya.” Mina menunjuk pada apoteknya. 


“Kalau ke apotek itu mobilnya ga bisa parkir, ada di dekat sini yang mobil bisa parkir dan dekat dengan swlayan, jadi bisa beli air juga.” Yungi menjelaskan. 


“Oh, gitu!” Mina menganggukkan kepalanya. 


Mobil memasuki sebuah kawasan pertokoan dan berhenti tepat di depan apotek yang cukup besar dan tempatnya terlihat sangat nyaman dan bersih. Yungi menggendong Mina ke salah satu kursi yang ada di depan apotek dan mendudukannya di sana. 


“Tunggu sini bentar! Aku beliin obatnya,” ujar Yungi.


“Emang kamu tahu aku mau beli obat apa?” tanya Mina.


“Tahulah! Obat lecet kan!” Yungi menjawab sambil menatap Mina. 


“Iya tapi tahu merknya ga?” Mina balik menatap Yungi dengan nada yang agak kesal.


“Oh, kamu punya preferensi. Ya udah apa namanya?” tanya Yungi.


Mina menyebutkan namanya dan Yungi dengan cepat memasuki apotek lalu setelah kurang lebih 10 menit keluar lagi dengan semua obat yang Mina bilang. 


Yungi berjongkok. Ia melepaskan sepatu Mina dan mulai mengobati bagian luka pada kaki Mina. Ia mencucinya dulu dengan air mineral yang sengaja sudah ia beli sebelum membeli obat di apotek. 


“Aw!” Mina menghentakkan kakinya sambi meringis. Dan tak sengaja tangannya mencengkram bahu Yungi. 


“Nah, selesai!” sahut Yungi. Ia membereskan obat-obatan.


“Tunggu sebentar ya!” ujar Yungi sambil berlari dengan cepat menuju mobil dan kembali dengan sepasang sandal di tangannya. 


“Nah, kamu pake ini aja! biar ga sakit!” sahut Yungi. Dia berjongkok dan memasangkan sandal itu bergantian di kaki Mina. 


“Agak kebesaran sih! tapi itu lebih baik daripada nyeker kan?” Yungi tertawa kecil.


“Iya, makasih ya,” sahut Mina. 


“Uhm,” ujar Yungi mengangguk.


“Aku anter pulang ya! Ini udah terlalu malem soalnya,” ujar Yungi. 


“Iya, makasih.” Mina tidak menolak. 


Mina turun tepat di depan rumahnya dan setelah mengucapkan terima kasih dan masuk ke dalam rumah, suara mobil itu melaju menjauh dari rumahnya.


“Pacarnya yang ini cocok buat Den Yungi,” sahut sopir tertiba berkomentar. Sopirnya tahu betul perempuan-perempuan yang jalan sama Yungi biasanya yang gatal. 


“Apaan, Pak, bukan pacar saya!” Yungi kaget dari senyum-senyum sendiri. 


“Oh, gitu Den! Padahal kayaknya anak baik-baik terus cantik lagi. Cocok Den,” sahut sopir lagi.


“Bukan punya saya, Pak. Pawangnya yang tadi ulang tahun,” ujar Yungi.


“Hah! Pacar Den Genta?” Sopirnya saja kenal dengan Genta. 


“Iya,” ujar Yungi.


“Oh sayang sekali!” komentar sopir itu. 


Dan percakapan mereka berhenti begitu saja.


Beberapa minggu setelah kejadian itu, Yungi menemukan sandal yang dipakai Mina ada di lokernya disertai dengan sepucuk surat ucapan terima kasih dan sebungkus kue yang sama yang pernah Yungi habiskan di belakang gedung sekolah itu. 

__ADS_1


Yungi hanya tersenyum. Setelah itu, interaksinya dengan Mina lebih baik. Setidaknya mereka bertegur sapa dan bertukar senyum. Dan itu sampai pertandingan basket antar sekolah selesai sebab peran Mina sebagai pengganti Emilia di tim Cheerleading juga selesai.


Vee pernah menawari banyak kali agar Mina bergabung ke dalam timnya, tapi Mina menolaknya karena dia juga harus mempersiapkan pertandingan ice skatingnya. 


***


Di penghujung semester pertama di kelas dua sebuah berita mengejutkan seisi sekolah. Genta meninggal saat menjalani operasi di Jepang. Hanya Mina yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat berita itu diumumkan di sekolah, Mina memang tidak masuk sekolah. Ia tengah terlibat dalam pertandingan ice skating dan mempunyai surat dispensasi dari sekolahnya untuk mengikuti acara itu. Tentu saja semuanya sedih mendengar berita itu, tapi ada juga yang senang karena itu artinya Mina putus dari Genta. 


Yungi merapikan barang-barangnya dan mengunci loker. Ia keluar dari ruang ganti basket dengan masih mengenakan seragam basketnya. 


“Ke mana Yun, tergesa-gesa gitu! Ga akan ganti baju dulu!” Justin bertanya. 


“Aku ada janji,” ujar Yungi sambil menyunggingkan senyum tengil. 


“Siapa Yun? Renata? Rachel? Venny? atau Gladys?” tanya Frans sambil senyum. 


“Ada deh!” ujar Yungi sambil mengedipkan satu matanya dan ia keluar dengan cepat dan bergegas menuju atap sekolah. Atap di sekolah mereka memang sering dijadikan tempat nongkrong anak-anak sewaktu istirahat selain gedung belakang sekolah karena di sana ada kolam renang VVIP dan bangku-bangku yang digunakan untuk makan siang atau ya mojok itu, khususnya pada malam. 


Yungi sudah sampai di atap sekolah dan berjalan ke arah kiri, dan menaiki tangga tangki raksasa, menuju tempat ia janjian dengan Gladys. Rencananya hari itu mereka mau nonton film bersama tapi mojok sebentar di atap sekolah sebelum jalan ke bioskop. 


“Oh, dia belum datang!” Yungi berbicara dengan nada kecewa. 


Dia duduk bersandar ke tangki sambil mengeluarkan HPnya dan kirim pesan ke Gladys. Setelah beberapa lama tetiba Hpnya bunyi menandakan pesan masuk. Itu Gladys dan dia bilang tidak bisa datang karena perutnya kram. 


“Tsk!” Yungi langsung berdecak kesal. 


Ia menutup HP dan menyungut. Ia tengah merapikan diri dari duduknya dan hendak pergi ketika mendengar suara musik mengalunkan irama ‘Beautiful in White’ diputar. Yungi tersentak dan ia mencari sumber suara itu yang menurutnya di dekat kolam renang. Dan benar saja! 


Di tepi kolam renang itu, seorang anak perempuan memakai gaun seperti pengantin dengan hiasan bunga di rambutnya sambil menyetel musik itu dan ia menari dengan gerakan seolah ia tengah berseluncur di atas es. Di hadapannya sebuah handycam yang sepertinya sudah ia set sebelumnya tengah merekamnya melakukan gerakan tarian itu. Yungi berdiri di dekat salah satu tiang, bersembunyi di sana mengamatinya dengan mulut yang menganga. 


“Woah! Mina!” lirih Yungi saat ia melihat  sang perempuan itu berbalik ke arahnya menari sambil tersenyum. Tanpa ia sadari ia mengeluarkan Hpnya sendiri dan merekam Mina yang tengah menari diiringi musik ‘Beautiful in White’ tadi. 


Musik berhenti pas dengan tariannya. Mina mematikan handycamnya. Ia membongkar kasetnya dan membuka pakaian yang ternyata rangkap dengan pakaian sekolahnya dan hiasan bunga di atas kepalanya lalu melempar semuanya ke tempat sampah. Setelah itu, ia juga mengambil beberapa barang dari tasnya dan melempar ke drum sampah itu, lalu membakarnya. 


Api menyala cukup besar membuat Yungi agak terhenyak terlebih Mina membungkuk pada drum sampah itu dan bilang sesuatu yang tidak bisa ia dengar dengan jelas karena jaraknya yang meskipun sangat dekat Mina lebih bergumam daripada berbicara. 


Mina berbalik dan Yungi terhenyak. Mina menangis. Wajahnya terlihat sangat sedih. Ia masih pada posisinya dan memperhatikan Mina yang berjalan menjauh dari api itu sambil suara tangisannya yang semakin lama terdengar semakin keras. 


Bruk. Mina menjatuhkan dirinya dan ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis sejadinya tak jauh dari posisi Yungi berdiri. 


“Semoga kamu bahagia, Genta. Aku sudah melakukan sebisaku,” sahut Mina di sela-sela tangisannya. Kali ini Yungi bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Mina. 


Mina masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Yungi menarik napas panjang. Ia berjalan mendekati Mina dan berjongkok.


“Hey,” lirih Yungi dan tanpa pikir panjang langsung memeluk Mina. Mina kaget. Ia berontak tapi tenaga Yungi lebih kuat. 


“Ga apa-apa, nangis aja!” lirih Yungi sambil mengelus punggung Mina pelan dan itu membuat tangisan Mina menjadi lebih keras daripada sebelumnya. 


“Kamu ga apa-apa?” tanya Yungi. Mereka berjalan bersebelahan menuju halte bus. 


“Iya, ga apa-apa. Makasih ya!” sahut Mina sambil berusaha menyunggingkan senyum. 


“Mata kamu sembap, nanti ditanya sama mama papa gimana?” tanya Yungi.


“Ga apa-apa, aku punya alasan,” sahut Mina. 


“Aku anter pulang ya?” ujar Yungi.


“Ga usah. Aku baik-baik aja, kok! Kamu ga jadi pergi sama Gladys?” tanya Mina. 


“Eh? Kok kamu tahu?” Yungi kaget.


“Gladys tadi mampir ke rumah bentar. Dia cerita, katanya mau jalan sama kamu. Nonton kan?” Mina tersenyum. 


“Iya, tapi Gladys batalin katanya kram perut,” ujar Yungi. 


“Oh. hari pertama dia kali. Ga jadi mojok dong! Aduuh!” Mina nyengir. 


Yungi ikut nyengir. 


“Aku pulang ya! Makasih ya!” Ujar Mina lagi sambil menunjuk ke bus yang hampir tiba di halte.


“Uhm,” sahut Yungi.


“Semangat Min!” sahut Yungi. Mina mengangguk sambil tersenyum. 


Ia menaiki bus. Ia menatap Yungi yang berdiri di halte bus sambil memegang tas basket yang bersandar di bahunya lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Yungi mengangguk sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Bersambung 


 


__ADS_2