Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 40 Selamat Datang Baby Jun, Jay, dan Justin


__ADS_3

“Yungi, ini minggu ke-35 kan?” Mina yang baru saja keluar dari kamar mandi tetiba bertanya kepada Yungi. Waktu itu, Yungi tengah di ruang tengah mengobrol dengan anak-anak tentang film yang barus saja mereka tonton. Kehamilan dengan bayi lebih dari satu biasanya akan lahir pada usia 37 minggu. 


“Iya,” jawab Yungi sambil menoleh ke arah Mina yang berjalan menghampirinya. 


“Uhm, aneh ya! Aku nge-flek nih! Telfon rumah sakit deh!” Mina berbicara dengan tenang. 


Lain hal dengan Yungi dan anak-anak yang wajahnya langsung tegang. Mereka langsung panik. Yungi meraih Hpya dan menekan nomor rumah sakit. Juna dan Zen langsung berlari ke kamar orang tuanya dan mengeluarkan koper perbekalan dan Yuna membawa kipas dan mengipasi mamanya yang mulai merintih pelan. Mereka duduk di sofa dan Mina mulai mengatur napas.  


Semuanya sudah paham jika Mina memasuki tahap ini, semua akan diam dan itu seperti sebuah kesepakatan. Jangan membuat Mina kesal atau marah. Ikuti saja keinginannya. Oleh karena itu, anak-anak diam mengipasi sementara Yungi dengan cepat menyiapkan mobil. 


“Ayo!” ujar Yungi dan Mina hanya mengangguk sambil mengatur napasnya. Yungi memapah Mina ke mobil.  Baru saja ia akan masuk mobil, tetiba Mina menggeram dan meremas tangan Yungi sekuatnya. Keduanya berteriak sama-sama kesakitan. Yang satu karena kontraksi dan yang lainnya akibat remasan. Anak-anak yang menyaksikan di balik pintu bersama dengan Mbak Ade dan Mbak Juni hanya meringis, ikut merasakan. 


Kepanikan berpindah ke dalam sebuah ruangan persalinan dan sebuah ruang tunggu rumah sakit. Orang tua Mina bolak-balik dengan wajah yang dipenuhi dengan rasa cemas. Beberapa kali orang tua Yungi juga video call mereka dan menanyakan kabar. Beberapa kali perawat-perawat tampak sibuk, bolak-balik ke ruangan itu sampai akhirnya dokter datang. Ia menyunggingkan senyuman ke arah Papanya Mina  dan kemudian memasuki ruang persalinan. 


“Mari kita lihat!” ujar sang dokter sambil memasang sarung tangan lalu memeriksa keadaan bawah Mina. Mina tidak merespons. Dia hanya terus melakukan tarik buang napas. Tubuhnya dipenuhi keringat dan Yungi menyapunya dengan pelan. 


“Ini persalinan yang paling tenang ya! Eh, tapi dulu juga Zen kan seperti ini ya, Min!” dokter sengaja memancing agar Mina mengeluarkan emosinya. Itu jauh lebih baik daripada menahannya. Mina mengabaikannya. Dia terus berfokus pada kegiatannya. 


Mina dan Yungi menyadari melahirkan tiga secara normal penuh dengan risiko, pendarahan dan pembengkakan uterus dan kelelahan adalah faktor utama yang membuat nyawa sang ibu terancam. Yungi sudah berkali-kali membujuknya agar Mina melahirkan dengan cara operasi caesar saja. Mereka bahkan bertengkar gegara ini. Namun, Mina tetap pada keputusannya, melahirkan dengan cara normal karena ia yakin ia bisa melakukannya. 


“Oke, sudah siap,” ujar dokter dan tak lama Mina mendorong kuat dan satu bayi keluar lalu terdengar satu tangisan. Perawat mengambilnya dan mengurusnya. 


Mina mengatur napas lagi.


“Dia belum mau keluar,” rintih Mina. Air matanya membasahi pipi. 


“Ayo, Jay, Ibu mohon,” rintih Mina. Anak pertama dinamai Jun, kedua Jay dan yang ketiga Justin. Itu yang anak-anak katakan. 


“Dokter!” Yungi yang melihat ke arah sang dokter karena dia menjadi semakin khawatir. 


Dokter tersenyum. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam bagian bawah Mina memperbaiki posisi Jay agar siap meluncur dan setelah tangan dokter keluar, mulas yang begitu kencang dirasakan oleh Mina dan ia siap mendorong lagi. Jay keluar dan hanya beda tiga detik Justin juga langsung keluar, seolah tak sabar menyusul kakaknya.


Ketiga bayi menangis bersamaan. Mina dan Yungi juga ikut menangis. 


Tiga bayi itu disimpan di atas perut Mina dalam posisi telungkup dan Mina langsung memeluknya. 


“Hei, baby. Hai.” lirih Mina dengan mata yang tak berhenti mengalirkan air mata. 


Justin perlahan maju mencari air susu ibunya, disusul Jun, lalu Jay, setelah Justin melepaskannya. 


“Woah! Si bungsu rupanya pejuang tangguh ya!” dokter tersenyum. 

__ADS_1


“Selamat Yungi, Mina,” sahut dokter sambil melihat ke arah Yungi dan Mina bergantian.


Mina hanya tersenyum. Ia tak kuasa menahan air matanya. 


“Min, terima kasih,” lirih Yungi sambil juga ikut menangis. Ia mencium kening dan pipi Mina. 


“Aku mau tidur,” lirih Mina. 


“Jangan dulu!” ujar dokter. Darahnya cukup banyak dan dokter masih membersihkannya. Mina harus dalam keadaan sadar agar kondisinya stabil. 


“Aku ga kuat,” ujar Mina.


“No, kamu kuat. Hanya lima menit saja. Tahan ya!” sahut dokter.


“Anda ajak ngobrol istrinya,” teriak dokter kepada Yungi yang panik tapi tak berbuat apa-apa.


“Ah iya, oke!” ujar Yungi dan mulai berceloteh apa saja. Beberapa kali Mina tertawa. Bayi sudah dibawa oleh perawat untuk diurus sebagaimana mestinya. 


“Oke, boleh tidur sekarang,” sahut dokter.


Mina memegang tangan Yungi sambil menutup matanya. Begitu Mina menutup matanya, Yungi langsung menangis. Bukan karena rasa sedih melainkan rasa bahagia. Menunggui istri melahirkan adalah pengalaman pertama dalam hidupnya. Sekarang ia sadar akan sesuatu. Bagaimana kuatnya Mina menggantikannya menunggui Erika melalui proses ini dan bagaimana Erika bisa melalui ini? Tidak peduli Erika melahirkan secara caesar, yang namanya mengeluarkan manusia mini dari dalam perut seorang perempuan itu adalah hal yang sungguh besar, melelahkan, mengerikan tetapi pada saat yang sama membahagiakan. 


Sekarang Yungi berpikir bahwa perempuan adalah pahlawan yang sebenarnya dan kemudian dia berpikir dia akan mencintai Mina dengan lebih-lebih. Dia akan meminta maaf kepada ibunya dan menyayangi ibunya juga dan suatu hari jika ia bertemu dengan Erika, dia akan meminta maaf sekaligus berterima kasih atas banyak hal. Dia menyesali telah menganggap wanita-wanita yang dulu datang kepadanya meminta bercinta dengannya itu hanya sebagai objek pelampiasana. Dia janji, dia tidak akan melakukan itu lagi dan sisa hidupnya hanya akan dihabiskan menebus kesalahannya dengan menjadi orang yang lebih baik, menjadi suami, ayah, dan anak yang baik. 


“Tidak, kami yang berterima kasih karena memberi kami cucu-cucu yang imut. Tolong jaga Mina untuk kami,” sahut Mama Mina. Mereka berpelukan. 


“Makasih, Mah. Iya, aku pasti jaga Mina, Mah,” ujar Yungi. 


“Makasih, Pah!” ujar Yungi sambil memeluk Papa mertuanya. 


***


“Papah!” teriak anak-anak  berlari dengan wajah sumringah menuju Yungi yang masih berbicara dengan mertuanya. 


“Uuuh!” Yungi kewalahan karena pelukan ketiga anaknya yang kuat. Sesil yang berdiri di belakagnya hanya tersenyum. 


“Selamat Kak!” ucap Sesil sambil tersenyum. 


“Makasih, Sil!” jawab Yungi.


“Sip. Anak-anak ga sabar pengen liat adik-adiknya dan mamanya juga. Jadi, Sesil bawa ke sini,” jelas Sesil.

__ADS_1


“Iya, ga apa-apa. Makasih ya!” jawab Yungi sambil menggendong Yuna.


“Pah, di mana Justin, Jay, dan Jun. Kami mau lihat!” Juna menatap Yungi.


“Iya, ayo!” ujar Yungi dan mereka membawa ketiga anaknya ke ruangan tempat ketiga adik mereka dirawat. 


“Kita tidak boleh masuk ke dalam. Tapi boleh melihat dari sini,” sahut Yungi dan menunjuk pada ketiga bayi yang sedang diinkubasi. 


“Oh, waw!” Ketiga anak-anak itu melihat ketiga bayi dengan rasa kagum. Mata mereka berbinar. 


“Mereka sangat imut!” ucap Zen. Matanya berkaca-kaca. Yungi tersenyum dan mengelus kepala Zen lembut.


“Mereka adik-adik kita. Hahaha!” Juna tertawa bahagia. Ada rasa puas di dalamnya. 


“Kapan mereka boleh pulang, Pah?” tanya Yuna yang juga terlihat sangat gemas saat melihat adik-adik bayi mereka. 


“Mungkin dua minggu lagi.” Yungi berkata.


“Oooh lama sekalii!” lirih anak-anak. Wajah mereka terlihat sedih.


“Itu karena mereka lahir lebih awal, jadi mereka harus dicek terus kesehatannya. Kalau dokter bilang mereka sudah siap pulang, meskipun sebelum dua minggu, mereka akan dibolehkan pulang.” Yungi menjelaskan. 


“Gitu ya!” Nada anak-anak masih sedih.


“Hei, tapi kalian kan bisa datang ke sini setiap hari dengan Papah, iya kan?” Yungi menghibur.


“Iya, Pah!” seketika mereka terlihat kembali bahagia. 


“Apa sekarang kami boleh lihat Ibu?” tanya Yuna. 


“Yuna kangen Ibu,” sambungnya.


“Oh, Sayang! Tentu saja. Tapi Ibu tidur sekarang. Dia istirahat karena kelelahan.” Yungi menatap Yuna dengan lembut.


“Pah, kami hanya ingin melihat Ibu cium ibu dan pulang. Boleh?” tanya Zen.


“Iya, kami ingin berterima kasih karena Ibu sudah melahirkan adik-adik kami,” ujar Juna. 


Yungi melihat ketiga anaknya bergantian sambil berpikir.


“Papah tanya perawat dulu ya?” Yungi memastikan. 

__ADS_1


Ketiga anaknya mengangguk sambil tersenyum dan mengatakan terima kasih. 


Bersambung 


__ADS_2