Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 42 Masih menyoal Tahi Lalat


__ADS_3

Minggu depannya memang ada kelas gabungan dalam pelajaran Ekonomi. Sayangnya itu bukan kelas Mina dan Vee, melainkan kelas Mina dan Yungi. Sementara itu, kelas Ekonomi Vee malah digabung dengan kelas Ekonomi Justin yang di dalamnya juga ada Jini. 


“Aseeek. Aku sama kamu ya, Min!” Si Yungi yang sudah tahu harus melakukan apa langsung mendekati Mina. Guru memberikan pengumuman persis seperti yang dikatakan Vee sebelumnya dan Vee tahu karena ada anak guru itu di tim Cheerleading mereka. 


“Bu, aku satu kelompok sama Mina,” teriak Yungi dengan mantap.


“Ya, baik. Yungi dengan Mina. Yang lain bagaimana?” tanya guru Ekonomi. 


Beberapa perempuan terlihat murung saat Yungi berjalan ke arah Mina sambil senyum-senyum. 


“Yah ada yang heartbroken tuh gara-gara kamu sama aku!” bisik Mina sambil melihat ke beberapa perempuan yang melihatnya dengan kesal. 


“Bodo amat!” bisik Yungi sambil senyum. 


“Sia mah! (Kamu tuh! kasar).” Mina menggelengkan kepala. 


Tugas mereka membuat kue. Ada lima pilihan; kue bolu biasa, satu jenis kue kering, kue jajanan pasar, kue tart, dan kue pie. Muffin masuk ke dalam kue jajan pasar itu. Setelah mereka membuat kue, mereka harus mempromosikannya di bazaar yang kebetulan memang akan dilakukan pada minggu itu. Mereka harus meminta reviu dari pembeli, menghitung semua cost yang dikeluarkan termasuk profitnya. Intinya itu praktik bisnis dan ekonomi juga. 


“Kapan kita bikin kuenya, Min?” tanya Yungi.


Mereka duduk berhadapan di ruang kelas besar. Ruang itu memang diperuntukkan jika ada kelas gabungan. 


“Harus  hari H-nya atau sehari sebelumnya lah!” ujar Mina.


“Ya udah ntar aku ke rumah kamu deh! Jam berapa mau bikinnya? Kapan tepatnya Hari H atau hari sebelumnya?” Yungi memastikan. 


“Jam sebelas kita udah mulai bikin stand Yun. Belum bikin perintilannya ya. Kita bikin muffin aja kali ya yang gampang.” Mina memberikan ide. 


“Iya boleh lah. Aku ikut aja!” jawab Yungi.


“Bukan cuman ngekor, Yungi. Tentuin job desk kamu apa?” tanya Mina. 


“Ohhh hahahaha!” Yungi menggaruk kepalanya. 


“Uhm, ini kegiatannya nanti ada jual-jualan gitu kan?” Yungi bertanya.


Mina menganggukkan kepala.


“Ya udah aku di bagian jual menjual deh. Tapi aku pastiin bantuin kamu bikin muffin dan perintilan juga. Ga bisa sehari dua hari itu. Jadi, harus dipastikan aja hari apa aja kita kerja bareng. Kalau bisa jangan pas aku latihan basket ya.” Yungi menjelaskan. 


“Kamu latihan basket hari apa aja?” tanya Mina. 


“Selasa, Kamis sekarang. Kan ga ada pertandingan,” ujar Yungi.


“Oh, oke. Pas kalau gitu. Aku juga latihan ice skating di hari yang sama. Jadi, kayaknya kecuali di hari itu, kita ga perlu kerja bareng deh. Terus waktunya kan cuma seminggu ya. Jadi, kita harus metain nih! Mau ngapain aja di hari-hari kita ketemu itu!” Mina menjelaskan. 


“Oke,” jawab Yungi


Mereka membuat daftar bersama yang harus dilakukan untuk kegiatan Bazaar. 


“Yungi, kamu cosplay, ya?” Mina senyum tengil sambil memainkan alisnya.


“Maksudnya?” Yungi mengernyitkan alisnya.


“Nanti pas jualan, kamu pake kostum maid dress mau ga?” tanya Mina. 


“Serius? Aku pake baju cewek, maksud kamu?” Yungi menelan ludah.


Mina mengangguk sambil senyum.


“Duh! Kamu jangan iseng dong, Min!” ujar Yungi.


“Ya udah! Gini aja! Orang yang beli muffin bakal dapat kupon dan yang paling banyak kuponnya dia bakalan kencan sama kamu sehari, gimana?” Mina menyarankan. 


“Njir! Min! Gimana kalau yang beli semua kue muffinya si Brenda. Kan dia ngejar-ngejar aku. Artinya aku harus kencan sama dia kan?” Yungi memastikan.


Mina mengangguk.


“Duh ga mau! Mendingan aku yang beli semua muffinnya aja kalau gitu,” ujar Yungi.


“Terus di belah mana kamu belajar Ekonominya, hmmm?” Mina menatap Yungi kesal. 


“Daripada aku kencan sama si Brenda yang aneh itu!” Yungi memberikan alasan. 


“Ya udah balik aja. Mereka kencan sama aku!” jawab Mina. 


“Wow! Itu ide yang bagus, tapi nanti geng circle 7 pasti maki-maki aku kalau aku jadi mucikari kamu. Jadi noooooo!” Wajah Yungi yang awalnya terlihat sangat setuju dan sumringah berubah menjadi menakutkan. 


“Cih! Si penggila pencitraan!” umpat Mina sambil mengerling kesal. 


“Udah lah kita berdua pake maid dress ya! Jadi ga ada yang sirik-sirikan,” ujar Yungi.


Mina diam sejenak. Dia menatap Yungi lalu menganggukkan kepalanya.


“Oke deh!” Mina menjawab. 


“Nah gitu dong! Salaman dulu!” ujar Yungi. Mereka bersalaman tapi wajah Mina cemberut.


“Terus gimana soal kostumnya?” tanya Yungi lagi.


“Aku punya di rumah,” ujar Mina.


“Wow! Kamu suka cosplay, Min?” tanya Yungi nyindir.


“Punya Sesil!” jawab Mina santai. Ia menulis sesuatu di bukunya. 


“Kamu ada rencana hari minggu ini ga?” tanya Mina. 


“Minggu ya?” Yungi mikir lalu ia menggelengkan kepala. 


“Oke deh! Kita belanja ya buat keperluan muffin dan perintilannya,” sahut Mina. 


“Jam berapa?” tanya Yungi.


“Jam 9-an ya. Siangnya aku ada acara makan siang,” ujar Mina.


“Oke sip!” Yungi mengacungkan jempol. 


“Janjian di mana?” tanya Yungi.


“Depan malnya aja.” Mina sambil menyebutkan nama satu mal. 


“Oke deh!” jawab Yungi


***


Beberapa kali Mina melirik ke jam tangannya. Sudah pukul setengah sepuluh dan itu hari Minggu. Mina berdiri di depan mal, di sebuah tempat yang sudah mereka sepakati lewat WA juga. Namun, Yungi belum juga menampakkan batang hidungnya. Ia sudah menelfonnya lebih dari sepuluh kali, tapi orang yang ditelfonnya itu tak juga mengangkatnya. Akhirnya, ia menyerah. Ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya. 


“Yunginya ada, Bu?” tanya Mina setelah menekan bel gerbang depan dan seorang ibu paruh baya membukakan untuknya. 


“Den Yungi masih tidur, Non!” jawab Ibu itu. 


“Hah!” Wajah Mina berubah kesal. 


“Den Yungi demam dari tadi malam. Dia bertengkar sama Mamanya tadi malam Non!” Ibu yang sepertinya asisten di rumah Yungi menjelaskan. 


“Oh!” Mina kaget. 


“Ada mama sama papanya di sini?” Mina tidak berani masuk.


“Sudah pulang lagi ke Australia tadi malam,” jawab sang Ibu. 


“Gitu! Yungginya di mana?” tanya Mina.

__ADS_1


“Di kamarnya. Masih tidur,” ujar ibu itu.


“Ini Non Vee atau Jini atau Mina?” tanya sang ibu lagi.


“Mina. Nama saya Mina,” jawab Mina. 


“Oh, iya. Masuk Non!” jawab Ibu.


“Makasih, Bu. Saya boleh lihat Yungi, Bu?” tanya Mina setelah ia masuk ke dalam rumah. 


“Iya. Kamarnya di lantai dua di pojok Non!” jawab ibu itu.


“Oke, makasih, Bu.” Mina menjawab dan langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar Yungi. Perlahan ia membuka pintu kamar. Yungi terkulai di atas ranjang. Matanya terpejam, tubuhnya berbalut selimut sampai bagian lehernya dan wajahnya memang terlihat agak pucat. 


“Berantakan sekali! Jorok banget si Yungi!” ujar Mina pelan sambil mengamati ruangan. Itu pertama kalinya Mina ada di kamar Yungi. 


Pelan-pelan ia merapikan buku-buku yang ada di atas meja. Di atas meja itu ada beberapa miniatur pemain basket terkenal dan di dekatnya ada foto gang circle 7 sewaktu mereka masih SMP. Mina tersenyum melihat foto itu sebentar lalu meletakkan kembali ke tempatnya.  Setelah itu, ia mulai merapikan komik-komik tentang basket yang berceceran di lantai dan memasukkannya ke raknya. Pakaian-pakaian kotor dimasukkan ke dalam keranjang cucian dan di bawah ranjang ia menemukan beberapa majalah dewasa dengan tisu bekas mas******i. Mina meringis dan menutup hidunganya saat memunguti tisu-tisu itu dan membuangnya ke tempat sampah. 


Ia merapikan majalah-majalah itu dan menyimpannya di pinggir ranjang. Setelah itu, ia duduk bersandar pada salah satu dinding dan itu berseberangan dengan ranjang. Ia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya dan menulis-nulis sesuatu di sana. Tak lama ia mendengar suara Yungi yang menggeliat di atas ranjang. Ia hanya melirik sejenak dan kembali pada kegiatan tulis-menulisnya. 


Yungi bangkit dari tidurnya. Matanya masih setengah terpejam dan ia kaget saat melihat Mina tengah duduk di lantai dan menatapnya dengan khawatir. 


“Mina, Astagaa!” suara Yungi serak. Dia memegang kepalanya yang terasa panas. 


“Ga usah maksain bangun, Yun!” Mina bangkit dari duduknya dan berjalan duduk di sebelah Yungi. 


“Maafin aku!” ujar Yungi dengan suara yang serak. 


“Jangan ngomong dulu! Kamu sakit demam tuh!” Mina memegang dahi Yungi membuatnya agak kaget. Yungi menatap Mina. 


“Dah minum obat?” tanya Mina. Yungi menggeleng pelan. 


“Dah makan?” tanya Mina lagi. Yungi menggeleng lagi.


“Aduh! Gimana mau sembuh! Jangan gini dong! Aku kan butuh kamu, Yun!” Mina bilang.


“Hah! Gimana Min?” Yungi kaget mendengar kalimat yang terakhir. Suaranya masih serak.


“Kan, kamu partner Ekonomi aku,” jawab Mina. 


“Ah,” suara Yungi memelan. 


“Makan dulu ya! Mau bubur ga?” tanya Mina. 


“Iya mau!” jawab Yungi. 


“Tunggu sini ya!” Mina beranjak dari pinggir ranjang Yungi dan berjalan ke arah luar. Ia meninggalkan tas dan Hpnya di dekat Yungi. 


“Mau ke mana?” tanya Yungi.


“Beli bubur lah!” jawab Mina. 


“Minta tolong Bibi aja!” ujar Yungi.


“Iya,” jawab Mina. 


Ia meninggalkan Yungi dan selang setengah jam ia kembali ke kamar membawa, bubur, minum dan obat. 


“Mama kamu kayaknya telfon tadi!” ujar Yungi yang mengamati ada panggilan masuk dari mama Mina. 


“Oh iya,” jawab Mina. Dia menyimpan air minum dan obatnya di atas nakas. Setelah itu ia mengaduk buburnya pelan menghilangkan uap panas dari dalamnya. 


“Aku suapin?” Mina menawarkan. 


Yungi membuka mulutnya. 


“Beu berasa Tuan Muda nih!” Mina tersenyum mengejek.


Yungi senyum sambil memainkan alisnya dan menerima suapan dari tangan kanan Mina. Tangan kiri Mina sibuk memegang telfon yang tengah menyambungkan pada mamanya.


“Ga Mah. Kayaknya Mina ga jadi ikut. Maaf Mah! Temen Mina sakit. Jadi, Mina bantuin dulu dia,” ujar Mina.


“Gimana? Awan? Apa urusannya sama Mina, Mah?” Mina bicara dengan nada datar. 


Terdengar mamanya ngomel dan Mina langsung menutup telfonnya dan Mina menyimpannya di dekat Yungi. 


Suasana hening sejenak. Mina santai menyuapi Yungi.


“Kamu ga apa-apa?” tanya Yungi. 


“Ya apa-apa lah! Kita janjian di depan mal. Aku dah dateng sejam sebelumnya, terus kamu ngacangin aku. Kesyel kan aku! Ya udah aku datengin kamu kan! Terus Juragan Yungi sakit! Mau gimana lagi. Aku jadinya ga bisa marah-marah kan!” Mina menjelaskan sambil mengelus dada pelan. 


“Bukan itu! Aku tahu kamu pasti kesal soal itu. Ini Mama kamu, itu nelfonin terus kok ga diangkat?” tanya Yungi. 


“Oh, itu! Aman! Santai aja!” jawab Mina.


“Tapi itu Mama kamu loh, Min!  Itu Awan siapa?” tanya Yungi. 


“Mana aku tahu. Anak kenalan Papa sama Mama aku katanya. Mau dikenalkan gitu!” jelas Mina. 


“Ooh! Jodoh-jodohan nih!” canda Yungi.


“Ga tahu! Tapi kayaknya Itu cowok ga suka sama aku,” jawab Mina.


“Sama siapa dong?” tanya Yungi sambil nadanya bercanda.


“Sesil lah!” jawab Mina. 


“Uhm iya sih! Sesil sama kamu kan emang beda banget. Dia mah seksi, terus emang cantik. Siapa yang ga akan suka!” Yungi mengamini.


“Yungi! Kamu ngelunjak!” Mina memasukkan sendok bubur ke mulut Yungi dengan agak kasar. Ekspresi di wajahnya terlihat kesal. 


“Aduh, Min! Aku minta maaf deh! Kamu juga cantik kok! Beneran!” Yungi dengan cepat memperbaiki kata-katanya khawatir Mina tak membantunya lagi. 


“Aku ga peduli cantik atau ga! Tapi kalau kamu deketin Sesi atau macem-macemin dia, awas aja!” ancam Mina. 


“Kalau dianya yang apa-apain aku gimana Min. Aku soalnya ga pernah nolak kalau dia mau sama aku,” ujar Yungi.


“Yungiiiii! Awas aja kalau kamu godain Sesil,” Mina marah.


“Iya, ... janji aku ga akan deketin ade kamu!” Yungi langsung membuat tanda sumpah dengan jarinya. Yungi tersenyum. Ia memalingkan wajahnya dan menahan tawa. 


“Nih makan obatnya!” ujar Mina sambil menyodorkan obatnya. Yungi menerimanya dan meminumnya. 


“Ganti bajunya sana!” ucap Mina sambil memberikan baju yang diberikan oleh asisten sewaktu Yungi makan bubur. 


“Kamu balik Min. Masa iya aku ganti depan kamu,” ucap Mina. 


“Iya,” ucap Mina dan ia langsung melakukannya. 


Yungi diam. Sekali lagi ia menatap leher belakang Mina. Tahi lalat itu menarik perhatiannya. 


“Shit!!” rutuknya kesal. Dia mengangkat selimutnya menatap bagian celananya yang menggembung.


“Kenapa Yun, buruan udah belum? Aku mau ngomong soalnya abis ini,” ujar Mina. 


“Kayaknya kamu tunggu di balkon mau ga? Aku mau ke kamar mandi dulu. Ga nyaman ganti di sini plus ga enak perut juga,” ujar Yungi. 


“Oh, oke! Tapi kamu kuat ga ke kamar mandi sendirian?” Mina bertanya.


“Iya,” jawab Yungi dan Mina menganggukkan kepalanya lalu  dengan santainya berjalan ke arah balkon membuka pintunya dan duduk di ayunan.


Hampir satu jam Yungi di dalam kamar mandi dan ia menghampiri Mina setelah berganti baju lalu duduk di depan Mina di ayunan juga. 

__ADS_1


“Gimana?” tanya Yungi. 


“Belanjanya besok pulang sekolah aja. Sekarang kamu istirahat aja,” ujar Mina. 


“Iya, Min. Maaf ya!” jawab Yungi.


“Iya ga apa-apa. Udah takdir kali Minggu kamu harus bobo cantik,” sindir Mina. 


Yungi hanya tersenyum. 


Mereka diam. Yungi mengalihkan wajahnya ke samping menatap pemandangan yang ada di pinggirnya. Ekspresi di wajahnya terlihat sedih dan Mina bisa merasakan itu. 


“Kamu ga apa-apa?” Mina menatap Yungi.


“Uhm?” Yungi melihat ka arah Mina.


“Kamu ngomong apa barusan? Sorry. Aku barusan ngelamun,” ujar Yungi.


“Kamu ga apa-apa?” Mina mengulangi pertanyaan.


“Iya lah! Aku lebih baik ... Kan dah minum obat barusan!” Yungi mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia paham dengan arah perkataan Mina. 


“Kamu baik-baik aja, Yungi?” Mina mengubah pertanyaannya tapi maksudnya itu-itu juga.


“Iya lah masa seorang Yungi ga baik-baik aja!” Yungi memaksakan sebuah senyum. 


“Aw, apaan sih kamu?” Yungi meringis kesakitan memegang tulang kering kakinya yang baru Mina tendang. 


“Tuh sakit kan! Jawab makanya yang bener,” ujar Mina sambil senyum. 


“Brutal kamu! Tahu kan aku lagi sakit,” jawab Yungi. 


“Mana yang bener? katanya sakit katanya ga?” tanya Mina sambil menatap Yungi. 


Yungi tidak merespons. Dia menunduk berfokus pada kakinya dan mengusapnya perlahan.


“Mina!” nada Yungi serius. Ia menengadah melihat ke arah Mina. 


“Hmm?” Mina melihatnya dengan wajah serius. Sepertinya dia siap mendengar keluh kesah Yungi. 


“Pacaran yuk!” Yungi menatap Mina serius. 


“Hah?” Mina melongo. 


“Jadian kamu sama aku. Kamu jadi pacar aku. Mau ga?” tanya Yungi sambil menatap Mina serius.


“Hayang dicabok maneh ku aing? (Kamu mau aku tampar ya?)” Mina mendelik kesal. 


“Hahahahahahahahahaha!” Yungi tertawa renyah. Dia memegang perutnya. 


“Ampun, Mina! Kamu tuh! Hah!” Yungi memperbaiki posisi duduknya. Dia menggelengkan kepalanya. 


“Thank you!” ujar Yungi.


“Apaan sih?” Mina terlihat bingung. 


“Iya gitu aja lah! Pokoknya makasih dah jadi temen aku.” Yungi berkata lirih. 


“Woaaaah! Bagus Yun!” ujar Mina menunjuk ke arah belakang Yungi.


Yungi memalingkan wajahnya ke arah yang ditunjuk Mina. Langit yang membentang dengan warna jingga dan sebagiannya kemerahan,ciri khas menjelang malam. 


“Ambil foto ah!” jawab Mina sambil dengan cepat mengarahkan kamera HP pada pemandangan di belakang Yungi. Lalu, ia melihat hasilnya dan tertawa. 


“Kenapa, liat!” Yungi dengan cepat merebut HP Mina. 


Dia melihat layarnya dan ternyata wajah Yungi dari hidung sampai kepalanya terekam kamera. 


“Njir Mina! butut ih (jelek ih) hapus ah!” Yungi langsung tekan tombol ‘DELETE’.


“Sini,” ujar Yungi dan dia langsung narik Mina. Mereka berfoto selfie dengan latar belakang langit tadi. 


“Tuh, bagus kan?” Yungi memainkan alisnya sambil menunjukkan hasil fotonya yang memang terlihat bagus. Yungi mengotak-atik sebentar gambar itu dan kemudian mengirimkannya ke Hpnya.


“Serah maneh! (terserah kamu!).” Mina mengambil Hpnya. 


“Aku pulang deh!” sambungnya. Dia berdiri dan keluar dari ayunan.


“Yungi, ada bubur di kulkas. Nanti malem jangan lupa makan dan minum obatnya. Awas aja kalau besok kamu masih sakit. Dicoret maneh tina grup (Dicoret kamu dari grup)!” Mina mengancam.


“Uhmm,” jawab Yungi. Dia tersenyum dan menatap punggung Mina yang berjalan memasuki kamarnya.


“Aku anter kamu ke bawah,” ujar Yungi.


“Ga usah! Orang sakit mah sare weh kadituh (Orang sakit sebaiknya tidur aja lah)!” Mina tersenyum. Ia merapikan tasnya. 


Yungi berdiri di pintu balkon saat Mina membuka pintu kamar Yungi. 


“Habis main sendiri buang tisunya ke tempat sampah Yungi! Maneh jorok ih! nepi ka digembrong ku sirem! (Kamu jorok sampai sampai tisunya dikerubunin semut!)!” Mina menggelengkan kepalanya.


Wajah Yungi memerah. Ia pikir asisten di rumahnya yang merapikan kamarnya. 


“Bye.” Mina menutup pintu. 


Yungi berdiri di balkon kamarnya. Ia melihat Mina keluar dari pintu utama. Sebuah mobil terparkir di luar rumahnya. Itu mobil keluarga Mina dan ia tahu sopirnya.


“Mina!” teriak Yungi dari balkon. 


Mina menengadah. 


“Pikirin yang soal jadi pacar aku ya!” Yungi tersenyum. 


Mina mengacungkan jari tengahnya sambil mendelik kesal. 


Yungi tertawa renyah. Ia merasa lega. Ia pikir jika ada Mina, hidupnya akan baik-baik saja. 


***


“Yungi?” Mina menelfon Yungi pada malam harinya. 


“Uhm.” Yungi menjawab telfon dari Mina. 


“Dah makan belum? Dah minum obat belum? Awas aja ya kalau besok batal lagi gara-gara kamu ga jaga diri” Yungi diberondong pertanyaan. Dia tersenyum dan masih diam mendengar celotehan Mina. 


“Yungi didengerin ga sih aku ngomong?” tanya Mina kesal. Yungi mematikan Hpnya dan menggantinya dengan video call. Mina langsung mengangkatnya. 


“Nih lagi makan! Liatin ya sampai abis.” Yungi bilang. 


Mina tersenyum. 


“Nih aku minum obat,” ujar Yungi menunjukkan ke kamera Hpnya. Itu setelah ia selesai makan.


“Dah yah! Aku mau ke kamar mandi mau gosok gigi terus bobo!” Yungi bilang lagi. 


Mina tertawa. 


“Kok malah ketawa sih Say!” Yungi bicara dengan nada manja.


“Jijik Yungi dengernya!” Mina mengerling. 


“Ya udah. Jangan lupa besok ya!” Mina langsung mematikan Hp. 


Yungi tersenyum. Ia menyimpan Hpnya di kasur lalu berjalan ke arah kamar mandi. 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2