
“Monika,” ujar seorang perempuan yang berambut merah kecoklatan, berwajah cantik dan bertubuh seksi saat ia mengulurkan tangannya kepada Mina mengajaknya berkenalan.
“Mina,” ujar Mina dengan ramah menyambut uluran tangan Monika sambil menyunggingkan sebuah senyum ramah.
Mereka kemudian duduk berhadapan di ruang keluarga. Di sebelah Monika adalah Tante Voni yang sudah memperkenalkan diri sebelum dia dan Monika berkenalan. Semuanya berkumpul di sana, bahkan anak-anak dan para Mbak juga ada di sana.
Dari cara ia melihat dan bersikap saja, Mina sangat tahu bahwa perempuan yang bernama Monika itu memandangnya sebelah mata. Jika harus dibandingkan, dilihat dari penampilan fisik dan cara berdandan, Mina memang kalah jauh. Monika itu tipikal perempuan yang Yungi sukai untuk satu atau dua malam karena dulu perempuan-perempuan semacam itulah yang gencar mendekati Yungi dan Yungi akan dengan senang hati menerima mereka walaupun hubungan mereka hanya sebatas di ranjang.
“Monika S3 lulusan Harvard. Kamu lulusan mana?” Tante Voni sepertinya memang sengaja menyombongkan anaknya.
Ada sejarah di sini mengapa Tante Voni tidak menyukai Mina. Dulu, mamanya Yungi dan Tante Voni semacam membuat kesepakatan untuk menjodohkan Yungi dengan Monika. Pernyataan yang menjelaskan Monika cinta pertamanya Yungi justru adalah sebuah fakta yang di balik. Kenyataannya, Monika-lah yang tergila-gila kepada Yungi sejak ia SD, bocil baru melek dengan sindrom cinta monyet.
Namun, Yungi anak liar yang memang sulit diatur selalu menolak perjodohan dari orang tuanya. Bahkan ia sempat dengan sengaja mempermalukan orang tuanya dengan kabur dari acara pertunangan yang memang sudah direncanakan oleh mereka. Akibatnya sangat parah. Hubungan bisnis orang tua Yungi dan orang tua pihak perempuan yang akan ditunangkan menjadi tidak baik sehingga sejak itu, orang tua Yungi menjadi masa bodoh dengan urusan anaknya yang berkaitan dengan pernikahannya.
“Saya lulusan dari Le Cordon Bleu Institut D’arts Culinaires et de Management Hotelier konsentrasinya patiseri, Tante. Itu di Paris,” ujar Mina dengan sopan.
“S3?” Tante Voni menatap Mina.
“Bukan, Tante. Itu Program Diploma. Kalau Sarjana dan Masternya di Lyon, di Prancis juga. Institut Paul Bocuse,” jelas Mina.
“Oh, belum S3 dong!” Tante Voni ngotot bawa gelar S3 yang notabene paling tinggi hanya untuk membuat Mina sadar bahwa bagaimana pun status pendidikan anaknya jauh lebih tinggi daripada status pendidikan dia. Dari nadanya saja bisa terdengar sangat merendahkan, tetapi Mina tidak ambil pusing. Dia bukan orang yang mudah terpancing akan omongan-omongan orang yang tidak bermutu seperti itu.
Yungi yang duduk di sebelahnya sebenarnya sudah kesal dan ingin membanting dia dengan memberikan informasi tentang kelebihan-kelebihan Mina, tetapi tidak ia lakukan sebab ia bisa melihat Mina yang menangani orang-orang di hadapannya dengan baik.
Beberapa kali Mina juga mendapati Monika tengah menggoda Yungi, membuka kakinya yang jenjang sehingga Yungi yang memang duduk tepat di depannya bisa dengan mudah melihat yang ada di antara pahanya itu atau membungkuk ke depan pura-pura mengambil makanan ringan atau minum, sehingga bagian depannya bisa dengan mudah terlihat.
Seperti disengaja, Monika memang mengenakan pakaian yang memang khusus digunakan untuk menggugah selera pria, sangat ketat dan cukup menerawang, tidak ada bedanya dengan l*nt* yang biasanya menjajakan dirinya di beberapa kawasan ‘distrik merah’ kota-kota besar.
“S3-nya di University of British Columbia, di Vancouver, Kanada, Tante,” jawab Mina lagi.
“Ooh!” Tante Voni diam karena kalah telak.
“Mina sarjananya dua kali kan ya?” Mama Yungi ikut menyombong.
“Di Jepang juga, iya,” jawab Mina dengan santai. Ia meraih minumannya dan mendekatkan pada bibirnya.
Tante Voni hanya mengerling kesal.
“Kalian kenal di mana?” Tante Voni mengalihkan pembicaraan.
“Kami temen dari SMP Tante. Dia cinta pertama aku.” Yungi yang menjawab. Dia merangkul bahu Mina dan membelainya lembut. Itu membuat Mina terkejut. Namun, itu tidak lama, karena sejurus kemudian, mereka bertatapan dan saling menyunggingkan senyum.
__ADS_1
“Tapi kok nikahnya janda duda ya?” sindir Monika yang kesal dengan suguhan pemandangan di hadapannya.
“Kan si Mina-nya jual mahal. Aku ngejar-ngejar dia dari SMP, Mon. Dia-nya ga mau sama aku,” ucap Yungi, secara tidak langsung menekankan bahwa Monika tidak akan punya kesempatan.
“Aku tuh sering patah hati gara-gara dia,” sambung Yungi tersenyum lebar sambil masih melirik ke arah Mina yang tengah menatapnya kaget. Informasi itu baru untuknya. Dia harus mencerna semua informasi itu untuk memastikan bahwa Yungi saat itu hanya sedang membual agar Monika tidak merendahkan istrinya.
“Kalau kamu, Mon kenapa cerai dengan Damon?” Yungi memulaui serangan balik.
Tante Voni menunjukkan ekspresi kaget di wajahnya.
“Kamu tahu Monika sempat nikah sama Damon?” Tanta Monika bertanya.
“Kan gede-gedean Tante. Dimuat di surat kabar juga. Aku sama Damon temen SD dan kami kan punya circle temenan juga.” Yungi tersenyum.
“Aku ga mau punya anak. Si Damon ngotot pengen punya anak,” gerutu Monika. Ekspresi dan nadanya mengindikasikan hal yang sama, rasa kesal dan kecewa.
“Kenapa ga mau? Kan bagus kalau punya anak.” Yungi mengernyitkan alisnya.
“Kamu gila ya! Nanti tubuh aku rusak dong! Ga mau ih!” Monika langsung bergidik.
“Ngebayangin perut aku melar, ih! Ga banget!” Monika langsung memasang wajah sebal seolah-olah hamil adalah sesuatu yang menjijikkan.
“Untung kita ga nikah dong! Soalnya kalau aku pengen punya banyak anak!” Yungi berkata dengan nada menyindir. Mina lagi-lagi tersentak kaget, bukan karena itu informasi baru tapi karena menurutnya Yungi berkata kasar.
“Apa, Babe?” Yungi menaikkan alisnya sambil tersenyum.
Mina hanya menggelengkan kepalanya.
“Jaga bicaranya.” Mina berkata pelan.
Yungi tersenyum. Dia mengelus kepala Mina pelan.
“Kalau aku nikah sama kamu, aku ga keberatan punya anak kok!” Monika langsung menyela dan ia tersenyum.
“Oh, gitu!” Yungi menganggukkan kepala.
“Sayangnya, aku ga minat punya anak selain dari Mina,” ucap Yungi santai.
Wajah Monika terlihat kesal. Begitu pula dengan Tante Voni.
Mama dan Papa Yungi hanya mesem-mesem. Mereka merasa sangat bersyukur. Yungi menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa dikatakan lebih ‘jinak’ setelah ia menikah dengan Mina. Hubungan di antara anak dan orang tua itu juga membaik karena Mina tak pernah lelah membujuk Yungi agar memulai kembali komunikasi dengan orang tuanya.
__ADS_1
“Mama tuh sebenarnya tujuannya apa sih pake acara ngundang Tante Voni sama Monika segala?” Yungi berbicara dengan mamanya setelah kedua tamu pulang.
“Ga ada,” ujar mamanya santai.
“Mau pamer menantu ya?” Yungi memicingkan matanya.
“Mau kasih pelajaran temen tapi saingan itu. Biar dia nyaho (tahu) kalau anak mama tuh ga se-brengsek yang dia pikir.” Mamanya mulai jujur.
“Astaga! Kan Yungi emang brengsek, Mah. Kok Mama uring-uringan,” jawab Yungi santai.
“Iya tapi kan kamu dah berubah banyak. Mama tersinggung dong!” Mama Yungi memberi alasan.
“Astaga! Ma, Tante Voni kan bukan tukang jahit,” ucap Yungi.
“Hah? Maksudnya?” Mama Yungi mengernyitkan alisnya.
“Kalau tukang jahit, Ma, tiap kali kita mau jahit baju pasti ambil ukuran kita, meskipun dia sudah punya ukuran kita. Tapi pokoknya kalau tiap kali jahit pasti diambil lagi karena khawatir ukurannya berubah. Tante Voni kan bukan tukang jahit, jadi segimana Yungi udah berubah, dia ga akan melihat ukuran itu. Yang dia liat ya Yungi yang dulu,” jelas Yungi.
“Woah! Filosofis sekali anak Mama!Kirain kamu cuma bisa hamilin anak orang. Ternyata otak kamu jalan!” Mamanya tertawa renyah.
“Sadis amat ngomongnya!” Nada Yungi terdengar kesal.
“Mama bersyukur si Mina mau sama kamu, hahahahaha!” Mamanya tertawa lagi.
“Astaga!!!” Yungi melotot.
“Kalian ga jalan ke mana gitu? Anak-anak tinggalin aja di sini. Papa sama Mama bisa jaga mereka. Kan emang kami pengen ketemu sama mereka,” ujar Papa Yungi yang tetiba menghampiri mereka entah dari mana.
“Ga apa-apa, Pah? Ga ngerepotin emang?” Yungi menggoda Papa.
“Ga dong! Kan emang Papa yang mau. Pergi sana. Kalian pacaran deh!” ujar Papanya sambil menepuk bahu Yungi pelan. Yungi melirik ke arah jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 10 malam.
“Masih siang jam segini di Sydney mah. Buru kaditu geura ngider (Cepat pergi ke sana jalan-jalan!).” Papanya berkata lagi.
“Kalau Minanya mau ya Pah! Mina kan KoMar, Pah!” Yungi tersenyum.
“Apaan KoMar?” Nada Papa Yungi heran.
“Kolot di Kamar Pah! (Tua di kamar).” Yungi tertawa disusul papanya yang tertawa keras juga.
“Ya udah deh, Pah, Mah! Aku balik ke kamar ya!” Yungi pamit. Papa dan Mama Yungi hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
Bersambung