Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 25 Ngidam bareng


__ADS_3

Mereka kumpul di base camp untuk merayakan kepergian Mina ke Jepang. Mina adalah orang yang pertama datang dan dia tengah muntah-muntah di kamar mandi saat Yungi, orang yang kedua tiba di base camp. Dia kaget saat mendengar suara Mina di kamar mandi yang tengah muntah-muntah itu, pasalnya dia juga sama. Dari kemarin malam, dia merasa tidak enak badan. Kepalanya pusing, perutnya terasa mual dan tubuhnya terasa lemas. 


“Mina, kamu sakit?” tanya Yungi saat Mina keluar dari kamar mandi. 


Mina agak kaget saat Yungi berdiri di depan kamar mandi dan melihatnya dalam keadaan khawatir.


“Uhm,” jawab Mina lemas. Ia berjalan melewati Yungi dan duduk di sofa. Yungi mengikuti dia dan duduk di sebelahnya sambil membawakan segelas air putih hangat. 


“Minum dulu nih!Tadi malam juga aku sama. Muntah-muntah, mual, kepala pusing badan lemes. Musim pancaroba kali ya! Anginnya juga ga enak,” ujar Yungi mencoba merasionalisasi. 


“Uhm,” ujar Mina tak banyak bicara. 


Mau bilang apa? Dia tidak seperti Yungi menyalahkan musim toh penyebabnya sudah jelas. Mina menyimpan gelas di atas meja dan dia merebahkan dirinya di kursi dan memejamkan matanya. 


Sementara itu,Yungi asyik berbicara sambil sibuk di Hpnya dan merasa Mina tak meresponsnya, ia melirik ke arahnya, ternyata Mina tidur. Yungi hanya tersenyum. Dia berdiri mengambil selimut yang digantung dan menutupi tubuh Mina dengan selimut itu. Setelah itu, dia duduk di sebelahnya.  Entah kenapa ia juga merasa mengantuk tiba-tiba. Jadi, dia memejamkan mata juga dan tidur di sebelah Mina. 


Saat Vee dan yang lainnya datang, mereka mendapati Mina dan Yungi tidur berpelukan di sofa. Mereka memandang dan menyunggingkan senyuman satu sama lain.


“Si Tom dan Jeri ini kalau akur ya seperti ini!” bisik Jun sambil senyum. 


Lalu mereka melakukan kegiatan seperti biasanya ketika mereka di base camp dan berusaha agar tidak membuat keributan agar Yungi dan Mina tidak bangun. 


Mina membuka matanya dan yang dilihat pertama adalah dada Yungi. Ia melotot dan baru saja akan mendorong Yungi agar menjauh darinya, tapi rasa mualnya mengalahkannya. Ia langsung meloncati Yungi dan berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah lagi. Semua yang ada di sana saling melihat. 


“Min, kamu ga apa-apa?” tanya Jini sambil mengetuk pintu kamar mandi. 


“Dia masuk angin kayak aku. Muntah, mual, kepala pusing!” Yungi yang menjawab. Dia bangun sebab mendengar suara Mina muntah lagi. 


“Ini. minum dulu. Teh jahe!” Jay menyodorkan gelas kepada Mina yang baru saja duduk kembali di sofa. 


“Makasih, Jay,” ujar Mina sambil tersenyum. 


“Uhm,” gumam Jay sambil tersenyum dan dia duduk di sebelah Mina. 


“Enak, Min?” Yungi yang duduk di sebelah Mina di sisi lainnya menatap Mina penasaran. 


Mina yang masih menyisip minuman itu melihat ke arah Yungi dan menganggukkan kepala. 


“Minta dong dikit! Perut aku juga ga enak!” sahut Yungi. 


Mina mengangguk dan memberikan gelasnya kepada Yungi dan dia minum. 


Mina paham keadaan Yungi. Dokter sudah pernah menjelaskan sebelumnya tentang hal itu bahwa ngidam itu tidak hanya dialami oleh sang ibu, tetapi juga oleh ayahnya. Jadi, ketika Yungi mengalami hal itu, dia tidak banyak bicara. 


Dia juga diuntungkan dengan itu karena Yungi jadi bisa memberi alasan yang sama tanpa membuat mereka curiga tentang keadaan Mina yang sebenarnya. Lagipula, cuacanya memang kurang bagus, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan membuat tubuh manusia harus beradaptasi dan proses itu kadang-kadang membuat beberapa orang mengalami sakit. 


“Itu enak?” Yungi melihat lagi kudapan yang tengah dinikmati oleh Mina. Kali ini adalah yoghurt blueberry yang dibawa Jini. Tanpa banyak bicara, Mina menyuapi Yungi makanan itu dan mereka menikmatinya bersama. Jun dan Jini saling menatap dan mengernyitkan alisnya. Vee dan Justin serta Jay juga terlihat agak kaget dengan sikap Yungi dan Mina yang mendadak terlalu akur. Biasanya Mina tak akan memberikan makanannya terlebih menyuapi. 


Mungkin karena ini adalah momen-momen terakhir Mina dan yang lainnya bersama, jadi mereka pikir Mina tidak mau meninggalkan kenangan buruk dengan teman-temannya dan itu termasuk dengan Yungi. Terlebih yang lainnya juga sudah mengancam si Yungi agar tidak sering ngabrut dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dalam circle karena waktu Mina bersama mereka hanya tinggal sebulan. 


“Kamu ga bawa mobil, Min?” Yungi kaget saat keluar dari base camp dia tidak melihat mobil Mina. 


“Ga, aku ga enak badan jadi minta sopir jemput,” ujar Mina.


Jay dan yang lainnya pamit duluan karena beberapa masih ada kuliah dan ada janji dengan teman yang lain dan itu membuat Mina dan Yungi menjadi orang pertama dan terakhir yang meninggalkan base camp. Alasannya mereka ketiduran lagi. 


“Aku anterin aja! Kamu ga usah telfon sopir,” ujar Yungi. 


Mina yang biasanya menolak hanya mengangguk. 


“Yun, berhenti dulu, Yun! Itu ada tukang jambu kristal. Duh enak itu! Aku mau itu!” sahut Mina sambil menatap tukang jambu yang sedang mangkal di pinggir jalan di depan sebuah gedung. Yungi mengiyakan. Ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari sana. 


“Aku aja yang turun. Mau beli berapa?” tanya Yungi. 


“Empat, pedasnya pisah, ya!” Mina tersenyum bahagia. 


“Iya,” jawab Yungi. 


Tak lama kemudian, Yungi sudah kembali dengan pesanan. Mina langsung membukanya dan memakannya.


“Enak?” tanya Yungi. Dia juga terlihat mau. Mina menganggukkan kepalanya. 


“Kamu mau?” tanya Mina. 


“Iya,” jawab Yungi. 


Mina menyuapi Yungi dan mereka menikmati itu selama beberapa waktu di perjalanan. 


“Yun ke pinggir, Yun! Duh aku pengen muntah!” Mina menahan perutnya dan menutup mulutnya. 


“Oke.. Oke!” dengan cepat Yungi meminggirkan kembali mobilnya dan Mina dengan cepat keluar dari mobil dan muntah. Semua jambu tadi yang ia makan keluar lagi. Yungi mengelus punggung Mina dan Mina membiarkannya. Biasanya kalau normal, Mina pasti langsung marah dan menganggap Yungi sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan. 


“Mau beli obat?” tanya Yungi. Mina menggeleng pelan. 


“Kamu pucat lo, Min!” komentar Yungi. 


“Yun, pijitin lah kaki aku!” Mina berbicara dengan nada manja. 


Yungi agak terkejut sebenarnya. Mina tidak pernah berbicara kepadanya semanis itu. 


“Ya udah ke mobil yuk! Di luar anginnya ga bagus ini!” sahut Yungi. Mina mengangguk. Dia masuk ke bagian belakang mobil disusul Yungi dan selama beberapa waktu memijit kaki Mina di belakang. 

__ADS_1


“Pake baju hangat aku nih! Kegedean pasti, tapi daripada kamu kedinginan gitu,” sahut Yungi lagi. Mina menganggukkan kepala. Ia benar-benar menurut semua yang dibilang Yungi. 


Mina tertidur di jok belakang. Yungi melajukan mobilnya pelan. 


Mina membuka matanya pelan. Dia mendapati dirinya berada di atas ranjang berselimut sampai bagian dadanya dan masih mengenakan baju hangat Yungi. Dia mengamati seisi ruangan dan mendapati beberapa barang Yungi yang ia kenal ada bertebaran di sana. Seiring kesadarannya yang mulai terkumpul, ia tahu bahwa kemungkinan besar ia tengah berada di apartemen Yungi. 


Dia bangun dan menuruni ranjang berjalan menuju keluar kamar. 


“Dah bangun!” Yungi duduk di ruang tengah menonton sebuah acara di TV. 


“Kok aku dibawa ke sini?” tanya Mina. Dia duduk di sebelah Yungi. 


“Eh kan kamu yang minta! Kamu bilang jangan bawa aku pulang. Mama ngomel-ngomel kalau aku sakit. Bawa ke hotel aja, gitu!” Yungi berkata dengan gaya menyerupai Mina saat mengatakannya.


“Ah gitu!” sahut Mina tak banyak membantah. Dia tak punya tenaga untuk itu.


“Aku bawa ke apartemen aku soalnya kamu sakit kan! Ga ada yang jagain dong!” ujar Yungi.


“Kamu jagain aku?” Mina tersenyum dan bicara dengan nada mengejek. 


“Astaga, Min! Waktu aku sakit kan kamu sama Jay yang jagain aku! Aku juga bisa kayak kamu sama si Jay lah! Aku juga setia kawan,” ujar Yungi sambil mengerling. 


Mina hanya tersenyum. 


“Lapar ga?” tanya Yungi. 


“Kamu punya apa?” tanya Mina.


“Ada spageti tapi belum dimasak,” ujar Yungi.


“Aku mau pesen aja, biar cepet!” sahut Yungi. 


“Ga usah! Aku masak sendiri aja,”sahut Mina. Ia tak sungkan berjalan ke dapur Yungi dan membuka lemari serta kulkasnya. 


“Sini aku bantu!” sahut Yungi.


“Uhm,” ujar Mina sambil mengangguk. 


Mereka masak bersama dan makan malam. Mereka juga mencuci piring bersama. 


“Mau minum, Min? Aku punya anggur merah. Itu kesukaan kamu, kan?” tanya Yungi sambil mengeluarkan minuman anggur dari dalam lemarinya. 


“No, kalau pun mau aku ga bisa minum,” lirih Mina. 


“Oh! kenapa?” tanya Yungi.


“Euh! Lambung aku lagi ga bagus kan!” Mina mencari alasan. 


“Iya boleh!” jawab Mina dan mereka minum cokelat hangat bersama sambil menonton acara di TV. 


“Mau dipijitin lagi kakinya ga?” tanya Yungi.


“Kamu ga keberatan? Aku ga enak minta tolong terus,” ujar Mina tapi wajahnya terlihat sumringah. 


“Ga apa-apa. Rebahan deh!” sahut Yungi. 


Mina menuruti. Ia merebahkan dirinya di sofa dan menumpangkan kakinya ke paha Yungi. Yungi mulai memijit sambil menonton TV dan mereka tertawa saat beberapa adegan lucu muncul. Selama itu beberapa kali Yungi melirik ke arah Mina seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak keluar dari mulutnya. 


“Ada apa?” tanya Mina yang sejak tadi menyadari sikap Yungi kepadanya. 


“Ga, ga apa-apa,” sahut Yungi. Ia sungkan berbicara. 


“Uhm, apa?” nada Mina memaksa. Ia menendang perut Yungi pelan tapi tetap membuat Yungi sedikit mengerang. 


Mereka bertatapan sejenak.


“Aku pengen nanya sesuatu yang sifatnya pribadi, tapi aku takut kamu marah,” ujar Yungi. Nadanya terdengar benar-benar tulus dan Mina bisa merasakannya. 


“Aku ga akan marah, bilang aja!” ujar Mina sambi tersenyum. 


Yungi terlihat agak khawatir.


“Beneran! aku ga akan marah! bilang aja!” ujar Mina. 


“Aku punya dua pertanyaan,” ujar Yungi.


Mina mengangguk dan menunggu Yungi bilang lagi. 


“Kamu sama keluarga kamu ga akrab ya. Soalnya kalau kamu sakit atau apa aja kayaknya kamu milih sendiri gitu!” ujar Yungi. Ketika dia bilang itu, dia sangat khawatir Mina akan marah kepadanya. 


“Akrab kok! Cuma aku ga suka mama yang bawel dan kalau aku sakit gini, papa suka panik dan agak dramatis gitu, jadi, aku suka kesel. Jadi, milih sendiri aja. Ade aku juga gitu!” Mina menjawab dan dia tidak marah.


“Oh!” Yungi menganggukkan kepala.


“Terus pertanyaan kedua,” ujar Mina. 


“Yang ini, pleaseeee jangan marah ya Min!” sahut Yungi dengan nada memohon. 


“Uhm, ga akan!” ujar Mina sepertinya dia sudah bisa memperkirakan ke mana arah pertanyaannya. 


“Aku ngomong kayak gini karena kita dah lama temenan dan karena aku peduli sama kamu. Jadi, kamu jangan marah ya!” sahut Yungi memastikan sekali lagi. 

__ADS_1


“Uhm,” ujar Mina.


“Aku, maksudku.. selama kita berteman, aku ga pernah liat kamu gandeng cowok atau kenalin ke kita pacar kamu gitu! Jadi, aku sempet mikir kamu lesbi dan aku minta maaf untuk itu! Cuma aku ga ngerti aja sama jalan pikiran kamu, gitu! dan aku juga khawatir sama kamu. Jun sama Jini jadian, Vee sama Justin, tapi kamu... uhm,” ujar Yungi tidak melanjutkan. 


“Aku harus sama siapa? Kamu? Jay? dua-duanya?” Mina mengangkat kedua alisnya. 


“Astagaa! Ya ga gitu juga maksud aku,” nada Yungi kesal. 


Mina tertawa kecil. 


“Iya aku ngerti,” canda Mina. 


Dia duduk dan menggeser posisi duduknya ke dekat Yungi lalu menghadapkan tubuhnya ke Yungi. Yungi tertegun. Hidungnya menangkap bau tubuh yang familiar dalam ingatannya tapi dia tidak ingat di mana ia pernah mencium bau tubuh seperti itu.


“Yungi,” lirih Mina sambil menatap Yungi lembut. Tangan mungilnya menyentuh bibir Yungi dan itu membuat Yungi semakin tegang. 


Oke Yungi sering mengalami hal-hal seperti ini dengan wanita yang memberikan dirinya kepada Yungi untuk dinikmati secara sukarela, tapi bukan Mina, temannya yang menurutnya tidak normal. 


“Uhm,” gumam Yungi dan ia menelan ludah. Jarak mereka terlalu dekat.


“Ciuman yuk!” bisik Mina. 


“Eh????” Ekspresi di wajah Yungi tak karuan. Kaget yang bercampur dengan penasaran dan pikirannya mulai banyak pertanyaan. 


Mina memejamkan matanya dan mencondongkan wajahnya ke dekat Yungi. Yungi masih diam karena dia mulai punya banyak pikiran. 


“Ga mau juga ga apa-apa kok!” ujar Mina setelah membuka matanya dan senyum. 


Ia memundurkan tubuhnya, tetapi tiba-tiba Yungi menarik lengannya dan menangkup wajah mungil Mina dengan kedua tangannya dan mencomot bibirnya yang juga mungil dengan bibirnya. 


Mereka berciuman cukup lama. Keduanya memejamkan mata dan menikmati proses itu. 


“Wow! Oke! Udah!” Aku ga bisa napas Yungi!” Mina tertawa sambil mengusap lembut bibirnya sendiri. Itu setelah dia mendorong Yungi pelan dan membuat bibir mereka berpisah.  Yungi melongo. Jantungnya berdebar kencang dan itu tidak pernah ia rasakan sebelumnya. 


“Jujur sama aku kamu ngerasain apa?” tanya Mina sambil menatap Yungi. 


“Uhm!” Yungi hanya bergumam. 


“Kamu deg-degan ya!” ujar Mina sambil menjulurkan tangannya ke dada Yungi seolah siap merasakan getaran jantung Yungi yang memang kala itu masih belum tenang. 


Yungi dengan cepat menangkap tangannya. 


“Aku ga ngerasain apa-apa,” ujar Yungi dan tangan Mina masih dalam pegangannya. Jelas dia berbohong. 


“Uhm, aku juga! Perasaan itu ga bisa dipaksain. Aku juga pengen kayak orang lain, jatuh cinta dan semacamnya. Cuma ga tahu belum ada yang cocok aja kali!” Mina menjelaskan sambil tersenyum. Dia menatap Yungi lembut. 


“Oh!” Yungi menjawab pendek. 


“Makasih udah peduli sama aku. Aku beruntung punya teman kayak kamu. Thanks!” Mina tersenyum sambil mengedipkan satu matanya. 


“Uhm,” gumam Yungi sambil tersenyum. 


“Sana ke kamar mandi. Punya kamu berdiri tuh!” ujar Mina. Matanya melihat ke arah bawah perut Yungi. Dan wajah Yungi langsung memerah. 


“Shit!” ia menggerutu kesal.


“Ini bukan karena kamu ini!” ujar Yungi. Dia beranjak dan pergi ke kamarnya sebentar.


“Iya, tahu! Kan kamu emang dasarnya mesum!” ujar Mina sambil senyum. 


Yungi berlalu dan wajah Mina berubah seketika. 


“Astagaa!” lirihnya sambil mengelus dadanya pelan. Jantung Mina tak berhenti berdebar dengan kencangnya dan perasaannya kini menjadi semakin tidak tenang. Mina tidka suka perasaan itu. Dia menolaknya dan tidak mengizinkan perasaan sejenis itu hinggap di hidupnya. Itu akan mempersulit hidupnya dan dia tidak suka. 


“Udah lega!” tanya Mina saat Yungi keluar dari kamarnya dan dia sudah berganti baju. 


“Uhm!” Yungi menjawab malu. Wajahnya memerah. 


“Nih!” Mina menyodorkan segelas air hangat.


“Makasih,” ujar Yungi. 


Mina mengangguk sambil senyum. 


“Yungi, kamu bobo sama aku ya!” ujar Mina.


“Eh???” Yungi melotot. Pikirannya ke arah mesum. 


“Kita ga melakukan itu! Cuma bobo aja! Kamu sebelah aku,ya?” Nada Mina memohon. 


Bawaan bayi kali ya. Mina kolokan begitu!


“Oh, oke!” jawab Yungi. 


Mereka berbaring bersebelahan dan Mina memejamkan matanya menghadap ke arah Yungi. Dia sudah terlelap dalam tidurnya dan sementara itu Yungi hanya menikmati pemandangan itu dalam sunyi. Tangannya sempat mengelus halus wajah dan bibir Mina juga dan jantungnya harus berdebar lagi. 


“Sial! Apa ini?” lirih Yungi kepada dirinya sendirisendiri. Dia memegangi jantungnya pelan.


Ia lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Mina dan memejamkan matanya. 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2