
"Pah,” lirih Juna. Ia melihat Yungi yang sedang melamun menyiapkan sarapan untuk semua anaknya.
“Iya, nak!” Yungi mencoba mengembangkan senyum.
“Aku rindu Ibu,” lirih Juna. Suaranya tercekat dan anak itu akhirnya tidak bisa lagi menahan tangisnya. Yuna yang juga ada di sana ikut menangis. Yungi memeluk kedua anaknya.
“Papah pasti akan membawa Ibu kembali. Kalian harus berdoa, ya!” ujar Yungi. Hatinya sama sakit dan kacauanya dengan mereka. Tapi dia orang dewasa dan dia harus bisa menjadi seseorang yang bisa diandalkan untuk anak-anak, karena jika Mina ada dengannya, Mina pasti akan berharap yang sama.
Beda dengan Juna dan Yuna, Zen lebih banyak mengurung diri di kamar. Ada beban besar di hatinya. Apa yang Juna dan Yuna rasakan dulu, ia merasakannya sekarang. Bagaimana ia kehilangan ibu dan tinggal dengan orang-orang yang walaupun ia tahu mereka menyayanginya, tetap saja asing baginya. Juna dan Yuna anak Yungi, tetapi Zen anak Awan. Hanya si Kembar yang megikat mereka dan Zen bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya jika ibunya benar-benar tidak kembali.
Pikiran itu tentu saja dibaca dengan mudah oleh Yungi. Ia tahu kekhawatiran itu dan sama seperti Mina yang merangkul kedua anaknya, ia juga menyayangi Zen seperti anaknya sendiri.
“Papah tidak akan membiarkan kamu sendirian. Meskipun kamu bukan darah daging Papah, Papah tidak akan meninggalkanmu dengan siapa pun. Kita keluarga, jadi Zen tak perlu takut,” ujar Yungi pada suatu malam mereka berbicara berdua setelah makan malam.
Mata Zen berkaca-kaca. Ia menatap Yungi dan memeluknya.
“Makasih, Pah!” ucap Zen.
“Iya, Sayang,” sahut Yungi.
Begitulah keseharian mereka tanpa ada Mina di sisi mereka. Mereka kompak dan saling menguatkan.
***
“Selamat datang di sarang cintaku!” Leo berdiri di ambang pintu sambil tersenyum. Dia menenteng satu botol anggur merah di tangan yang satu dan dua gelas flute di tangan lainnya. Mina menatapnya penuh dengan kemarahan.
“Kau suka dengan karyaku. Ini adaah bentuk cintaku kepadamu. Apa kau tahu setiap malam aku menghabiskan waktuku di sini melihatmu dan merasaimu di tubuh dan pikiranku dan akhirnya hari ini kita akan benar-benar bersama,” ujar Leo sambil berjalan mendekati Mina. Ia duduk di tepi ranjang, menyimpan botol anggur dan kedua gelas di atas nakas dan menatap Mina dengan cara yang posesif.
“Min,” ujar Leo dengan lembut. Ia memasang senyum aneh dan dilihat dari ekspresinya, lelaki itu sepertinya sudah dipenuhi dengan berahi. Mina merinding mendengar dan melihat sikapnya. Dia benar-benar menahan rasa ingin muntah.
“Begitu kan suamimu memanggilmu ketika ia menginginkan sesuatu, hmmm,” ucap Leo. Tangannya menjamah kaki Mina dan Mina dengan cepat menghindarinya.
“Mundur!” Mina berteriak.
“Hei, jangan begitu! Malam masih panjang. No .... no .... no ... bukan begitu permainan yang akan kita mainkan! Tunggu sebentar! Aku akan memperlihatkanmu sesuatu,” ucap Leo. Ia berdiri dan membuka lemari tepat di seberang ranjang lalu mengeluarkan sebuah projector dan mulai memasangnya dan menghubungkannya dengan Hpnya.
“Nah, sekarang, lihatlah!” Leo duduk di sebelah Mina dan Mina baru saja akan menghindarinya tapi Leo menahan lengannya.
“A a a aa, tidak begitu! Jangan begitu! Ayolah, Min!” Leo menatapnya tajam. Ia memaksa Mina duduk di sebelahnya dan menonton video yang akan ia putar sebentar lagi.
Mina kaget saat video itu diputar. Itu adegan dia dan Yungi ketika bercinta di ruang kerja tepat seminggu sebelum dia diculik. Dia malu melihat dirinya sendiri dalam keadaan itu dan ia memalingkan wajahnya. Namun, Leo memaksanya untuk melihatnya. Ia memegang leher Mina kuat dan Mina tak berdaya kecuali melihatnya. Lelaki di sampingnya itu sangat gila. Bagaimana bisa ia mendapatkan video itu kecuali ia benar-benar berada di sana dan merekamnya dari jarak yang dekat.
“Aku suka mendengar desahanmu dan lihatlah suamimu begitu menikmatinya. Aku bisa membayangkan jika aku berada di posisinya. Hmmmm?” Leo memejamkan matanya sambil mendesah menyisakan Mina yang meringis dan menahan rasa mual yang amat sangat.
“Kenapa kau melakukan ini? Sebenarnya apa yang kau inginka?” Mina tak tahan lagi. Ia muntah setelah menyelesaikan bicaranya. Baginya suasana itu sangat menjijikkan.
“Oh, Mina, sayang! Kau bahkan muntah. Kau sudah mencapai klimaksmu, hmmm?” Leo tersenyum.
“Kau benar-benar sakit!” Mina melotot. Ia menampar Leo sekuatnya.
__ADS_1
“Aduh! Jangan begini! Aku kecewa kalau kau melakukan ini.” Leo mengusap pipinya.
“Oh, atau kau menyukai seperti ini. Apa kau akan lebih bergairah jika kau menyiksaku terlebih dahulu. Baiklah, aku tidak keberatan,” ujar Leo sambil menatap Mina dengan cara yang menjijikkan.
“Apa kau bilang? Mundur, jangan dekati aku, mundur!” Mina beringsut mundur dengan wajah yang ketakutan.
Leo mulai membuka kemejanya.
“Come on, Baby! Aku tahu kau menginginkannya,” ujar Leo sambil mengedipkan matanya.
Ia menarik kaki Mina dan menggusurnya ke arahnya. Mina melakukan perlawanan dan mencoba menendang dan memukulnya dan Leo semakin terpancing karenanya. Semakin kuat Mina memberontak semakin besar tenaga dan hasrat Leo untuk memaksanya.
Sekarang Leo sudah berada di atasnya. Satu tangannya mencengkeram kedua tangan Mina dengan kuatnya sementara tangan lainnya mencoba untuk melucuti pakaiannya. Mina berteriak dan melawan sekuat tenaga. Ia menendang ************ Leo dan itu membuatnya melepaskan cengkraman tangan Mina sehingga Mina bisa dengan leluasa bergerak. Dengan cepat Mina merangkak dan mengambil lampu duduk di atas nakas melemparkannya ke kepala Leo. Pelipisnya berdarah.
Leo menjadi berang. Ia menarik pakaian Mina dan akibatnya pakaian itu sobek. Mina berlari tapi kakinya dipegang tangan Leo dan membuat dia jatuh. Mina masih berusaha untuk kabur dan tangannya meraih botol anggur lalu tanpa melihatnya ia memukulkan botol anggur itu ke belakangnya dan tepat mengenai kepala Leo.
Leo berteriak dan Mina yang sangat ketakutan terus menghantamkan botol anggur itu ke kepala Leo hingga akhirnya lelaki itu melepaskan pegangan kakinya dan ia ambruk. Sekujur tubuh Mina bergetar hebat. Ia tak sanggup menghadapi kengerian itu sendirian. Di tengah kecamuk perasaan dan gemetar tubuhnya yang semakin kencang, ia berjalan menuruni tangga dan hanya satu hal yang dia ingat bahwa ia harus menghubungi Yungi.
Meskipun takut, ia memutuskan kembali ke kamar sebab ia ingat Leo menyimpan Hpnya di dekat projector. Ia mengambil Hp itu dan dengan cepat menekan beberapa angka di sana.
“Halo?” Nada Yungi terdengar heran. Ia tak mengenali nomor itu.
Mina menangis. Ia amat merindukan suara itu.
“Yungi,” lirih Mina di sela isak tangisnya.
“Mina???” Suara Yungi sangat kaget, tapi juga terdengar bahagia.
“Aku tidak tahu. Aku akan berbagi lokasi. Tolong aku! Aku takut!” Mina menangis. Ia duduk bersandar pada tembok. Tangan dipenuhi dengan darah. Bagian tubuhnya yang lain juga sama, lecet-lecet. Rambutnya acak-acakkan terlebih perasaannya sekarang. Tubuhnya masih berguncang dan ia tak bisa mengontrolnya. Ia terus menangis.
“Mina!” suara Yungi terdengar berteriak dari luar rumah setelah satu jam ia berusaha keras mengatasi keadaannya sendiri.
“Yungii!” Mina menangis dan ia berlari menuruni tangga dan mencari pintu keluar.
“Yungiiii!” teriaknya sambil memeluk Yungi erat dan menangis.
“Minaaaa!” Yungi juga menangis. Mereka berpelukan sambil masih menangis berjamaah.
“Tolong aku! Aku membunuh dia! Aku membunuhnya!” Mina menangis sesenggukan di dalam pelukan Yungi.
Yungi bisa merasakan tubuh Mina yang gemetaran dan ia bisa mengukur betapa menderitanya hidupnya selama ia menghilang.
“Siapa yang kau bunuh?” bisik Yungi sambil mengelus kepala Mina pelan.
“Leo, aku membunuhnya. Dia mencoba memaksaku,” ucap Mina setelah ia lebih tenang.
“Di mana jasadnya?” tanya Yungi. Ia menatap Mina yang wajahnya sekarang tirus dan pucat.
“Di kamar atas,” sahut Mina. Air matanya masih mengalir.
__ADS_1
“Ayo kita ke atas,” ujar Yungi.
“Di rumah ini tidak ada orang lain lagi kan?” tanya Yungi sambil menaiki tangga.
“Aku tidak tahu. Ini hari pertama aku di sini,” ujar Mina.
“Shit!!!” Yungi mengeluarkan sumpah serapah saat ia memasuki kamar dan memandang sekelilingnya.
“Laki-laki gila!” Yungi menendang jasad Leo.
“Ayo kita lapor polisi. Aku akan mengakui semuanya.” Mina memegang tangan Yungi. Ia benar-benar terlihat panik dan takut.
Yungi menatap Mina dan Leo. Ia membaca situasi dengan cepat.
“Ceritakan kepadaku secara detail bagaimana kau bisa membunuhnya?” Yungi menatap Mina yang masih dengan keadaannya paniknya.
“Yun, aku akan ceritakan di kantor polisi, ayo kita ke sana. Sekarang,” ujar Mina lagi. Ia benar-benar terlihat kacau.
Tubuhnya gemetar dan kata-kata selanjutnya tak terangkai sehingga menjadi tidak jelas.
“Mina, tenang!” Yungi memeluknya.
“Ga bisa. Aku takut!” Lalu Mina menangis keras. Ia memeluk Yungi sangat erat dan terus mengatakan bahwa ia sangat takut.
“Tenanglah!” Yungi mencium pucuk kepala Mina berharap ia bisa lebih tenang.
Setelah beberapa saat kemudian, Mina mulai tenang dan ia kemudian menceritakan kronologinya. Yungi menganggukkan kepalanya. Ia memegang tangan Mina yang dingin dengan erat.
“Dengarkan aku! Ini yang akan kita lakukan!” ujar Yungi.
Mina menatap Yungi siap mendengarkan yang akn dikatakan.
“Aku akan mengambil alih semuanya dari sini,” kata Yungi.
“Apa maksudmu?” Mina mengernyitkan alisnya.
“Kau tenang saja. Aku akan mengakui semuanya. Bukan kau pembunuhnya, tapi aku!” sahut Yungi sambil menatap Mina.
“Apa?Ga Yun, itu ga bener! Aku akan menjelaskan dengan jujur. Aku akan menanggung semua kesalahanku,” ujar Mina menolah ide Yungi.
“Min, dengarkan aku!” Yungi menangkup wajah Mina.
“Kau percaya kepadaku, bukan?” Yungi meyakinkan Mina.
Mina menganggukkan kepala.
“Anak-anak memerlukan dirimu. Sekarang, kita ke rumah sakit. Aku akan menelfon Jay dan aku akan melakukan hal yang harus kulakukan. Apa pun yang polisi katakan kau harus bersinergi denganku, kau paham.” Yungi menjelaskan.
“Tapi, Yun, aku ...,” Mina tidak bisa menyelesaikan bicaranya sebab dengan cepat Yungi mencium bibirnya.
__ADS_1
“Jangan mengatakan apa-apa lagi! Kau akan baik-baik saja,” ujar Yungi sambil memeluk Mina yang masih gemetar.
Bersambung