
Bab 12 Terima kasih
Mobil memasuki sebuah gedung. Yungi menurunkan anak-anak dan Mina tepat di depan pintu masuk dan setelah itu, ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang disediakan. Tidak perlu khawatir berebut lahan parkir karena pengunjung gedung itu hanya satu atau dua orang saja. Dia menuruni mobil dan berjalan menuju Mina dan anak-anak yang sudah menunggu di lobi. Mereka kemudian menaiki lift ke lantai 3, tempat peristirahatan abadi Awan. Mereka berdiri di sana, berdoa untuk Awan dan kemudian membiarkan masing-masing mengungkapkan perasaan di depan Awan.
“Ayah, apa kabar? Aku, Juna, dan Papa Yungi akan menjaga Ibu. Ayah bisa berbahagia sekarang dan beristiraha dengan tenang. Aku sayang ayah dan ga akan pernah lupa ayah. Aku Janji, aku akan jadi seseorang yang bisa dibanggakan oleh ayah dan Ibu. Doakan aku, ya! Aku selalu sayang ayah.” Zen memberi hormat dan menyimpan satu bunga di depan foto ayahnya.
Ia berjalan ke arah ibunya dan memeluknya. Mina berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan tangis. Tangannya mengelus kepala Zen lembut dan tak lama ia mencium pucuk kepalanya dengan hangat. Yungi yang berdiri di sebelah Mina mengelus punggungnya pelan, menguatkan.
“Ayah, Juna bersyukur karena ayah menyayangi Juna. Aku juga akan menjaga Ibu. Aku sangat sayang Ibu. Meskipun aku tidak dilahirkan oleh Ibu, Ibu tidak pernah membedakan aku dan Ibu menyayangi aku dan Yuna sepenuh hatinya. Ayah, berisitirahatlah. Aku juga berjanji, aku akan menjaga Ibu selamanya, jadi ayah bisa istirahat dengan tenang. Ayah, aku juga ingin minta maaf karena tidak mina izin kepada ayah dan meminta ibu menikah dengan papa. Tolong jangan marah kepada papa dan ibu juga. Kami akan berusaha dengan keras menjadi keluarga yang bahagia. Doakan kami!” Juna membungkuk lalu menyimpan satu bunga di sebelah bunga Zen.
Ia berjalan menuju Mina dan meminta sebuah pelukan dan ciuman yang menguatkan dan tanpa ragu Mina memberikan yang sama seperti yang ia lakukan kepada Zen.
Giliran Yuna yang maju. Ia hanya membungkuk dan memberikan bunga. Umurnya belum cukup untuk memahami apa yang sudah terjadi kepadanya dan mengetahui bagaimana Awan begitu menyayanginya. Setelah Erika melahirkan Yuna, Erika menderita depresi. Ia merasakan kekosongan jiwa dan mengabaikan bayinya. Ia tak mau menyusui anaknya dan benar-benar tak memperhatikannya. Awan dan Mina yang merawatnya seperti anak sendiri. Dia bahkan mendesain kamar khusus untuk Yuna dan membelikan semua keperluan Yuna. Di mana Yungi saat itu? Bekerja di banyak kota karena kontraknya yang tidak memungkinkannya untuk berada di sisi Erika dan kedua anaknya waktu itu.
“Wan, apa kabar? Kuharap kamu bahagia di sana. Aku ga akan pernah lupain kamu. Kamu selalu punya tempat di hati aku. Kamu ga perlu khawatirin aku. Aku bisa menjaga diriku. Aku punya kamu dan semua orang yang sayang sama aku. Jaga diri kamu ya!” Mina tersenyum. Ia mendekati foto Awan dan menciumnya lembut. Yungi hanya diam. Ia paham dengan hal yang dilakukan oleh Mina. Apalagi yang bisa Mina perbuat sekarang dengan Awan. Ia hanya punya kenangan.
Yungi mengawali pembicaraanya dengan membungkuk di hadapan foto Awan sebanyak tiga kali lalu ia mulai membuka suara.
“Terima kasih,” sahutnya dengan suara yang agak tercekat. Lalu ia diam sejenak seolah mengontrol dirinya agar tetap tenang.
“Selama ini aku yang selalu menerima darimu dan aku malu. Aku bersalah tidak hanya kepadamu tapi kepada Mina dan anak-anak juga. Jadi, di hadapan mereka dan kamu, aku berjanji aku akan mengbdikan diriku untuk mereka. Sekarang giliranku menjaga mereka. Kamu bisa istirahat dengan tenang.” Yungi membungkuk lagi agak lama, kemudian ia berjalan menuju Mina dan anak-anak yang tengah menunggunya tidak jauh dari sana sambil mengembangkan sebuah senyuman.
Mina menyambutnya dengan senyuman juga. Mereka berjalan bersama menuju parkiran dan rencananya setelah itu mereka akan makan bersama dan menikmati siang mereka jalan-jalan di mal dan nonton di bioskop.
***
“Lagi apa?” Yungi berjalan menuju Mina yang tengah mengecek sesuatu di ruang kerja.
“Cek semua paspor dan kelengkapan buat kita pergi besok,” ujar Mina sambil melihat ke arah Yungi sejenak lalu ia kembali ke pekerjaannya.
“Uhm,” ujar Yungi dan ia berdiri di sebelah Mina ikut membantu.
“Anak-anak dah tidur?” tanya Mina sambil memasukkan semua paspor ke dalam tas.
“Iya, beres,” ujar Yungi.
“Makasih, ya!” sahut Mina.
“Kok makasih sih! Kan itu kewajiban aku!” sahut Yungi.
“Kan udah melakukan kewajiban!” sahut Mina sambil senyum.
“Tapi tugas aku belum selesai,” sahut Yungi. Ia menarik lengan Mina, membuatnya mendekat lalu memeluknya.
“Oh, masih ada?” Mina terlihat bingung dan ia membiarkan Yungi memeluknya. Mereka saling berhadapan
Yungi menganggukan kepalanya pelan sambil senyum.
“Apa?” Mina masih berpikir.
“Boboin kamu lah!” sahut Yungi pelan dan ia mencolek ujung hidung Mina lembut.
Wajah Mina langsung memerah.
“Yang tadi pagi ga cukup?” bisik Mina sambil masih terlihat malu.
“Ga akan pernah cukup kayaknya!” bisik Yungi.
“Tsukebe!! (bahasa Jepang: laki-laki yang pikirannya mesum dan suka ****!),”komentar Mina.
Yungi hanya tersenyum.
“Ke kamar yuk!” bisik Yungi lagi.
Mina menatap Yungi yang juga tengah menatapnya lalu ia menunduk.
“Oke, ayo!” sahutnya pelan.
Yungi tersenyum bahagia.
***
Yungi terbangun pada tengah malam saat merasa ingin ke kamar mandi. Dan setelah kembali, ia tidak langsung tidur, tetapi menikmati wajah istrinya yang tengah terlelap tidur di sampingnya. Tangannya perlahan menuju arah kepala Mina dan ia membelainya pelan. Beberapa kali Mina menggumam pelan seolah menandakan rasa nyaman dengan belaian itu.
Yungi berbaring pelan dan memiringkan tubuhnya. Posisinya membuatnya semakin leluasa meikmati wajah Mina yang masih sama, tidur dengan tenang. Ia tersenyum dan mendekatkan wajanya lalu mencium kening Mina lembut. Tidak ada getar berahi di sana. Hanya kehangatan dan kenyamanan dan perlahan hatinya berdegup, sebuah tanda yang ia pahami benar ke mana akan mengarah sebuah perasaan.
Mata Mina membuka dan ia menatap Yungi yang tengah menatap dirinya.
“Kebiasaan. Kenapa bangun? Besok kan mau terbang, istirahat!” bisik Mina. Tangannya menjulur ke pipi Yungi dan mengelusnya pelan.
“Ga boleh gitu liat wajah kamu lagi bobo!” bisik Yungi.
“Silakan!” Mina memejamkan lagi matanya, tapi tangan mungilnya masih di pipi Yungi. Yungi mengambilnya dan kemudian menciumnya.
“Yun, jangan minta lagi, ya! Nanti aja di Jepang ya!” bisik Mina sambil membuka lagi matanya.
Yungi tersenyum.
“Iya, sini peluk kamu aja,” sahut Yungi sambil menarik Mina ke dekatnya lalu memeluknya.
Mina tersenyum. Ia tak ragu memeluk balik Yungi dan membiarkan Yungi mencium pucuk kepalanya pelan.
“Min,” lirih Yungi.
“Hmm?” Mina masih pada posisinya di dalam pelukan Yungi.
“Nanti di Jepang, kita beli cincin nikah, ya!” sahut Yungi pelan.
__ADS_1
“Eh?” Mina menengadah.
Yungi tersenyum dan menatapnya lembut.
“Aku cinta kamu,” sahutnya mantap sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
Mina membelalakkan matanya. Ia tertegun sejenak. Secepat itu? Yungi bilang kata itu. Ia diam. bukan karena tak bisa merespons karena jika Yungi berkata seperti itu, itu artinya Yungi benar-benar mencintainya.
Dia ingat benar Erika pernah berkata kepadanya bahwa Yungi sangat dingin. Ia hampir tak pernah mengatakan kata cinta kepadanya. Bahkan saat mereka bercinta, Yungi selalu menutup matanya. Hanya ada koneksi di bagian bawah, masing-masing hanya meluapkan berahi karena rangsangan atau apa saja tapi yang jelas bukan dari hati.
“Kamu sungguh-sungguh sama yang kamu ucapin, Yun?” Mina menatapnya.
“Iya, aku cinta kamu, Min. Ini yang pertama dalam hidupku bilang cinta sama seseorang.” Yungi berkata. Wajahnya terlihat malu. Senyumnya juga menunjukkan yang sama.
Mata Mina berbinar. Ia tersenyum lalu memberikan satu kecupan di bibir Yungi dengan cepat.
“Terima kasih.” Ia berkata dengan lembut dan kemudian mengelus wajahnya.
“Kamu juga ambil semua pertamaku, Yun!” lirih Mina sambil tersenyum.
Yungi agak terkejut. Mereka duduk berhadapan.
“Ciuman pertamaku, pelukan pertamaku, pengalaman bercinta pertamaku,” ujar Mina sambil menghela napas.
“Ciuman pertama?” Yungi mengernyitkan alisnya.
“Kamu pasti ga akan inget! Tapi karena itu, aku jadi sebel sama kamu! Plus kamu juga emang nyebelin,” sahut Mina sambil menutup mulutnya menahan tawa.
“Eh, beneran? Emang kapan aku cium kamu?” Yungi sepertinya memang lupa.
“SMP, di belakang gedung sekolah,” ujar Mina.
“Hah!” Yungi mencoba mengingat-ingat dan tak lama kemudian ia langsung tersenyum.
“Ah itu ya!” Ia langsung menggaruk kepalanya.
“Tuh, nyadar kan sekarang!” ujar Mina kesal.
“Itu ciuman pertama kamu, Min?” tanya Yungi.
“Iya, dan kamu ga minta maaf sama aku,” sahut Mina sambil manyun. Nadanya terdengar kesal seolah ia ingat sesuatu.
“Tapi itu juga yang pertama buat aku,” sahut Yungi sambil menatap Mina.
“Boong! Masa playboy cap kadal kayak kamu ga pernah nyosor perempuan?” Mina manyun lagi.
“Bener, Min! Sumpah! Itu ciuman pertama aku juga. Itu sebelum kamu gabung circle 7 kan? Di belakang sekolah kamu marah sama aku karena aku makan kue buatan kamu yang kamu bikin buat si Genta, kan?” Ingatan Yungi mulai jelas soal itu.
“Iya, itu. Kenapa kamu cium aku coba? Ga ada angin ga ada ujan, main nyosor aja tuh bibir,” nada Mina kesal.
Yungi diam sejenak.
“Ih amit-amit!” Mina kesal.
“Ga terima ya alasannya,” bisik Yungi. Mina hanya diam.
“Maaf ya!” Yungi berkata lagi.
“Tapi waktu itu beneran itu pertama kali aku liat cewek seimut kamu. Kamu emang lucu, tau! Bikin gemes!” sahut Yungi lagi.
“Gombal, Yungi!” nada Mina masih kesal.
“Kalau pelukan pertama, kapan ya?” Yungi lagi-lagi mengernyitkan alisnya.
“Pas Genta meninggal habis pertandingan Ice Skating,” sahut Mina. Wajahnya mendadak sedih.
“Ah itu, ya! Di atap sekolah ya! Malem-malem ya!” sahut Yungi.
“Ngapain ya aku malem-malem ke atap sekolah?” Yungi lagi-lagi mikir.
“Mojok sama Gladys,” jawab Mina sambil senyum.
“Oh!” Yungi langsung nyengir.
“Apa kabarnya ya dia?” Yungi serius bertanya.
“Dia nikah sama orang Inggris, tinggal di Wimbledon.” Mina menjawab.
“Oh!” Yungi mengangguk-anggukkan kepala.
“Kenapa? Mau nyusul?” Nada Mina kesal.
“Ih ngapain! Orang aku deketin si Gladys juga karena penasaran sama kamu,” sahut Yungi.
“Hah?” Mina melongo.
“Aku tuh bingung. Fans aku seabreg di SMP. Kamu kok pilih si Genta sih? Maksud aku cewe-cewe kan biasanya suka yang ganteng, bad boy, populer gitu lah! kalau ga aku kan pilihannya masih bisa yang lain, Min. Justin, Jun, Jay, atau Felix, Hendrik, Cody, atau si Brian. Banyak loh Min yang lain.” Yungi membuka kasus lama.
Mina tersenyum.
“Kok dijawab senyum?” Yungi memang terlihat penasaran.
“Aku bahkan simpen bunga di loker kamu loh waktu itu! Surat cinta aku kamu tolak juga!” Yungi melanjutkan.
“Hah? Itu yang bunga Lily itu kamu yang simpen, bukan Jay? Surat cinta yang mana? Itu aku banyak nerima surat, tapi gada namanya. Jadi, aku buang semua. Males ah balesin! Lagian aku ga ada niat pacaran! Enek liat mama papa gitu juga! Males ah!... Lagian ngapai kamu gitu-gituan. Cheesy banget tau! Kamu kan ga suka sama aku juga, iya kan? Taruhan ya kamu?” Mata Mina langsung memicing.
“Tuh kan!” Mina langsung menebak melihat reaksi Yungi yang senyum sambil garuk-garuk kepala.
__ADS_1
“Iseng aja, Min. Challenge!” jawab Yungi asal.
“Challenge? Ih nyakitin hati orang itu mah!” sahut Mina.
“Tapi, kan aku gagal!” sahut Yungi.
“Iya, untungnya!” jawab Mina.
“Tapi kok kamu mikir bunga dari si Jay?” tanya Yungi pertanyaanya jadi leboh fokus ke Jay. Plus sekarang dia memang ada urusan pribadi dengan Jay.
“Pernah liat dia bawa-bawa bunga terus jalan ke arah loker aku. Jadi, aku curiga sama dia,” sahut Mina.
“Pake ada tulisan ganbatte segala!” sahut Mina.
“Hah! Apaan ga ada tulisan!” sahut Yungi.
“Aku ga nulis-nulis gituan,” sambungnya.
“Eh, jangan-jangan itu beneran dari Jay?” Mina diam sejenak seperti berpikir.
“Kalau iya, Astagaa!” Wajah Mina langsung memerah.
“Aku ga suka liat wajah kamu kayak gitu buat dia!” Yungi cemburu.
“Astaga! Kan itu waktu kita masih culun, Yun! Astaga!” Mina menggelengkan kepalanya.
“Jay, cinta pertama kamu, ya?” Yungi memicingkan matanya.
“Ga tau. Ga paham juga artinya. Tapi aku suka dia. Dia orangnya kalem.” Mina tersenyum.
“Ga suka dengernya,” sahut Yungi. Wajahnya masih kesal.
“Astaga! Tapi semuanya kamu yang dapet kan? Ngapain kesel, Yun?” Mina mengelus kepala Yungi pelan.
Yungi diam sejenak sebab pikirannya sekarang melayang pada pengalaman bercinta mereka yang pertama.
“Ah, jadi ingat sesuatu!” sahutnya. Nada Yungi menjadi agak sedih.
“Kamu, kenapa?” Mina menatapnya.
“Itu, uhm your first ***, uhm ...” Yungi menggaruk bagian belakang kepalanya pelan. Wajahnya terlihat sedih
“Aku sama kamu, uhm, ...” Yungi tak kuat untuk melanjutkan.
“Itu kan sudah terjadi. Aku juga ga nyalahin kamu, Yun. Lupain aja!” sahut Mina sambil senyum.
“Maafin aku!” sahut Yungi lembut.
“Waktu itu aku pikir kalau aku jujur sama kamu soal malem itu, waktu kamu tanya aku, hubungan kita bakal jadi aneh, canggung. Aku ga mau itu. Gimana pun kita temen, kan,” sahut Mina
“Jay tahu soal ini?” Yungi memastikan.
“Ah.. itu!” Mina menjeda
“Iya, aku ga sengaja bilang pas bareng minum sama dia Tapi, dia hargain keputusan aku, jadi dia juga diem,” ujar Mina lagi.
“Kamu tenang aja. Jay ga benci kamu, kok!” ujar Mina.
“Iya. kan dia suka sama kamu,” sahut Yungi.
“What? Ga ih. Cuma karena kita deket aja, jadi kamu mikirnya gitu,” sahut Mina.
“Kalau dia suka sama kamu beneran gimana?” tanya Yungi.
Dia menatap Mina dengan wajah serius.
Mina agak terhenyak. Sepertinya Yungi serius dengan yang ia tanyakan.
“Aku ga bisa kontrol perasaan orang lain sama aku, Yun. Tapi aku bisa pastiin ga ada orang lain setelah kamu,” sahut Mina. Yungi terhenyak.
“Bilang kamu cinta sama aku,” sahut Yungi. Ada rasa memohon di sana.
“Iya, Yungi. Aku cinta kamu.” Mina berkata lirih sambil menatap Yungi penuh dengan kasih.
“Kok, bilangnya kayak ga pake hati, gitu!” sahut Yungi.
“Kayak terpaksa gitu!” sambungnya.
Mina tertawa kecil.
“Kamu kayak anak kecil, tahu!” Mina menatap Yungi.
“Ga peduli. Bilang sekali lagi!” sahut yungi.
“Aku cinta kamu, Yungi,” sahut Mina sambil tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium Yungi.
Mereka berciuman cukup lama.
“Aku juga. Aku cinta kamu, Mina,” ucap Yungi lembut. Setelah mereka melepaskan ciuman mereka.
“Sekarang bobo ya! Ngantuk nih!” bisik Mina.
“Hah, kamu mau diboboin?” Canda Yungi sambil senyum tengil.
“Tsk!” Mina kesal. Dia memukul dada Yungi kesal.
Dia langsung merabah dan memeluk Yungi.
__ADS_1
Yungi tersenyum. Dia mencium pucuk kepala Mina dan mereka memejamkan kembali mata mereka.
Bersambung