
“WA-in siapa sih? fokus banget!” Nada Yungi terdengar agak kesal dan ia mengintip HP Mina. Mereka duduk bersebelahan bersandar pada badan ranjang.
“Oh Komite Sekolah,” jawab Yungi sendiri. Nadanya sekarang lebih tenang karena Mina mencondongkan Hpnya ke arah Yungi sehingga ia bisa leluasa membaca chatt-annya. Setelah itu, ia kembali pada chattan yang lain, Jini dan Vee dan posisinya masih sama memperlihatkan chattannya kepada Yungi.
Mina memperbaiki posisi duduknya. Ia bersandar pada dada Yungi dan masih melakukan obrolan melalui WA dengan Jini dan Vee. Yungi yang juga membacanya menjadi paham dan tak perlu lagi berbicara apa-apa lagi bahkan setelah Mina selesai chat dengan teman satu circle-nya itu.
Yungi menyadari betapa menyeluruhnya Mina menyelesaikan semua masalah.
“Mau ngomong apa, Yun? Katanya tadi mau ngomong sebentar?” Mina menengadah. Ia menarik tangan Yungi yang melingkar di atas perutnya dan menciumnya santai sambil menyunggingkan senyum.
Yungi agak terhenyak dibuatnya, tapi juga merasa senang karena sisi Mina yang itu, yang menunjukkan rasa sayangngnya melalui kontak fisik itu juga baru untuknya. Tentu saja beberapa bulan ini setelah mereka menikah mereka selalu melakukan kontak fisik dan itu tentu luas definisinya. Namun, jika dipikir-pikir Yungi-lah yang selalu memulainya.
“Ah, ya, tentang Pak Anjang itu yang sangat Anj*ng! Aku ga suka dengernya, itu waktu Yuna cerita. Itu mah verbal abuse atuh! Nyebelin pisan! Perlu dikasih pelajaran. Kelakukannya kok ga kayak pendidik sih!” Yungi meluapkan kekesalannya.
“Tapi, kamu udah tangani juga. Jadi, sepertinya tidak perlu dibicarakan,” sambung Yungi.
Giliran Yungi yang menarik tangan Mina dan menciumnya. Dia tersenyum bangga dan bahagia sambil sejenak mengamati cincin yang melingkar di jari manis Mina. Mina menganggukkan kepalanya sebelum ia mulai berbicara.
“Sebenarnya soal itu sudah cukup lama komite sekolah mengawasi Pak Anjang. Kami sedang mengumpulkan bukti-bukti. Sudah ada banyak orang tua yang mengadu kepada kepala sekolah, tapi dia tidak menanggapi dengan serius. Jadi, kami mencari jalan lain dan komite sekolah membantu kami.” Mina menjelaskan.
“Tapi, mungkin itu tidak cukup. Seharusnya ada seseorang yang melaporkan pada polisi saja.” Yungi nadanya serius.
“Kami akan melakukannya setelah cukup buktinya,” sahut Mina.
“Bukti seperti apa yang kamu maksud itu?” Yungi menatap Mina.
“Video atau rekaman suara. Kami sudah punya beberapa chattan dengan Pak Anjang dan dia beberapa kali mengancam Ibu-Ibu yang mengadu akan membuat anak-anaknya sulit di sekolah. Tapi, itu tidak cukup. Kami juga sudah berbicara dengan polisi. Jadi, kami sedang memproses itu,” Mina menjelaskan lagi.
“Oh, apa kita pindahkan saja anak-anak ke sekolah lain, agar mereka lebih nyaman gitu?” Yungi terlihat khawatir. Intuisinya ke-bapak-annnya mendadak kuat.
“Tidak perlu sejauh itu, Yun! Aku kasihan sama Juna dan Zen. Mereka harus beradaptasi lagi. Plus sekarang kedua anak itu punya tanggung jawab juga di sekolah. Juna kapten tim Basket Sekolah, Zen Kapten untuk Tim Bisbol. Dan sekarang ini terakhir mereka menjadi kapten di klub mereka masing-masing. Kan, kelas enam mereka harus konsentrasi untuk ujian dan persiapan masuk ke SMP,” ujar Mina. Dia menatap Yungi dan tersenyum.
“Ah gitu ya! Iya ya kasihan anak-anak kalau gitu!” Yungi menganggukkan kepala.
“Aku tahu kamu khawatir, tapi kamu bisa percaya sama aku. Aku pasti akan melindungi mereka,” sahut Mina sambil tersenyum. Tatapannya hangat.
“Oh, aku percaya pasti. Tapi aku ga suka si Anj*ng itu puji-puji kamu pakai mulutnya yang kotor gitu,” nada Yungi kesal.
“Kamu juga terpancing tuh! Kalau denger langsung pasti udah gontok-gontokkan. Kita ga bisa cegah orang lain ngomong apa, tapi kita bisa menjaga perasaan dan pikiran kita supaya ga kepancing sama yang begituan,” sahut Mina lagi.
Dia agak manyun. Dari dulu Yungi emang yang paling cepat naik pitam, khususnya ketika teman-temannya di jelek-jelekkan. Ya boleh dibilang dia setia kawan di satu sisi, tapi di sisi lain, itu bukan penyelesaian masalah.
“Yang diomonginnya kamu, Min! Aku kesel!” sahut Yungi.
“Iya sama. Aku yang diomongin juga kesel. Sama juga kalau kamu atau anak-anak yang diomongin aku juga kesel, tapi aku ga akan konfrontasi gitu khususnya sama orang-orang macam Pak Anjang yang pada akhirnya kita yang akan kalah karena dia punya posisi di sekolah,” sahut Mina lagi dengan tenang.
“Juga, Yun!” Mina menjeda.
__ADS_1
Yungi mengangkat alisnya sambil menatap Mina penasaran.
“Aku sebenarnya ngerasa bersalah soal ini,” sahut Mina.
Alis Yungi mengernyit menunjukkan rasa bingung.
“Aku jelasin, tenang.” Mina paham dengan reaksi Yungi. Kini mereka duduk berhadapan di kasur, menopang diri mereka masing-masing dengan bantal.
“Selama ini jika ada masalah dengan anak-anak, bahkan sebelum kita menikah, aku selalu menyelesaikannya sendirian. Aku tidak pernah berkonsultasi denganmu karena kupikir kamu sudah mempercayakan anak-anak kepadaku, jadi aku merasa leluasa. Tapi, sekarang, kita bersama kan, jadi seharusnya aku juga berbagi denganmu tentang apa yang terjadi dalam kehidupan kami. Kamu pasti kewalahan dengan semuanya, kan?” Mina menjeda lagi.
Ia menatap Yungi untuk memastikan reaksinya. Setelah itu, ia melanjutkan karena ia membaca ekspresi wajah Yungi yang terlihat tenang dan itu juga diperkuat dengan anggukan di kepalanya.
“Jadi, aku minta maaf. Kamu pasti ngerasa kalau kamu seperti orang asing dalam rumah tangga kita atau kamu ngerasa kalau kamu seperti anak paling besar karena aku terlalu dominan. Kamu negrti kan maksud aku?” Mina mencoba menjelaskan.
Yungi tersenyum. Ia menangkup wajah Mina yang mungil dengan kedua tangannya dan mengecup bibirnya dengan lembut.
“Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Selama ini, jika tidak ada kamu, aku tidak tahu bagaimana aku bisa menangani anak-anak. Dan aku sangat bersyukur untuk itu. Ini proses dan masalah waktu. Aku tak keberatan untuk belajar dan mengalami semuanya. Kamu ada di sisi aku, kan? Kamu pasti bantu aku kan?” Yungi berkata lirih. Ucapannya sangat tulus dan ia benar-benar bersyukur.
“Makasih,” sahut Mina dan ia mengelus pipi Yungi lembut.
“Aku yang makasih, Min. Kamu ga tahu betapa bahagianya aku karena kamu,” ujar Yungi. Ia memeluk Mina.
“Iya, oke. Kita tidur sekarang, ya! Udah jam sebelas ini!” Mina masih dalam pelukan Yungi menunjuk jam dinding.
“Jam berapa aja juga ga apa-apa. Kan udah biasa juga kita ngobrol Subuh, kan?” Yungi tersenyum. Mereka masih berpelukan.
“Kalau gitu, anak-anak aku yang handle, kamu pergi rapat aja,” ujar Yungi.
“Ga, anak-anak dulu baru kerjaan aku,” ujar Mina.
“Wow! Terus aku di mana?” tanya Yungi. Terdengar nada cemburu di dalamnya.
“Bukannya kita sama. Anak-anak dulu terus kerjaan kan?” Mina terlihat bingung.
“Oh?” Yungi bingung.
“Kita satu kan. Kita, bukan aku dan kamu,” ujar Mina.
“Jadi, kayaknya ga usah nanya lagi posisi kamu di mana. Kan kita satu,” sahut Mina.
Yungi tersenyum.
“Aku cinta kamu, Min,” lirih Yungi.
“Aku juga,” jawab Mina.
Mereka berpelukan.
__ADS_1
“Jadi, bisa dipastikan pilihanmu antara aku dan anak-anak adalah anak-anak ya?” Nada Yungi terdengar sedih.
“Kamu juga, kan?” Mina menatap Yungi.
Yungi menunduk.
“Aku tidak ingin ada di situasi itu,” sahut Yungi dengan nada sedih.
“Ya, jangan berpikir ke arah sana! Bukankah kita sedang berusaha membuat semuanya menjadi lebih baik untuk anak-anak?” Mina mengelus kepala Yungi.
“Kita tidka tahu yang terjadi di masa depan bahkan ketika kita mencoba untuk membuat kebahagiaan kita sendiri,” sahut Yungi. Dia menatap Mina.
“Kalau begitu. Kamu harus janji sama aku,” sahut Mina lagi.
“Apa?” Yungi menatap Mina.
“Suatu hari jika kita ada masalah, jangan pernah lari pada orang lain. Kalau perlu waktu kita bisa pisah ruangan, tapi jangan sampai keluar rumah. Jika keluar rumah jangan pernah mencari orang lain, kecuali mereka adalah orang-orang yang dekat dan sayang dengan kamu, paham, kan?” Mina menjelaskan.
“Ah itu! Siap kapten!” sahut Yungi sambil tersenyum.
“Ayo tidur,” sahut Mina.
“Tidurin kamu, maksudnya!” Yungi tersenyum tengil.
“Ih! Amit-amit si Yungi! pasti UUJ!” Mina mengerling.
“Apaan tah?” Yungi tertawa.
“Ujung-ujungnya Jatah,” ujar Mina kesal.
Ia merebahkan diri.
Yungi tertawa tapi dia langsung memposisikan dirinya di atas Mina.
“Sekali aja ya! Kayaknya udah lama kita ga main,” Yungi terlihat mikir.
“Baru aja seling sehari ga! udah lama bilangnya!” Mina kesal.
“Biarin atuh, Min! Ya! Oke ya?” Yungi membujuk.
“Janji sekali, ya?” Mina memicingkan matanya.
“Iya beneran. Kan besok kita sibuk,” sahut Yungi
Tak perlu lama keduanya menarik selmut setelah mematikan lampu kamar.
Bersambung
__ADS_1