
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju tempat yang sudah diceritakan sambil bergandengan tangan. Setelah berjalan beberapa meter, mereka sampai di sebuah terowongan dan berhenti di sana sejenak.
“Wah, ini tidak seperti terowongan.” Yungi berkomentar. Matanya tertuju pada sebuah lorong yang cukup panjang yang terbuat dari pohon-pohon tua kiri dan kanan yang salin menjalin.
“Iya, sebenarnya ini dibuat dari pohon-pohon yang saling dibelitkan dulunya. Aku tahu ini juga karena cerita dari Bibi Irie. Suaminya membuat ini karena dulu terowongan ini sering dipakai untuk beristirahat sebelum merek menuju tempat lain di balik perbukitan ini. Kalau kita berjalan lagi melewati kolam yang akan kita lihat sebentar lagi, kita bisa lihat danau yang masih sangat jernih airnya.” Mina menjelaskan dengan antusias.
“Wah! pasti bagus! Aku ingin lihat itu, tapi pasti lebih seru kalau dengan anak-anak,” sahut Yungi.
“Iya, makanya aku dah bilang kan tadi. Kalau mereka sudah cukup besar, aku akan bawa mereka ke sini. Aku ingin berbagi semuanya dengan anak-anak. Termasuk tentang Love dan Hope. Kalau mereka sudah cukup mengerti aku akan menceritakan semuanya kepada mereka,” terang Mina.
Yungi mengeratkan pegangan tangannya sambil tersenyum hangat.
“Ayo masuk!” sahut Yungi sambil menarik tangan Mina mengajaknya melewati terowongan.
“Iya,” ujar Mina mengembangkan sebuah senyuman.
“Ayo kita ambil foto di sini!” ujar Yungi. Ia berhenti di tengah terowongan sambil mengeluarkan Hpnya dan mulai mengambil foto dengan beberapa pose bersama.
“Tapi ini jalannya sangat rapi dan sepertinya jalan dilalui orang. Apa karena jalannya terlalu sulit?” Yungi mengamati jalan setapak di dalam terowongan.
“Ini boleh dibilang kampung. Anak-anak muda Jepang tidak suka tinggal di kampung biasanya. Yang ada hanya orang tua dan jumlahnya pun ga banyak, jadi wajar kalau tempat ini sepi,” jawab Mina yang juga mengeluarkan Hpnya dan tengah jeprat-jepret beberapa bunga kecil yang tumbuh di sekitar pohon yang melilit.
“Ah, gitu!” jawab Yungi.
“Iya...Astagaa!” Mina cukup kaget. Saat ia menjawab ia tengah asyik membungkuk mengambil sebuah foto kepik yang warnanya cukup menarik. Dia pikir Yuna akan senang melihatnya jadi dia akan menunjukkan itu kepadanya. Namun, pada saat dia berbalik Yungi sudah di berdiri tepat di hadapannya dan tentu saja itu membuatnya terkejut. Hampir saja ia jatuh ke belakang jika saja Yungi tidak dengan segera menarik pinggang rampingnya ke arahnya sehingga merek berpelukan.
“Astagaa, Yun! Bikin kaget aja!” ujar Mina sambil melepaskan diri dari pelukan Yungi.
“Haha, maaf!” lirih Yungi.
“Nih!” ujar Yungi sambil menyodorkan sekuntum bunga yang ia petik dari salah satu pohon yang menjadi atap terowongan.
“Apaan sih?” Mina tampak malu, tapi ia kemudian menerima bunga itu.
“Makasih,” sahutnya pelan dengan wajah yang memerah. Ia tersenyum dan hampir mulai melanjutkan langkahnya jika Yungi tidak menarik lengannya dan membuatnya bersandar pada dinding terowongan. Dengan cepat, Yungi mengunci tubuh mungil Mina di antara kedua tangannya dan ia menatapnya dalam sambil tersenyum.
“Kok buru-buru sih, Min! Kita masih punya banyak waktu, kan?” tanya Yungi. Suaranya agak berat, menahan berahi.
“Bukannya mau liat kolam?” perasaan Mina tak menentu. Ia tak berani menatap Yungi yang bisa ia pastikan tatapannya saja seolah akan memakannya. Plus dia merasa di bagian perutnya ada yang menyentuhnya dan jelas itu kepunyaan Yungi yang sepertinya sudah mulai antusias.
“Iya, mau, pasti. Ke mana aja asal sama kamu, aku ga keberatan,” bisik Yungi. Tangannya membelai kepala Mina lembut dan entah kapan tangannya itu kini tengah mengelus bibir tipis Mina.
Mina menelan ludah. Ia jelas tahu berahi Yungi sudah memuncak. Ia hanya diam dan membiarkan Yungi melakukan sesukanya. Mereka berciuman cukup lama dan intens dan saling menyunggingkan senyum saat bibir mereka berpisah dan memutuskan berpelukan.
__ADS_1
“Main yuk!” bisik Yungi.
Wajah Mina memerah. Untung dia bisa menyembunyikan itu karena masih ada di dalam dekapan Yungi.
“Di sini?” bisik Mina.
“Hmm,” lirih Yungi.
Mina tidak merespons.
“Pleasee!” lirih Yungi lagi.
Mina menganggukkan kepalanya pelan. Sebenarnya ia khawatir seseorang akan menangkap basah mereka. Meskipun mereka suami istri, mereka ini tengah berada di luar dan bagaimana Yungi bisa melakukan itu dengan tenang kecuali ia punya pengalaman yang matang soal itu. Setidaknya ia bisa tahu dari cara Yungi yang melakukannya dengan cepat, tapi masih bisa membuat keduanya berakhir bahagia.
“Wow! That was good!” Mina merapikan dirinya sambil dengan cepat berjalan mendahului Yungi. Wajahnya memerah dan ia masih merapikan rambutnya. Yungi tersenyum, ia masih pada posisinya, merapikan dirinya juga dan tak lama ia berjalan cepat menyusulnya.
“Tunggu aku dong!” Yungi menarik lengan Mina, membuatnya berbalik, menangkup wajah mungil Mina dan langsung menciumnya.
“Thank you for the praise! You enjoy it kan? Kamu suka main di luar?” tanya Yungi menggoda Mina.
“Apaan sih?” Wajah Mina memerah dan ia langsung menonjok dada Yungi pelan. Ia melepaskan diri dari Yungi dan berjalan lagi mendahuluinya. Yungi hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Tak lama kemudian,ia menyusul Mina yang sudah berjalan agak jauh darinya.
“Woahhh!” Mata Yungi berbinar. Wajahnya mengekspresikan rasa kekaguman.
“Kan, apa kata aku juga!” Mina setuju. Kedua pasang mata itu tak lelah mengagumi keindahan kolam.
“Ambil foto dulu ah!” ujar Yungi dan langsung mengeluarkan Hpnya mengambil foto.
“Sini, Min, kamu duduk di dekat kolam di situ tuh batu itu! Aku ambilin fotonya!” ujar Yungi sambil menarik Mina dan membawanya ke tempat yang ia tunjuk barusan.
“Aduh, si Yungi!” Mina agak kesal. Sebenarnya ia paling tidak suka difoto.
“Ga apa-apa dong Babe, buat koleksi keluarga kita!” Yungi menjelaskan.
Setelah beberapa kali jepretan, ia melihat ke Hpnya, memeriksa sesuatu dan kemudian mengeryitkan alisnya.
“Kenapa?” tanya Mina yang sejak tadi memperhatikan sikap Yungi.
“Tunggu bentar, ada yang aneh!” ujar Yungi sambil mendekati Mina dan tetiba
Byarrr! Yungi mendorong Mina ke dalam kolam.
“Astagaa!!! Yungiiii, Brengsek kamu!!!” ujar Mina saat kepalanya muncul dari dalam kolam. Ia mengelap wajahnya dengan tangannya, tapi tetap saja basah karena Yungi memercikkan air ke wajahnya sambil tertawa jahil.
__ADS_1
“Yungiii!” Mina berteriak kesal.
“Aku juga nyebur, Min!” ujar Yungi sambil tanpa pikir panjang masuk ke dalam air dan mendekati Mina.
“Ayo naik! baju kita basah! Kita keringkan di pinggir sana, ya!” Mina berjalan menuju tempat yang ia tunjuk. Namun, ia menghentikan langkahnya saat Yungi memeluknya dari belakang.
“Yun, dingin nih!” ujar Mina pelan.
“Sebentar aja!” bisik Yungi.
Mina membalikkan tubuhnya setelah ia tertegun pada posisinya.
Ia menatap Yungi yang juga tengah menatapnya hangat, lalu merangkul leher Yungi membuatnya agak menunduk dan mencium bibirnya. Mereka berciuman lagi dengan intens dan cukup lama. Bisa dipahami gelora mereka adalah pengantin baru. Dari pelukan menjadi ciuman dan tak perlu lama bagi mereka untuk mengakhirinya dengan beberapa kali permainan. Sebuah gambaran percintaan yang cukup intens yang bukan didasari oleh hasrat, melainkan kasih sayang.
“Kamu nangis?” Mina kaget saat Yungi tidur di pahanya sambil menunggu baju mereka kering di badan setelah tiga kali percintaan di pinggir kolam. Setidaknya Mina memaksanya begitu. Yungi terus-menerus memohon kepadanya setelah satu kali menjadi dua kali dan ini yang ketiga kalinya menjadi penutup untuk kali itu.
“Aku banyak salah samu kamu!” sahut Yungi sambil mencium tangan Mina lembut.
“Nggak juga, Yun. Aku juga sama. Kamu lagi ngomongin soal Love dan Hope, kan?” tanya Mina lagi memastikan.
“Nggak itu aja!” jawab Yungi.
“Aku janji aku bakalan jaga kamu!” sahut Yungi.
“Gombal ah! Banyak janji kamu, Yun! Ga usah ngomong yang gitu mah! buktiin aja!” sahut Mina sambil mengerling. Yungi tersenyum.
“Eh, tapi ngomong-ngomong, kalau inget hutan kayak gini jadi inget waktu kita di SMA ya!” ujar Yungi.
“Yang mana?” tanya Mina.
“Itu waktu kamu tersesat di hutan gara-gara aku!” ujar Yungi.
“Oh, yang si Jay nonjok kamu ya, gara-gara kamu bercandanya keterlaluan,” sahut Mina.
“Iya.” Nada Yungi datar saat Mina mengeluarkan nama Jay dari mulutnya.
Sebenarnya tidak ada yang aneh, dan Mina juga sepertinya biasa saja, tapi kenapa setiap kali nama lelaki itu disebut, perasaan Yungi jadi tidak tenang.
“Aku boleh merem bentar ga?” tanya Yungi. Wajahnya memang terlihat agak lelah.
“Iya, bobo aja!” ujar Mina.
Ia masih berbaring di pangkuan Mina dan Mina sendiri yang bersandar pada batu yang cukup besar ikut memejamkan matanya saat Yungi mulai terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Bersambung