Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 37 Mi Ayam Gerobak Hijau


__ADS_3

“Kok pake bajunya yang kebuka gitu, Min? Nanti masuk angin loh!” Yungi agak kaget. Mereka sudah siap tidur dan mendapati Mina keluar dari kloset dengan daster yang terbuka pada bagian atasnya dengan panjang di atas lutut. 


Semenjak  tahu tentang kehamilan Mina, anak-anak menjadi lebih suportif. Mereka datang ke kamar Mina dan melaporkan kegiatan untuk sekolah dan hal lainnya lalu pamit tidur. 


“Nah itu anehnya! Kalau hamil mah ga Yun,” ujar Mina. Dia berbaring di sebelah Yungi dan menarik selimut. 


“Oh, gitu!” Yungi tidak berkata apa-apa. Ia juga ikut berbaring di sebelah Mina. 


“Tapi, itu berlaku di rumah aja kan! Ga di luar?” Yungi memastikan. 


“Oh, sebenarnya di luar juga aku nyaman pake yang terbuka sih, cuma dulu Awan bilang jangan katanya, ya aku nurut!” ujar Mina. 


“Nah, aku juga ga suka liat kamu terbuka di luar, jadi jangan ya!” Yungi langsung memohon.


“Iya, oke,” sahut Mina sambil tersenyum. 


“Mau dipijitin kakinya ga?” tanya Yungi. 


“Iya, mau,” sahut Mina.


“Kok kamu tahu?” Mata Mina mengikuti pergerakan Yungi yang bangkit dari tidurnya.


“Iya. Aku lagi cocoklogi. Ini kali kedua kamu hamil anak aku, kan?” Yungi mesem sambil memainkan alisnya.


“Nyebelin kamu!” Mina manyun. 


“Pas kamu bilang kamu pengen jambu kristal dari Si emang pinggir jalan, aku langsung inget kenangan kita pas mau ke Jepang. Aku waktu itu bodoh. Mana tau itu kamu lagi ngidam, hahaha! Sekarang aku tahu. Jadi, aku akan berusaha untuk menebus semua kesalahan aku waktu itu!” Yungi menjelaskan sambil memijit kaki istrinya.


“Makasih,” ujar Mina.  Dia tersenyum lalu  mengulurkan tangannya dan mengelus paha Yungi pelan. 


“Dokter bilang apa soal jatah kamu?” Mina bertanya dengan nada menggoda. 


“Oh, masih boleh melakukan tapi harus pelan-pelan dan hati-hati dan jangan terlalu sering, khususnya trimester pertama.” Yungi menjelaskan dengan lancar. 


Mina mengangguk-angguk sambil tersenyum. Sebenarnya ia sudah tahu apa yang dikatakan dokter karena itu hal yang sama yang dikatakan kepada Awan. Dia hanya perlu memastikan bahwa Yungi menyimak yang dikatakan oleh dokter itu. 


“Oh disuruh pake pengaman juga.” Yungi menambahkan.


“Kamu nyaman?” tanya Mina. 


“Ya, sebenernya sih enak ga pake, cuma aku ngerti tujuannya. Jadi, ga apa-apa.” Yungi menjawab sambil tersenyum


“Kamu gimana? Nyaman ga? nikmatin ga kalau aku pake itu?” Yungi menaikkan alisnya.


“Ih, tapi kamu ga pernah pake kan kalau sama aku,” dengus Mina kesal, seolah menegaskan bahwa Yungi memakainya dengan wanita lain. 


“Eh? Oh, iya gitu?” Yungi langsung mengingat-ingat dan wajahnya langsung memerah karena yang dikatakan Mina benar. 


“Iya, ya!” Yungi tersenyum. 


“Mau coba?” Yungi senyumnya tengil.


“Ga malam ini!” sahut Mina sambil senyum.


“Iya, oke,” ujar Yungi. 


“Udah mijitnya, bobo sini,” ujar Mina sambil menunjuk pada tempat tepat di sebelahnya. 


“Yakin udah. Perasaan dulu aku pijit sampai kamu bobo deh!” Yungi kembali bersikap seperti sedang berpikir. 


“Iya, udah. Bobo sini. Aku pengen peluk kamu,” nada Mina manja. 


“Eh? Tumben?” Wajah Yungi terlihat sumringah. Dia langsung merebah di samping Mina. 


Mina tersenyum. Ia mencium pipi Yungi kemudian memeluknya setelah menarik selmut. 


“Wow!” Yungi kaget tapi suka. 


“Ehm, ... loh, Min!” Yungi melirik ke arah Mina. 


Ia menyadari tangan Mina yang mungil masuk menelusup ke  dalam celana piyamanya dan memegang kepunyaanya. 


“Please! Boleh pegang ya!” Mina sekali lagi berbicara dengan nada manja. 


Yungi tersenyum. Ia mencium kening Mina sebagai jawabannya. Ia ingat kembali saat mereka meghabiskan malam mereka sebelum Mina pergi ke Jepang. Ia juga melakukan permintaan aneh itu dan sekarang ia paham. 


Keduanya memejamkan mata. 


***


Berita kehamilan Mina membuat keluarga besar bahagia. Mama Mina langsung mengirim Mbak Ade, Mbak Juni, dan Mang Asep untuk membantu keseharian mereka. Mbak Juni mengurus anak-anak. Mbak Ade mengurus dapur, dan Mang Asep membersihkan kebun dan lain-lain. Dari ketiganya hanya Mang Asep yang sifatnya panggilan saja dan tidak menetap di rumah. Mereka tidur di rumah Mina di lantar dua, mengisi satu kamar kosong yang sebenarnya diperuntukkan Zen kalau sudah SMP. 

__ADS_1


“Emang biasa ya dok, kalau perempuan hamil ngidamnya pegang anu suami kalau pas mau tidur?” Yungi yang benar-benar penasaran akhirnya punya waktu untuk berkonsultasi dengan dokter Hans tepat setelah mereka cek kehamilan yang kedua. Mina pergi keluar karena ia harus melakukan beberapa panggilan untuk urusan pekerjaan. 


“Oh, Mina pegang anu Anda pas mau tidur?” dokternya mencoba menahan tawa. 


“Iya, dok,” jawab Yungi.


“Oh gitu! Unik juga ya!” komentar dokternya malah buat Yungi bingung. 


“dok, kan saya nanya dokter, itu biasa ga?” tanya Yungi lagi. 


“Bisa jadi. Kan perempuan ngidam macam-macam. Tapi yang ini saya baru denger,” ujar sang dokter.


“Gitu ya!” Yungi berpikir. 


“Ada yang unik lainnya ga?” dokter tanya lagi.


“Kebiasaan dia biasanya ga manja dok, tapi manja sekarang,” ujar Yungi.


“Terus Anda ga suka?” tanya dokter.


“Suka dong dok! Semuanya dari istri saya... saya suka, dok.” Yungi tertawa.


“Kalau gitu kenapa ini jadi masalah?” tanya dokter.


“Kan dokter tanya yang unik. Buat saya manjanya istri saya itu unik kan keluar dari kebiasaan dia, dok!” jelas Yungi. 


“Tapi masih untung manjanya sama Anda ya, suaminya...., coba kalau sama suami orang  gawat itu. Apalagi kalau pegang anu-nya suami orang, bisa jadi keributan, kan?” dokter menggoda Yungi. 


Yungi menatap dokter sambil memegang satu pelipisnya. Dia tidak berkata apa-apa, kecuali dalam hatinya yang menjelaskan bahwa sebenarnya dia sangat ingin memukul dokter yang ada di hadapannya itu karena terlalu sering menggodanya. 


“Temperamen ga, istrinya?” tanya dokter lagi. Yungi diam sejenak. 


“Ga terlalu sering, tapi mood swingnya itu, dok, duh! Saya suka bingung kalau tiba-tiba dia nangis karena nonton film sedih atau ada berita dari temannya yang sedih. Kalau marah, ya pernah sejauh ini sih baru sekali yang saya ingat... atau sebenarnya sering tapi saya udah kebal kali ya dok! Saya sama Mina kan dulu lebih sering tengkarnya daripada akurnya,” jelas Yungi sambil berpikir. 


Dokter tertawa. 


“Jadi, kan pernah ya waktu saya libur kerja, tiba-tiba pagi-pagi itu dia minta dibeliin Mi Ayam, tapi gerobaknya harus warna hijau. Nah, saya kan bingung. Kan gerobak Mi Ayam warnanya biru biasanya,” ujar Yungi memulai cerita. 


“Terus?” dokter tertawa lagi. 


“Iya saya nyari,dok! Saya kelilingin kota Bandung dok! Ga ada satu pun tukang Mi Ayam yang gerobaknya warnanya hijau. Nah saya nemu di salah satu kampung, itu juga jauh banget di deket daerah Kotabaru Parahyangan, nemunya kan waktu sore dok. Saya pergi pagi pulang sore. Nah, Mina marah. Pas saya kasih Mi Ayam, Itu dilempar ke tempat sampah. Dia bilang kelamaan. Waktu itu dia udah pengen yang lain. Gitu katanya!” Yungi menatap dokter. 


“Anda harus sabar! Ini biasanya ga lama kok!” dokter memberi semangat. 


Dokter tertawa lagi. 


“Apa kabar tuh Mi ayamnya?” dokter kepo lagi.


“Oh, pas Mina ke kamar karena masih ngambek, saya ambil aja dari tempat sampah terus saya makan. Kan sayang ya dok! Saya dah kerja keras juga buat Mi ayam itu,” ujar Yungi sambil tersenyum. 


“Terus yang dia mau yang lain itu apa kalau bukan Mi ayam?” tanya dokter.


“Kerupuk yang dicocol ke selai stroberi, dok!” Yungi nyengir. 


“Oh aduh! Anak pastri kreativitasnya tinggi ya!” komentar dokternya membuat Yungi menganga. 


“Istri Anda makannya banyak?” tanya dokter lagi. 


“Bagus dok! Akhir-akhir ini, dia lagi senang makan dengan sup bening daun kelor dan jagung.  Daging-daging ga masuk, tapi ikan dia makan, padahal sebenarnya kalau lagi normal, maksudnya lagi ga hamil, dok dia ga suka ikan,” jelas Yungi. 


“Bagus kalau gitu.” Dokter mengacungkan jempol. 


“Saya tidak bisa memberi saran yang berrati kepada para suami kecuali jangan sakit, siaga, memaklumi, dan yang paling penting sabar. Mina sebenarnya termasuk yang kuat dan saya akan bilang bahwa Anda sangat beruntung,” ujar dokter.


“Oh, terima kasih, dok!” ujar Yungi.


“Sudah selesai?” Mina kembali dan mendengar Yungi mengucapkan terima kasih, jadi ia pikir sudah selesai.


“Iya, sudah!” ujar dokter. Ia berdiri dan lalu menyalami Yungi dan Mina bergantian. 


“Jaga kesehatan!” ujar dokter.


“Makasih, dok!” jawab Mina dan mereka pamit dari ruangan dokter.


Hari itu hanya mereka berdua  yang pergi ke rumah sakit karena anak-anaknya sibuk dengan kegiatan sekolah dan eskul. 


“Langsung pulang?” tanya Yungi setelah keduanya memasang sabuk pengaman.


“Ga. Aku mau pergi ke suatu tempat,” ujar Mina.


“Oh, mau ke mana?” tanya Yungi.

__ADS_1


Mina membuka Hpnya dan menunjukkan sebuah tempat.


“Oh itu kan cukup jauh dari sini. Yakin mau ke sana? Di sana dingin loh, Min!” Yungi menatap Mina. 


“Iya,” jawab Mina dengan yakin.  


“Baiklah kalau begitu,” ujar Yungi. 


Ia menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya ke arah jalan raya. 


Setelah hampir dua jam menyetir, mereka sampai di daerah Ciwalini, Ciwidey. 


“Jangan turun ya, kabutnya tebel tuh! bentar aku bawa jaket dulu!” Yungi memarkirkan mobilnya di dekat perkebunan teh. Setelah mematikan mesin, ia membuka pintu mobil tapi Mina menarik lengannya. 


“Mau ke mana?” tanya Mina.


“Ambil jaket di bagasi,” jawab Yungi.


“Ga usah,” ujar Mina sambil tersenyum. 


“Eh, dingin loh!” jawab Yungi. 


“Kamu dong yang angetin!” goda Mina. 


“Astaga, Mina! Yungi menggaruk kepalanya sambil senyum.  Yungi pikir istrinya sangat lucu ketika mengatakan hal itu. Dan sebenarnya dia agak malu saat Mina mengatakan itu. 


“Jangan keluar! Gerimis tuh!” Mina menunjuk keluar. 


“Oh, iya!” ujar Yungi. 


“Ga apa-apa lah gerimis kok! daripada kamu kedinginan,” sahut Yungi. 


“Jangan, Yun, aku ga kedinginan. Nih pegang tangan aku, rasain aja sendiri,” ujar Mina sambil memberikan tangannya. Yungi menerimanya dan itu benar. 


“Kalau aku kedinginan, nanti baru kamu ambil,” ujar Mina lagi.


“Ya deh!” sahut Yungi.


“Terus mau gimana ini? Kamu mau ngapain ke sini?” Yungi melirik ke arah Mina. 


Mina menatap Yungi dalam lalu mengembuskan napasnya. 


“Yungi, aku mau ngomong sama kamu.” Nada Mina mulai serius. Terlebih nama Yungi disebutkan secara lengkap. Biasanya Mina hanya bilang Yun atau Gi saja. 


“Harus di sini ya?” Yungi mengernyitkan alisnya.


“Cari suasana baru aja,” ujar Mina. 


“Suasana baru gimana? Ini hujannya deras,” gumam Yungi dan Mina hanya tertawa karena mungkin Yungi berpikir bahwa ia tak mendengar gumamannya. 


“Ngomong apa?” Yungi menatap Mina. 


“Soal kamu lah!” jawab Mina.


“Soal aku?” Yungi tampak bingung.


“Kenapa akhir-akhir ini kamu kayak banyak pikiran? Aku ini istri kamu. Kamu ga bisa share sama aku ya?” tanya Mina. 


Yungi memang bahagia tetapi dalam proses itu dia juga terlihat banyak pikiran. Sesekali di antara senyum manisnya itu tergurat rasa sedih dan itu menarik perhatian Mina. 


“Min, ga usah mikirin aku. Kamu berlebihan ah!” Yungi sebenarnya sangat kaget saat Mina bisa dengan jelas melihat gelagatnya. Apakah dia se-transparan itu. 


“Kamu mau bikin aku sedih ya! Aku juga ga tenang kalau kamu ga jujur sama aku. Kamu selingkuh?” Tatapan dan nada Mina penuh dengan kecurigaan. 


“Hah! Nggak! Wow itu gila! Aku dah sumpah. Sedang dan sesudah kamu ga ada yang lain. Sumpah dan aku janji! beneran! Demi Tuhan, Min!” ujar Yungi. Wajahnya benar-benar terlihat kaget.  Kalau sampai mengeluarkan kata Tuhan artinya Yungi kemungkinan besar tidak melakukannya. 


“Terus kenapa?” tanya Mina. 


Yungi diam sejenak. Tangannya mengetuk-ngetuk setir  sambil mengembuskan napas panjang. Mungkin dalam pikirannya, ia sedang menimbang-nimbang apakah ia harus bercerita atau tidak. 


“Yun, kalau kamu kayak gini sikapnya, itu artinya kamu ga nerima rasa sayang aku sama kamu. Dan kalau kayak gini lebih baik kita masing-masing aja.” Mina menatap Yungi dengan serius.


“Astagaa! Min ... jangan bilang kayak gitu aduh amit...amit ... amit... aku ga mau pisah sama kamu aku ga mau masing-masing. Aku butuh kamu,” nada Yungi memohon sekaligus kaget. Dia melotot dan bicara dengan cepat seolah dia sedang nge-rap. 


“Kalau gitu jujur sama aku. Apa pun keadaannya aku bakalan terima. Kalau kamu anggap kita one unit makan ga ada aku dan kamu cuma kita. Iya kan?” suara Mina melembut. 


Yungi menggaruk kepalanya. 


“Baiklah! Aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi dengarkan dulu ya, Jangan marah dan jika yang kuutarakan terlintas negatif di pikiranmu, tolong percaya sama aku, bukan itu maksudku dan tujuanku. Jadi, kalau kau mendengar bahwa yang kuutarakan itu negatif, konfirmasi dan tanya balik aku, oke!” Yungi menatap Mina. 


“Oke,” jawab Mina sambil tersenyum. 

__ADS_1


Bersambung 


 


__ADS_2