
"Hei, kamu bangun akhirnya!” suara lirih Yungi adalah yang pertama masuk ke telinga Mina selain kicauan burung yang bertengger di sebuah pohon di luar jendela kamar pasien itu.
“Berapa lama aku tidur?” Mina bertanya setelah cukup lama ia diam mengumpulkan kesadarannya.
“Dari kemarin setelah melahirkan,” lirih Yungi sambil tersenyum. Tatapannya sangat lembut.
“Anak-anak?” tanya Mina.
“Sebentar lagi akan dibawa ke sini. Kan mau Kangaroo mother care?” Yungi memastikan.
Mina menganggukkan kepala.
“Kakak-kakaknya bagaimana?” tanya Mina.
Yungi terhenyak. Ia harus mengakui bahwa perempuan yang tengah berbaring itu memang penuh kasih sayang. Tubuhnya yang masih lemah tak menghalangi ingatan pada orang-orang di rumah.
“Mereka ke sini kemarin dan sangat ingin melihatmu. Tapi kamu sedang istirahat. Mereka akan kembali ke sini setelah sekolah.” Yungi menjelaskan.
“Kamu nganterin mereka sekolah?” tanya Mina.
Yungi menganggukkan kepala. Mina tersenyum.
“Kamu dah sarapan?” tanya Mina.
“Jangan pikirin aku. Aku pasti jaga diri aku.” Yungi membelai rambut Mina dengan lembut.
“Ditanya apa jawabnya apa,” gumam Mina sambil mengerling kesal. Yungi tersenyum.
“Udah makan pagi karena ga mau kamu khawatir,” jawab Yungi sambil senyum.
“Min,” lirih Yungi.
Mina mengangkat kedua alisnya.
“Makasih ya,” jawabnya pelan.
“Apa?” tanya Mina terlihat bingung.
“Karena melahirkan anak-anakku dan menjadi istri aku,” ujar Yungi. Ucapannya terdengar tulus dan matanya berkaca-kaca.
“Mereka anak aku juga, Yun,” lirih Mina.
"Kan bikinnya ga sendirian," sambung Mina.
Yungi mesem.
“Apa pun, pokoknya makasih. Aku cinta kamu, Min,” lirih Yungi. Ia mendekatkan tangan Mina ke bibirnya dan menciumnya. Mina hanya tersenyum.
“Selamat pagi,” ucap seorang Suster yang muncul dari balik pintu.
“Selamat pagi, Sus,” jawab Yungi dan Mina.
“Siap menyusui, ya?” tanya suster.
“Iya, Sus,” jawab Mina.
“Kalau begitu kita posisikan dulu, ya! Suster lain yang nanti bawa bayinya ke sini. Saya akan merawat Mamanya. Ibu mau ke kamar kecil dulu? Sesudah itu, Ibu sarapan baru menyusui ya. Tapi bayinya sedang dalam perjalanan ke sini. Mereka sudah selesai dimandikan.” Jelas Suster.
“Iya, terima kasih, Sus,” jawab Mina. Mina bangun perlahan dibantu Yungi dan Suster. Setelah itu, ia berjalan ke kamar mandi juga dengan bantuan keduanya. Tak lama kemudian, ia kembali dan sudah duduk di atas ranjang pasien.
“Pak, bisa bantu ikat rambut istrinya?” ujarsuster tadi. Ia sedang membawa sarapan dari meja tak jauh darinya. Kamar mereka VVIP. Tidak ada orang lain di sana kecuali mereka.
“Iya, tentu saja.” Yungi menjawab sambil menganggukkan kepala. Ia mengikat rambut Mina pelan. Ia menatap pada tahi lalat yang ada di leher belakang Mina sambil tersenyum. Itu salah satu bagian dari Mina yang selalu membangkitkan bukan hanya gairah kelelakiannya melainkan juga kenangan pada salah satu episode di sekolah dulu, tepatnya sewaktu di SMA.
***
Yungi berdiri di salah satu lorong perpustakaan. Matanya berfokus pada jejeran buku tepat di depannya. Ia membaca satu demi satu judulnya dan mengambil buku yang paling tebal tepat di bagian tengah menyisakan bolong pada bagian yang ia ambil itu. Ia melotot karena pemandangan di depannya. Sebuah bulatan hitam kecil tepat di belakang leher seseorang yang mulus dan jenjang.
“Wow!” lirih Yungi. Ia kaget. Awalnya ia pikir itu kotoran, mungkin dari jejak bolpoin atau tinta pada leher seseorang. Jadi, secara refleks, tangannya menjulur melalui bagian buku kosong itu dan berinisiatif hendak menyingkirkan kotoran itu dari leher tadi dengan cara mengusapnya.
Ia mengusap leher yang jelas punya seorang perempuan dan membuat perempuan itu kaget dan berbalik. Si perempuan agak memiringkan kepalanya melihat sumber tangan melalui lubang yang sama dan mata mereka bertatapan. Yang satu kesal dan yang lainnya ketakutan.
“Mina!!!” bisik Yungi. Ia kaget ternyata sang pemilik tahi lalat itu temannya sendiri.
“Maneh (Kamu) Pikasebeleun!( Menyebalkan)!” Mina mendelik dan berbicara dengan suara yang pelan pula. Mereka ingat bahwa itu di perpustakaan.
“Keluar!” bisik Mina dengan wajah kesal dan matanya mengarah keluar perpustakaan.
“Ah oke!oke!” jawab Yungi masih dengan suara yang pelan juga. Wajahnya meringis.
“Apa-apaan kamu?” Mina menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Duh maaf Min, aku pikir ada kotoran itu di leher kamu. Terus beneran tangan aku refleks aja gitu mau ngebersihin gitu!” jawab Yungi. Sungguh ia tak sadar melakukannya. Pikirannya otomatis melakukannya.
“Beneran, Min sumpah!” jawab Yungi meyakinkan setelah melihat mata Mina yang memicing dan ekspresi di wajahnya yang masih kesal.
“Bener, Min. Sumpah Min!” Yungi terus meyakinkan.
“Itu bukan kotoran. Itu tahi lalat!” jawab Mina setelah beberapa kali Yungi meminta maaf dan wajahnya terlihat tulus, Mina luluh juga.
“Lagian kamu ga bisa kayak gitu, Yun! Mending leher aku! Kita kan kenal, kalau cewek lain atau cowok apalagi, berabe tuh urusannya!” Mina mmberitahu.
“Ya, Min. Itu refleks, sumpah! Tapi gegara ini aku kayaknya bakalan jadi ‘ngeh’. Ga akan tiba-tiba nyelonong tanpa permisi nih tangan,” ujar Yungi. Nadanya cukup meyakinkan bahwa ia memang menyesal.Terlebih ia memukul tangannya sendiri.
“Syukur deh!” jawab Mina dengan santainya melepaskan hal yang terjadi barusan.
“Kamu ngapain di perpus?” tanya Yungi. Dia jadi penasaran.
“Kepo, ih! Harusnya aku yang nanya ngapain kamu di perpustakaan? Nargetin siapa kamu sekarang? Si Clara ya? atau Miranda?” Mina tersenyum. Cara dia bicara mengejek Yungi.
“Hah? Ga kok! Aku lagi nyari buku tentang basket,” ujar Yungi. Dan dia jawab yang sebenarnya.
“Hmmmm, ya ya ya!” Mina tersenyum.
“Sumpah, Min! Aku sama si Clara udah end. Miranda bukan tipe aku,” jawab Yungi santai.
“Serah deh!” jawab Mina dan ia hampir melengos pergi jika saja Yungi tidak menarik lengannya.
“Mau ke mana?” tanya Yungi.
“Balik perpus lah! Aku ada tugas,” jawab Mina.
Mereka satu sekolah tapi tidak satu kelas.
__ADS_1
“Oh!” jawab Yungi.
“Oooh!” Mina ikut bicara dengan cara mengejeknya.
“Lepasin tangan aku, Yungi!” Mina menggoyangkan tangannya.
“Eh iya, aku lupa!” jawab Yungi.
“Abis ngerjain tugas, mau ke mana?” tanya Yungi lagi.
“Pulang lah! Emangnya kamu yang keluyuran dulu!” jawab Mina sambil berjalan menjauhi Yungi.
“Gitu! Ya udah deh! Aku tungguin kamu. Aku bisa baca dulu buku. Senengnya ada temen,” ujarnya.
Mina hanya menggelengkan kepala. Dia tahu Yungi tidak pernah suka sendirian.
Mereka duduk berhadapan dan sama-sama berfokus pada kegiatannya. Setelah hampir dua jam mereka di perpustakaan, akhirnya mereka selesai juga.
“Min, pulang bareng sama aku. Aku bawa motor kok!” bisik Yungi saat mereka merapikan buku dan meja mereka.
“Iya, makasih,” jawab Mina.
“Tunggu bentar, aku balikin dulu buku ke rak,” ujar Mina. Yungi mengangguk. Dia sudah melakukan itu mungkin setengah jam sebelumnya. Sisanya ia hanya bermalas-malasan sambil main game di Hpnya sambil menunggu Mina.
“Yah hujan!” keduanya mengeluh saat mereka sampai di depan pintu keluar.
“Kok bisa ga kedengeran ke dalem sih, padahal deras kayak gini!” keluh Yungi.
“Iya, ya!” Mina setuju.
“Apa karena kita tadi di ruang kedap suara, ya?” tanya Yungi sambil berpikir.
“Ga tahu perasaan ga ah!” jawab Mina.
Mereka menatap hujan.
“Alamat lama nih!” sahut Yungi.
“Uhmm,” jawab Mina.
“Laper lagi,” ujar Mina.
“Kan ada kantin Min. Masih buka kok jam segini!” Ujar Yungi sambil melihat jam tangannya.
“Kantinnya jauh kan, Yun! Ga bawa payung aku. Masa iya mau nerobos hujan,” jawab Mina.
“Oh, gampang!” jawab Yungi. Ia melepas jaket basket parasitnya yang lumayan besar.
“Mau apa?” Mina mengeryitkan alisnya.
“Kita mau ke kantin kan? Lari aja. Pake jaket ini, ya! Ke lab dulu, terus ke ruang musik dan ke kantin. Gimana?” tanya Yungi.
“Oke deh!” Mina tidak menolak sebab dia memang sangat lapar.
“Siniin tas kamu! Aku yang bawa,” ujar Yungi.
“Ga ah! Itu kamu juga bawa tas, masa punya aku juga,” ujar Mina.
“Iya deh!” Mina menyerah.
Mereka berlari di bawah aba-aba Yungi menuju gedung-gedung yang ditunjuk Yungi di bawah jaket parasit yang menjadi penutup kepala mereka dan akhirnya mereka sampai di depan kantin.
“Waduh! Badan kamu kok bisa basah gitu Yun!” Mina kaget melihat punggung dan sebagian dari tubuh Yunggi yang basah kuyup. Hanya bagian tubuh yang dekat dengan Mina yang tidak basah karena jelas terlindungi.
“Ga apa-apa gampang,” ujar Yungi.
“Kamu basah ga?” tanya Yungi sambil mengamati Mina dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Oh kaos kaki kamu ya!” ujar Yungi.
Mina melihat ke bawah. Dia akui memang dia tak nyaman dengan kaos kakinya yang basah walaupun hanya bagian atasnya karena bagian yang terlindungi sepatu tidak kena air. Sepatunya waterproof.
“Buka aja kaos kakinya Min. Kamu pake kaos kaki aku deh!” ujar Yungi sambil merogoh sesuatu ke dalam tasnya.
“Hah? Kantong kamu saku doraemon ya, segala ada,” ujar Mina melongo.
Yungi tertawa.
“Ya elah! Atlet mah harus bawa serep, Min.” ujar Yungi dan ia memberikan kaos kakinya dan jelas itu baru karena masih dibungkus rapi.
“Duh baru lagi! Ga enak nih pakenya!” Tapi Mina menerimanya.
Yungi hanya tersenyum.
“Duduk di sana,” sahut Yungi menunjuk bangku kantin. Tidak ada seorang pun di sana kecuali petugas kantin.
“Mbak mau pesan dong!” ujar Mina sambil melambaikan tangannya ke petugas kantin. Denagn sigap petugas kantin itu menganggukkan kepala seraya membawa menu dan berjalan dengan cepat ke arah mereka.
Mina kaget saat Yungi tetiba berjongkok dan membuka sepatunya.
“Aduuh, apa-apaan sih Yun?” Mina menatap Yungi yang dengan cepat mengambil menarik kedua sepatu Mina bersamaan beserta kaos kakinya.
“Ganti kaos kaki lah! Ntar kamu masuk angin loh!” ujar Yungi.
“Kamu tuh urus diri kamu sendiri. Badan kamu basah kuyup kayak gitu,” ujar Mina.
“Aku gampang Min,” jawab Yungi sambil masih menunduk berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Mina langsung memesan karena si petugas sudah berdiri di sana.
“Kamu mau pesen apa, Yun?” tanya Mina.
“Samain aja lah!” jawab Yungi yang sekarang sedang mengikat tali sepatu Mina.
“Makasih, Yun!” Mina senyum.
“Sip!” Yungi dengan santai menjawab. Mereka duduk berhadapan. Itu episode mereka lagi akur. Yang hanya 2 % dari 100 %.
Tak lama pesanan nasi goreng dan teh jahe sudah datang. Mina langsung mengambil beberapa sayuran dari piring Yungi. Yungi membiarkannya. Itu kebiasaan makan mereka. Dan Mina tidak hanya melakukan itu kepada dia saja, tetapi juga kepada anggota gang lainnya. Dia akan menukar makanan yang mereka tidak suka dengan makanan yang mereka suka. Yungi tidak terlalu suka sayuran dan acar, jadi dia mengambilnya dan menukarnya dengan irisan udang dan daging ayam.
“Teh jahe ya?” Yungi agak kaget saat ia akan meminumnya bau jahe langsung menyerang hidungnya.
“Iya, aku tahu kamu ga suka, tapi badan kamu perlu itu,” ucap Mina.
__ADS_1
“Minum!” nada Mina memerintah.
“Ga mau ah!” ucap Yungi.
“Badan kamu bukan punya kamu aja, Yun! Kasihan dong sama yang berharap sama kamu,” ucap Mina.
Yungi meringis. Ia membayangkan bahwa dia sedang hamil saat Mina bilang bahwa badannya bukan hanya punyanya.
“Pikiranmu tuh!” ujar Mina seolah dengan mudah membaca apa yang sekarang Yungi tengah lamunkan.
“Maksud aku, kamu shooting guardnya tim basket sekolah loh! Artinya badan kamu juga dituntut harus fit sama tim basket sekolah gitu. Gimana sih!” gerutu Mina.
“Ooooh! hahahhaah!” Yungi langsung tertawa.
“Minum!” Mina menatap Yungi dengan nada memerintah.
“Iya deh!” jawab Yungi sambil memegang hidungnya agar tak mencium bau jahenya.
Sejenak mereka berfokus pada makanan mereka masing-masing dan tetiba Hp keduanya berbunyi tanda WA masuk. Mereka masing-masing mengecek Hpnya.
Mina, kamu di mana?
Itu pesan dari Vee di grup Chat.
Kantin sekolah, makan, kehujanan.
Jawab Mina.
Sendirian?
Tanya Vee lagi.
Bareng si playboy.
Jawab Mina santai lalu mengambil foto Yungi yang tengah sibuk main game di Hpnya.
Njir!!! Kalian ga ngedate di belakang kita, kan?
Justin nimbrung.
Amit-amit!
Yungi yang jawab.
Najis!
Mina yang jawab.
Woi! Mau pada ke base camp ga! Aing (aku: kasar) kejebak di Base camp nih olangan (sendirian)!
Jini nimbrung tapi bawa topik baru.
Aku jemput mau ga?
Jun jawab.
Ga sendirian, dia sama aku. Aku baru sampe di depan base camp. Kehujanan juga!
Jay jawab.
Aku meluncur ke base camp.
Jun jawab.
Geus teu nyambung. Enggeusan aing (Udah ga nyambung arah pembicaraan. Aku udahan!)
Yungi komentar.
Woi, Minaaaaaa! Minggu depan kelas aku sama kelas kamu gabung di matpel pendidikan ekonomi.
Vee buka obrolan baru.
Terus masalah?
Mina jawab.
Lain kitu Sis! kelompok katanya bikin kue, terus kudu dagang siah! Aing teu bisa. Maneh jeung urang nya! (Bukan gitu! Katanya dikelompokkin untuk membuat kue, terus harus dagang kuenya katanya! Aku ga bisa bikin kue. Kamu sekelompok sama aku ya!)
Vee jawab.
Kumaha engke weh! (Gimana nanti aja!)
Mina jawab.
Please atuh Min!
Vee kirim emotikon please
Sip!
Mina juga kirim emotikon sip.
Nuhuuuuun Sis! ( Makasih Sis)
Vee kirim lagi emotikon love love
Mina balas dengan emotikon yang sama.
Gandeng trang tring wae, mute geura ku aing! (Berisik trang tring terus, mute aja lah sama aku!)
Justin nimbrung.
Justin, maneh pikaseubeleun! (Justin kamu menyebalkan)
Vee jawab.
Enggeusan ah! Aing lieur macana! Maneh japri atuh Vee! (Udahan aku pusing bacanya! Kamu PC Mina dong Vee)
Yungi jawab. Justin kirim emotikon sip begitu juga yang lain.
Vee kirim emotikon marah tapi sesudah itu memang ia PC Mina.
Bersambung
__ADS_1