Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 57 Kembali seperti dulu


__ADS_3

"Ibu sangat bahagia. Kalian benar-benar punya hati yang baik. Semoga kalian slelau bahagia.” Mina menatap ketiga anaknya satu demi satu. 


“Terima kasih, Bu. Itu juga karena Ibu dan papah yang mengajari kami.” Zen berkata. 


Mina tersenyum. 


“Ibu mau menjelaskan kesalahan yang kedua,” ujar Mina setelah beberapa saat mereka berpelukan dalam keheningan. 


“Iya, tentu saja. Kami siap untuk mendengarkan,” ujar Juna. Zen dan Yuna menganggukkan kepala. 


“Tunggu sebentar!” ujar Mina. Dia beranjak dari duduknya mengambil beberapa amplop cokelat berukuran A4 lalu kembali duduk di posisinya yang semula. 


“Kalian bukalah!” ujar Mina dan menyimpan amplop itu di depannya. 


Mereka mengambil amplop-amplop itu lalu membukanya dan ekspresi di wajah mereka adalah kekagetan yang disusul kekhawatiran.


“Ibu, ini?” Juna menganga.


Di dalam foto-foto itu terdapat gambar Mina dan Jay yang sedang minum, gambar Jay yang sedang membopong Mina memasuki sebuah hotel, dan gambar mereka keluar dari lift keesokan harinya. Siapa pun yang melihat foto-foto itu,  mereka akan berasumsi bahwa Mina dan Jay telah melakukannya di hotel itu. 


“Apa Ibu dan Om Jay...? Yuna tak berani melanjutkan. Wajahnya sangat kaget. Plus ibunya bilang ia melakukan dua kesalahan. Kesalahan pertama adalah perasaan bersalah karena tidak mengakui bahwa sebenarnya ia-lah yang membunuhnya dan sekarang ia begitu khawatir bahwa ibunya mengakui bahwa ia tidur dengan Om Jay. Ini akan fatal akibatnya. Ibu dan papah pasti berpisah. Yuna yakin bahwa papahnya tidak akan memaafkan jika ibunya berselingkuh atau hanya one night stand khususnya dengan temannya sendiri. 


“Tidak, Ibu dan Om Jay tidak melakukannya. Kami hampir melakukannya, tapi Jay berhenti saat Ibu menangis dan tidak berhenti menyebut nama papahmu. Dia berpikir bahwa Ibu kesepian dan merindukan papah. Dan dia berhenti di sana,” jelas Mina. 


“Kami percaya itu! Yang lebih penting sekarang adalah untuk mengetahui siapa pelaku pengiriman foto ini?” Zen menunjuk pada foto-foto itu. 


“Om Jay dan Ibu berpikir pelakunya adalah fansnya Leo. Ada banyak bukti yang mengacu ke sana dan sekarang sebenarnya ibu sangat khawatir kalau papa juga menerima dokumen ini,” ucap Mina dengan wajah yang khawatir. 


“Ibu benar. Aku tak bisa membayangkan kalau papah menerima ini. Dia pasti tidak akan percaya kalau ibu dan Om Jay tidak bersama,” ujar Juna. 


“Aku justru mikirnya lain. Aku pikir sih kalau papah ga akan semudah itu percaya sama orang lain. Kayaknya papah juga mau mendengarkan dari veri Ibu juga,” kata Zen. 


“Kalau begitu, sebaiknya ibu berterus terang saja sama Papah sebelum papah menerima fotonya.” Yuna mengusulkan.


“Tidak perlu. Jangan dulu! janga tambahin pikiran papah di sana. Sekarang pastikan saja dulu apa foto-foto ini diterima papah atau tidak. Kalau tidak diterima sebaiknya ibu tidak perlu menjelaskan apa-apa, anggap saja masalah ini tidak ada,” jelas Juna.


“Kalau begitu, kamu ingin ibu nutupin lagi kesalahannya. Justru sebaiknya ibu berterus terang dan meminta maaf saja. Apa pun risikonya, nanti kita akan diskusikan lagi. Yang paling penting, kalau menurut aku sih, Papa mendengar sendiri dari mulut Ibu,” ujar Zen.


“Yuna lebih setuju dengan Kak Zen,” ujar Yuna.


“Kalau papa menceraikan Ibu gimana?” Juna bertanya dengan wajah khawatir. 


“Sebenarnya, aku juga sangat setuju dengan ide Zen, tapi kalau papah marah besar dan ambil tindakan sendiri dengan menceraikan Ibu gimana? Kita pasti pisah. Papa pasti bawa Juna dan Yuna. terus kita ga bisa bersama,” nada Juna sedih. 


Pikiran Juna selalu lebih dramatis daripada yang lainnya. Itu karena ia terlalu sering melihat papa dan mamanya, Erika bertengkar hebat dan gambaran itu tertambat kuat di dalam hatinya sehingga ia selalu dengan cepat mempunyai rasa khawatir dan lebih sensitif jika dibandingkan dengan Yuna atau pun Zen. 


“Akan ada solusinya lagi untuk itu. Tapi, untuk saat ini Jun, yang dikatakan Zen memang benar adanya. Sebaiknya ibu berterus terang kepada papa. Itu jauh lebih baik,” ujar Mina.


Juna diam. Matanya berkaca-kaca. 


“Aku ga mau pisah sama Ibu,” ujar Juna pelan.


“Tidak akan. Walaupun kalian tinggal jauh, Ibu tidak akan pernah meninggalkan kalian. Kalian sellau bersama Ibu di sini,” ujar Mina sambil menunjuk ke hatinya. 

__ADS_1


“Bu!” Juna langsung memeluk Mina. 


Mereka sudah memutuskan. Namun, apa daya, sebelum Mina berhasil menjelaskan permasalahan yang kedua, Mina mendapat kabar dari sipir penjara bahwa Yungi masuk rumah sakit. Kondisinya sangat parah. Ia kehilangan banyak darah karena ditusuk oleh teman sel lainnya. Mereka terlibat pertengkaran. Yungi tersinggung karena teman selnya bercanda soal “menaiki” Mina sebagai tanda brotherhood. Dan begitulah Yungi yang kalah jumlah akhirnya kalah dalam perkelahian. Seseorang menusuknya saat ia sudah tak berdaya dan ia sekarang dalam keadaan koma. 


Begitu banyak masalah yang dihadapi Mina. Meskipun pikirannya kalut, Mina tidak putus asa. Yungi dibawa ke rumah sakit sipil dan dikawal oleh beberapa orang di sana. Mina setiap hari melihatnya. Meskipun waktunya hanya sebentar, ia pasti akan berada di sana, melihat perkembangan Yungi. 


“Apakah tidak ada cara lain agar ia cepat keluar dari sana, Jay! Aku mohon! Aku tak sanggup lagi melihatnya seperti itu,” ucap Mina dengan suara yang hampir habis. Ia terlalu sering menangis. 


Mereka berada di luar kamar Yungi di rumah sakit. Sudah hampir tiga bulan, Yungi terbaring di sana dengan pengawalan polisi. 


“Min!” Jay menatap Mina dengan wajah yang sedih. Tentu saja ia merasakan yang Mina rasakan. Ia melihat bagaimana kurusnya Mina dan terlihat sangat lelah. 


“Aku akan mengusahakan yang terbaik.” Jay akhirnya hanya bisa mengatakan itu kepada Mina. 


“Terima kasih, Jay.” ucap Mina. 


Tentu saja tidak mungkin melakukan dengan cara yang legal. Putusan sudah diambil. Lagipula, Yungi hanya tinggal menjalani enam bulan sisa masa hukuman. Namun, koneksi  Jay yang banyak dan berpengaruh serta dengan memberikan pelicin yang tebal akhirnya bisa menghasilkan suatu keputusan yang memuaskan. Yungi bisa keluar dari penjara setelah ia siuman. 


Jay sama sekali tidak membenarkan tindakannya. Ia sadar benar bahwa yang dilakukannya menyalahi hukum dan sebagai bagian dari penegak hukum, seharusnya ia tidak melakukan itu. Namun, cintanya kepada Mina telah membutakannya. Ia tak peduli asalkan Mina bahagia, meskipun tidak bersamanya. 


***


Yungi sudah kembali ke rumah. Mereka menyambutnya dengan bahagia. Makan malam bersama adalah hal pertama yang mereka lakukan setelah sekian lama mereka tidak bersama dalam satu meja yang sama. Mina menatap semuanya. Ia tersenyum karena akhirnya sinar bahagia itu kembali lagi menerangi rumahnya. 


Meskipun begitu, jauh di dalam hatinya, ia masih menyimpan sebuah beban karena ia masih berutang tentang penjelasan itu. Bagaimana ia akan memulai ketika semuanya terlihat sumringah seperti itu? Mungkin ia harus menunggu beberapa waktu tapi sampai kapan? Mina menghela napas panjang. 


“Ibu, Juna tahu yang ibu pikirkan. Tahan dulu! Jangan bilang apa-apa!” bisik Juna sambil membantu ibunya mencuci piring di dapur. 


“Kenapa bisik-bisik?” Yungi di belakang mereka bertanya dan mengejutkan keduanya. Keduanya saling menatap dan menelan ludah lalu menoleh ke arah Yungi.


“Kami ingin memberi ayah kejutan,” ujar Juna. Nadanya gugup karena berbohong.


“Kejutan?” Yungi tersenyum.


“Baiklah! Yungi memicingkan matanya dan beralih menatap Mina. 


“Anak-anak ingin membuat kue kesukaanmu, tapi, sepertinya tidak bisa karena kamu udah tahu,” sahut Mina lagi sambi tersenyum. 


“Kalau gitu kita buat sama-sama aja besok, ya!” ujar Yungi.


“Ya, itu lebih baik,” ucap Juna sambil mengacungkan jempol. 


“Oke deh Pah, aku ke kamar ya! Kasih tau yang lain,” ucap Juna sambil dengan cepat melarikan diri agar tidak lagi membuat kebohongan lainnya.


“Sip,” jawab Yungi. Kini yang tersisa hanya mereka berdua. 


Mereka saling menatap dan menyunggingkan senyuman. Tak perlu ahli untuk mendeskripsikan tatapan dan senyuman itu sebab keduanya mendefinisikan kerinduan yang amat dalam. 


“Mandi sana,” lirih Mina. 


Mereka berhadapan, sangat dekat dan Yungi memeluk pinggang Mina yang bisa Yungi rasakah lebih kurus daripada sebelumnya.  Mina masih memakai celemek dan tangannya masih bersembunyi di balik sarung tangan. Dia sedang mencuci piring. 


“I miss you,” bisik Yungi.

__ADS_1


“Yes. I miss you too. A lot!” jawab Mina juga dengan cara berbisik. 


Yungi tersenyum.


“Kalau gitu tunggu apa lagi?” lirih Yungi.


“Tunggu aku selesai cuci piring dan kita mandi bersama, uhm,” ucap Mina sambil memainkan alisnya. 


Yungi tersenyum lebar. Jelas ia sangat menginginkan itu. 


“Aku bantu cuci piring kalau gitu, biar cepet,” ujar Yungi.


“Oke, makasih,” jawab Mina.


Mereka berdiri bersebelahan. 


“Kalau aku bantu kamu hari ini, boleh aku minta bonus tambahan ronde,” bisik Yungi sambil tersenyum genit.


“Tidak membantu pun, kamu boleh melakukan sepuasnya,” ucap Mina sambil menoleh ke arah Yungi dan mengedipkan satu matanya. Lalu, ia menyunggingkan senyumnya. 


Mina menatap Yungi yang dengan semangatnya membantunya cuci piring. Ia terenyuh. Mina tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya bermaksud mencium pipi Yungi. Namun, Yungi yang menyadari langsung menoleh. Bibir Mina bertemu dengan bibir Yungi. Mereka berciuman lama. Kedua mata memejam. 


“Kenapa?” Jun menatap Jay yang masuk kembali ke kamar dalam waktu yang cepat.


“Mau ambil minum, tapi Ibu sama papah lagi ciuman. Ga enak ah ganggu!” jawab Jay.


“Woah! Serius? Mau lihat ah!” Justin langsung berhenti main game di Hpnya dan berjalan mendekati pintu. Ia membuka sedikit pintu kamar dan ketiga kepala nemplok di sana menyaksikan ibu dan papahnya yang sedang meluapkan kerinduan mereka melalui gamitan bibirnya. 


“Si Papah agresif ya!” bisik Jun.


“Iya, kasian Ibu,” jawab Justin sambil masih menatap pemandangan itu. 


“Ehem!” tetiba suara seseorang mengagetkan mereka seiring dengan penampakan tubuh berbalut piyama biru berdiri di depan mereka.


“Kak Zen!” ujar Jay sambil nyengir.


“Ngapain kalian?” tanya Zen sambil melipat kedua tangannya di dada mereka.


“Ngintipin Papah sama Ibu,” bisik Justin.


“Masuk!” ujar Zen lagi.


“Yaaah!” Semuanya terlihat kecewa tapi mengikuti yang dikatakan oleh Zen.


Zen menutup pintu. Ia bersandar pada tembok sambil tersenyum melihat ke arah dapur. Juna dan Yuna mendekatinya dan tersenyum melihat pemandangan orang tuanya. 


“Besok, kita siapin sarapan deh! Ibu kayaknya ga akan sanggup bangun tuh! Papah nahannya dah lama kan?” Zen menjelaskan.


“Iya, lebih dari dua tahun hahahahah!” Juna nimbrung.


“Rese kalian!” Yuna wajahnya memerah dan dengan cepat masuk ke dalam kamar meninggalkan mereka.


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2