Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 33 Giliran Dua Jagoan


__ADS_3

"Kita ngomong bentar abis ngomong sama Juna dan Zen ya!” sahut Yungi sambil merangkul bahu Mina. 


“Ada masalah?” Mina melirik ke arah Yungi dan menghentikan langkahnya. 


“Tidak besar. Hanya mau bilang sesuatu aja!” ujar Yungi yang juga ikut menghentikan langkahnya.


“Oh, gitu! Oke,” sahut Mina dan ia melanjutkan berjalannya disusul Yungi yag berada di sebelahnya. 


Mereka berdiri di depan pintu kamar kedua anaknya. Yungi hampir akan menekan gagang pintu jika Mina tidak mencegahnya.


“Ketuk dong, Yun!” jawab Mina sambil menatap Yungi.


“Oh!” Yungi agak terkejut.  


Dulu  ketika dia seusia Juna dan Zen, Ibunya tidak begitu. Mereka bisa kapan saja memasuki kamar Yungi karena dia ingat mereka pernah bilang bahwa semua properti di rumah itu milik mereka dan Yungi juga milik mereka. 


“Juna, Zen, Ibu sama Papah boleh masuk?” tanya Mina sambil mengetuk pintu dengan lembut.


“Iya,” jawab kedua anak kompak. 


Mereka masuk dan menutup pintu kamar. Keduanya berjalan menuju kedua anak yang sudah berkumpul di ranjang Zen. 


“Sudah siapkan untuk sekolah besok?” tanya Mina setelah mereka duduk berhadapan.


“Iya, Bu.” jawab Juna dan disusul Zen yang langsung turun dari ranjang membawa tas mereka ke hadapan Ibunya. Mina memeriksanya satu demi satu. Sistemnya sangat berbeda dengan Yuna dan itu Mina terapkan seiring usia mereka. Juna dan Zen lebih tua dan diharapkan bisa lebih mandiri. Mereka tidak keberatan, tentu saja dan mereka sepertinya juga sudah mempunyai kebiasaan itu, sehingga rutin itu tidak sulit untuk ditanamkan. 


Pemandangan ini Yungi saksikan dan ia harus merasa bersyukur mendapatkan Mina sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anaknya. Dulu ibunya tidak seperti itu. Tidak pernah ada cek ricek atau ucapan selamat malam sebelum tidur. Tidak pernah ada juga perbincangan sebelum tidu. Jika ada masalah yang terjadi, semuanya akan cepat diselesaikan tanpa sepengetahuan Yungi dan jika serius Yungi hanya mendapatkan omelan kecil tanpa hukuman. 


Mungkin itu juga yang membuat dirinya merasa kesepian. Sejak ia kecil tak ada satu pun yang berusahan mengingatkan ketika ia melakukan kesalahan, tak ada yang berusaha mencegahnya jika ia menginginkan sesuatu yang dianggap sebenarnya kurang pantas dan tak ada yang menghiburnya kala dia sedih atau benar-benar down dalam kehidupannya. Itu semua waktu ia kecil toh ketika beranjak remaja dan dewasa, ia sangat bergantung kepada teman-temannya yang selalu ia bisa andalkan, khususnya Mina, ketika ia membutuhkan. Ia beruntung punya teman-teman Circle 7 dan ia sangat bersyukur untuk itu. 


“Ibu,” ujar Juna setelah Mina selesai memeriksa tas mereka. 


“Iya,” ujar Mina sambil menatap Juna hangat. 


“Uhm, Juna tahu yang mau Ibu dan Papah bicarakan,” ujarnya. Di wajahnya tergurat rasa menyesal. 


Mina tersenyum. 


“Kalau begitu, Ibu tak perlu tunggu lama untuk mengetahui semuanya. Kalian mulai bicara saja,” sahut Mina dan menatap Juna dan Zen bergantian. Tidak ada nada marah di sana. 


Juna dan Zen saling menatap seolah memberikan kode siapa yang akan memulai pembicaraan. Lalu Zen menggerakan dagunya ke depan mempersilakan Juna memulai pembicaraan. 


“Yang aku lakukan ke Bridget salah dan besok aku akan minta maaf sama dia,” ujar Juna sambil menunduk. 


“Uhm, iya, begitu. Bagus. Itu baik,” sahut Mina sambil senyum dan mengelus kepalanya pelan. 


“Maafin Juna Bu,” ujar Juna suaranya agak tercekat seperti akan menangis. Dia langsung memeluk ibunya.


“Kok nangis, Nak?” Mina memeluk Juna dan mengusap punggungnya lembut.


“Karena Juna udah kecewain Ibu dan Juna tahu Juna salah Harusnya Juna ga bersikap kayak gitu,” ujar Juna di sela-sela tangisnya. 

__ADS_1


“Gitu! Syukurlah! Kalau Juna sudah sadar akan kesalahan Juna dan akan meminta maaf. Ibu ga kecewa lagi dan ga marah lagi.” Mina tersenyum. Ia masih mengelus punggung Juna yang juga masih menangis sesenggukan. 


Yungi terhenyak saat Zen tetiba melingkarkan tangan mungilnya di pinggang Yungi dan ikut menangis. Ia lalu mengelus punggung Zen berusaha menenangkannya.


“Baiklah. Sekarang lebih baik?” Mina mengusap sisa air mata di pipi Juna. Tatapannya hangat membuat ekspresi di wajah Juna terlihat lebih tenang. Juna menganggukkan kepala. 


“Ibu, maafkan aku, udah ngecewain Ibu. Dan karena aku berbuat salah, Apakah Ibu masih sayang Juna seperti dulu?” Juna menatap Mina dengan wajah sedih.


“Maksudnya gimana Nak?” Mina terlihat bingung.


“Aku udah bikin salah dan Ibu kecewa, jadi mungkin sayangnya Ibu sama aku ga sama kayak dulu sebelum aku bikin salah,” jelas Juna dengan wajah menunduk.


“Ah, begitu! Tidak berkurang, tentu saja. Sayang Ibu sebaliknya, ... bertambah karena Juna menjadi lebih baik. Menjadi orang yang lebih bertanggung jawab. Itu sangat bagus. Juna harus ingat, membuat kesalahan tidak bagus tapi kesalahn juga mengajarkan kita banyak hal. Jadi, jangan takut. Ibu, sebesar apa pun kesalahan Juna akan tetap membantu Juna dan sayang Juna,” sahut Mina sambil menangkup wajah tampan tetapi mungil itu. 


“Ibu cinta Juna. Cinta Zen juga!” ujar Mina sambil membuka satu tangan lainnya menyambut Zen ke dalam pelukannya. 


“Aku bagaimana?” Yungi tersenyum dan bicara dengan nada bercanda. 


“Ya, tentu saja sayang Papah Yungi juga,” ujar Mina sambil tersenyum manis dan itu membuat wajah Yungi sumringah. 


“Nah, sekarang, Ibu punya pertanyaan lain. Masalah dengan Bridget sudah selesai, tapi masalah dengan Minami dan Mimi belum selesai,” sahut Mina sambil memainkan kedua alisnya.


 “O ow!” kedua anak lelaki itu saling menatap dengan wajah meringis. 


“Kalian tidak perlu merasa takut. Kami hanya ingin tahu detail yang terjadi. Gimana kok bisa Zen sama Minami dan Juna sama Mimi. Kami penasaran,” nada Yungi tenang dan itu membuat kedua jagoan kecil itu menjadi lebih percaya diri untuk bercerita. 


“Aku saja yang bercerita,” sahut Juna. 


Mina menatap keduanya bergantian. Dia tertawa kecil. Mereka masih kecil tetapi mencoba bertingkah seperti orang dewasa. 


“Waktu Papah dan Ibu pergi bersama dengan om Jun, Tante Jini, Tante V,dan Om Justin, waktu di Jepang, kan kami semua ada di rumah Tante Jini dan Om Jun. Jadi, waktu itu, kami semua juga saling mengobrol.” Juna memulai penjelasan. 


Mina dan Yungi menganggukkan kepala.


“Nah, terus Mimi, anaknya Tante Jini bilang kalau dia suka sama aku. Awalnya, Juna bingung. Terus dia bilang, katanya Juna dan Mimi ga usah kayak Ibu dan Papah, lama temenan lebih dari 20 tahun terus nikah sama orang lain dulu terus akhirnya nikah juga. Itu lama. Kalau suka lebih baik bilang aja sekarang terus pacaran,” ujar Juna dengan wajah polosnya menjelaskan dengan lancar.


Mina menganga sementara Yungi tertawa. 


“Tapi kalau Papah sama Ibu langsung nikah dulu, Juna dan Yuna ga bakalan ada. Zen juga,” sahut Yungi di sela tertawanya. 


Zen dan Juna agak kaget. Mereka paham yang dikatakan oleh ayah mereka. 


“Terus itu pacaran kegiatannya apa saja?” Mina penasaran. 


“Cuma video call sama chattan aja kok Bu. Kan LDR,” ujar Juna. 


Mina melotot. Bagaimana anak sekecil itu tahu istilah itu. Wah! ini terlalu besar dan juga membuatnya kaget. 


“Kalian ga ngelakuin yang aneh-aneh?” Mina menatap Juna dan Zen. Sorot matanya mengandung rasa curiga.


“Aneh-aneh maksudnya gimana?” Zen menatap Ibunya. 

__ADS_1


“Iya apaan tuh?” Nada Yungi menggoda. 


Mina melirik ke arah Yungi. Wajahnya terlihat kesal. 


Yungi hanya tersenyum. 


“Kalian ga, uhm ... itu ....,” sepertinya Mina sungkan untuk menjelaskannya. Mereka masih terlalu kecil untuk tahu tentang hal itu. 


“Maksud itu sexting, phone *** seperti itu?” Zen mengonfirmasi. 


Mina menelan ludah. Ekspresi di wajahnya adalah kekagetan. Namun, ia masih bisa menganggukkan kepalanya. 


“Kami tidak melakukan itu. Tolong Ibu percaya kepada kami. Kami menjaga nama baik Ibu dan Papah juga. Kami tidak seperti Papah, Bu. Siapa aja yang deketin dan ngajakin, Papah mah oke-oke aja,” jelas Juna dengan santai. Yungi yang mendengar penjelasan Juna terperanjat. 


“Kalian dengar dari mana itu?” Yungi kaget.


“Semuanya juga tahu, Pah! Ian dan Gwen, anaknya Tante Vee dan Om Justin bilang juga. Mimi juga.” Juna melanjutkan penjelasan. 


Yungi menggaruk bagian belakang kepalanya. Ia tidak perlu mengelak karena memang itulah yang sebenarnya. Tapi, itu dulu. Sekarang, dia sudah berubah. Mina dan anak-anak yang membuatnya begitu. 


“Tapi Papah kalian ga begitu sekarang. Dan setiap orang berhak punya kesempatan kedua. Itu masa lalu papah. Dan Ibu yakin Papah akan berusaha menjadi lebih baik untuk kalian,” jelas Mina. Yungi menatap Mina dengan haru.


“Buat Ibu juga,” sahut Yungi dan ia merangkul bahu Mina sambil tersenyum. 


Mina menunduk. Wajahnya memerah karena malu. Tapi ia memegang tangan Yungi. 


“Zen, bagaimana dengan Zen?” tanya Mina. 


“Ah, Minami sama Zen sahabatan,” sahut Zen.


“Sahabat rasa pacar,” komentar Juna. 


Zen menggaruk kepalanya dan ia menunduk sambil senyum. Sekilas wajah Awan terlihat di sana. Mina mengembuskan napas. 


“Apa pun, Ibu sih lebih setuju kalau kalian temenan aja. Jangan pacaran! Nanti kalau sudah dewsa kalau kalian ingin melanjutkan ke jenjang lebih serius, Ibu ga keberatan.” jelas Mina lagi. 


Juna dan Zen saling menatap.


“Agak susah kalau tiba-tiba kami harus putuskan. Kami juga nyaman,” ujar Juna suaranya kecil karena takut Mina marah. 


“Tidak perlu putus, tapi pacaran itu hal besar. Begini saja, kalian seperti ini saja. Tadi kata Juna hanya Vcall dan chattan aja, kan? Ga lebih dari itu?” Mina meminta klarifikasi. 


“Iya,” ujar Juna.


“Oke deh. Kalau gitu aja ga apa-apa,” ujar Mina. 


Mereka mengakhiri percakapan malam itu dan meninggalkan kamar kedua jagoan saat mereka siap tidur. 


Bersambung 


 

__ADS_1


__ADS_2