Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 53 Berat


__ADS_3

“Kalau kamu setuju dengan sewa detektif swasta itu, aku akan memperkenalkanmu pada seseorang. Dia kenalan ayahku dan dia sangat ahli dalam hal ini. Bisa diandalkan. Tapi, Yun, biayanya sangat mahal,” ujar Jun. Mereka berkumpul di sebuah kafe tidak jauh dari kantor polisi. 


“Aku tidak peduli. Yang penting Mina segera ditemukan,” jawab Yungi. Tersirat dari matanya sebuah harapan. Jay dan Justin juga menganggukkan kepala menyetujui pemikiran Yungi. 


“Baiklah, kalau begitu. Aku akan menghubunginya sekarang.” Jun langsung berdiri dan menekan sebuah nomor di Hpnya dan tak lama kemudian ia melakukan percakapan dengan seseorang. 


“Yungi, aku baru mengirim beberapa pesan kepadamu. Cek ya. Itu tentang data-data yang harus kamu persiapkan. Nanti malam dia akan menemuimu di tempat yang juga aku udah kirim ke WA. Kamu liat aja di situ.” Jun kembali duduk setelah cukup lama ia melakukan percakapan di telfonnya. 


“Baiklah,” ucap Yungi. Nada bicaranya terdengr lebih bersemangat. Ia membuka HP dan membaca pesan di WA. 


“Aku temenin kamu, Yun,” jawab Jay. 


Yungi agak terhenyak. Dia menatap Jay sejenak. Bagaimana pun mereka punya sejarah terkait Mina. Meskipun begitu, akal sehat Yungi masih jalan. Yang dikatakan Justin benar. Dalam situasi seperti itu kehadiran Jay sangatlah dibutuhkan. Sekali lagi, dia harus merasa beruntung karena teman-temannya selalu sepenuhnya mendukungnya. 


“Itu ide yang bagus. Jay pengacara. Itu lebih baik karena dia akan paham apa saja yang berkaitan dengan hukum. Aku yakin pendapatnya akan dibutuhkan,” ucap Justin meyakinkan. 


“Itu benar,” sambung Jun. 

__ADS_1


“Baiklah. Makasih, Jay,” sahut Yungi sambil menyodorkan tangannya.


“Tentu saja, Bro!” Jay menerima sodoran tangannya dan mereka berjabat tangan erat. Mereka saling menyunggingkan senyuman.


“Untuk sementara waktu, kamu fokus saja dulu dengan urusan keluargamu. Bisnis, biar aku dan Justin yang handle,” ucap Jun. 


“Makasih, Jun,” ucap Yungi. 


“Justin, aku akan banyak merepotkanmu,” sahut Yungi beralih pada Justin. 


“ Come on, Yungi! Apa gunanya teman, hmm?” Justin menepuk lengan Yungi pelan sambil menyunggingkan senyum. 


***


Sementara itu, di sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, tepatnya di dalam kamar di sebuah rumah dengan gaya arsitektur klasik, Mina duduk di atas ranjang dengan kedua tangan terborgol pada salah satu ujung tiang ranjang. Wajahnya murung dan matanya sembap. Mungkin sudah hampir seminggu dia berada di kamar itu tanpa tahu siapa orang yang menculik dan kenapa menculiknya. Borgolnya akan dibuka hanya ketika dia ingin pergi ke kamar kecil atau disuruh makan. Mina tidak menolak makan. Pikirannya cukup jernih untuk berpikir bahwa ia harus punya tenaga jika suatu saat ia punya kesempatan untuk melarikan diri. 


Di dalam pikiran dan hatinya, ia harus hidup karena ia ingin kembali pada kebahagiaan hidupnya, yaitu suami dan anak-anaknya. Sekarang ia begitu merindukan mereka. Ia rindu celoteh anak-anak kembarnya atau sikap manja ketiga kakak si kembar kepadanya. Mina rindu Yungi yang lebih sering berkata hal-hal konyol tapi membuatnya tertawa. Dia juga rindu tatapan hangat dan pelukan mesra Yungi. Dia rindu kata-kata cinta yang tak pernah Yungi lupa ucapkan kepadanya sebelum tidur dan saat ia bangun. Jika semua itu muncul dalam pikirannya, perasaanya seolah tersayat dan air matanya akan meluncur dengan segera dari kedua pojok matanya. 

__ADS_1


“Yungi,” lirihnya dan ia terisak. 


“Zen, Juna, Yuna, Jun, Jay, Justin.” Suaranya hampir berbisik. Ia menutupi wajahnya dan menangis sesenggukan. 


Semuanya Leo Sudarsono saksikan melalui sebuah kamera yang memang sengaja dipasang di kamar itu untuk mengamati semua hal yang dilakukan Mina. Dan dia hanya tersenyum seperti orang gila. Makin Mina menderita, wajahnya terlihat makin bahagia. 


“Kamu harus bersabar menungguku, hmm, Baby! Aku harus mengalihkan perhatian suamimu dulu sebelum kita bersama untuk selamanya, hmmm, Baby!” Leo tersenyum. Tangannya mengelus-elus layar tepat pada wajah Mina. Ia mendekati layar dan mencium layar itu sambil tersenyum. Tak lama kemudian, ia beranjak dari sebuah ruangan yang berbeda dengan rumah yang ditempati oleh Mina.


Leo tahu bahwa Yungi tengah mencurigai dirinya dan ia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, bahkan kemungkinan bahwa Yungi akan mengambil langkah untuk menyewa detektif swasta mengawasinya dan mencari keberadaan istrinya. Oleh karena itu, dia melakukan permainan yang sama. Ia menyogok beberapa polisi yang terlibat dalam penyelidikan dan bahkan juga menyewa detektif swasta untuk mengawasi permainan mereka. 


Sudah hampir enam bulan berjalan. Usaha sang detektif belum juga menuai hasil. Leo sudah bisa memperkirakan itu. Selama itu pula, ia belum pernah menjumpai Mina. Setahun adalah waktu yang ia tentukan bagi dirinya untuk menemui Mina dan itu artinya polisi harus menghentikan penyelidikan dan bisa jadi menutup kasusnya. Semua ini permainannya. Yang dia lakukan hanya perlu mengeluarkan sejumlah uang dan menyuap semua pihak yang terlibat dalam penyelidikan dan semuanya diam. Ini termasuk detektif yang disewa oleh Yungi. Detektif yang direkomendasikan oleh Jun benar sangat andal, tetapi keandalannya itu dikalahkan oleh jumlah uang yang berlipat-lipat besarnya daripada yang dibayarkan oleh Yungi sehingga alih-alih membantu pencarian, hasil penemuannya malah menjadi menyesatkan. 


Selama enam bulan berjalan itu, setiap hari, lima orang pelayan perempuan akan membawa Mina ke kamar mandi. Lima orang sebenarnya sangat berlebihan hanya untuk melayani dirinya mandi. Namun, mengingat ia adalah tawanan yang bisa saja memberontak dan lari, lima adalah jumlah yang tepat untuk mengawal. Mina akan dimandikan oleh pelayan-pelayan itu di dalam sebuah bathtub mewah yang selalu dipenuhi dengan bunga-bunga dan wewangian, dikenakan pakaian yang sangat mahal, kekinian, sekaligus elegan. Leo tahu benar bahwa pakaian-pakaian itu sangat sesuai di tubuh Mina dan sangat cocok dengan dirinya. Imajinasinya yang liar atau bahkan brutal itu yang menggiringnya pada penilaian-penilaian itu. Semuanya tepat dan hebat, tetapi sangat menjijikkan. 


Selama enam bulan berjalan itu juga, setiap hari Yungi dan anak-anak tidak pernah berhenti melupakan Mina. Mereka terus bertahan dan memiliki keyakinan bahwa Mina masih hidup. Mereka hanya perlu berusaha lebih keras, dari mulai jalan yang sehat sampai yang kurang masuk akal, bertanya pada orang pintar tentang keberadaan Mina. Itu khususnya dilakukan oleh orang tua Mina. Rasa sayang mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang boleh dibilang absurd atau konyol. 


Kehilangan Mina telah mengubah banyak hal untuk banyak orang. Kondisi kesehatan orang tuanya menurun drastis. Sesil menjadi lebih sibuk, sebab bisnis yang ia tangani bukan hanya bisnis orang tuanya saja, melainkan bisnis punya Mina juga. Di sisi lain, anak-anak menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab. Mereka saling mendukung mengurus adik-adik kembarnya didukung para Mbak yang selalu ada di sana. Yungi menjadi lebih serius dan di antara semuanya, ia adalah orang yang paling terpukul. Itu adalah kali yang kedua ia merasa benar-benar kehilangan setelah dulu ditinggalkan oleh Mina ke Jepang. 

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2