Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 60 Rencana


__ADS_3

Jun dan Justin datang bersamaan ke klub. Setelah berbicara sebentar di meja yang sama, mereka membuka meja sendiri dengan mengambil sebuah ruangan yang biasanya diperuntukkan untuk pesta pribadi. Beberapa pelayan masuk ke sana untuk mengirimkan pesanan dan setelah itu pintu tertutup rapat untuk membiarkan para pelanggan menikmati waktu mereka di sana. 


“Sebenarnya apa yang terjadi, Jay?” Jun membuka percakapan setelah mereka hanya diam dan menikmati minuman yang disajikan. 


“Kau sudah tahu rinciannya. Kenapa masih tanya?” Jay menyimpan gelasnya di atas meja.


“Kami tahu, tapi belum mendengar dari mulutmu. Jadi, sebaiknya katakan sendiri dengan mulutmu apa yang terjadi, jadi, kami bisa bantu kamu dari sana,” sela Justin. 


Jay menghela napas panjang lalu ia mulai bercerita tentang kejadian malam itu. 


“Kau gila? Bagaimana bisa kau memasang tracking di HP Mina tanpa izinnya?” Justin kaget. Dan komentarnya diutarakan setelah Jay selesai bercerita. 


“Aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya khawatir akan ada kejadian buruk susulan yang menimpa Mina. Kalian tahu Yungi tidak akan bisa berbuat apa-apa saat itu. Mungkin kalian tidak tahu bagaimana ramainya aksi protes fans Leo di pengadilan saat Yungi dijatuhi hukuman. Mereka bahkan menjelekkan reputasiku dan mengirim surat ancaman. Aku dan Mina kena teror. Jika aku tidak bertindak seperti itu, aku akan sangat khawatir jika aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Mina.” Jay menjelaskan panjang lebar. 


Justin diam dan menatap Jay. 


“Baiklah! Aku minta maaf karena sudah langsung ambil kesimpulan. Aku benar-benar tidak tahu yang terjadi di lapangan,” ujar Justin. 


“Tidak apa-apa. Aku paham. Selintas orang akan berpikir sama sepertimu.” Jay merespons. Tidak ada kemarahan di sana. Ia paham benar yang dimaksud Justin. 


“Kalian boleh menertawaiku. Aku sadar aku ini pria yang menyedihkan. Mina cinta pertama dan terakhirku. Aku tak punya niat untuk menggantikannya dengan seseorang. Sampai aku mati hanya dia yang aku cinta. Meskipun begitu, aku tak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan karena aku tahu itu akan menyakitinya. Lagipula, lelaki yang dia cintai hanya Yungi. Hidup ini sungguh tak adil. Si Yungi dari dulu tidak pernah memperhatikan Mina. Dia selalu mempermainkan perasaan wanita, tetapi dia mendapatkan Mina,” jelas Jay. Dia tersenyum. Nada bicaranya cukup getir. 


“Bucin parah nih!” Justin menggelengkan kepala. Jun tersenyum. 


“Kau salah besar soal Yungi, Jay!” jawab Jun. 


“Apa maksudmu?” Jay tampak bingung. Tatapannya pada Jun mengandung rasa penasaran dan menuntut penjelasan. 


“Yungi memperhatikan Mina dengan caranya sendiri. Aku bisa memastikan itu. Kau terlalu meremehkannya, jadi kau kecolongan,” ujar Jun sambil tersenyum. 


“Dan bisa dipastikan, dia juga suka Mina dari dulu, tapi dia ga nunjukkin itu. Dia pasti punya alasannya,” sambung Jun lagi.


“Anggaplah begitu! Tidak seharusnya dia menyia-nyiakan Mina kalau gitu!” Jay masih kesal.


“Sekarang dia sedang kalut. Pikirannya tidak jernih. Dia marah karena dia tak menyangka hal itu dari Mina. Kau paham, kan?” Justin menambahkan.


“Apa ini? Sekarang kalian di pihak Yungi?” Jay memicingkan matanya pada Jun dan Justin.


“Hei! Jangan begitu! Kami sama sekali tidak memihak.” Jun menegaskan dan Justin mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


“Kita semua teman dan kalian sudah kuanggap seperti saudara. Saudara tidak terpecah, Bro!” Jun melanjutkan pembicaraan. Seperti yang diharapkan dari seorang Jun yang kata-katanya selalu dewasa dan bijaksana. Oleh karena itu, dari semuanya Jun selalu yang dituakan. 


“Kita berkumpul tujuannya untuk membuat Yungi dan Mina rujuk kembali, bukan?” Justin meyakinkan Jay.


Mereka diam sejenak dan saling menatap.


“Baiklah! Aku minta maaf,” ucap Jay. Dia menyadari yang dia katakan menyakiti teman-temannya. 


“Aku menghubungi Yungi beberapa waktu lalu. Dia bilang dia ingin sendiri untuk sementara waktu dan tak ingin  berkomunikasi dengan kita.” Justin mulai mengarahkan pembicaraan pada fokus bahasan. 


“Tidak apa-apa kalau begitu. Untuk sementara waktu kita bisa pantau saja dulu.” Jun menjeda.


Tidak ada yang merespons sebab keduanya menyadari nada Jun yang menjeda. 


“Untuk saat ini, mari kita lakukan ini saja. Aku dan Justin akan lebih sering menghubungi Yungi dan bertanya tentang keadaannya. Ini juga sama dengan Jini dan Vee. Mereka akan lebih sering menghubungi Mina. Dengan begitu, kita bisa memantau situasi mereka. Kita akan buat pertemuan suatu hari nanti dan menghadirkan Mina dan Yungi di sana. Untuk waktunya, kita juga harus lihat dulu situasi dan keadaa mereka. Aku sudah meminta tolong juga kepada Zen dan Juna untuk menghubungiku jika terjadi apa-apa,” jelas Jun.


“Kau menghubungi anak-anak?” Jay kaget.


“Kita tidak boleh meninggalkan celah. Melibatkan mereka ke dalam rencana kita adalah yang terbaik,” ujar Jun.


“Tapi, mereka masih anak-anak. Aku khawatir mereka, ... ,” Jay tak menyelesaikan bicaranya saat menatap Jun yang menyunggingkan senyuman seolah sudah memberikan jawaban.


“Mereka sangat cerdas. Bukan hanya kita yang ingin mereka rujuk, tapi anak-anaknya juga,” lanjut Justin mengonfirmasi. 


“Untuk sementara waktu, Jay, sebaiknya kau tidak menghubungi atau bahkan bertemu dengannya,” ucap Jun. 


“What! No way! Aku tidak mungkin melakukan itu. Mina membutuhkan aku sekarang,” jawab Jay. 


“Hei, Jay! Kalau kau melakukan itu akan sulit bagi Yungi untuk percaya bahwa di antara kalian tidak ada apa-apa,” jelas Jun.


“Bukan itu! Masalahnya aku ini pengacara Mina dan aku masih ada urusan dengan dia soal dokumen-dokumen yang berkaitan dengan hak asuh anak-anak,” ujar Jay memberi penjelasan. 


“Ga bisa kontak lewat email atau telfon gitu?” Justin menambahkan.


“Untuk urusan itu, bisa. Tapi tidak hanya itu. Kalian tidak tahu kadang-kadang Mina masih diteror. Kami sudah tahu siapa pelakunya, tapi dia sangat licik. Dia pintar menghapus jejaknya, jadi sangat sulit untuk kami mengarahkan bukti kepadanya,” ujar Jay.


Justin dan Jun saling menatap.


“Itu sulit!” Justin berkata.

__ADS_1


“Iya, makanya.” Jay mengiyakan.


“Kalau dikawal gimana?” tanya Jun.


“Siapa? Mina?” tanya Jay.


Jun menganggukkan kepala. 


“Ga berhasil! Kami sudah pernah melakukannya,” ujar Jay.


“Kamu beneran tinggal di Bandung, Jay?” tanya Justin.


“Bolak-balik!” jawab Jay.


“Whatt!! Harusnya si Yungi yang gini!” Justin bicara dengan nada kesal.


“Aku ga keberatan! Sudah kubilang aku sangat menyayangi Mina,” jawab Jay.


“Tapi aku memang menyarankan beberapa alternatif kepada Mina untuk mengatasi masalah teror itu,” ujar Jay lagi.


“Apa?” Jun dan Justin menunggu jawaban. 


“Menjual rumahnya dan pindah,” ujar Jay.


“Dia mau?” tanya Justin.


“Dia bilang tunggu si Kembar selesai sekolah. Mereka mendapat beasiswa dari Australia dan Jepang. Sekarang sedang memilih. Tapi, dia tidak akan menjual rumahnya karena rumah itu untuk anak-anak kalau pulang,” jelas Jay. 


“Aku udah sewa detektif swasta juga untuk menyelidiki dalang terornya dan sudah lumayan ada titik terang. Karena ini ga satu orang. ada tiga orang. Yang satu kami udah tahu cuma susah buktinya, jadi detektif sedang mengumpulkan buktinya agar dia bisa dijerat hukum dan yang dua masih dicari. Jadi, aku ngandelin mereka,” jelas Jay.


“Mereka?” Mata Jun memicing.


“Aku sewa tiga detektif,” ujar Jay sambil tersenyum malu. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya. 


“Beneran kamu bucin, Jay!” Jun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. 


“Baiklah, kalau begitu. Kita akan kontak-kontak lagi ya!” ucap Jun.


“Eh lain kali ketemuannya di Hawai dong! Di restoran aku!” jawab Justin.

__ADS_1


“Setuju!” Jun dan Jay langsung menjawab kompak.


Bersambung 


__ADS_2