
Sudah beberapa hari ini mobil pengangkut barang datang dan menurunkan barang-barang itu tepat di depan rumah Mina. Pasangan paruh baya dan beberapa lelaki yang cukup muda membantu merapikan barang-barang itu di dalma rumah. Hampir seminggu mereka merapikan rumah dan akhirnya pada akhir pekan sang pemilik rumah datang. Mereka adalah Yungi dan Erika.
Mina dan Yungi sama-sama kaget. Dan di antara banyak kebetulan yang terjadi di antara mereka yang juga membuat mereka kaget, sepertinya ini adalah kekagetan mereka yang paling besar. Menurut Yungi, rumah itu dihadiahkan oleh orang tuanya, jadi dia hanya tinggal menempati dan tidak tahu-menahu bagaimana proses pembelian rumah atau latar belakang rumah itu.
Yang jelas, pada awalnya Yungi berpikir akan tinggal di sebuah apartemen di Jakarta, tapi Erika tidak mau. Dia pernah beberapa kali berkunjung ke Bandung dan ia merasa cocok dengan kota itu. Jadi, Yungi memutuskan untuk tinggal di Bandung.
Yungi dan Erika mengundang tetangga satu gerbang yang hanya empat rumah itu untuk makan malam sebagai cara untuk memperkenalkan diri agar mereka juga tidak bingung atau canggung ketika bertatap muka tidak sengaja atau bertegur sapa. Setelah itu, interaksi Yungi dan Erika lebih sering dengan Mina dan Awan. Mereka sering makan siang atau malam bersama dan kadang-kadang mengadakan acara barbekyu bersama. Selama interaksi itu, hubungan Erika dan Mina menjadi lebih dekat. Mereka bahkan sering terlihat jalan, belanja, dan masak bersama.
“Awan beruntung banget! Mina tuh udah cantik baik banget lagi!” Erika berkomentar saat mereka baru saja pulang makan malam bersama di rumah Mina. Yungi hanya tersenyum. Dia sudah tahu kualitas Mina karena pertemanan mereka sudah hampir seperempat abad.
“Dia pinter dalam banyak hal. Oh, aku iri sama dia! Masak jago, bikin kue juga, pokoknya mantap deh! Dia hebat! Kok kamu sebagai temannya, bisa ya ga jatuh cinta sama dia, heran aku Yun!” Erika membuka kulkas dan menyimpan makanan yang diberikan Mina.
Deg. Yungi tersentak kaget. Namun, ia berusaha tidak menunjukkannya.
“Kan perasaan ga bisa dipaksain, Babe!” itu yang keluar dari mulutnya.
“Iya, sih! Itu bener juga! cuma kalau aku jadi kamu, melewatkan dia tuh ... hmmm aneh ...! Aku aja yang cewek suka, kok kamu yang cowok nggak!” Erika berkomentar datar.
Yungi diam tak merespons. Dia malah sibuk dengan Hpnya.
“Kok ga didenger sih Babe?” Erika nadanya kesal.
“Hah, Oh, iya maaf! Ini ada email dari kantor. Bentar ya!” ujar Yungi. Dia pergi meninggalkan Erika sambil mencoba melakukan panggilan melalui telfonnya.
Yungi berdiri di balkon rumahnya dengan HP yang masih di telinganya. Di seberangnya, yang adalah balkon rumah Mina, ia melihat Mina tengah mengambil jemuran. Tanpa sadar mata Yungi asyik menikmati pemandangan itu. Entah kenapa, perempuan yang baru saja diperbincangkan dengan istrinya itu memang terlihat semakin menarik di matanya.
Sebenarnya sejak awal mereka bertemu kembali, Yungi sudah mengalami banyak keanehan di hatinya. Hatinya selalu merasa tidak tenang jika dia di dekat Mina. Ia tidak tahu apa yang mendasarinya dan ia tidak mau mencari tahu lebih lanjut karena ia khawatir itu hanya akan membuat hubungannya dengan Mina dan juga Erika menjadi aneh atau bahkan buruk.
“Gi apa, Min?” Yungi tetiba berdiri di dekat dapur sambil menyilangkan dua tangannya di dada.
“Astagaa! Yungi, kamu bikin aku kaget tahu!” Mina yang memang terkejut mendapai suara Yungi tak jauh darinya memegang dadanya, berusaha menenangkan rasa kagetnya itu.
“Hahahahaha, maaf ya!” Yungi tertawa.
“Aku ketuk-ketuk pintu berapa kali ga dibuka terus aku coba buka ternyata ga dikunci, jadi aku masuk,” ujar Yungi.
“Iya, ga apa-apa!” ujar Mina. Ia terlihat lebih tenang sekarang.
“Lagi apa?” tanya Yungi.
“Ini ada sisa bahan kue, kalau ga dibuat basi, jadi aku bikin pie buah,” ujar Mina sambil melepas celemeknya.
“Ada apa?” Mina celingukan.
“Cari siapa?” tanya Yungi.
“Erika. Dia ga ikut sama kamu?” tanya Mina.
“Ada temannya datang ke Bandung, ngajak ketemuan, jadi dia pergi sama temennya,” sahut Yungi.
“Oh, gitu! Terus kamu ga ikut?” Mina berdiri di depan Yungi.
“Aku mau memperbaiki keran di kamar mandi.” Yungi menjawab santai.
“Oh, rusak? Kok ga panggil tukang?” Mina menarik kursi meja makan.
“Duduk!” sahut Mina.
“Ngga ah! Bentar doang! mau pinjem tool kit! Awan mana?” tanya Yungi. Giliran dia yang celingukan.
“Ke Jerman, tadi subuh. Ada kerjaan,” sahut Mina.
“Kamu sendirian?” Yungi kaget.
“Ga, sekarang kan ada kamu!” sahut Mina sambil tertawa.
“Tsk!” Yungi mengerling kesal. Jawaban Mina yang membuatnya begitu.
“Mau pinjem tool kit kan? Tuh di gudang. Kamu jalan ke belakang terus samping kolam renang ada ruangan kan. Di situ!” Mina menunjuk ke arah kolam renang.
“Ah oke!” ujar Yungi dan dia berjalan ke arah yang baru saja ditunjukkan oleh Mina. Tak lama kemudian, ia kembali dengan satu boks yang ia jinjing di tangannya dan juga dengan luka kecil di pelipisnya.
__ADS_1
“Astagaa! Kenapa itu, Yun?” Mina menunjuk ke pelipis Yungi.
“Kejedot ujung tangga,” ujar Yungi sambil agak meringis karena tak sadar tangannya menyentuh lukanya.
“Ah yang di balik pintu ya! Aduh! Aku dah bilang berapa kali sama Awan minta dipindahin, tapi dia lupa terus. Maaf ya! Sini duduk deh! Aku obatin!” ujar Mina lagi sambil dengan cepat berjalan ke arah ruang tengah membuka sebuah lemari dan mengambil kotak obat.
Yungi yang awalnya mau menolak tidka berkata apa-apa. Dia duduk di meja makan dan membiarkan Mina mengobatinya. Yungi tertegun sambil mengernyitkan alisnya. Ia mengenali bau tubuh itu. Ia menelan ludah.
“Sudah selesai, Yun. Jangan dulu pulang. Aku mau kasih pie buat Erika. Tunggu bentar!” ujar Mina dengan cepat ia membawa boks obat kembali ke tempatnya dan berjalan ke arah dapur.
Yungi hanya menganggukkan kepalanya.
Mina kembali dengan boks kue yang jelas di dalamnya berisi pie dan anggur merah.
“Oh, kenapa ada anggur merahnya?” Yungi bingung.
“Aku ga boleh minum itu sekarang. Awan ga terlalu suka ini dan Erika suka kan. Jadi, ini buat dia aja,” ujar Mina dengan wajah yang memerah.
“Oh, kenapa?” Yungi heran.
“Aku hamil,” sahut Mina sambil tersenyum. Wajahnya terlihat bahagia.
Yungi menganga.
“Oh!! woah! selamat!” ujar Yungi sambil berusaha menenangkan diri dari kekagetannya.
Sejujurnya ada sesuatu yang menekan hatinya seperti batu besar yang menindihnya yang membuat dadanya menjadi agak sesak.
“Eh, tapi jangan ribut dulu ya! Soalnya Awan belum tahu!” ujar Mina lagi.
“Hah! Kok bisa?” Yungi tambah kaget.
“Kok jadi aku yang pertama tahu,” ujar Yungi. Dia merasa tak enak.
“Kan kebetulan aja kayak gini. Ga apa-apa! Kamu kan temen aku juga!” Mina tersenyum dan Yungi hanya menganggukkan kepalanya.
Sebulan kemudian, Erika juga hamil. Kehamilan dalam waktu yang hampir bersamaan itu membuat hubungan Erika dan Mina semakin dekat. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama, terlebih Yungi mulai bertugas jauh.
Dia sangat beruntung karena selama masa kehamilan, Awan selalu ada untuknya. Itu berbeda dengan Erika karena Yungi hampir tidak ada untuknya dan Erika sering terlihat sedih karena kesendiriannya itu. Oleh karena itu, Mina selalu berusaha untuk membuat keadaannya menjadi lebih baik. Awan tentu saja mendukung keputusannya dan bahkan ikut membantu dalam prosesnya.
Saat Mina melahirkan, Awan ada di sisinya. Dan saat Erika melahirkan, Mina yang ada di sisinya. Yungi datang sehari setelah Erika melahirkan karena pesawatnya mendadak delay dan Yungi tidak bisa memesan pesawat lain karena hanya itu pesawat yang paling cepat untuk dia bisa pulang ke Bandung dan menemani Erika. Sempat ada ketegangan di antara keduanya, tapi mereka kemudian bisa mengatasinya entah bagaimana prosesnya, yang jelas keduanya sudah berbaikan setelah Juna berusia hampir satu bulan.
Masalah lain muncul saat Erika tidak mau menyusui Juna. Alasannya, ia tidak mau tubuhnya rusak. Satu-satunya aset yang ia pikir mengikat Yungi agar tidak berpindah ke lain perempuan. Yungi tentu saja marah. Lagi-lagi Awan dan Mina yang membantu. Mina menyusui Juna dan Zen. Tidak heran hubungan kedua anak itu sangat dekat karena dekat secara susu.
Masalah semakin besar ketika Yungi hanya bisa pulang tiga bulan sekali. Erika semakin merasa sendirian. Ia sering menitipkan Juna dengan Mina dan Awan dan ia lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta dengan teman-temannya. Dia pernah kembali ke Amerika juga untuk beberapa waktu bersama dengan keluarganya dan mengabaikan Juna karena Juna bersama dengan Mina.
Jika Yungi pulang ke rumah, lebih sering terjadi pertengkaran daripada keharmonisan. Erika sering marah-marah dan pergi meninggalkan Yungi dan Juna. Erika sempat beberapa kali meminta cerai, tapi Yungi tidak pernah menanggapi. Ia lebih sering diam atau memilih pergi jika Erika ngamuk-ngamuk di rumah dan menitipkan Juna kepada Mina.
Erika yang stres lebih sering mengurung diri di dalam kamar, dan Juna selalu dengan Mina. Mina pula yang mengurus Erika saat ia mengalami depresi dan pernah mencoba bunuh diri tiga kali dengan cara menenggak obat tidur, menjatuhkan diri dari balkon dan bahkan menyileti urat nadinya. Untuk kejadian itu, Awan akhirnya menelfon Yungi dan menceritakan semuanya.
Yungi pulang dan menuruti saran Awan. Mereka konsultasi ke ahli pernikahan dan Yungi bahkan off selama tiga bulan menemani Erika untuk menangani masalah depresinya. Tentu saja ada perbaikan dan bahkan setelah beberapa tahun berjalan dan Yungi yang lebih rutin pulang, akhirnya Erika hamil lagi. Mina pikir kehamilan yang kedua akan membuat hubungan Yungi dan Erika menjadi lebih baik, tetapi ia salah besar. Yungi tetiba dikirim ke daerah yang lebih jauh dan Erika kembali pada depresinya. Kelahiran Yuna justru mengakhiri hubungan mereka berdua.
Min, aku minta maaf karena aku hanya bisa membuatmu repot. Dalam kehidupanku, aku sangat beruntung bertemu dengan orang sepertimu. Aku sangat menghargai semua kasih sayangmu yang aku rasakan benar-benar tulus sama aku. Aku juga sangat sayang kamu, Min. Maafin aku karena ngambil keputusan sendiri tanpa diskusi dulu sama kamu. Aku tahu kalau aku ngomongin masalah ini sama kamu, kamu akan mencegah aku cerai sama Yungi, dan aku sudah tak bisa bertahan lagi dengan Yungi. Kuharap kamu mengerti.
Aku minta maaf karena Yuna dan Juna pasti sama kamu. Tolong jangan abaikan mereka dan jaga mereka buat aku. Aku titip Yungi ke kamu karena aku tahu Yungi cuma denger kata-kata kamu. Aku sayang kamu, Min. Sampaikan maafku sama Awan juga, karena gara-gara aku dia juga jadi ikut repot.
Erika.
Itu surat Erika kepada Mina setelah suatu hari Erika menghilang ke mana disusul gugatan cerai kepada Yungi dan meninggalkan Yuna dan Juna bersama Mina. Mina hanya bisa menangis. Dia sangat menyayangkan keputusan Erika yang pergi begitu saja. Dia juga kesal kepada Yungi karena tidak mencari Erika setelahnya.
Yungi juga mengalami depresi setelahnya. Ia juga merasa menyesal dan bersalah kepada Erika. Mina tidak tahu bahwa sebenarnya, ia juga sempat mencari Erika dan ingin memperbaiki hubungannya, tapi nihil dan begitulah, akhirnya waktu terus berjalan dan suatu hari, Yungi memutuskan untuk melanjutkan kembali kehidupannya. Dia mulai kembali pada pekerjaannya, menenggelamkan kehidupannya dalam pekerjaan dan kadang-kadang diselingi juga dengan kebersamaannya dengan anak-anaknya dan percayalah Yungi sangat canggung di hadapan anak-anaknya, Selalu saja Mina yang membuat mereka menjadi lebih bisa berinteraksi dengan lebih baik.
Yungi baru pulih dari lukanya. Giliran Mina yang terkena musibah. Awan meninggal karena kecelakaan pesawat. Sama dengan Yungi, ia juga sempat mengalami masa kelam dan lebih banyak menutup dirinya. Selama proses itu, semua temannya dalam circle memebantunya, khususnya Jay. Dialah orang yang paling sering menghubungi Mina dan bertanya kabar. Dia sering bolak-balik Singapura-Bandung hanya untuk menemani Mina makan siang atau sekadar ngobrol biasa. Sesil dan keluarga Mina juga berperan banyak, khususnya dalam pengasuhan anak-anak Mina dan Yungi. Dan Mina selalu merasa bersyukur karena mereka selalu ada untuknya.
Dari semua proses itu, bagi Yungi, saat ia mengalami depresi, Mina adalah orang yang paling bermakna baginya. Setidaknya, ia adalah orang yang selalu mengingatkannya untuk makan dan menjaga dirinya, untuk melanjutkan hidupnya karena ia masih punya dua anak yang memerlukan dirinya. Tentu saja ada banyak orang yang mendukungnya dalam proses penyembuhannya, hanya saja Mina memiliki nilai tersendiri di hatinya.
Mina juga sama. Saat ia terpuruk, Yungi mempunyai cara tersendiri untuk membuatnya tetap kuat. Jay memang orang yang paling gercep dalam memberikan perhatian kepadanya, tapi Yungi juga selalu ada untuknya, khususnya ketika dia memerlukannya.
“Sil, kamu tahu di mana Mina? Kok ditelfon ga diangkat-angkat?” Yungi menelfon Sesil, adik Mina. Itu pada suatu malam saat Yungi di perjalanan dari Jakarta ke Bandung dan dia berusaha menelfon Mina untuk mengajaknya makan malam, tapi tak berhasil.
“Hari ini kan genap hari keseratus Kak Awan meninggal, Kak Yun. Kak Mina tadi pagi bilang katanya mau ke Vila tempat mereka bulan madu dulu!” jawab Sesil.
__ADS_1
“Kak Yungi mau ngobrol sama anak-anak ga?” tanya Sesil.
“Nanti Sil, aku mau ketemu mereka juga,” ujar Yungi yang perasaannya tetiba merasa tidak enak. Dia menutup telfon. Dia tahu alamat Vila yang dimaksud Sesil. Jadi, setibanya di Bandung, ia langsung mengarahkan mobilnya ke sana.
Yungi turun dari mobil dan kemudian berjalan menuju ke pintu utama. Beberapa kali ia mengetuk pintu, tapi tidak ada respons. Ia mencoba membukanya dan ternyata tidak dikunci. Yungi masuk ke dalamnya dan mengamati seisi ruangan.
Sepi.
Ia naik ke atas sebab melihat satu ruangan dengan lampu yang menyala dan membuka pintunya. Mina duduk di balkon dengan satu botol anggur merah dan dua gelas anggur tak jauh dari sana. Yang satu masih berisi penuh dan yang satu sudah hampir habis.
“Min,” lirih Yungi dan dia duduk di sebelahnya.
Mina menoleh. Matanya sembap sisa menangis.
Mereka diam dan duduk bersebelahan.
“Kamu tahu aku ada di sini,” suara Mina agak serak membuka percakapan.
“Aku telfon Sesil,” ujar Yungi.
“Aku hampir tidak pernah mengatakan cinta kepadanya. Aku menyesal sekarang. Seharusnya, aku utarakan saja semua perasaanku. Seharusnya aku bilang saja yang ada di hatiku. Dan sekarang dia tidak ada. Seharusnya tidak begini. Seharusnya dia memberiku waktu untuk menunjukkan perasaanku. Aku juga cinta dia, sayang dia. Tapi aku tak pernah bilang itu waktu dia ada, waktu dia peluk aku, waktu dia ada di dekat aku,” ujar Mina. Suaranya tercekat. Dia membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan menangis keras.
“Hei,” lirih Yungi. Dia memindahkan anggur dan gelasnya dan kemudian meraih Mina ke pelukannya.
“Ini sudah takdir. Kamu harus menerimanya. Kalau kamu ga bisa bilang itu sama dia, kamu masih bisa bilang sama Zen,kan. Kamu harus hidup. Awan ga akan suka ngeliat kamu kayak gini.” Yungi berbicara dan masih memeluk Mina.
Mina diam menyimak yang dikatakan Yungi. Tak lama dia menengadahkan wajahnya menatap Yungi.
“Kamu bener. Aku masih punya Zen,” lirih Mina. Dia berusaha mengembangkan senyuman.
Yungi tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Terima kasih,”ujar Mina. Ia mencoba tersenyum dan menundukkan wajahnya.
“Hei,” lirih Yungi.
“Ga apa-apa. Kamu masih punya aku. Temen-temen yang lain juga. Kita saling dukung kan. Inget ga itu yang kamu omongin saat aku juga di posisi kamu!” lirih Yungi sambil menangkup wajah kecil Mina.
Mereka bertatapan. Mina tersenyum. Tangannya membelai pipi Yungi dengan lembut dan itu membuat Yungi tertegun.
“Min, ...aku, ...” suara Yungi terdengar berat.
Mina mendekatkan wajahnya dan mencium Yungi. Yungi membalasnya.
Mereka berciuman cukup lama dan Yungi menggendong Mina dengan posisi bibir mereka masih bertautan masuk ke dalam rumah dan melanjutkannya di atas tempat tidur. Mereka tengah bergumul di atas tempat tidur, saling melucuti pakaian satu sama lain dan saat Yungi menarik selimut karena mereka sama-sama hampir tidak mengenakan apa pun di badan, Mina menghentikan kegiatan.
“Kita ga boleh kayak gini! No, Yun! Ga boleh!” Mina mendorong Yungi seolah ia tersadar akan sesuatu. Itu membuat Yungi tertidur di sampingnya. Dengan cepat Mina mengambil pakaiannya dan memasangkannya lagi di badan. Yungi melakukan hal yang sama. Mereka duduk di atas tempat tidur saling memunggungi. Keheningan di antara mereka membuat mereka semakin merasa canggung.
“Maafin aku!” ujar Yungi memulai percakapan.
“Nggak, bukan kamu yang salah! Aku yang mulai! Maafin aku!” ujar Mina.
“Hei, tidak apa-apa. Aku ...,” Yungi tidak melanjutkan sebab dia kaget kedua tangan Mina menelusup memeluk perutnya.
Mina menyimpan kepalanya di punggung Yungi dan memeluk Yungi dari belakang.
“Kalau kita melakukannya, saat kita bangun, kita akan sama-sama bingung. Kalau sudah seperti itu, kita tidak akan bisa menjadi teman. Aku sudah kehilangan suami. Aku ga mau kehilangan juga teman,” lirih Mina.
Yungi menelan ludah. Dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai respons.
“Malam ini peluk aku aja dan temani aku di samping aku ya,” lirih Mina.
Sekali lagi Yungi menganggukkan kepalanya.
Mina tersenyum.
“Terima kasih,” sahut Mina.
Mereka tidur berpelukan malam itu.
Bersambung
__ADS_1