Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 48 Di Toko


__ADS_3

“Tsk!” Mina berdecak kesal. Ia berdiri di depan kaca kamar mandi, mengamati leher putihnya yang pada sebagiannya dipenuhi dengan tanda merah, jejak bibir Yungi tadi malam. 


“Maaf!” suara Yungi dari ambang pintu. Ia melipat kedua tangannya di dada bersender pada salah satu kusen pintu sambil tersenyum. Mina melirik ke arahnya dan mengerling kesal. 


“Gimana aku bisa ke toko kalau kayak gini! Kan udah dibilang hari ini aku mau ke toko. Gimana sih?” Mina menggerutu dan menekuk mukanya dalam.


“Kan bisa disamarin pake kosmetik, Say.” Yungi berjalan mendekati Mina dan menghadapkan tubuhnya ke arahnya lalu memeriksa lehernya. 


“Ini juga udah dipakein kosmetik, Yungi! Tapi tuh kamu liat, masih tetep ada bekasnya. Kentara banget lagi ah!” Mina cemberut. 


“Emang hari ini penting banget ya! Urgent harus ke toko ya, ga bisa zoom?” tanya Yungi masih dengan senyuman di bibirnya. 


“Kalau bisa, aku ga akan kesel kayak gini! Minggir ah!” Mina mendorong tubuh Yungi pelan ke sampingnya dan meraih kotak plaster di kotak obat. 


“Ukurannya ga pas lagi! Duhhhh!” Mina masih menggerutu, ketika ia memasang plaster pada bagia merah di lehernya, sebagiannya masih dapat jelas dilihat. Jika dia memasang dua plaster tentu saja tidak terihat estetis. 


“Kalau susah, biarin aja kayak gitu! Staf kamu juga pasti tahu kalau itu aku pelakunya. Udah ga apa-apa.” Yungi mesem. 


“Ah, cape ngomong sama kamu Yungi! Minggir!” Mina menabrak Yungi keluar dari kamar mandi dan masuk ke kloset dan mencari syal yang senada dengan pakaian yang ia kenakan. 


Yungi mengikutinya dari belakang. 


“Maafin aku!” rajuk Yungi. 


Mina diam. Dia berjalan ke depan meja rias, merapikan syal dan rambutnya lalu memakai anting-anting sakura pada kedua telinganya. 


“Mina, Sayang, maafin ya!” Yungi menatap Mina. Kali ini dari mulutnya terdengar jelas rasa menyesal. 


Mina mengacuhkannya. Pasalnya bukan sekali dua kali Yungi melakukan ini kepadanya dan Mina merasa Yungi selalu saja tidak belajar dari kesalahannya. 


“Kamu tuh! Ah udahlah!” Mina melengos pergi. Dia berjalan melewati Yungi dengan wajah yang masih kesal dan berjalan menuju ruang bermain, tempat anak-anaknya menghabiskan waktu jika mereka tidak tidur atau makan.  


“Sayang, Ibu pergi dulu ya sebentar!” Mina menghampiri ketiga anaknya dan mencium pucuk kepala mereka bergantian.


“Ukut!” Justin memegang rok Mina sambil merengek.


“Oh, Sayang, mau ikut ya?” Mina menggendong Justin. 


Jay dan Jun memegangi rok Mina di bagian kiri dan kanan.


“Jay ukut!” ujar Jay menengadah dan sorot matanya memancarkan permohonan. 


Ini sama dengan Jun yang juga sudah memberikan tatapan terimutnya untuk membuat Mina membawa serta dirinya. 


“Oooh! Baiklah! Kalian semua ikut dengan Ibu,” ujar Mina. 


“Aku juga ikut. Kamu belum maafin aku!” Yungi datang menghampiri mereka dalam keadaan sudah rapi.


Mina menganga. Dia tidak bilang apa-apa. Mbak Juni dan Mbak Ade yang sejak tadi juga ada di sana dengan sigap membawa si Kembar ke kamar mereka untuk mengganti baju dan menyiapkan perbekalan.


Mina dan Yungi mengikuti mereka masuk ke kamar anak-anak dan membantu menyiapkan mereka. 


Tak lama kemudian, Yungi keluar membawa beberapa barang disusul kedua Mbak dan kemudian Mina dengan tiga bayinya dalam kereta dorong. Tak lama berselang, mereka sudah berada di dalam mobil, siap berangkat.


“Mina, kamu ga akan maafin aku. Nanti di sana pasti canggung, kan? Please maafin aku,” ujar Yungi. Ia melihat ke arah Mina dengan tatapan memohon. 

__ADS_1


“Buruan nyetir! Aku dah telat!” Mina masih cemberut.


Yungi menuruti. Mobil melaju di jalan raya menuju toko. Hari itu akan ada kunjungan dari Sekolah tempat Yuna dan juga anak-anak dari sebuah panti asuhan yang merupakan asuhan dari keluarga Mina dan sekolah tempat Yuna. Mereka akan melakukan praktik membuat kue muffin di sana. Akan ada banyak orang dari kedua instansi itu. Oleh karena itu,  ketika tadi malam Yungi minta jatah, Mina sudah mewanti-wanti agar tidak menandai bagian lehernya. Yungi malah kebablasan. 


Mina sudah kebal dengan ketiga kakak si Kembar ketika mereka menanyakan atau lebih tepatnya menggodanya perihal tanda merah di lehernya  ketika mereka berada di rumah atau kedua Mbak yang mesem-mesem malu ketika memergoki Yungi yang tengah menciuminya ketika di ruang mana saja di rumah. Namun, masalahnya kali ini Mina akan berinteraksi dengan banyak orang dan ia malu kalau mereka memperhatikan bagian lehernya yang jelas-jelas menarik perhatian karena tanda merah yang cukup banyak di sana. 


“Min, pleaseee! Maafin aku!” ujar Yungi lagi dengan nada menyesal. 


Mina belum merespons sampai akhirnya mereka sampai di tempat parkir dan Yungi masih melakukan hal yang sama. 


“Baiklah, aku maafin! Awas aja kalau gitu lagi!” Mina akhirnya menyerah. 


“Iya, aku janji. Aku akan kontrol diri aku lebih baik lagi.” Wajah Yungi berubah sumringah. 


Mina menganggukkan kepalanya. 


“Aku bakalan sibuk hari ini. Jadi, kayaknya kamu handle anak-anak. Ga apa-apa ya?” tanya Mina. Ekspresi di wajahnya lebih baik. 


“Iya, oke,” ujar Yungi. Kebetulan hari itu Sabtu, jadi dia libur kerja. 


“Aku bakalan bawa mereka pas jemput eskul Zen dan Juna ya. Jadi, jangan kaget kalau aku tiba-tiba ngilang.” Yungi menjelaskan. Yuna absen eskul hari itu karena memang ada acara dari sekolahnya itu dan dia sangat menantikan hari itu karena ingin pamer toko ibunya. 


“Uhm,” gumam Mina. 


Mereka turun dari mobil dan Yungi mendorong kereta bayi yang berisikan Jun, Jay, dan Justin. Rombongan dari kedua instansi belum datang, tapi Mina memang cukup telat untuk persiapan memasak. Mereka disambut banyak staf yang memang siap membantu pada hari itu. Banyak wajah yang tak berhenti melihat Yungi kemudian anak-anak mereka. 


“Oh mereka sangat tampan. Mirip sekali dengan ayah mereka!” Begitu bisik-bisik karyawan yang tentu saja Yungi dan Mina dengar saat mereka melewati mereka. Yungi dan Mina hanya tersenyum saat mendengar komentar mereka. 


“Aku langsung ke lantai dua ya. Kamu masuk ke kantor aja,” ucap Mina. 


“Ayo kita ke kantornya Ibu ya!” Yungi mencubit pipi ketiganya sambil berlalu menuju kantor istrinya.


“Papah!!!” kepala Yuna muncul dari balik pintu kantor Ibunya. Waktu itu Si kembar sedang asyik bermain di belakang meja. 


“Oh, Yuna sudah datang!” Yungi melambaikan tangannya memintanya masuk. 


“Papah lihat aku!” Yuna membuka pintu lebar dan masuk ke dalam kantor ibunya dengan memakai celemek dan siap memakai topi memasak. 


“Woaaaah! Kerennn sekali! Yuna cantiiik seperti koki cilik profesional!!! Woaahhhh!” Yung i mengacungkan dua jempolnya. 


“Kak Una!” Justin, Jay dan Jun berjalan menuju Yuna yang juga tengah berjalan menuju mereka. 


“Halooooo, babies!” Yuna langsung memeluk mereka. 


“Au ini! Au ini!” Justin menarik celemek Yuna.


“Oh, aduh! Jangan begitu. Kalian mau pakai ini. Ya oke, Papah ambil dulu. Tunggu sebentar ya!” Yungi dengan cepat keluar kantor dan berlari menuju ruang perlengkapan. 


“Pak Yungi cari apa?” tanya salah satu karyawan dengan wajah yang terpesona.


“Punya celemek mini ga? buat anak-anak. Masih ada sisa, tiga?” Yungi bertanya.


“Oh, untuk anak-anaknya ya Pak?” tanya si karyawan itu lagi.


“Benar!” ucap yungi.

__ADS_1


“Tunggu sebentar! Saya carikan!” Dan si karyawan segera pergi. Tak lama kemudian, ia kembali dengan barang yang diminta. Yungi dengan segera mengucapkan terima kasih dan bergegas berjalan menuju ke kantor. 


Brug! Ia bertabrakan dengan seorang lelaki saat ia hendak berbelok menuju kantor. 


“Ah, maaf!” ujar Yungi sambil menyodorkan tangannya karena sang lelaki yang ia tabrak jatuh terduduk. 


“Tidak, saya yang minta maaf.” Sang lelaki yang jatuh menerima uluran tangan Yungi. Ia berdiri sambil dengan cepat membersihkan dan merapikan dirinya dengan tangan. 


“Sekali lagi saya minta maaf,” ujar Yungi dengan maksud untuk menutup percakapan dan akan berlalu. 


“Tidak apa-apa. Saya juga salah!” ucap lelaki itu dengan ramah. 


“Anda salah satu orang tua dari sekolah?” tanya lelaki itu sambil mengamati tiga celemek dan topi yang dipegang Yungi.


“Saya?” Yungi menunjuk dirinya sendiri. 


“Iya, Anda.” Sang lelaki menunjuk pada celemek.


“Oh, bukan. Saya bukan dari mereka,” ucap Yungi menyadari saat sang lelaki menunjuk celemek yang ia bawa. 


“Begitu.” Lelaki itu menganggukkan kepalanya. 


“Permisi,” ucap Yungi bermaksud pamit. 


“Iya, silakan!” sahut sang lelaki itu.


Yungi berjalan melewati lelaki itu, tetapi baru beberapa langkah ia dipanggil lagi oleh sang lelaki itu.


“Maaf, sebentar! Boleh saya tanya Anda?” Lelaki itu berbicara dengan suara yang cukup keras.


“Iya, tentu saja,” ujar Yungi setelah ia berbalik dan sang lelaki berjalan menuju kepadanya.


“Kalau Anda bukan orang tua dari anak-anak sekolah. Anda pihak panti?” tanya lelaki itu lagi.


Yungi sebenarnya cukup kesal di hatinya. Dia tidak sabar karena khawatir si Kembar merengek ke Yuna dan Yuna pasti akan kewalahan menghadapi mereka bertiga.


“Anda mencari siapa sebenarnya?” Yungi langsung potong kompas. Pertanyaan yang bertele-tele tidak membantunya saat itu. 


“Mina Alara Kanigoro. Pemilik toko ini,” ujar sang lelaki dengan sopan. 


“Oh!” Yungi agak kaget sebab sang lelaki ternyata mencari istrinya.


“Ada kepentingan apa ya?” Yungi bertanya serius.


“Anda siapa?” lelaki itu balik bertanya.


“Saya suaminya,” ujar Yungi dan langsung menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.


“Oh.” Sang lelaki tampak kaget, tapi itu hanya sebentar. Ia baru saja akan menyambut uluran tangan Yungi tapi teralihkan karena Yuna berteriak minta tolong.


“Papah tolongin Yuna. Jay, Justin, dan Jun nangis berebut celemek!” kepala Yuna muncul dari balik pintu.


“Ah maaf, permisi!” Yungi dengan cepat berlari menuju Yuna, meninggalkan sang lelaki yang masih berdiri di sana dengan wajah yang terlihat bingung. 


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2