
Yungi membuka kamar tetapi tidak mendapati Mina ada di sana. Ia menutup kembali pintu kamar kemudian berjalan ke kamar lainnya yang terletak di pojok. Di sana semua anaknya tidur sementara kedua Mbak yang membantu mereka tidur tepat di sebelah kamar mereka. Ada pintu penghubung yang memudahkan mereka untuk melihat anak-anak itu jika perlu bantuan.
Ia baru saja berjalan setengahnya ketika melihat Mina tengah berada di balkon dengan Hp di telinganya. Yungi berbelok ke sana dan membuka pintu balkon perlahan. Pintu yang bersuara membuat Mina menoleh dan ia tersenyum.
“Telfon siapa?” tanya Yungi.
“Mama,” jawab Mina.
“Ada apa?” tanya Yungi lagi.
“Papa kurang sehat. Jadi, Mama minta kalau kita pulang, aku ke rumah mereka sebentar,” ujar Mina.
“Tentu saja.” Yungi menganggukkan kepala.
“Mau jalan ga?” tanya Yungi.
“Ke mana? Dah malem ini!” Mina melirik ke arah jam tangannya.
“Di Bandung iya malem, Sydney mah baru melek,” kata Yungi. Mereka berdiri bersebelahan di balkon melihat pemandangan Kota Sydney kala malam.
“Kalau mau, aku ajak kamu ke bar tempat aku nongkrong. Enak Martininya,” ucap Yungi.
“Ga ah! Makasih. Aku pass deh!” Mina dengan santai menjawab. Yungi tertawa. Ia sudah bisa menduga jawaban Mina.
“Terus mau ngapain dong?” Yungi tersenyum melihat ke arah Mina.
“Mesum kamu!” Mina memukul dada Yungi sambil mengerling dan berjalan memasuki ruangan. Sepertinya ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan suaminya itu.
“Eh, mau ke mana?” tanya Yungi sambil menarik lengan Mina.
“Liat anak-anak!” sahut Mina.
“Bareng dong!” Yungi merangkul bahu Mina dan mereka berjalan bersama menuju kamar anak-anak.
Mereka memasuki kamar anak-anak dengan perlahan dan mengamati anak-anaknya yang sudah tidur. Mereka memasang selimut dan membetulkan posisi tidur mereka.
“Makin lama kok si Kembar makin mirip kamu sih! Kayak ada tiga Yungi?” bisik Mina. Mereka berdiri di depan ranjang yang isinya si Kembar tengah tidur pulas. Yungi tersenyum dan menganggukkan kepala. Ekspresi yang tergambar di wajahnya adalah rasa bangga.
“Kalau mau yang mirip kamu, kita coba bikin aja lagi,” goda Yungi sambil menaik-turunkan alisnya.
“Itu ide yang buruk!” Mina mengerling sambil menggelengkan kepala.
Yungi menahan tawanya mengingat mereka masih di dalam kamar anak-anaknya dan menyadari bahwa mereka tengah tertidur pulas. Mereka keluar kamar dan berjalan menuju ke kamarnya.
***
Sudah hampir enam bulan mereka kembali dari Australia dan selama itu pula mereka tidak mendapatkan gangguan dari Influencer yang kelewat percaya diri itu. Mereka sangat bersyukur karena akhirnya ia menyerah begitu saja. Setidaknya itu pikiran mereka.
__ADS_1
Di suatu sore yang tenang, Mina berjalan menuju tempat parkir di tokonya. Ia hendak pulang setelah seperti biasanya melakukan pemeriksaan dan pengawasan yang memang ia lakukan tiga kali dalam seminggu. Yungi tidak menemaninya karena hari itu dia harus pergi ke Jakarta menemui seorang klien. Rencananya Yungi akan pulang pada malam harinya.
Mina menaiki mobilnya. Baru saja ia akan menyalakan mesinnya ketika tetiba Hpnya berdering.
“Iya, Nak.” Mina memulai percakapan. Itu panggilan dari Yuna.
“Ibu, kalau pulang boleh beliin pizza buat kami? Kami mau pizza untuk makan malam,” sahut Yuna.
“Iya, oke, Sayang,” jawab Mina.
“Itu aja? Kak Zen dan Juna gimana?” tanya Mina.
“Iya, itu aja. Mereka juga mau pizza buat makan malam,” jawab Yuna.
“Oh, gitu. Oke deh!” jawab Mina sambil tersenyum.
“Makasih, Bu,” ucap Yuna. Dari nadanya ia terdengar bahagia.
“Iya, sama-sama. Ya udah ya, Ibu baru mau jalan pulang. Bye, Sayang!” Mina menutup telfonnya.
Baru saja ia menyimpan Hpnya, notifikasi panggilan dari HP bunyi lagi. Kali ini dari Yungi.
“Iya, Yun, kenapa?” Mina membuka percakapan.
“Aku baru mau jalan ya, Say,” lapor Yungi.
“Oke. Makan malam bareng?” tanya Mina.
“Iya, deh!” ujar Mina.
“Sampai jumpa, ya!” ujar Yungi.
“Iya, Babe,” jawab Mina.
“Love you!” ucap Yungi menutup percakapan.
“Hmmm,” jawab Mina dan ia kemudian menekan tombol merah di HP menghentikan percakapan.
Mina membetulkan posisi duduknya lalu memasang sabuk pengaman. Setelah menyalakan mesin, ia melajukan mobilnya ke jalan raya.
Brug!
Dia menabrak sesuatu di belokan. Mina kaget dan seketika ia menghentikan mobilnya. Ia turun dari mobil untuk mencari tahu apa yang sudah ia tabrak. Namun, ia tidak mendapati apa-apa baik di kolong mobilnya atau pun di sekitarnya yang mungkin saja benda atau apa saja yang tertabrak barusan terpental akibat benturan. Merasa tidak mendapatkan hasil dan berpikir bahwa mungkin tidak terjadi apa-apa, dia kembali ke mobilnya. Baru saja ia membuka pintu mobil, tetiba seseorang dari belakang menyekapnya dan membekap mulutnya dengan menggunakan kain yang jelas sudah dibubuhi obat bius sebab saat Mina menghirupnya, ia langsung pingsan. Dua lelaki di belakangnya mengamati keadaan di sekitar. Sementara itu, orang yang membekapnya menggendong Mina dan membawanya ke dalam sebuah mobil yang ternyata sejak tadi sudah parkir di dekat belokan. Dua orang yang tadi mengamati membawa mobil Mina mengikuti mobil yang membawa Mina di depannya.
Sudah pukul delapan malam. Zen, Juna, dan Yuna tak berhenti mondar-mandir di ruang depan dan halaman rumah. Mereka khawatir akan ibu mereka yang seharusnya sejak tadi pulang. Bayangan ibunya membawa dua kantong pizza besar buyar sudah saat waktu yang seharusnya dia sudah pulang terlewat beberapa jam sebelumnya.
Awalnya, mereka berpikir ibunya terlambat karena jalan yang macet, tapi setelah hampir dua jam ibunya tidak pulang, mereka mulai panik. Bukan kebiasaan Mina tidak mengabari bahkan ketika ia telambat beberapa menit saja. Apalagi saat mereka menelfon secara bergantian dan mamanya tidak mengangkat, kekhawatiran mereka semakin menjadi. Suasana diperpanik dengan si Kembar yang tetiba rewel. Mereka menangis tanpa alasan dan seolah mengetahui bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk kepada ibu mereka.
__ADS_1
Usaha ketiga anak pintar itu tidak berhenti di sana. Mereka menelfon semua kerabat keluarga setelah sebelumnya mengabari Yungi tentunya. Yungi yang diberitahu juga tak kalah paniknya. Ia berusaha menelfon Mina tapi hasilnya nihil. Ia menyetir seperti orang gila. Perasaannya campur aduk. Setibanya di rumah, orang tua Mina sudah ada di sana.
“Papa!” Ketiga anaknya langsung berlari memeluknya sambil menangis sesenggukan.
“Ibu ga ada! Ibu ga ada!” Zen, Juna, dan Yuna berkata di sela-sela tangisannya.
“Iya, papa paham. Sabar ya!” ucap Yungi. Dia juga sama paniknya dengan ketiga anaknya. Tapi, dia orang dewasa yang diandalkan oleh ketiga anaknya. Setidaknya, ia harus bisa lebih tenang.
“Lapor polisi, Yun!” ujar papanya.
“Udah, Pah! Tadi Yungi langsung ke kantor polisi dan mereka sedang menyelidiki. Untugnya mereka langsung menanggapi, biasanya harus 1X24 jam baru akan direspons. Ini Yungi balik dulu bentar. Mau cek anak-anak, Pah!” jelas Yungi. Jelas nadanya sedih dan cemas.
“Syukurlah! Anak-anak sama Mama aja. Kamu sama Papa balik aja lagi ke sana, gih!” Mama Mina langsung menyela.
“Iya, Mah. Makasih,” ucap Yungi.
“Si kembar baru saja tidur,” jawab Sesil yang berjalan dari kamar mereka.
“Makasih, Sil,” ujar Yungi.
“Papah balik lagi ya! Kalian di sini berdoa ya! Semoga Ibu baik-baik aja,” ujar Yungi sambil memeluk lagi ketiga anaknya.
“Iya, Pah.” Jawaban dari anak-anaknya terdengar tak kalah sedihnya.
Mereka kembali ke kantor polisi dan setibanya di sana, mereka mendapat kabar yang sangat megecewakan, bahwa sampai saat itu belum mendapatkan hasil apa-apa. Mereka sudah melakukan investigasi terkait informasi lakalantas yang bisa saja melibatkan Mina. Namun, dari semua pemeriksaan, tidak ada satu pun lakalantas yang melibatkan orang yang dicari. Hasil pendeteksian nomor mobil dan ciri-ciri korban sama sekali tidak cocok.
Mereka sedang menyusuri jalan yang kemungkinan besar dilalui Mina saat pulang melalui CCTV dan mendapatkan hasil bahwa mobil Mina sampai pada jangkauan beberapa CCTV saja. Mereka mencurigai bahwa Mina diculik dan mereka dengan cepat pergi ke TKP. Yungi dan ayah Mina juga ikut ke sana. Hasilnya, sekali lagi mengecewakan. Tidak ditemukan jejak apa-apa di sana. Pun, jika ada, mereka terlambat ke sana karena kemungkinan besar apa saja yang bisa berpotensi untuk dijadikan bukti mungkin sudah hilang atau bercampur dengan yang lain sehingga tidak valid untuk dijadikan alat informasi.
“Apa istri Anda punya musuh? Mungkin saingan bisnis atau siapa saja yang mungkin menaruh dendam kepadanya?” Polisi memulai lagi pemeriksaan setelah hampir seminggu investigasi lapangan tidak membuahkan hasil.
“Saya sudah bilang tidak ada. Kalau saya mencurigai siapa dalangnya, Leo Sudarsono adalah orang yang terbersit di pikiran saya. Saya sudah pernah melaporkan dan bilang kepada Anda lebih dari seratus kali. Kenapa Anda tidak interogasi dia saja,” nada Yungi penuh dengan kemarahan dan kekecewaan.
“Sudah saya bilang, kurang bukti! Kami tidak mungkin menggeledah rumah seseorang tanpa alasan! Anda harus paham prosedur hukum! Sikap Anda yang tetiba mendatanginya beberapa hari yang lalu akan memunculkan masalah baru. Saya sangat berharap Anda bisa kooperatif dengan kami. Salah-salah Anda yang akan dituntut oleh Saudara Leo Sudarsono. Anda harus mematuhi aturan hukum,” sang polisi dengan geram menjawab. Mereka juga lelah dan tidak abai dengan kasus ini.
Anggota Circle 7 datang menemani Yungi. Jay yang lebih tahu mengenai hukum selalu menemani Yungi bolak-balik ke kantor polisi.
“Harusnya aku ga lengah kayak gini! Kami baru aja komunikasi dan tiba-tiba dia hilang!” Yungi menangis. Dia menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya.
“Tidak ada yang tahu soal masa depan. Kamu harus bertahan, Yun! Kami akan membantumu. Kau punya kami,” ujar Jay sambil mengelus punggung Yungi pelan.
Yungi tidak merespons.
“Bagaimana kalau kita sewa saja detektif swasta. Maksudku, itu jauh lebih cepat,” bisik Jun dan melihat ke arah Jay.
“Apa?” Yungi mengangkat kepalanya.
“Ayo, kita bicara di luar,” bisik Justin.
__ADS_1
Semuanya mengangguk dan berjalan keluar kantor polisi.
Bersambung