Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 62 Main peran


__ADS_3

Pesanan datang. Mereka mulai menyantap makanan. Beberapa kali Jessica melayani Yungi menghidangkan makanan untuknya seolah menunjukkan bahwa sekarang dia lah perempuan yang bersamanya.


Mina santai saja. Dalam hal seperti itu, ia memang paling ahli menyembunyikan perasaannya.


Cemburu?


Iya jelas!


Tapi dia tak akan pernah menunjukkannya karena dia cukup tahu diri. Yungi bukan lagi miliknya. 


“Yungi tidak suka itu!” ujar Jay menunjuk pada makanan yang Jessica ambil dan simpan di piring Yungi. 


“Oh!” Jessica kaget. 


Yungi juga kaget. Sebenarnya di dalam hatinya, ia sangat berharap Mina yang mengatakan itu, tapi malah Jay yang memberikan informasi itu kepada Jessica.


Mina mengetahui itu dan mengamati pemandangan itu dari sudut matanya, tetapi ia memilih tidak  memberikan reaksi apa-apa. Dia menikmati makanannya.  


“Yungi alergi makanan itu. Mungkin ini bisa jadi awal yang baik. Kau jadi tahu makanan yang Yungi suka dan tidak,” jelas Jun dengan nada yang bijaksana. 


“Iya, kau benar.” Jessica tersenyum. 


“Maaf, ya!” ujar Jessica merasa tidak enak dan menatap Yungi.


“Tidak apa-apa,” sahut Yungi sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya. 


“Nih!” Mina memberikan pisin kecil kepada Jessica.


“Kau bisa pindahkan ke sini makanannya,” ujar Mina sambil masih menyodorkan pisin itu.


“Ah, oh!” Jessica dengan cepat menerima pisin itu dan mengambil makanan itu dengan sendoknya.


“Jangan pakai sendok itu!” Yungi meninggikan nadanya.


Dia menghentikan makannya. 


“Yungi!” Mina melotot ke arahnya. Ia juga meninggikan nadanya. Itu karena Yungi membuat Jessica ketakutan. Wajahnya terlihat stres dab Mina menjadi merasa bersalah. Bagaimana pun Yungi salah satu temannya yang memperlakukan wanita dengan kurang baik. Jadi, ia merasa punya kewajiban untuk mengingatkan.


Seketika suasana di meja makan menjadi tegang. 


“Tsk!” Yungi melempar serbet ke atas meja. Dia lalu berdiri dan berjalan ke arah toilet. 

__ADS_1


“Yungi tidak suka sendok bekas orang menyentuh piringnya. Maafkan dia ya!” Kali ini Vee yang berbicara. 


“Oh!” Jessica terlihat lemas. 


“Kau bisa menyusulnya dan bawa tisu. Tadi sepertinya kemejanya terkena sedikit saus dari makanan yang kau mau ambil tadi,” ujar Mina sambil menyodorkan tisunya. 


“Oh! Baiklah!” Jessica merasa dia benar-benar asing di antara semua teman-teman Yungi. Dia menerima tisu dari Mina lalu berdiri dan berjalan menuju toilet. 


Baru saja ia berjalan beberapa langkah, Yungi sudah kembali dari toilet dengan beberapa bagian bajunya yang agak basah. Sepertinya Yungi sengaja membersihkan noda saus yang menempel secara tidak sengaja sebelumnya. Ia tidak sadar Jessica berjalan menuju ke arahnya karena pandangan matanya tertuju pada Mina yang tengah menikmati makanannya. Bahkan ia tidak mendengar ketika Jessica memanggilnya beberapa kali. 


“Noda bajunya tidak mau hilang,” ujar Yungi sambil menunjukkan kepada Mina.


“Hah?” Mina mendongak dan menatap Yungi heran. 


Semuanya ikut melihat dan bertatapan satu sama lain. Lalu mereka mengembangkan senyum dan kembali menikmati makanan mereka dengan santai. Reaksi Yungi yang secara spontan meminta tolong kepada Mina untuk membersihkan adalah bagian dari episode pertemanan mereka. Itu sudah sering terjadi bahkan jauh sebelum Mina dan Yungi menikah. 


“Itu Jessica nyamperin kamu,” jawab Mina kesal.


Suasananya langsung berubah seperti mereka sering ngumpul dulu ketika mereka masih muda dan nongkrong bersama dan Yungi paling sering mengerjai Mina. 


“Kamu yang bersihin,” jawab Yungi sambil melepas kemejanya dan melemparkannya ke arah Mina. 


“Tsk!” Mina berdecak kesal. Dia mengerling sambil mengambil kemeja yang tepat berada di kepalanya. Dia berdiri dan berjalan menuju Yungi.


“Sini kamu! Nih liat baik-baik cara aku ngebersihin!” Ujar Mina sambil menggusur Yungi melalui jeweran telinganya ke tempat wastafel. 


“Aw! Aduh, Min, aduh ampun! Sakit tau!” Yungi meringis. 


Semua anak-anak juga melihat adegan itu dan mereka hanya senyum-senyum. Hanya Jessica yang terlihat sedih.


“Itu kebiasaan mereka dulu!” ujar Vee mendekati Jessica.


“Ah, oh iya!” jawab Jessica menyembunyikan rasa kesalnya. 


“Yungi selalu merepotkan Mina,” komentar Jini dan berdiri di sebelah Vee. 


“Jangan kaget kalau ke depannya akan seperti ini terus. Kami sudah berteman selama lebiih dari 30 tahun sekarang dan kami tidak punya rencana untuk berpisah. Siapa pun orang baru yang datang pada circle kami, istri Yungi atau suami Mina kami menerimanya dengan senang hati, tetapi ada banyak hal yang mungkin mereka akan merasa aneh tentang kami, khususnya tentang hubungan Mina dan Yungi. Jadi, kau tak perlu merasa cemburu kepada hubungan mereka.” Jini menjelaskan panjang lebar. 


“Tapi mereka terlihat mesra,” ujar Jessica sambil menatap Yungi dan Mina yang tengah berinteraksi di wastafel. 


“Wah! Kau salah! Bagaimana omelan Mina bisa kau anggap mesra? Apa kau tak dengar yang dikatakan Mina kepada Yungi,” ujar Vee. 

__ADS_1


“Tapi, lihatlah Yungi! Dia seperti menyukai omelan itu. Oh bukan menyukai, kurasa kata yang tepat adalah menikmati.” Jessica menatap interaksi mereka. 


“Kalau kau sudah tahu bahwa Yungi hanya mencintai Mina dan memanfaatkan dirimu, bukankah kau seharusnya mundur!” nada Vee tetiba berubah serius dan terdengar mengintimidasi. Senyum dan sikap tubuhnya juga cukup dominan seolah menunjukkan ‘You know who the queen is so **** off’. Ia menepuk bahu Jessica lembut lalu menatap Jessica dengan kedua alis terangkat. Dari kedua teman perempuan Mina, Vee memang paling tegas dan Jini paling bijaksana. 


Jessica menganga. 


“Sudah bersih! Lihat! Nah sekarang kau bawa baju ini ke bawah mesin pengering tangan seperti ini lalu keringkan seperti ini! Kau lihat kan, hmmmm?” Mina melotot dan bicara dengan nada kesal. Ia mengerling. 


Yungi hanya mesem-mesem. 


“Nyengir!!!!” Mina kesal sambil berdecak kesal. 


“Pah, pake sweater aku nih! Nanti masuk angin loh!” Zen mendekati mereka dan menyodorkan sweaternya.


“Oh, makasih, Zen,” ujar Yungi sambil menepuk punggungnya pelan. 


“Sama-sama, Pah,” ujar Zen. 


“Bu!” Zen bicara dengan nada manja. Ia memeluk ibunya dari belakang.


“Apa ini? Kamu pasti ada maunya kalau kayak gini,” ujar Mina sambil menoleh ke arah Zen.


Yungi melihat interaksi mereka berdua. Lucunya ia sekilas melihat Awan pada wajah Zen sehingga alih-alih melihat Zen yang memeluk Mina, dia malah melihat Awan yang melakukannya. 


“Bu, Ian ngajak aku jalan. Boleh ga? Aku, Juna, Ian, dan Mimi.” Zen meminta izin dengan nada manja. 


“Ke mana?” tanya Yungi.


“Deket Pah. Ada kafe asyik katanya. Ian mau ngenalin sama kita. Boleh ya Bu!” Tatapan Zen memohon.


“Boleh kan Bu?” Juna juga ikut marajuk. 


“Ini bujang dua. Duh!” Mina menggelengkan kepalanya.


“Pah, boleh ga?” Juna dan Zen melihat ke arah Papanya. 


Yungi menelan ludah. Tetiba dia teringat kembali pada kenangan dulu saat mereka bersama dan jauh di dalam hatinya dia merindukannya. 


Sebenarnya, saat ia pergi ke kamar kecil, ia menenangkan dirinya. Perasaannya campur aduk. Orang yang ia masih cintai tepat duduk di depannya mengacuhkannya seolah-olah dia tidak pernah hadir di dalam kehidupannya. Dia hanya berpikir bahwa satu-satunya cara mencari perhatiannya adalah menjadi orang yang menyebalkan seperti dulu.


Oleh karena itu, saat dia kembali dari kamar kecil itu, dia bertingkah seperti itu. Dan umpannya dimakan. Mina kesal dan melakukan yang biasa ia lakukan kepada Yungi dulu. Yang lainnya yang memang menginginkan itu terjadi tinggal menikmati permainan. 

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2