
Lots of Love and lots of *** adalah gambaran kehidupan Mina dan Yungi setelah mereka bersatu kembali selama beberapwa waktu. Mereka menikmati setiap detik kebahagiaan mereka sebab sekarang mereka menyadari satu hal. Kebahagiaan mereka dapat direnggut kapan saja dan mereka khawatir kecolongan. Jika mereka tidak mengekspresikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan, mereka khawatir tiba-tiba mereka tidak bisa melakukannya lagi.
Mereka benar. Dunia berpasangan. Kadang senang kadang susah. Setelah menanjak lalu menurun. Inilah yang dialami oleh pasangan itu. Tepat ketika Juna dan Zen lulus SMA dan Yuna kelas dua SMP, Yungi mendapati sebuah kiriman berupa sebuah kotak ke kantornya yang di dalamnya berisi foto-foto yang pernah dibuka oleh Juna dan yang lainnya saat mereka berbicara dengan Mina pada suatu malam beberapa tahun lalu. Yungi kaget dan marah. Ia tidak berlama-lama di sana. Dia pulang dan melempar semua foto itu di atas meja makan.
“Ini apa maksudnya?” Yungi menatap Mina dengan marah. Tangannya menunjuk pada foto-foto itu.
Mina melongo. Wajahnya langsung memucat. Ia diam sejenak dan melihat ke arah Yungi dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kuberikan kamu kesempatan untuk menjelaskan! Ayo jelaskan padaku. Jangan sisakan apa pun atau aku akan mengambil keputusan sendiri,” ujar Yungi menaikkan suaranya.
“Ada apa, Bu, Pah?” Zen dan Juna langsung keluar dari kamar. Dan mereka langsung paham saat mereka melihat foto-foto yang berserakan di atas meja.
“Bu!” Juna dan Zen menatap Mina.
“Kalian masuklah, Jaga adik-adik kalian. Ibu dan papah perlu waktu untuk bicara.” Mina menatap Zen dan Juna bergantian. Mereka mengangguk dan cengan cepat masuk ke kamar adik-adiknya lalu mengunci pintu.
“Ada apa, Kak?” si Kembar menatap kedua kakaknya.
“Diam di sini ya!” ujar Zen. Dia lalu keluar menyusul Yuna dan membawanya ke kamar. Mereka berkumpul di kamar si Kembar.
“Siapa yang mulai?” tanya Yungi. Itu setelah Mina menjelaskan semuanya.
Mereka duduk berhadapan di meja makan.
“Mulai apa?” Mina tidak mengerti.
“Kamu ngajak Jay minum?” Yungi memperjelas pertanyaannya.
“Ah,” ujar Mina langsung paham.
“Aku minum sendirian dan petugas klub menelfomu, lalu menelfonnya,” ucap Mina. Ia menundukkan kepalanya.
“Dia tidak di Singapura?” Yungi mengernyitkan alisnya.
“Dia sedang bekerja mengurus kasusmu,” sahut Mina lagi.
“Hah!” Yungi tersenyum sinis. Dia diam sejenak. Wajahnya marah dan menatap Mina dengan tatapan yang kecewa.
__ADS_1
“Jay, melihatmu telanjang?” Yungi bertanya lebih pelan.
Mina menganga. Dia tak menyangka Yungi sedetail itu.
“Kenapa bertanya seperti itu?” Ekspresi di wajah Mina kecewa.
“Jawab pertanyaanku!” Nada Yungi marah.
Mina menatap Yungi dengan ekspresi seolah ia tak percaya bahwa Yungi akan mengatakan hal itu.
“Dia melihatnya!” jawab Mina.
“Anj*ng!!!! Yungi menggebrak meja dan itu membuat Mina ketakutan.
“Jawab sekali lagi! Kamu beneran ga melakukannya dengan dia, bukan?” Yungi mencondongkan tubuhnya menatap Mina lebih dekat.
“Tidak, aku tidak melakukannya dengan dia, Yun. Sama sekali tidak,” jawab Mina dan ia menatap Yungi dengan berani sebab yang dikatakannya adalah kebenaran.
“Tapi kalian di atas ranjang bersama dan Jay ada di atasmu, kan?” Nada Yungi masih tinggi.
Mina diam. Bagaimanapun ia menjelaskan, hasilnya sama. Yungi kecewa dan tak bisa menerima.
“Yun! Kumohon, maafkan aku!” sekali lagi Mina berbicara dan berusaha mendekati tangan Yungi.
Yungi menepiskannya. Ia berjalan menuju kamar dan Mina dengan cepat mengikutinya.
“Yun! Tunggu! Yun! Tolong buka pintunya!” Mina menggedor pintu kamar yang Yungi kunci dari dalam. Yungi duduk di tepi ranjang. Pikirannya kacau. Bayangan Jay di atas Mina benar-benar membuatnya marah. Sementara itu, Mina duduk di kursi di ruang tengah dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya menahan suara tangisan.
Keesokan harinya, Yungi keluar dari kamar dengan kopor besar di tangannya. Mina yang sejak tadi mendengar suara pintu dibuka langsung berlari mendekati dan mendapati Yungi siap pergi.
“Mau ke mana, Yun?” Mina kaget.
“Aku tak bisa melihatmu saat ini!” Yungi melangkah melewati Mina.
“Yun, tunggu dulu! Please, jangan kayak gini!” Mina memohon sambil menangis. Ia memegang lengan Yungi mencegahnya pergi, tapi Yungi menepiskannya dan mendorong Mina membuatnya terjatuh.
“Yun, please! Maafkan aku!” Mina dengan cepat bangkit dan memeluk satu kaki Yungi sambil menangis.
__ADS_1
“Aku mau menenagkan diri dulu! Jangan hubungi aku. Kalau sudah tenang, kita bicara,” ucap Yungi. Dia meminta Mina melepaskan kakinya dan Mina hanya menangis dalam kepasrahan.
Setelah hampir seminggu, Yungi kembali ke rumah. Dia mengambil beberapa barang tapi dia tak mau berbicara dengan Mina. Mina sudah ribuan kali minta maaf lewat pesan suara, WA, email dan langsung juga. Namun, Yungi tak menggubrisnya. Ia pergi lagi. Saat Mina tahu Yungi terbang ke Australia, dan tinggal di rumah orang tuanya, Mina menyusulnya dan mengajaknya bicara. Yungi menolaknya. Hampir satu tahun mereka berpisah dan usaha Mina untuk meminta maaf tidak membuahkan hasil.
Lalu pada suatu pagi setelah hampir satu tahun setengah, Yungi akhirnya pulang ke rumah. Bukan kabar bahagia yang ia berikan, melainkan dokumen cerai yang harus Mina tanda tangan. Mina menolaknya. Ia tak mau melakukannya.
“Aku ga mau. Aku ga akan cerai,” ujar Mina.
“Aku tak bisa lagi hidup dengan kamu, Min. Bayangan menjijikan itu setiap kali aku melihatmu mengganggu hidupku. Apakah kau ingin membuatku menderita selamanya?” Yungi menatap Mina dingin.
Mina tak merespons.
“Aku mengorbankan hidupku di penjara untukmu karena aku mencintaimu.” Yungi berkata dan menatap Mina.
“Jadi sekarang giliranmu. Lepaskan aku kalau kau memang cinta sama aku,” sambungnya.
Mina menggelengkan kepalanya sambil mengusap air matanya.
“Kita bisa bicarakan semuanya. Kamu ga boleh ambil kesimpulan sendiri,” sahut Mina.
“Apalagi yang perlu dibicarakan ketika perasaanku sakit karenamu. Melihatmu saja membuatku terganggu. Jadi, tanda tangani saja. Aku akan mengatur hak pembagian anak. Aku sudah meminta Jay untuk menjadi pengacaramu. Kau senang bukan? Dia ada di sisimu saat kau sedih, hmm?” nada Yungi menyindir.
“Apa kau bilang?” Mina melotot.
“Hei, jangan begitu! Aku tidak percaya kalau kalian tidak melakukan apa-apa malam itu!” Kata-kata Yungi menyakiti Mina.
“Yuna dan Juna akan ikut denganku. Si Kembar akan bersamamu sampai mereka selesai SMA. Setelah itu, biarkan mereka memutuskan akan tinggal dengan siapa.” Setelah itu Yungi benar-benar tak pernah kembali. Semua urusan perceraian, anak-anak, dan harta diurus oleh pengacara masing-masing.
Jangan harap ada pembicaraan lagi di antara Jay dan Yungi. Mereka seperti orang yang tidak saling kenal. Keadaan menjadi lebih buruk saat Yungi mengundurkan diri dari perusahaan yang mereka dirikan. Awalnya Yungi akan memutuskan semua hubungan, tapi Jun melarangnya. Jadi, mereka masih berkumpul dalam satu grup chat meskipun sekarang grup itu hampir tidak pernah aktif lagi.
Jay sudah berusaha juga menjelaskan kepada Yungi bahkan orang tuanya. Namun, Yungi menolak semuanya.
“Bukankah kamu terlalu egois dengan melakukan hal seperti ini? Mina benar-benar cinta kamu? Bahkan kami tidak melakukannya. Jangan sampai kamu nyesel, Yun!”
Itu perkataan Jay sebelum ia pamit pulang dari rumah Yungi.
Yungi diam. Otaknya tak bisa berpikir jernih. Yang jelas, saat itu hatinya dipenuhi dengan rasa kesal yang amat sangat ketika ia berpikir istrinya dan temannya main api di tengah penderitaan dia di penjara.
__ADS_1
Bersambung