
"Halo,” sapa Jun saat Juna membuka pintu.
“Om!” Juna kaget. Dia menganga di ambang pintu. Calon mertuanya ada di depannya dengan calon mertua Yuna alias Justin.
Jun dan Justin berdiri di depan pintu rumah neneknya. Mereka terbang ke Australia setelah mendengar kabar bahwa Yungi menerima permintaan ibunya, bertunangan dengan seorang perempuan bernama Jessica. Dia anak kolega orang tuanya dan juga dikenal memiliki kepribadian yang baik. Dengan paras yang cantik, gaya yang elegan dan leluhur yang kaya, tidak ada seorang pria pun seharusnya menolak perempuan seperti dia. Plus, dia tidak menolak Yungi meskipun Yungi sudah menikah dua kali.
Mereka sudah dipertemukan dan sudah beberapa kali kencan. Semua anak tentu saja sangat khawatir karena mereka tidak mau punya ibu baru. Mereka hanya ingin Mina menjadi ibu mereka. Mina juga sudah mengetahui tentang itu. Dia sudah pula berbicara kepada anak-anak agar mau menerima keputusan ayahnya dan bersikap baik kepada calon ibu baru mereka.
Meskipun begitu, Mina sendiri belum siap dan sebenarnya tidak mau melepaskan Yungi. Dia benar-benar terpukul saat mendengar berita itu. Namun, dia tidak lagi melampiaskan rasa sedih dan kecewanya itu pada minuman beralkohol mengingat kejadian sebelumnya pun menjadikan mereka berpisah. Dia lebih memilih untuk yoga dan bermeditasi dan mengalihkan perhatiannya pada banyak hal.
Dia juga mulai mengevaluasi diri. Pertama, dia menyadari bahwa ternyata tidak ada kebahagiaan yang abadi. Dulu dia begitu bahagia dengan Yungi. Bertahun-tahun berumah tangga, mereka hampir tidak pernah memiliki masalah yang serius dan siapa juga yang berharap ada, tetapi ternyata hanya karena kesalahan sepele, semuanya hancur.
Pada saat yang sama dia juga menyadari bahwa dia harus bersyukur bahwa dia pernah memiliki masa-masa itu dan bersama dengan orang yang dia cintai. Jadi, dia tidak menyesal walaupun pada akhirnya dia harus kembali sendiri.
Kedua, Mina kembali berpikir apa yang dia lakukan sebelum Yungi datang dalam kehidupannya dan setelah beberapa waktu ia melakukan itu, ia menemukan jawabannya. Kedua hal itu adalah anak-anak dan karirnya. Artinya, ketika dia selesai dengan Yungi, bukankah akan lebih baik jika dia menenggelamkan dirinya pada dua hal yang memang sebelumnya sudah menjadi bagian dari hidupnya? Yungi adalah elemen tambahan yang sebelumnya dia sendiri bahkan tidak yakin bahwa dulu Yungi dan dia akan menua bersama.
Mina tersenyum getir. Seharusnya dia tak perlu sesedih itu. Benar bahwa ia kehilangan orang yang dicintai dan bahkan orang yang ia cintai saja sudah bisa beralih. Artinya dia juga seharusnya mulai memikirkan tentang dirinya. Sudah waktunya dia bangkit kembali dan melanjutkan hidupnya. Tidak akan ada yang menyayangi dirinya sendiri kecuali dia sendiri dan tidak akan ada yang mengenali diri sendiri sebaik orang itu sendiri.
Orang tuanya pasti akan sedih kalau melihat dirinya seperti ini. Dia mungkin bukan istri yang baik, tapi dia masih punya pilihan, untuk menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya, untuk menjadi anak yang tidak membuat orang tuanya sedih, untuk menjadi bos bagi karyawan-karyawannya yang selalu butuh uluran tangannya dan menjadi teman yang bisa diandalkan untuk teman-temannya, termasuk untuk Yungi, yang notabene adalah temannya juga.
Begitulah! Sedikit demi sedikit Mina membangun kembali dirinya. Dia menghubungi semua anaknya lewat video call dan menjelaskan keinginannya. Tentu saja, anak-anaknya bahagia dan mendukung keinginan ibunya. Namun, di balik itu, kedua anak tertua langsung menghubungi Jun, Justin, dan Jay dan menjelaskan situasinya. Mereka tidak mau itu terjadi, khususnya mereka sudah membuat rencana untuk membuat Yungi dan Mina rujuk. Ini malah melenceng dan jauh pula. Yang satu menerima pertunangan dan yang lainnya dengan segera akan melanjutkan hidupnya.
Sebenarnya di antara dua orang itu, Yungi paling mudah untuk digoyahkan bahkan saat ia sudah mengambil keputusan. Jadi, mereka boleh dikatakan masih tenang saat mendengar bahwa Yungi akan menerima pertunangan karena kalau teman-temannya bisa dengan rajin ‘menyuntik’nya dengan alasan atau teori-teori, dan biasanya dia akan cepat berubah pikiran. Itu persis ketika dia ditinggalkan Soraya. Terlepas dari perasaan terpendamnya kepada Mina, dengan cepat dia mengatakan “yes” untuk menikahi Mina.
Namun, ini berbeda dengan Mina. Sekali dia menutup hatinya, akan sulit bagi siapa pun untuk membukakannya lagi. Lihatlah bagaimana orang tuanya memintanya untuk bersikap seperti Sesil dari sejak kecil! Dia tidak menurut karena dia sudah mengambil keputusan dan sekeras apa pun ibunya memintanya menurutinya, dia tidak pernah menentangnya tapi juga tidak pernah melakukannya.
Oleh karena itu, Jun dan Justin cukup khawatir soal ini. Kedatangan mereka ke Australia adalah dengan sengaja untuk mempengaruhi Yungi agar mau memaafkan Mina dan Jay dan Yungi kembali kepada Mina. Alih-alih menerima, Yugi malah bilang bahwa ia akan tetap pada keputusannya dan ia akan datang pada acara kumpul di Hawaii dengan membawa serta Jessica seolah ingin menunjukkan bahwa ia sudah benar-benar beralih dan melanjutkan hidupnya.
Jun dan Justin saling menatap. Sepertinya mereka tidak punya lagi cara untuk meyakinkan Yungi dan akhirnya mereka hanya bisa meminta maaf kepada anak-anak Mina dan Yungi yang menggantungkan harapan kepada mereka agar ibu dan ayahnya rujuk kembali. Keduanya pulang tanpa hasil.
***
Waktu terus berjalan. Rencana mereka untuk bertemu di Hawaii akhirnya terjadi juga. Mereka semua berkumpul termasuk Jessica dan anak-anak Yungi dan Mina. Dengan Yuna dan Juna, Jesicca sudah bertemu beberapa kali, tapi dengan Zen, dan si Kembar itu adalah yang pertama kalinya.
Tegang adalah kata yang dipikirkan oleh teman-teman Mina dan Yungi saat mereka membayangkan situasi Mina dan Yungi yang akan bertemu kembali setelah sekian lama mereka bercerai. Awalnya, Jun dan yang lainnya berpikir mungkin akan ada keributan atau pertengkaran baik itu yang terbuka maupun saling sindir di antara Mina dan Yungi atau Yungi dan Jay yang membuat situasi menjadi semakin tak nyaman, tetapi ternyata kejadiannya tidak separah yang dibayangkan.
Mina datang paling terakhir ke restoran. Mina tetaplah seorang Mina yang elegan, ramah dan santai, yang juga perhatian dan selalu peduli kepada orang. Perempuan yang jarang ditemukan karena kebiasaannya yang selalu berpikir secara terperinci dan mengemukakan sesuatu yang bahkan tak disangka oleh orang lain tetapi benar adanya. Meskipun begitu, pada saat yang sama ia menunjukkan juga aura misterius karena memang ia tidak pernah berbicara apa pun tentang masalah yang dianggapnya sangat pribadi dan bukan untuk konsumsi bahkan orang terdekatnya.
Ada yang berbeda dari penampilannya sekarang. Sepertinya seiring dengan kedewasaannya ia tak terlalu betah memanjangkan rambutnya. Buktinya rambutnya kini hanya sebahu dan dengan warna aslinya, hitam berkilau. Itu rambutnya ketika ia di masa SMP-SMA. Sebenarnya karena ukuran tubuhnya yang kecil dan pintarnya menjaga diri, Mina sama sekali tidak terlihat punya anak yang usianya sudah kuliah. Kadang-kadang sepintas, hampir kebanyakan orang berpikir bahwa dia masih berusia 20-an dan mata-mata yang melihat memang tidak pernah lelah untuk menyorotkan rasa kagum karena senyumnya yang manis.
“Jika melihat matanya, kalian pasti akan langsung jatuh cinta.” Itu yang Yungi pernah komentar soal Mina saat teman-teman kuliah Amerikanya dulu bertanya soal teman-teman circlenya dulu.
“Halo,” sapa Mina kepada Jessica setelah ia menyapa semua temannya kecuali Yungi dan Jessica.
__ADS_1
“Saya Mina, teman dan mantan istri Yungi,” ucap Mina sambil tersenyum ramah dan memberikan satu tangannya untuk bersalaman.
Jessica agak terkejut saat menatap Mina dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia sebenarnya berpikir bahwa Mina tidak secantik dan seanggun itu karena dia mengukur wajah Mina dengan melihat wajah Yuna dan Juna yang tentu saja lebih mirip dengan Erika daripada Mina.
“Oh, Jessica,” ujarnya sambil menyambut tangannya. Namun, berbeda dengan Mina yang ramah dan tenang, wajah Jessica terlihat kecewa dan bahkan mengekspresikan kesal seolah dia telah merasa kalah dari seseorang.
Mina tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Apa kabar, Yun?” Mina beralih pada Yungi yang sedang bercanda dengan anak-anak mereka. Dia tersenyum sambil menyodorkan juga tangannya mengajak bersalaman.
“Baik,” ucap Yungi sambil menerima tangannya dan dengan cepat melepaskannya lagi. Ekspresi di wajahnya agak dingin dan seolah menahan rasa marah.
“Syukurlah kalau kamu baik,” jawab Mina sambil tersenyum.
Ia sangat tahu ekspresi itu, tapi ia tak lagi peduli. Mina mengakui bahwa jauh di dalam hatinya, ia begitu bahagia melihat Yungi. Ia masih mencintai lelaki itu. Namun, ia juga harus tahu diri, Yungi sudah bukan punyanya lagi dan sampai kapan pun ia berharap pada lelaki itu, orang yang dia harapkan tidak akan melihatnya lagi.
“Halo, Bu!” ucap Yuna dan Juna sambil langsung memeluk ibunya tanpa menunggu ibunya menjawab sapaannya.
“Hei, halo, sayang-sayangnya Ibu.”
Mina menjawab dengan suara yang lirih dan sebenarnya menahan tangis bahagia sambil memeluk mereka. Momen itu terlihat sangat mengharukan sebab mereka memang sudah lama tidak berjumpa secara langsung. Mina mencium kepala dan hampir semua bagian wajah anak-anak itu secara bergiliran, tidak segan untuk mengekspresikan kerinduannya kepada kedua anaknya.
Mereka duduk bersama dalam sebuah meja. Hal yang sama dilakukan oleh anak-anak mereka yang juga berkumpul dalam meja mereka. Mina belum duduk. Dia masih dengan anak-anak, mengawasi mereka sampai selesai pesanan mereka datang. Jini membantunya dan Vee serta Jessica memastikan tentang pesanan anak-anak di dapur. Vee sengaja mengajaknya agar para lelaki bisa melakukan rencana yang sudah mereka sengaja susun untuk acara itu.
“Mina masih sama kayak dulu ya! Dulu kita yang diawasi, sekarang anak-anak kita,” ujar Jun. Sekilas dia menatap Yungi lalu dengan cepat beralih ke yang lain.
Yungi menatapnya lalu menatap Mina. Ia berulang kali melakukannya. Jun dan Justin tentu saja mengamatinya. Mereka saling menatap dan tersenyum. Setidaknya itu adalah bagian dari rencana awal mereka untuk mengetahui apakah Yungi sudah benar-benar melepaskan Mina.
“Kalian bersama?” Yungi menatap Jay dengan tajam.
“Maaf, kau bilang apa, Yun?” Jay berpura-pura kaget. Sejak tadi, ia menunggu Yungi menanyakan itu.
“Kalian bersama?” Yungi berkata dengan nada yang kesal.
“Aku dengan Mina maksudnya?” Jay sekali lagi memastikan. Itu pun tak luput dari skenario yang sudah direncanakan.
“Memangnya ada lagi selain dia yang kau sukai?” Yungi menatapnya. Wajahnya kesal.
Jun dan Justin saling menatap lagi kemudian menunduk untuk menyembunyikan senyum mereka.
“Belum. Aku belum bersamanya. Tapi aku akan serius mengejarnya sekarang,” jawab Jay dengan wajah yang serius.
Yungi tersentak kaget.
__ADS_1
“Itu kalau kau izinkan,” lanjut Jay sambil menatap Yungi.
“Itu bukan urusanku. Kau seharusnya bertanya kepada dia, bukan aku,” ujar Yungi. Matanya bergulir kepada Mina yang tengah tersenyum sambil berbicara dengan anak-anak.
Deg. Jantung Yungi berdebar kencang. Dia mengepalkan tangannya dan menahan perasaannya. Senyum itu selalu menghiasi setiap harinya dulu.
“Hei, aku menghargaimu sebagai teman dan mantan suaminya. Bukankah akan lebih baik jika aku jujur kepadamu,” ujar Jay dengan tenang. Semua jawaban Yungi sudah bisa dibaca dengan mudah. Jawaban-jawaban hasil dari emosi bukan pikiran tenang.
“Kalau kau menghargai aku, kau tak akan melakukan apa pun dengan istriku di belakangku,” gerutu Yungi kesal.
Jay langsung tersenyum. Yungi terlalu mudah dibaca. Jun dan Justin yang tak jauh dari sana masih memantau.
“Mantan istri,” ujar Jay sengaja memancing kemarahannya.
“Kau!” Yungi melotot.
“Pukul aku dan kembalilah pada Mina. Aku tak melakukan apa pun dengannya. Dia hanya cinta kamu,” nada Jay serius.
Yungi masih pada posisinya dan ia terlihat tidak nyaman.
Aura tegang menyelimuti mereka sebentar karena Jessica mendatangi meja mereka dan duduk.
“Sudah selesai. Giliran kita makan,” ujar Jessica dengan tenang.
Yungi memperbaiki posisi duduknya sekaligus dengan cepat menyembunyikan suasana hatinya.
“Terima kasih sudah membantu,” ujar Yungi berkata dengan lembut.
“Tidak apa-apa. Aku senang melakukannya,” ujar Jessica. Dia memegang tangan Yungi dan tersenyum manis.
Jay juga sama memperbaiki posisi duduknya karena Mina berjalan ke arahnya. Dia hampir berdiri agar Mina duduk di sebelah dalamnya sehingga posisinya Mina berhadapan dengan Jessica dan Jay dan Yungi sama-sama mendapati posisi ujung juga berhadapan.
“Jangan, Jay. Aku duduk di ujung saja. Harus bolak-balik ke sana,” ucap Mina sambil tersenyum dan menunjuk kursi anak-anak.
“Tapi,...” Jay menatap Yungi, Jessica, dan Mina.
“Kenapa?” Mina tersenyum.
“Tidak apa-apa. Silakan,” ucap Jay sambil membersihkan kursi yang akan diduduki Mina.
“Terima kasih,” ujar Mina sambil tersenyum.
Sekarang posisinya Mina dan Yungi duduk berhadapan dan di sebelah mereka, Jay dan Jessica duduk juga berhadapan.
__ADS_1
Giliran Vee dan Jini saling menatap lalu mereka menatap suaminya masing-masing. Semua tatapan itu mengandung makna dan mereka menyunggingkan senyuman.
Bersambung