Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 21 Tujuh Orang


__ADS_3

Mina berjalan ke arah ruang rapat di lantai tiga. Dia resmi menjadi salah satu perwakilan sekolahnya untuk menjadi model tahunan dalam kegiatan promosi sekolah. Ia memasuki ruang rapat setelah mengetuk dan dipersilakan masuk dan tak menyangka bahwa ada banyak siswa juga yang terpilih di sana, dan di antaranya sudah ia kenal, termasuk Vee, Justin, Gladys, dan Yungi. 


“Oh, MinMin, kamu juga kepilih!” Gladys terlihat bahagia dan langsung meminta Mina duduk di dekat dia. Padahal di sebelahnya ada Yungi. 


“Kita harus melakukan apa sih?” Mina berbisik ke Gladys sambil duduk di sebeah Gladys.  


“Ga tahu juga. Nanti dikasih arahan sama wakil kepala sekolah,” ujar Gladys lagi. 


Mina mengangguk. Dia mengamati seisi ruangan dan kemudian matanya beradu dengan mata Vee dan mereka saling melambaikan tangan karena tempat duduk mereka yang agak berjauhan sambil saling tersenyum. 


Tak lama kemudian pintu dibuka lagi dan seorang anak lelaki masuk ke dalam ruangan. 


“Jay!” Giliran Yungi yang berteriak sambil melambaikan tangan ke arah seorang anak lelaki yang berjalan memasuki ruangan tadi.


“Oh, Yun kamu di sini juga,” ujar lelaki yang namanya Jay. Dia mengamati seisi ruangan seolah mencari kursi yang kosong. 


“Di sini kosong kalau mau duduk,” sahut Mina dengan ramah sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Jay tertegun. Ia menatap Mina yang tengah tersenyum kepadanya. 


“Ah, i-iya. Boleh aku duduk di situ?” sahut Jay dengan suara yang pelan.


“Tentu saja, silakan.” Mina menjawab sambil tersenyum. 


Mereka duduk bersebelahan. Yungi hampir akan berbicara lagi dengan Jay jika wakil kepala sekolah tidak datang dengan beberapa orang yang ditunjuk sebagai EO untuk acara promosi sekolah. Dan dari mereka akhirnya Mina paham tugasnya. 

__ADS_1


Terdapat 30 siswa yang diseleksi oleh tim sekolah untuk dijadikan model promosi sekolah, tapi 30 orang itu mempunyai fungsi yang berbeda, sesuai dengan bidang masing-masing. Selain itu, dari 30 orang itu juga akan ada 7 orang yang dipilih sebagai model utama dalam promosi sekolah khususnya nanti akan dimuat dalam majalah sekolah. Nah, anggota geng Circle 7 itulah yang terpilih menjadi model utama. Semuanya terpilih karena mereka memiliki multitalenta. Jun, misalnya, dia bukan hanya kapten tim basket, melainkan juga juara olimpiade matematika tingkat internasional. Justin bukan hanya jago basket, melainkan juga nyanyi dan dance. Yang lain juga sama termasuk Yungi yang wajahnya sering sekali menghias cover-cover majalah remaja menjadi model basket atau model iklan apa saja. Mina dipilih karena ia salah satu atlet figur ice skating dan sering menjuarai lomba memasak, khususnya dalam bidang patiseri. Jini merupakan seorang novelis remaja dan ia juga atlet panahan yang satu klub dengan Jay. 


Begitulah! Karena mereka sering bersama dalam acara itu, mereka menjadi lebih dekat dan alhasil sering nongkrong bersama. Bahkan setelah acara promosi selesai, mereka masih sering kumpul sekadar makan siang atau jalan-jalan ke mal. Yang paling sering absen atau cuma setengah jalan ya si Playboy cap Kadal, Juragan Yungi. 


Tidak terasa mereka sudah menjalani kehidupan seperti itu sampai mereka di SMA dan begitulah mereka masuk di SMA yang sama, meskipun tidak satu kelas. Yungi, Jay, Justin, dan Vee satu kelas. Mina, Jini, dan Jun juga satu kelas. Semakin dewasa, mereka semakin mengakui kelebihan dan kekurangan masing-masing, termasuk hobi Yungi yang sering bawa gandengan tapi beda-beda orang hampir tiap tiga bulan sekali. Itu juga salah satu hal yang membuat dia dan Mina sering bertengkar karena Mina yang paling sering dijadikan sasaran mantan-mantan pacar Yungi yang saling berkelahi karena kelakukan si Yungi. 


“Eh si Wako ada di sini!” Komentar Yungi dengan santai saat Mina menjatuhkan tasnya terlalu kaget saat melihat Yungi dan entahlah siapa perempuan dari beda sekolah setengah bugil di basecamp mereka. Mereka saat itu mungkin hampir saja akan melakukan hal-hal yang biasa Yungi lakukan kepada para wanita di luar gang mereka. Wako itu panggilan Yungi untuk Mina yang merupakan singkatan untuk wanita kolot. Dan Mina hanya tersenyum saat Yungi memanggilnya dengan sebutan itu! 


Di lain waktu Mina tengah asyik mencari-cari buku di salah satu rak di perpustakaan sekolah saat ia mendengar suara lenguhan perempuan di ujung lorongnya. Waktu itu hari hampir gelap dan ia pikir ada hantu wanita di sana atau perempuan yang sedang menangis mungkin karena suatu alasan. Ia memastikan berjalan ke arah sana dan ia lagi-lagi harus memergoki Yungi yang tengah mantap-mantapan dengan Silvia, teman sekelasnya. 


Mina hanya menggelengkan kepalanya. Yungi jelas tahu bahwa Mina memergokinya toh ia sendiri menyimpan satu jari telunjuknya di bibirnya sambil mengedipkan satu matanya dan Mina hanya mengacungkan jari tengahnya lalu melengos pergi. 


Sebenarnya masih banyak lagi kejadian yang mirip-mirip seperti itu dan Mina tidak pernah peduli karena baginya itu urusan Yungi dan kehidupan pribadinya. Selama Yungi tidak menganggu Mina, itu cukup untuknya. Selain itu, Yungi juga temannya. Ada banyak kesempatan, Yungi juga sering membantu Mina. 


Yungi masuk ke dalam basecamp. Itu hari Sabtu dan seperti biasanya mereka akan berkumpul di basecamp pada setiap akhir Minggu. Dia mendapati hanya Mina tengah tidur di sofa sambil memeluk sebuah bantal dekorasi sofa. Ia melihat ke arah jam dinding dan sekarang ia paham kenapa ia datang mendahului yang lain. Biasanya ia datang paling akhir atau di tengah-tengah, tapi yang jelas tak pernah datang lebih awal. Jam dinding di kamarnya membodohinya dan ia berpikir  harus dengan segera mengganti baterainya. 


Dia manis juga. Pikir Yungi sambil tersenyum dan matanya berfokus pada foto Mina di dalam Hpnya. Entah kenapa, ia beranjak dari sofanya dan berjongkok di dekat wajah Mina bermaksud mengambil fotonya lagi dari jarak yang lebih dekat, tapi ia membatalkannya. Ia malah menatap wajah Mina dan tanpa sadar mendekatkan wajahnya mencium pipi Mina. 


“Brengsek kamu Yungi!” bisik Yungi kepada dirinya sendiri sambil menampar pipinya sendiri dan bunyi tamparan itu membuat Mina bangun. Ia kaget Yungi berada terlalu dekat dengannya. 


“Mau ngapain kamu, Yun?” Mina mendorong Yungi dan membuatnya jatuh terduduk. 


“Eh ngga kok! tadi ...itu ...ng. nyamuk!” Yungi berbicara ngawur. 

__ADS_1


“Oh, nyamuk!” Mina langsung percaya. Ia terlihat lega, kemudian ia duduk sambil masih mengumpulkan kesadarannya. 


“Mau minum ga?” tanya Yungi sambil dengan cepat berjalan ke arah kulkas. 


“Oh, dingin ya? Ga ah,” sahut Mina sambil masih mengucek mata dan merapikan dirinya. 


“Ya udah,” ujar Yungi. Dia berbalik memunggungi Mina, menyembunyikan naganya yang menggeliat bangun hanya karena dia mencium aroma tubuh Mina tak sengaja dan pipinya tadi. Tentu saja dia perlu minuman dingin untuk mendinginkan kepalanya yang mulai oleng. 


“Tumben datang lebih awal!” ujar Mina sambil merapikan rambutnya.


“Hah, iya, soalnya tadi aku ada perlu dulu, ternyata salah waktu,” ujar Yungi berbohong. 


“Oh!” sahut Mina. 


Tring. 


Bunyi pesan masuk di HP keduanya. Itu dari grup dan bilang bahwa teman-teman yang lainnya sudah langsung ke bioskop dan tidak menunggu di basecamp. 


“Mau ikut aku, Min? Aku bawa motor,” ujar Yungi. 


“Emang kamu sendirian? Biasanya kan bawa gandengan,” ujar Mina nyindir.


“Libur, Min!” jawaban Yungi seenak jidat. 

__ADS_1


“Ya udah deh, boleh! Lama juga tunggu grab!” sahut Mina dan mereka pergi bersama naik motor. 


Bersambung 


__ADS_2