
"Maaf aku terlambat,” ujar Mina sambil berlari menghampiri Yungi di parkiran sekolah.
“Iya, kok tumben terlambat?” Yungi yang sudah lumayan lama menunggu memang agak kesal dibuatnya.
“Tadi, aku ngobrol dulu sama Jay,” ujar Mina sambil memasukkan sesuatu ke dalam tasnya.
“Jay? Kenapa?” Yungi penasaran.
“Dia balikin misting dan undang aku ke pertandingan Kendonya dia,” sahut Mina.
“Oh, kok ga di grup?” Yungi cemburu dan itu tidak ada kaitannya dengan asmara. Ini persoalan teman lain dalam circle yang tidak diundang.
“Katanya sih udah dibilangin waktu di base camp dan juga udah dititip lewat Jun,” sahut Mina lagi santai.
“Terus kenapa yang kamu dikasiihin langsung?” tanya Yungi.
“Mana aku tahu, Yun. Tanya langsung Jay aja. Tapi, mungkin karena dia mau balikin mistingnya dia sama aku kali, jadi sekalian.” Mina menatap Yungi.
“Dia tahu kalau hari ini kita bakalan ketemu?” tanya Yungi lagi.
“Iya,” jawab Mina.
“Lah terus kenapa ga nitipin ke kamu undangan buat aku?” tanya Yungi lagi.
Mina mulai kesal. Itu tergambar dengan jelas di raut wajahnya.
“Kan udah dibilang undangan yang lainnya dititip di Jun? Ngerti ga sih?” Mina menyilangkan kedua tangannya di dada.
Yungi hanya mengembuskan napas panjang.
“Iya, tapi kan dia ketemu sama kamu dan dia tahu kalau kamu mau ketemu sama aku ya kenapa ga sekalian aja undangan yang punya aku dikasihin sama kamu, gitu?” Yungi masih ngeyel.
“Yungi!!! Itu undangan udah dititip duluan ke Jun sebelum Jay ketemu sama aku. Lagian emangnya kamu suka dateng gitu ke acara-acara pertandingan kita. Biasanya juga kamu ngabur mojokin anak orang, beuhhh!!!” Mina mendelik kesal.
“Eh! Jangan salah! Aku dateng. Meskipun aku ga sejejeran sama kalian karena ada hal lain yang harus aku lakukan, aku dateng kok!” Yungi bersikukuh.
“Oh yeeah???” Nada Mina ga percaya.
“Min, kamu jatuh di putaran kedua pas pertandingan ice skating lawan Shanum, kaki kamu sempet kram dan pelatih kamu ga ngizinin kamu masuk lagi ring, tapi kamu ngotot ikut terus kamu tetep jadi juara kedua dan waktu itu Vee ga bisa dateng karena mamanya ulang tahun kan? Aku tahu karena aku juga ada di sana cuma beda bangku aja sama teman circle. Terus yang kasih cokelat satu boks siapa itu? Aku titip lewat Sandrina tuh!” Yungi mencoba membuktikan.
Mina berpikir sejenak dan ia tak mengelak karena semua yang dikatakan Yungi memang benar.
“Oke deh! Kamu dateng!” Mina tak berbicara lagi.
Yungi langsung senyum merasakan kemenangannya.
“Jadi pergi ga? Udah mendung gini! Takut hujan nih?” ujar Mina.
“Iya, Oke. Ayo,” sahut Yungi sambil memberikan helm kepada Mina dan Mina menerimanya lalu memakainya.
“Pake helm itu yang bener Mina. Ini bukan hiasan kepala Mina.” Yungi menasihati saat Mina memakainya dengan asal.
“Kan deket ke mal situ aja!” Mina nyengir.
“Mau deket mau jauh, keselamatan nomor satu.” Yungi melanjutkan ceramah.
Mina hanya senyum.
Mereka berangkat menuju mal dan membeli keperluan yang sudah ditulis daftarnya.
“Mau makan dulu ga?” tanya Yungi setelah selesai belanja.
“Iya, laper.” Mina menjawab santai.
“Mau makan apa?” Yungi menghentikan langkahnya.
“Pizza kali ya!” Mina menjawab.
“Ya udah ayo!” Yungi melanjutkan perjalanan menuju tempat Pizza yang juga ada di dalam mal.
Mereka sedang duduk menunggu pesanan.
“Aku chat di grup kok ga ada yang nyahut sih?” Yungi menatap Hpnya.
“Chat apa?” Mina mengambil Hp dari dalam tasnya.
“Iya aku bilang kita lagi makan pizza di sini kan siapa tahu ada yang lagi deket atau mau gabung. Kan seru kalau makan bareng ya!” Yungi menyimpan Hpnya. Wajahnya kecewa.
“Jay ga bisa. Pasti latihan. Jini dan Vee masih latihan Cheerleading. Justin les piano, terus kalau Jun kan ada rapat Osis,” jawab Mina sambil menatap Yungi.
“Wah, kamu tahu jadwal mereka?” Yungi kaget.
“Kan, mereka bilang di grup kemarin malem. Ga dibaca?” tanya Mina.
“Kemarin malem kan aku istirahat disuruh istri aku. Tadi pagi aku buka tapi skip kirain ga penting,” ujar Yungi. Mina melotot dan ia menendang kaki Yungi, khususnya ketika Yungi mengatakan soal istri.
“Mina sakit tahu!” Yungi meringsi sambil mengusap-usap kakinya.
Mina santai dan tersenyum sambil menyedot habis minumannya.
Tak lama pesanan Pizza datang. Mereka menikmati sambil mengobrol ngalor ngidul.
Tring. Bunyi WA masuk ke Hp keduanya bersamaan. Mereka bertukar pesan lewat WA.
Kalian masih di tempat pizza?
Vee kirim pesan di grup.
Yap.
Mina menjawab.
Kami ke sana.
Jawab Vee.
Dan kami adalah???
Tanya Mina di chat.
__ADS_1
Aku sama Jini.
Vee menjawab.
Oke.
Mina menjawab.
Aku juga otw situ.
Jun nimbrung.
Aku juga.
Giliran Justin.
Sip.
Yungi menjawab.
Jay????
Yungi bertanya.
Hmm?
Jay menjawab.
Mau dateng ga?
Baru beres latihan. Aku skip kayaknya. Cape.
Jay menjawab.
Oke deh!
Yungi menjawab dan memberi emotikon sedih.
Hanya Mina yang melihat wajah Yungi sedih saat Jay bilang tidak ikut, artiya emotikon itu bukanlah basa-basi.
Mau dipesenin Pizza ga? dikirim deh ke rumah nyemangatin yang mau tanding.
Yungi tanya Jay.
Ga usah. Aku lagi diet buat pertandingan.
Jay jawab
Oke deh! Gudlak buat pertandingannya ya!
Yungi menjawab.
Thank You.
Jay menjawab.
Wooooy! Undangan pertandingan Jay ada di aku ya!
Jun nimbrung.
Sip.
Thanks, Jay.
Semuanya kirim pesan sama.
Sip.
Jay jawab.
Chat berhenti di sana. Mina dan Yungi kembali pada kesibukannya di Hp sampai akhirnya teman-teman mereka datang.
“Tumben kamu bisa temenin Mina, Yun! Belum ada keberuntungan akhir-akhir ini!” Nada Vee mengejek. Di antara mereka, Yungi paling sering absen dalam acara kumpulan seperti itu dan keberuntungan di sana maksudnya belum ada perempuan baru yang digandeng.
“Aing sieun diamuk si eta tah (Aku takut dimarahi dia!)” Yungi menunjuk Mina.
“Kok aku sih?” Mina heran dan kaget.
“Kan kelompok Ekonomi,” jawab Yungi dengan cepat.
“Oh itu! Hahaha iya!” Mina tertawa.
“Jadi, bikin apa?” tanya Jun sambil menatap Mina.
“Muffin.” Mina menjawab.
“Eh ke belian nya! Ke tukeran. Mun maneh jualan, urang ge meli! (Nanti kalian beli ya! Kalau giliran kalian yang menjualnya, aku akan membeli!)” Yungi menjelaskan.
“Sip!” Jun mengacungkan jempol.
“Bisa diatur!” Justin menjawab.
Vee dan Jini hanya tersenyum.
“Gimana acara makan siang kemarin?” tanya Jini. Mereka sepertinya tahu kalau Mina ada acara makan siang perjodohan.
“Aku ga pergi,” jawab Mina santai.
“Whattttt! Kebayang Mama kamu ngamuknya!” Wajah Vee langsung pucat.
“Hahahaha!” Mina memaksakan tertawa lalu menyedot minumannya.
“Kamu kabur ke mana?” Wajah Vee terlihat penasaran.
“Dia ....!!!” Yungi baru akan menjawab. Tapi, di bawah meja, Mina dengan cepat memegang tangannya dan menekannya. Yungi agak kaget dibuatnya, tapi ia cukup paham dengan maksudnya agar ia tak berbicara apa-apa soal kemarin. Terlebih Mina menatapnya dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Ya, jalan-jalan aja!” sahut Mina sambil senyum.
“Ke mana?” tanya Jini.
__ADS_1
“Ke hatimu Jini,” canda Mina.
“Angger maneh mah! (Kebiasaan kamu tuh!)!” Jini mengerling.
Semua sudah paham kalau Mina sudah mengalihkan pembicaraan atau bercanda seperti itu, artinya tidak bolagi meneruskan pertanyaan tentang itu. Interogasinya cukup sampai di sana. Yungi menatap Mina tapi tak lama kemudian ia tersenyum dan menyedot minumannya.
“Yungi, kemarin aku WA kamu ko ga dijawab sih?” giliran Justin bertanya.
“Hah! Kapan?” Yungi langsung buka HP dan melihat-lihat.
“Oh iya!” Yungi nyengir.
“Aku tidur, Bro! Demam aku kemarin!” Yungi menjelaskan.
“Seorang Yungi sakit! Tsk ...Tsk ...Tsk!” Jun berdecak sambil bertepuk tangan.
“Njir! Aing ge jelema Jun! (Njir! Aku juga kan orang, Jun!)!” Yungi mendelik kesal.
Semuanya tertawa.
“Syukur deh kamu nyadar kamu orang,” ujar Jun lagi.
Mereka semuanya tertawa lagi.
Mereka mengobrol banyak hal. Tidak ada yang penting, tapi mereka terlihat bahagia.
***
“Yun, Yungi!” Bisik Mina.
“Hmmm?” Yungi terperanjat. Sikutan Mina membawanya kembali dari lamunannya.
“Apa, Babe!” tanya Yungi lagi.
“Jangan ciumin kepala aku terus. Malu. Itu liat suster pada bengong gitu!” bisik Mina sambil mendorong Yungi agak menjauh darinya. Rupanya sejak dia melamun soal kisah di SMA-nya itu, dia tak berhenti membelai dan mencium pucuk kepala Mina.
“Oooh! Aduh, maaf!” sahut Yungi dengan wajah memerah.
“Suster, sini makanannya, biar saya suapi istri saya,”sahut Yungi dengan cepat mengambil makanan menu sarapan dari tangan suster dan duduk di samping Mina sambil membuka plastik penutup makanan.
“Aku makan sendiri,” lirih Mina setelah ia memperbaiki posisi duduknya.
“Aku suapi aja, Say!” Yungi berkata dengan lembut.
“Iya deh!” Mina pasrah. Dia belum punya banyak tenaga untuk berdebat, walaupun sebenarnya ia sangat malu karena suster yang memperhatikan mereka sejak tadi senyum-senyum terus.
Tak lama setelah selesai sarapan, ketiga bayi dalam mesin inkubasi dibawa oleh tiga suster masuk ke dalam kamar. Mina berkaca-kaca melihat mereka. Itu kali pertama dia melihat dengan begitu jelas Jun, Jay, dan Justin. Dan makhluk kecil itu terlalu imut untuk dideskripsikan.
“Mereka lebih mirip sama kamu, ya?” Mina mengamati wajah masing-masing bayi.
“Iya, ga apa-apa. Itu bagus,” ujar Yungi dengan bangga.
“Ganteng-ganteng kok, Bun!” Suster memuji.
“Makasih, Sus!” kata Mina sambil tersenyum.
“Siapa yang minum dari botol?” tanya Suster. Dia membawa botol susu yang isinya asi Mina yang sudah diperas sebelum bayi datang.
“Justin, Sus. Nanti giliran aja!” ujar Mina.
Suster mengangguk.
Mina menyusui Jay dan Jun dan kemudian setelahnya Justin. Ketiganya berada dalam pelukan Mina menggunakan teknik kangaroo care. Mina yang memintanya setelah ia menelusuri banyak artikel dan kanal dan mengetahui betapa bermanfaatnya teknik ini bagi anak-anak dan orang tua mereka dalam menciptakan bonding dan kesehatan khususnya untuk bayi-bayi kembar dan prematur. Tak lama mereka melakukannya hanya 60 menit saja setiap harinya. Dalam prosesnya, Yungi ikut melakukannya dan lagi-lagi ia berurai air mata karena itu adalah pengalaman pertamanya dan sangat berharga.
Pada siang harinya, anak-anak datang menjenguk ibunya. Juna, Zen dan Yuna memeluk ibunya erat. Wajah mereka terlihat sangat bahagia. Mereka tak henti menciumi ibunya dan mengucapkan terima kasih karena telah memberikan kebahagiaan kepada mereka dengan memberi mereka adik-adik yang imut. Mereka juga bersyukur karena Mina sehat dan terlihat lebih baik.
“Bu, boleh aku ikut kangaroo care, juga?” Zen bertanya.
Mina diam sejenak. Setahu dia, hanya ayah dan ibu yang biasanya terlibat.
“Ibu bisa tanya dokter,” jawab Mina. Zen tersenyum.
Tak lama dokter datang dan memeriksa Mina.
“Kalian mau peluk dede bayi ya?” tanya dokter.
Ketiganya mengangguk dengan antusias.
“Kalau gitu ikut prosedur rumah sakit dulu ya!” jawab dokter.
Ketiganya mengangguk lagi.
Pada hari yang lain mereka diizinkan untuk melakukan kangaroo care di bawah pengawasan suster. Yungi dan Mina tersenyum melihat mereka.
“Waaah! Aku bisa merasakan detak jantungnya.” Juna terlihat sangat kagum. Kedua anak lainnya mengangguk mengiyakan. Di mata mereka terpancar rasa bahagia dan sayang kepada adiknya itu. Dia memeluk Justin. Zen memeluk Jay, dan Yuna memeluk Jun.
“Ibu, makasih ya!” Juna memeluk Mina ketika hendak pulang. Mina mengelus kepalanya sambil tersenyum.
“Aku senang bersama Ibu,” ujar Juna.
“Ibu juga,” sahut Juna.
Zen memeluk ibunya dan mencium pipinya.
“Cepat pulang ya, Bu!” ujar Zen.
“Yuna sekarang kelas dua dan siap membantu!” ucap Yuna dengan lucunya.
Semuanya tersenyum.
“Aku anter anak-anak dulu ya! Kamu istirahat!” Yungi mengecup kening Mina pelan.
“Hmmm,” ujar Mina.
“Hati-hati,” ujar Mina.
“Iya,” sahut Yungi.
Ketika mereka pergi dari ruangan, Mina menutup matanya untuk istirahat.
__ADS_1
Bersambung