Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 46 Bersyukur


__ADS_3

"Tetep aja, Min! Mau dilihat dari atas, bawah, kanan, kiri, itu anak-anak mirip aku!” Yungi menghampiri Mina dan duduk di sebelahnya. 


“Iya, ga ada jejak aku, haha!” Mina melirik ke arah Yungi.


Mereka berada di  halaman belakang, di dekat kolam renang. Pagi itu, ketiga anaknya berjemur sebelum mandi sementara ketiga kakaknya sudah berangkat sekolah diantar Yungi. 


“Ada gosip loh!” Yungi menatap Mina.


“Apa tah?” Wajah Mina terlihat penasaran. 


“Itu si Pak Anjang katanya mau dimutasi,” ujar Yungi.


“Ah itu! Kalau itu mah udah basi atuh Yun!” Mina mengerling. 


“Eh, kamu udah tahu soal ini? Kan aku yang sering ke sekolah,” ucap Yungi. Wajahnya benar-benar terlihat kaget.


“The magic of group chat, haha!” Mina menunjuk Hpnya. 


“Ooh!” Yungi mesem. 


“Ya, syukurlah kalau kamu dah tahu. Setidaknya kita tenang sekarang.” Yungi beranjak dari duduknya dan mendekati Jun kecil yang merengek imut. Ia menggendongnya dan mengayunnya lembut agar tidak menangis. 


“Bawa ke dalem aja. Dah cukup kayaknya, mau dimandiin,” ujar Mina. Dia menggendong Jay dan Justin dan membiarkan Yungi membawa Jun. 


Mereka memasuki kamar dan di sana Mbak Juni tampak sedang menyiapkan air untuk mereka mandi.


“Mau dimandikan sekarang, Non?” tanya Mbak Juni. 


“Ya, Bi, boleh! Tapi biar aku aja yang mandiin mereka,” sahut Mina. 


“Aku mau coba dong!” Yungi mengacungkan tangannya. 


“Woah! Kemajuan.” Mina bertepuk tangan. Yungi tersenyum lagi. 


Mereka memandikan bersama ketiga bayinya dan memakaikan baju juga. Setelah itu, Mina menyusui mereka bergiliran. 


“Kamu ga kerja? Dari tadi luang nemenin aku?” Mina menatap Yungi. Ketiga anaknya sudah tidur sekarang. 


“Udah selesai. Tadi malam aku menyelesaikannya. Hari ini aku pengen nemenin kamu,” ucap Yungi.


“Nemenin ke mana? Aku kan di rumah, Yun!” Mina tampak bingung. 


“Ga apa-apa. Di rumah juga, aku nemenin kamu, gitu!” ucap Yungi lagi. 


“Mau mandi?” tanya Yungi.


“Udah, pas kamu nganterin anak-anak,” jawab Mina. 


“Kenapa sih kamu? Kok aneh banget!” Mina menatap Yungi heran. 


“Emang ga boleh ya kangen sama kamu?” Yungi bicara dengan nada menggoda. 


“Aduh! Gombalnya kumat!” Mina menggelengkan kepalanya. 


“Ada apa sih Yun? Ngomong aja!” Nada Mina terlihat serius. Mina sangat tahu Yungi. Kalau dia bersikap seperti itu, artinya dia ingin berbicara tentang sesuatu yang penting. 


“Mina,” ucap Yungi, Nadanya benar serius.


Mina menaikkan alisnya.

__ADS_1


“Kamu inget waktu Jay datang ke sini Minggu lalu?” ucap Yungi.


Mina mengangguk pelan.


“Kalian ngomong di ruang kerja, kan?” tanya Mina.


“Iya.” Yungi mengangguk. 


“Kalian sebenarnya bicara apa sih? Lama loh waktu itu,” sahut Mina. 


“Banyak hal. Makanya lama,” ucap Yungi.


“Iya, pasti banyak hal. Makanya aku penasaran. Kalian ngomongin apa?” tanya Mina lagi. 


Mereka berada di ruang tengah, duduk bersebelahan. 


“Pekerjaan aku dan kemungkinan bisnis kita,” ucap Yungi.


Ia lalu menceritakan pembicaraan antara dirinya dan Jay dan Mina terlihat antusias. 


“Aku setuju itu! Aku juga dukung kamu,” jawab Mina. Dia terdengar sangat bersemangat. 


“Ah, jadi sebenarnya kamu ga suka kalau aku jauh dari kamu.” Yungi melirik ke arah Mina sambil senyum. 


“Siapa yang suka jauh-jauhan sama orang yang dicintai coba?” Mina memegang tangan Yungi. Matanya menandakan ia tak percaya jika Yungi bahkan tidak tahu tentang hal itu. 


“Iya, tentu saja. Kalau begitu, kenapa kamu ga ngelarang aku pergi waktu itu?” Yungi kaget.


“Meskipun ada banyak hal yang aku ga setuju kalau bisa negosiasi kenapa tidak melakukan saja dan coba saja. Belum tentu yang kita tidak suka artinya tidak bagus kan! Aku juga mikirin apa yang kamu pikirin. Kamu jauh-jauh ke sana bukan karena cuma kerjaannya aja kan, tapi karena punya tanggung jawab atas keluarga kamu, kan? Jadi, meskipun aku ga suka, aku dukung karena masih ada jalan tengahnya.” Mina menjelaskan.


“Untungnya ga jadi,” ujar Yungi.


“Kamu ga bahagia?” Mina menatap Yungi.


“Si Yungi mah! Aku nanya beneran ini!” Mina menatap Yungi.


“Bahagia, Min. Kalau di sana ternyata aku punya banyak masalah dan celaka kan tetep aja repot,” kata Yungi. Mina mengangguk. 


“Jadi, bisnis itu gimana?” tanya Mina. 


“Iya, Jay sih nyaranin kita kumpul dulu dan ngobrol bareng,” ujar Yungi lagi. 


“Ya, aku sih oke!” Mina mengacungkan jempol.


“Yang lain gimana?” lanjutnya.


“Belum kontak mereka,” ucap Yungi.


“Loh kenapa?” tanya Mina.


“Tunggu kondisi kamu lebih baik,” sahut Yungi. 


“Astagaa! Kan cuma ngobrol aja dulu, Yun. Lagian kalau ada follow up, pasti kamu yang banyak mikir dan kerja. Kamu pasti jadi ketua timnya,” sahut Mina. 


“Biasanya Jun yang pegang role itu. Aku di lapangan.” Yungi menjelaskan.


“Siapa aja tidak masalah! Maju bersama.” Mina mengacungkan jempol lagi. 


“Jadi, kamu beneran setuju nih!” Yungi memastikan.

__ADS_1


“Sangat setuju. Malah sebenarnya sambil jalan, aku mau minta bantuan kamu,” ujar Mina.


“Iya, oke, bilang aja,” ujar Yungi sambil menatap Mina. 


“Renov beberapa toko aku dong!” Mina memperbaiki posisi duduknya.  


“Toko kamu? Yang mana?” Yungi penasaran. 


Mina menyebutkan beberapa tempat. 


“Uhm. Oke, kita bisa konsep dulu. Kamu ada ide mau seperti apa kan. Cerita deh! Ntar aku yang konsepnya,” ujar Yungi.


“Ya, oke,” jawab Mina lagi.


“Sekarang?” Mina agak kaget sebab sepertinya Yungi menunggu.


“Oh, mau lain waktu?” Yungi agak kaget.


“Aku laper. Makan dulu ya!” Mina senyum.


“Oh ya, harus! Busui harus makan banyak,” ucap Yungi dan ia langsung berdiri. Dengan cepat berjalan ke dapur mengambil nasi dan lauk-pauknya untuk Mina. Dia kembali dengan cepat dengan piring di tangannya dan kemudian memberikannya kepada Mina. 


“Makasih,” sahut Mina.


“Sip!” jawab Yungi.


“Anak-anak bangun sebentar lagi. Kalau ga makan, aku kewalahan, Mereka minumnya banyak,” sahut Mina sambil makan. 


Yungi hanya mengangguk. Dia tersenyum dan menatap Mina. Hatinya banyak berceloteh juga. Akankah dia selalu bahagia seperti itu? Berbicara dengan istrinya dengan santai tetapi juga bermakna.  Dengan Mina, dia benar-benar bisa merasakan arti bahagia. 


“Mina!” lirih Yungi. 


“Uhm,” ujar Mina. Dia menyimpan piring yang sudah kosong dan meraih gelas minumnya. Gelas itu berhenti di perjalanan menuju mulutnya seiring Yungi yang sepertinya akan mengatakan sesuatu. Mina bahkan menaikkan alisnya. 


“Thank you,” sahutnya dengan tatapan yang hangat.


“Apa?” Mina terlihat bingung. 


“Karena cinta sama aku,” ucap Yungi. 


“Duh kok jadi sentimentil gini!” Mina mengernyitkan alisnya. 


“Karena aku sangat bersyukur kamu pilih aku,” ujar Yungi.


“Aku pilih anak-anak loh!” Mina tersenyum. 


Yungi  tersenyum. 


“Mereka bagian dari aku juga,” sahut Yungi.


“Aku juga makasih,” ucap Mina.


Yungi melongo.


“Mau ikut saran aku.” Mina tersenyum. 


Yungi masih pada posisinya. Wajahnya tampak bingung.


“Buat nikahin aku,” sambung Mina. 

__ADS_1


“Aku yang makasih,” ucap Yungi. 


Bersambung 


__ADS_2