Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 50 Cinta Pertama


__ADS_3

Di sebuah rumah yang mewah, pada suatu malam, Leo Sudarsono tengah duduk sendirian di ruang kerjanya. Di atas mejanya sebuah gelas dan botol tequila berada di antara beberapa  tumpukan dokumen. Sementara, dia sendiri merebah sambil memandangi sebuah foto. Mina Alara Kanigoro. 


Ia seorang influencer sekaligus content creator dan ia sering diajak untuk kolaborasi oleh mereka yang membutuhkan dirinya sebagai bagian dari agen promosi. Sebenarnya ia lebih sering diajak daripada mengajak. Namun, pada suatu hari saat ia iseng mengadakan voting dengan siapa ia harus kolaborasi untuk konten terbarunya, banyak pengikutnya yang menyarankan nama Mina. Ini bukan tanpa alasan. 


Leo memiliki banyak segmen dalam kreasi kontennya dan salah satunya adalah kuliner. Ia telah sering berkolaborasi dengan banyak koki terkenal membuat nama dan reputasi mereka melambung dan secara tidak langsung ia juga menjadi terkenal karena namany sering disebut ketika para koki, food artist, dan food critics, yang diajak kolab itu berterima kasih atas bantuannya. 


Sekarang ia ingin membuat suasana baru dengan menghadirkan bidang patiseri ke dalamnya. Dia yang memang kurang tahu tentang bidang ini, akhirnya iseng melemparkan masalah itu kepada fansnya dengan cara voting. Mina adalah satu di antara mereka yang disebut sebagai salah satu ahli patiseri terbaik. Reputasinya di media sosial memang terkenal sangat baik. Dia mempunyai banyak toko, menulis banyak buku tentang patiseri, membagikan resep secara gratis di instagram dan media lainnya yang semuanya itu hampir tidak berbayar. Tentu saja, dia tidak mengelolanya sendiri. Ada tim yang ia pekerjakan untuk itu, termasuk buku yang ia tulis. Ia punya tim editing dan publikasi sendiri. 


Meskipun begitu, Mina selalu menolak ketika diundang di acara stasiun TV untuk menjadi bintang tamu segmen kuliner dengan berbagai alasan sehingga jarang orang yang tahu wajahnya. Instagram pribadinya dikunci dan instagram berkaitan dengan patiserinya hampir tidak pernah memunculkan wajahnya. Mungkin saja itu juga yang membuat para fans Mina yang juga menjadi fans Leo penasaran dengan Mina. Oleh karena itu, ketika ada kesempatan melalui voting itu mereka langsung menuliskan nama Mina. 


Tingginya angka voting pada Mina menarik perhatian Leo. Ia mulai menelusuri instagram dan media sosial lainnya yang dibuat oleh Mina dan sama dengan fansnya, ia harus kecewa karena sang perempuan itu memberikan informasi yang sangat terbatas tentang dirinya kepada dunia. Ia tidak putus asa. Dengan menyewa seorang detektif swasta, ia mendapatkan titik terang tentang perempuan yang dianggapnya memiliki aura misterius itu. 


Kini ia terpesona akan Mina. Semua informasi yang didapatkan oleh detektif itu ternyata telah membangkitkan sisi lain di hatinya, bukan sosok dirinya yang berkenaan dengan pekerjaannya, melainkan dengan pribadinya, seorang individu lelaki yang secara normal merasakan jantungnya berdebar kencang saat pertama kali ia melihat dirinya bahkan hanya melalui fotonya. Mina telah membuatnya kembali merasakan apa artinya cinta dan kasmaran. 


Mina juga-lah yang telah membangkitkan sebuah perasaan yang telah lama ia tidak pikirkan bahkan ia buang karena ia berpikir bahwa semua perempuan tidak ada harganya di matanya. Ia kini mulai menyukai perasaan merindukan seseorang dan mulai berpikir ingin kembali merasakan kehangatan setelah malam-malamnya selalu dihabiskan sendirian. Itulah  yang membuatnya tidak bisa berhenti walaupun ia tahu bahwa Mina sudah dimiliki. 


“Mina... oh... Mina!” suara Leo berat. 


Ia merebah pada kursi kerjanya. Kedua matanya memejam dan kedua tangannya memeluk foto Mina yang ukuran figuranya cukup besar. Selama ini detektif suruhannya-lah yang selalu mengabadikan setiap langkah dan pergerakannya. Dan semua jejaknya itu sudah memenuhi kamar pribadinya. Beberapa bahkan telah ia edit dengan menggabungkan foto dia dan dirinya seolah mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. 


“Bagaimanapun caranya, aku akan memilikimu,” ujarnya. Ia membuka mata dan menatap pada foto Mina. Tangannya tidak berhenti mengelus foto itu. Tak lama kemudian, ia mendekatkan foto itu ke bibirnya dan menciuminya. 


“Mina ... oh, ... My Mina,” lirihnya. Dia masih merebah pada kursinya sambil memeluk foto Mina di ruang kerja yang begitu megah dalam kesendiriannya. 


***


Melelahkan. 


Itu adalah perasaan Mina saat telfonnya tak berhenti berdering, baik karena notifikasi WA maupun panggilan masuk. Pelakunya hanya satu orang, Leo Sudarsono. Sepertinya definisi kata ‘pantang menyerah’ memang layak dianugerahkan kepadanya, terlepas dari sesuatu yang ia perjuangkan itu telah benar-benar merugikan orang lain. 


Definisi itu tidak hanya untuk si lelaki kurang ajar yang diberi label oleh Mina sebagai ‘Orang Gila dan Brengsek’ di Hpnya, tetapi juga untuk Mina yang telah juga dengan gigih mempertahankan pikirannya untuk tidak berurusan dengan orang seperti dia. Akibatnya Hpnya mute hampir untuk waktu yang lama. Ia selalu mengabaikan apa saja bentuk komunikasi dari orang itu baik secara langsung maupun tidak langsung. 


Yungi sendiri sudah mencoba berbagai cara ‘bijaksana’ agar istrinya tidak diganggu lagi oleh orang itu dengan berbicara baik-baik agar tidak mengganggu istrinya lagi sampai cara ‘paksa’ dengan mengancam akan melaporkannya ke polisi jika ia tetap berbuat seperti itu. Namun, alih-alih berhenti, lelaki itu malah semakin menjadi-jadi. Kunjungan ke Sydney, Australia membuat Mina merasa agak lega. Setidaknya, ia aman karena merasa tidak diawasi atau bahkan dibuntuti.  


“Min, Mama minta maaf ya, jadi kalian harus ke sini. Padahal lebih efektif kan kalau kami yang ke Bandung,” ujar Mama Yungi saat mereka berkumpul di ruang tengah rumah. Anak-anak sudah tidur sejak tadi dan mereka 


“Ga apa-apa, Ma. Mina ga keberatan kok! Seharusnya kami memang pergi ke sini dan sebenarnya kami juga sudah merencanakan untuk berkunjung ke sini. Rencananya sih, akhir Desember sambil liburan mau ke sini, tapi sekarang juga ga apa-apa. Anak-anak pada seneng kok, Ma,” ucap Mina dengan sopan. 


“Syukurlah, kalau gitu,” ujar Mama Yungi.

__ADS_1


Mina tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai respons. 


“Sekalian kalian di sini, Mama undang Tante Voni sama Monika, loh Yun!” ujar Mama Yungi.


“Monika?” Yungi tersentak kaget.


“Iya, kamu masih inget dia ga? Kan kalian satu SD dulu. Kata Monika, dia cinta pertama kamu ya?” Mama Yungi tertawa geli. 


Deg. 


Mina terhenyak. Entah kenapa di dalam hatinya seperti ada bagian yang dicubit dan dia merasa kesal dengan tiba-tiba. Mungkin itulah sebuah perasaan yang dinamakan cemburu. Meskipun begitu, Mina masih berhasil mengontrol ekspresi di wajahnya serta sikapnya sehingga mereka yang melihatnya berpikir tidak ada hal yang aneh dari reaksi Mina. 


“Itu sih kata dia. Cinta pertama aku, Mina, Mah, bukan dia.” Yungi menjawab dengan percaya diri. 


Mina tersentak kaget. Dia menatap Yungi yang ternyata sejak tadi tengah menatapnya sambil tersenyum. Mama Yungi melihat ke arah Yungi lalu ke arah Mina yang wajahnya kini tengah memerah dan saking malunya, ia langsung melihat ke arah lain sambil menyunggingkan senyum malu. Mama Yungi langsung tersenyum. Ada sesuatu dalam pikirannya.


“Mama ga percaya,” ujar Mama Yungi dengan nada menggoda.


“Emang iya, kok Mah! Kan ini perasaan aku. Aku yang ngalamin. Ciuman aku pertama sama dia, pelukan, semuanya yang pertama, aku sama dia kok Mah,” ujar Yungi dengan santai.


Mamanya melongo. 


Mina menunduk. Wajahnya memerah. 


“Yungi yang salah, Mah. Ini bukan sesuatu yang bagus. Tapi pertamanya Mina, Yungi yang lakuin. Yungi mabuk dan maksa Mina, Mah!” ucap Yungi dengan nada menyesal. Dia bisa mengatakan itu setelah cukup lama berpikir.


“Astagaa!” Mamanya melotot dan ia bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. 


“Kok bisa!” Papanya yang sejak tadi diam dan hanya memperhatikan akhirnya bersuara. 


“Udah berlalu, Mah. Yang penting sekarang,” ujar Mina menyela Yungi yang sepertinya akan menjelaskan semuanya. Yungi menatap Mina. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan tatapannya seolah menjelaskan agar Yungi tak perlu berpanjang lebar. 


“Kamu masih baik sama Yungi, Min. Waktu itu kamu pasti menderita banget,” nada mama Mina simpati.


“Udah selesai, Mah.” Mina mencoba mengalihkan pembicaraan. 


“Maafin Yungi, Min!” Papanya Mina berkata dengan tulus.


“Iya, Pah. Sudah selesai,” ujar Mina sambil menyunggingkan senyum. 

__ADS_1


Yungi memegang tangan Mina dan menciumnya lembut. Mina dan kedua orang tuanya tersenyum. 


“Kami berharap kalian bisa tua bersama seperti kami,” ujar Papa Yungi.


“Aamiiin,” ucap Yungi sambil menatap Mina dan tersenyum. 


“Sebenarnya Papa mau nanya sama Mina. Boleh?” tanya Papa Yungi.


“Oh, iya, Pah. Gimana?” tanya Mina.


“Yungi kan anak tunggal. Papa udah tua, Min. Semisal suatu hari Papa perlu dia untuk nerusin perusahaan Papa, gimana nih Min?” Papa Mina menatap Mina. 


Mina terlihat bingung.


“Mina kurang ngerti, Pertanyaannya sepertinya bukan untuk Mina. Yungi yang harus jawab soal ini. Mina ikut Yungi aja. Kalau Yungi mau pindah, Mina ikut Yungi.” Mina menjelaskan. Yungi agak akget. Dia melirik ke arah Mina dan menatapnya dengan wajah penuh haru.


“Bisnis kamu gimana?” tanya Mama Yungi. 


“Sebenarnya tanpa Mina di Indonesia, pun , bisnis jalan kok Mah. Kan Tim sebenarnya. Kalau Mina ga ada dan butuh urgen biasanya Sesil yang maju,” jelas Mina. 


“Ah, gitu. Kalau gitu, kalau Papa butuh kamu, Yun, tinggal kamu yang mutusin,” ujar Papa Yungi. 


Yungi tersenyum lalu menghela napas panjang.


“Iya, Pah. Yungi paham,” jawab Yungi. 


“Baiklah, sudah malam. Kalian istirahat sana,” ucap ibunya.


“Iya, Mah. Pah, kami duluan,” ujar Mina dan Yungi dan mereka beranjak dari duduknya lalu menuju kamar. 


“Hei,” lirih Yungi saat mereka memasuki kamar dan Yungi menarik Mina ke pelukannya lalu mencium keningnya.


“Kenapa, Yun?” Mina kaget.


“I love you,” lirihnya.


“Iya, I love you too,” ujar Mina sambil membalas pelukannya. 


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2