Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 28 Sisi lain Mina


__ADS_3

Ada suatu episode dalam hidup Mina dan Yungi ketika mereka bertemu lagi di Pattaya Thailand. Itu ketika seharusnya mereka tengah menikmati belajar mereka di luar negeri, Yungi di Amerika dan Mina di Prancis. Tentu saja pertemuan itu tidak disengaja dan ada di sana karena mereka menikmati liburan semester mereka. 


“Guys, ga apa-apa kan, kalau aku undang beberapa orang untuk join sama kita,” ujar Claudia, salah satu teman Prancis Mina. 


Mereka datang berenam ke Thailand dan malam itu mereka tengah berkumpul di sebuah ruangan di klub malam. Beberapa asyik berjoged di luar ruangan sambil minum dan berkenalan. Salah satunya adalah Claudia dan saat dia kembali ke ruangan, dia meminta izin kepada yang lainnya untuk membawa beberapa orang lain yang mereka baru saja kenal di area dansa. 


“Mereka dari mana?” tanya Laura yang sejak tadi duduk dengan Mina menikmati minuman. 


“Amerika. Come on, they are sweet guys. Mereka anak kuliah seperti kita. Just for tonight, pleaseee!” ujar Claudia lagi. 


“Okay,” jawab Laura tanpa melihat wajah Mina yang agak keberatan. 


Tentu saja ia keberatan. Mina paling anti membangun hubungan khususnya kalau hanya untuk satu malam. Mina sendiri sudah tahu maksud teman-temannya itu. Mereka berenam dan orang-orang yang Claudian undang juga kebetulan berenam. Jadi, Mina tidak perlu repot membaca pikiran Claudia kalau mereka hanya ingin menikmati cinta satu malam. Selain itu, pikirannya sedang tidak normal. Alkohol sudah hampir menguasai dirinya dan dia membiarkannya karena Laura teman sekamarnya  sudah berjanji akan membawanya pulang jika dia completely wasted atau mabuk parah. 


Claudia membuka pintu. Sekilas suara hingar bingar musik menelusup masuk ruangan seiring dengan enam lelaki yang juga memasuki ruangan. Mina yang duduk di pojokan tidak terlalu memperhatikan mereka jika saja salah satu lelaki dengan suara yang ia jelas kenal tidak memanggil namanya. 


“Ngapain kamu di sini, Min?” Yungi langsung duduk di sebelah Mina dan bagi teman-temannya itu artinya Mina adalah target Yungi dan teman-temannya harus mencari perempuan lain. 


“Kamu kenal dia, Yun?” salah satu teman Amerikanya yang bernama Brent bertanya. 


“No, but she is mine,” ujar Yungi dengan cepat menjawab dan nadanya mengintimidasi. 


Brent yang sepertinya tertarik akan Mina langsung mundur dengan wajah yang agak kesal.


“Kok suaranya kayak kenal?” Mina menatap Yungi sambil memegang pelipisnya. 


“Mina, aduh! liat ini baju kamu kayak gini juga! kamu warnain rambut kamu. Astagaa! Kamu kenapa sih? Kok lain gini?” Yungi mengamati Mina dari atas ke bawah. 


“Kok suara kamu mirip temen aku sih!” Mina berbicara dalam bahasa Inggris. 


“Astaga! Kamu mabuk, Min!” Yungi terlihat khawatir. 


“Minggir ah! Aku mau pulang!” Mina mendorong Yungi dan ia berdiri. Dan itu menarik perhatian teman-teman lain. 


“Kamu mau ke mana, Min?” Yungi dengan cepat berdiri dan berjalan mengikutinya. Teman-teman Yungi yang lain langsung bertepuk tangan. Mereka berpikir Yungi gercep. 


“Mina, kamu mau ke mana?” Yungi mengikuti Mina dari belakang. Mereka berjalan di trotoar dengan pemandangan pantai di pinggirnya. Mina  yang berjalan agak sempoyongan membuat Yungi semakin khawatir.  


Sekarang semakin jelas terlihat rambut Mina yang panjang dan ikal dicat warna pirang dan itu menekankan kecantikannya. Namun, tetap saja, bagi Yungi Mina lain dari biasanya. Apalagi dia memakai pakaian yang terbuka, tanktop dress warna hijau di bawah lutut dengan motif bunga krisan kecil berwarna kuning dan putih. Dia memakai anting-anting yang selaras dengan pakaiannya. Sebenarnya, tanpa penampilan seperti itu pu Mina sudah manis, Jadi, jika dia berdandan seperti itu, tentu saja ada banyak mata yang tak akan lelah memandang dirinya. 


“Mina!!” Yungi memegang satu lengan Mina. Mina kaget. Dia berbalik dengan wajah yang kesal. 


“Aku ga kenal kamu. Kalau kamu pikir kamu bisa bercinta sama aku malam ini, kamu salah besar! Pergi dan cari perempuan lain sana! Aku tidak seperti yang kamu pikirkan!” ujar Mina dengan bahasa Inggris. 


Yungi tersenyum. Mina mabuk dan dia tidak kenal lelaki yang berdiri di depanya itu adalah Yungi, temannya. 


“Iya, aku ga akan bercinta sama kamu, tapi aku juga ga akan ninggalin kamu. Udah jangan minum lagi! Di mana kamu nginap? Aku antar kamu pulang!” ujar Yungi berbicara dengan bahasa Inggris. 


“Suaramu kok familiar ya!” Mina mengernyitkan alisnya. Dia melipat kedua tangannya di dada dan berpikir. Yungi tersenyum. Seumur hidup mereka berteman, ia tidak pernah menunjukkan sisi yang ini. Ia selalu bisa menjaga sikapnya. 


“Ah! Sudahlah! Aku tidak bisa berpikir! Kepalaku sakit!”Mina menggumam sambil memegang pelipisnya. Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Yungi yang masih tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 


Yungi masih mengikuti Mina yang melangkahkan kakinya menuju dekat pantai dan duduk di salah satu bangku di sana. Yungi duduk di sebelahnya. 


“Ah! Kamu masih ngikutin aku? Kenapa? masih berharap?” Mina mengerling dan masih menggerutu kesal. Tapi, dia tidak mengenyahkan Yungi sama sekali. 


“Ga, Cuma aku pikir kamu butuh teman,”ujar Yungi sambil tersenyum. 


Mereka berbicara dalam bahasa Inggris. 


Mina diam. Beberapa kali ia mengelus-elus lengannya dan Yungi paham. Ia membuka kemejanya dan memberikannya kepada Mina.


“Apa ini?” tanya Mina dan ia memicingkan matanya. 

__ADS_1


“Kamu dingin kan?” tanya Yungi.


“Pake ini!” ujar Yungi sambil menyodorkan kemejanya. 


“Ah, kamu bener-bener mirip sama temen aku,” ujar Mina lagi. Ia mengucek matanya lalu membuka matanya lebar-lebar. Yungi mengangguk dan tersenyum, berharap Mina mengenalinya, tapi ia tahu benar orang yang dalam keadaan mabuk parah seperti itu jarang sadar akan lingkungan sekitarnya. Mereka juga cenderung melakukan hal-hal bodoh. 


“Ah tapi dia di Amerika sekarang dan mungkin sedang meniduri anak orang di sebuah hotel. Hahahaha!” Mina tertawa.


Yungi melotot. Ia memasang kemejanya di tubuh Mina karena Mina tidak menerimanya sejak tadi ia memberikannya. 


“Temanku itu, dia brengsek! bodoh! tapi aku menyayangi dia.” Yungi awalnya kesal mendengar pernyataan Mina, tapi saat mendengar penjelasan yang terakhir dia langsung tersenyum. 


Mina berterima kasih sambil menunjuk pada kemeja yang Yungi pasang di tubuhnya. 


“Tentu saja, tidak hanya aku saja, kami semua juga sayang dia,” ujar Mina melanjutkan sambil tersenyum. Tatapan matanya menuju pantai di hadapannya. 


“Kamu harus pulang. Di mana kamu nginep, aku anter!” Ujar Yungi lagi. 


“Kamu ga ngerti ya! Aku ga bisa pulang! Kamarku pasti dipake si Laura dan salah satu temanmu ehem ehem! Sudahlah!” Mina menarik kemeja Yungi dan membalutkan lebih erat pada tubuhnya. 


Yungi paham, jadi dia tidak melanjutkan bicaranya. 


“Kamu mau melakukan apa sekarang? Kan ga bisa terus-terusan di luar kayak gini! Nanti masuk angin,” ujar Yungi.


“Iya, aku tahu. Kamu juga mendingan pergi deh! Kamu ga akan dapet apa-apa dari aku!” ujar Mina. 


Yungi tersenyum. Tapi tak lama ia menggoda Mina.


“Kenapa? Jangan bilang kamu masih segel!” Nada Yungi bercanda. 


Mina melirik ke arah Yungi dengan wajah terlihat sedih.


“Kamu benar-benar keras kepala! Kamu ingin melakukannya denganku, kan?” Mina mengerling. 


“Serius kamu?” Mina mengangkat satu alisnya. 


Yungi menganggukkan kepalanya. 


“Dasar gila!” gerutu Mina.


Dia berdiri dan berjalan menjauhi Yungi ke arah pantai. Dia memegang pelipisnya dan dia bisa pastikan dia sangat pusing. Sebenarnya Mina merasa ia sedang terbang. 


Brug! 


Dia menabrak seseorang dan hampir jatuh jika Yungi tidak menahannya. 


“Makasih! ...Astaga! Kamu lagi!” Mina berterima kasih tapi dia kaget saat menyadari Yungi masih mengikutinya. 


“Maunya kamu apa sih?” Mina kesal. 


Yungi hampir akan menjawab tapi Mina menyelanya.


“Baiklah! Ayo kita sewa satu kamar!” ujar Mina lagi. 


“What?” Yungi kaget.


“Kenapa? Jangan bilang kamu mau kita melakukannya di sini! You are sick!” ujar Mina. 


“Min, sadar kamu! Ini aku, Yungi!” ujar Yungi. 


“Tsk!” Mina kesal. Ia berjalan menjauhi Yungi dan tak mendengar apa yang Yungi katakan kepadanya. 


“Mau ke mana?” tanya Yungi.

__ADS_1


“Sewa kamar.” Mina menjawab.


“Emang kamu bawa uang?” tanya Yungi.


“Ga! Kamu yang bayar.” Mina dengan santai menjawab. 


Yungi mengembuskan napas panjang, tapi ia berjalan mengikuti Mina. 


Yungi membuka pintu kamar dan Mina masuk. Ia baru saja menutup pintu kamar dan berbalik saat Mina menciumnya di bibir dan itu membuat Yungi kaget. 


“Mmmph!” Yungi mendorong Mina pelan.


“Tunggu dulu!” Yungi kaget dan menahan Mina dengan memegang kedua bahunya. 


“Kenapa? Kamu mau nolak aku sekarang? Kan katanya mau bercinta sama aku! Ayo!” Mina menarik kaos Yungi dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Posisi mereka sekarang bertindihan. Mina di bawah dan Yungi di atas. 


“Tunggu sebentar! Ini terlalu cepat!” Yungi sebenarnya berusaha mengulur waktu.


“Kamu banyak basa-basi!” ujar Mina. 


“Kamu mandi dulu deh!” sahut Yungi. 


“Aku ga mau. Aku tidak akan bisa melakukannya kalau dalam keadaan sadar,” ujar Mina. 


“Hah?” Yungi menatap Mina. 


“Kamu sadar ga ini aku Yungi,” ujar Yungi dengan lirih.


“Ah iya, kamu bener! Suara kamu mirip teman aku dan namanya Yungi. Kok kamu tahu?” Mina menatap Yungi sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Yungi. 


“Iya karena aku Yungi!” Yungi mencoba membuat Mina sadar. 


“Uhm, gitu!” ujar Mina. Tapi, ia kemudian menarik Yungi dan mengecup bibirnya. 


“Min,” bisik Yungi.


“Aku udah coba nahan ini!” bisik Yungi lagi.


“Jangan salahin aku ya!” lirih Yungi. 


Mereka berciuman cukup lama dan saat mereka melepaskan ciuman, mata Mina memejam. Ia tertidur. Yungi tersenyum. Ia membelai wajah Mina dan mencium keningnya. 


“Cerita kita akan lain kalau kita melakukan ini, Min dan kamu bakalan menyesal,” lirih Yungi sambil menatap Mina yang terpejam. Yungi bergerak perlahan dan hampir menuruni ranjang saat tetiba tangan Mina memegang tangannya dan itu membuat Yungi terkejut. 


“Jangan tinggalin aku, please!” Mina bersuara lirih. Matanya memejam tetapi ada air mata keluar dari sana dan itu sekali lagi membuat Yungi kaget. 


“Astaga! Min, kamu kenapa?” bisik Yungi. 


Ia kembali pada posisinya dan membiarkan Mina memeluk dirinya. Mereka berbaring dengan posisi Mina tidur di dalam pelukan Yungi. 


“Anak kita meninggal. Maafin aku! Aku bukan ibu yang baik!” racau Mina dalam tidurnya. 


Yungi hanya mengernyitkan alisnya karena bingung. Ia sama sekali tak paham dengan yang dikatakan Mina. 


Keesokan harinya, Mina bangun dalam kedaan sendirian. Dia tidak pernah tahu siapa lelaki yang menemaninya tadi malam dan sudah melakukan apa. Namun, melihat keadaan boks pengaman masih utuh dan belum dibuka serta dia tidak merasakan apa-apa di bagian bawahnya, artinya mereka tidak melakukan apa-apa tadi malam. 


Mina berjalan ke arah kamar mandi. Dia berdiri sejenak di depan kaca dan mencoba mengingat kembali yang terjadi tadi malam. Kenapa begitu banyak tanda di leher dan dadanya, jika memang tidak melakukan apa-apa. Mina hanya ingat kemeja biru yang masih tergeletak di lantai kamar di hotel itu bukanlah miliknya dan dia tidak ingat rupa lelaki yang menawari kemejanya itu. Terlebih lelaki itu tidak meninggalkan pesan apa pun untuknya. Dia pulang ke hotelnya dan mendapati Laura dan lelaki yang tadi malam itu bergelung di dalam kasur. Ia malu dan dengan cepat meninggalkan hotel, mencari tempat untuk sarapan. 


“Did you guys have fun?” tanya Yungi saat teman-teman kembali ke hotel dan bertemu dengannya.


“Yes, you?” tanya salah satu temannya.


“Oh yeah, big fun!” ujar Yungi sambil tersenyum.

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2