Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 45 Jika aku ga ada, kamu ada


__ADS_3

Yungi dan Jay masih berada di ruang kerja membiarkan diri mereka terhanyut pada pemikirannya masing-masing ditemani dengan secangkir kopi hangat yang disajikan oleh Mbak Ade yang datang di sela-sela pembicaraan mereka. 


“Boleh aku tanya sesuatu, Yun?” tanya Jay membunuh keheningan di antara mereka.


“Ya, tentu saja,” ujar Yungi sambil menatap Jay penasaran.


“Ini di luar konteks yang tadi kita bicarakan,” ujar Jay memberikan situasi tentang hal yang akan ia tanyakan. 


“Ya, oke,” jawab Yungi dengan mantap. 


“Apa kamu terkejut aku ke sini?” tanya Jay. 


Yungi diam sambil mengernyitkan alisnya. Tatapannya mengarah pada Jay. 


“Ah, biar kuulangi pertanyaanku. Aku yakin kamu ga paham maksudnya,” ujar Jay sambil tersenyum. 


Yungi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. 


“Tentang perasaanku ke Mina, kamu udah tahu dengan jelas dan aku juga ga berniat buat nutupin itu dari kamu, jadi pas aku ke sini berkunjung bertemu dengan Mina, kamu ga marah?” tanya Jay. 


“Ah itu!” Yungi langsung senyum.


“Marah, sangat marah sebenarnya. Apalagi barusna kamu bilang kamu mau liat Mina bukan aku atau anak-anakku,” jelas Yungi. Ekspresi di wajahnya berubah murung.


“Tapi, ...” ujar Yungi lalu menjeda dan menatap Jay. 


“Kita temenan Jay dan aku percaya sama kamu. Kamu bukan orang yang suka mengambil sesuatu yang sudah dimiliki. Gimana pun aku harus bersyukur aku punya temen kayak kamu. Setidaknya kalau sesuatu terjadi sama aku, aku tahu siapa yang akan dengan sigap menjaga dia dan anak-anakku. Aku sangat berterima kasih kalau orang itu kamu,” ujar Yungi. Dia berjalan mendekati Jay dan memegang satu pundaknya sambil tersenyum.


Jay tersentak kaget. Ia tak menyangka Yungi mengatakan itu. 


“Kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Tak ada yang tahu kan! Bahkan lima menit ke depan adalah sebuah misteri. Karena itu, aku marah tapi aku juga bahagia!” ujar Yungi sambil menatap Jay. 


Jay diam. 


“Nah, kembali ke bisnis,” ucap Yungi.


“Ah, oke.” Jay mengembuskan napasnya. 


“Ada satu hal yang aku khawatirin kalau kita buka bisnis bareng,” kata Yungi.


“Yaitu?” Jay mengangkat kedua alisnya.


“Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maksudku kalau tidak berjalan lancar atau ada persengketaan. Ini pasti ngaruh sama persahabatan kita, kan?” Yungi melipat kedua tanganya di dada. Wajahnya menunjukkan rasa cemas. 


“Aku paham, Yun!” Jay tersenyum.


“Tapi, bisnis ini bersama. Apa pun yang dituangkan dalam kontrak artinya hasil bersama. Jadi, akan ada solusinya. Langkah pertama sih kalau kata aku disounding aja dulu, Yun. Kumpul aja! Kapan nih kira-kira bisa? Daring aja kalau kata aku sih!” Jay menyarankan. 


“Hmmm?” Yungi terlihat agak ragu. 


“Lebih cepat lebih baik,” sambung Jay. 


Yungi diam sebentar dan itu semakin menunjukkan keraguannya. 


“Kalau kamu siap, aku yang akan menyiapkan kontrak sekaligus penasihat hukum untuk bisnis kita,” ujar Jay. 


“Pasti kamu. Aku ga berharap orang lain masuk ke ranah itu. Sepenuhnya aku percaya sama kamu,” ucap Yungi.


“Kalau gitu, kenapa nada kamu ragu?” tanya Jay. 


“Mina baru aja ngelahirin. Aku ga enak. Aku pasti harus jelasin latar belakang ngajak kalian bisnis, kan?” ucap Yungi.


Jay langsung tertawa.

__ADS_1


“Aku paham.” Jay menganggukkan kepalanya. 


“Baiklah! Kita tunggu sementara waktu, dan aku pasti ngingetin soal ini. Aku serius soal ini,” ucap Jay dan ia menatap Yungi dengan serius juga. 


“Hmm,” gumam Yungi. 


“Dan Yun, cukup lima tahun aja, Jangan kamu ambil kontrak yang lima tahun lainnya,” tegas Jay. 


“Iya, makasih. Berarti Feeling aku ga jelek-jelek amat ya!” ujar Yungi sambil senyum. 


“Hei, sejak kapan seorang Yungi mulai kehilangan kepercayaan diri? Come on!” Jay menepuk lengan atas Yungi. 


Yungi tersenyum.


“Thanks, Bro!” ucap Yungi dan wajahnya terlihat lega. 


Mereka tersenyum dan berjabat tangan. 


***


“Sudah selesai?” Mina tersenyum saat Yungi dan Jay keluar dari ruang kerja. 


Kedua lelaki itu menganggukkan kepala dan tersenyum, berjalan mendekati Mina yang sedang duduk di ruang tengah dengan beberapa dokumen di tangannya.


“Sibuk, Min?” Tunjuk Jay pada dokumen-dokumen itu. Dia duduk di hadapannya, sementara Yungi di sampingnya.


“Dokumen dari rumah sakit. Mau bikin akta kelahiran buat si kembar,” jelas Mina sambil tersenyum. 


“Biar aku yang urus. Kamu istirahat aja, Say!” ucap Yungi lembut.


“Cuma cek aja, kok!” sahut Mina sambil melihat ke arah Yungi sejenak dan tersenyum. 


Jay melihat interaksi mereka. Dia bisa merasakan bahwa senyuman dan tatapan Mina yang hangat kepada Yungi itu adalah sebuah cinta yang tulus. Dia menunduk dan tersenyum atau lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana ia akan masuk di antara mereka. Sama sekali tidak terlihat ada celah di sana. Ia masih mengembangkan senyumnya dan mengembuskan napas panjang. 


“Kok buru-buru, Jay!” Mina terlihat kaget.


“Makan dulu!” sambungnya. Ia berdiri perlahan. Kondisinya belum terlalu baik. 


“Penerbanganku jam delapan. Sebaiknya aku segera pergi sekarang, khawatir macet,” jawab Jay. 


“Ah gitu ya! Kita ga sempet makan malam ya!” ucap Yungi sambil menatap Jay. Dia merangkul bahu Mina lembut. 


“Ga apa-apa, lain kali aja!” Jay merapikan dirinya dan bersiap pergi. 


“Aku boleh liat anak-anak dulu?” tanya Jay. 


“Ah oke!” Yungi mempersilakan. 


Mereka berjalan menuju kamar ketiga bayi dan di sana sudah ada ketiga kakaknya dan Mbak Juni. 


“Oh! Om Jay?” Yuna tersenyum saat pintu dibuka dan dia melihat Jay berdiri di sebelah ayah dan ibunya. 


“Hai, Yuna,” ucap Jay. Dia masuk ke ruangan disusul Mina dan Yungi. 


Kedua anak lelaki saling menatap dan kemudian menghampiri Jay dan tersenyum.


“Om mau pulang dulu! Kapan-kapan kita jalan dan main ya!” ujar Jay sambil mengelus kepala Juna, Zen, dan Yuna bergantian. 


“Iya, Om!” Jawab ketiganya bersamaann. 


“Jaga mama, papah dan adik-adik kalian ya!” ucap Jay sambil tersenyum.


“Iya, Om. Makasih,” ucap Zen dengan sopan. 

__ADS_1


Jay mendekati tempat tidur si kembar dan menatap satu per satu bayi- bayi itu. 


“Jun, Jay, Justin, Om pulang dulu ya!” Jay berkata dengan lembut sambil senyum.  Ia berbalik dan berjalan menuju Yungi dan Mina sekali lagi pamit.


“Aku anter ke bandara, ya! Penerbangannya langsung dari Bandung, kan?” tanya Yungi.


“Ga apa-apa, sampai depan aja! Ya, langsung!” Jay berkata dengan santai.


“Yakin?” tanya Yungi.


“Iya lah! Kamu jagain Mina aja!” ucap Jay.


“Oke deh!” Yungi menganggukkan kepalanya. 


“Min, aku pulang!” Jay menatap Mina dengan lembut. Tatapannya selalu dipenuhi cinta. 


“Iya. Hati-hati di jalan,” ucap Mina sambil melambaikan tangannya. 


Jay menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia lalu berjalan bersamaan dengan Yungi menuju keluar. Mina menatap punggung  mereka sambil tersenyum. 


“Bu?” Zen menatap ibunya. 


“Uhm?” Mina mengangkat kedua alisnya. 


“Papah sama Om Jay gantengan siapa?” tanyanya sambil senyum. 


Mina kaget. 


“Kok nanya gitu?” tanya Mina. 


“Karena Juna pikir Om Jay suka sama Ibu,” sela Juna yang sejak tadi ikut mendengarkan percakapan mereka. 


Mina tertawa. 


“Iya, ga apa-apa, itu hak Om Jay,” jawab Mina.


“Tapi Ibu gimana?” tanya Juna.


“Ibu punyanya papah dan kalian.” Mina tersenyum. 


Juna tersenyum lebar. Wajahnya langsung sumringah. 


***


“Aku pulang!” Jay bilang saat taksi online yang dipanggilnya datang. 


“Iya, kabari kalau sudah sampai, ya!” Yungi menepuk punggung Jay pelan. 


“Sip!” Jay membuka pintu mobil bagian belakang lalu masuk dan kembali menutup pintu.


Mobil melaju di jalan raya membawa Jay ke arah bandara. Wajahnya terlihat lesu. 


Kenapa harus selalu dia yang dipaksa untuk menyerah oleh takdir? Itu pikirannya. 


Dia menghela napas panjang lalu merebahkan dirinya pada sandaran kursi seraya memejamkan mata. 


Dia benci pada kenyataan bahwa ia kalah tapi hati nuraninya menolak melepaskan satu-satunya cinta dalam hidupnya. Dia juga benci pada sikap dirinya yang penuh dengan keraguan untuk mengambil langkah dan lemah ketika melihat gambaran kebahagiaan Mina yang bukan dengan dirinya. 


Keinginannya tidak banyak dan sederhana pula. Hanya ingin Mina bersamanya. Itu saja. 


Apakah tidak bisa?


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2