
"Bagaimana hari pertama sekolah?” Mina menatap semua anaknya. Mereka tengah bersiap untuk makan malam.
“Ada murid baru di sekolah kami,” ujar Juna memulai pembicaraan.
“Uhm,” gumam Mina. Matanya terlihat berbinar menunjukkan rasa ketertarikannya pada topik yang Juna angkat. Dia menatap Juna menunggunya untuk melanjutkan pembicaraan.
“Laki-laki atau perempuan?” Yungi bertanya.
Mina melirik ke arahnya sambil mengernyitkan alisnya. Senyum dan tatapan matanya menjelaskan ‘Apaan sih, Yun?’
Yungi balik menatap Mina dengan alis yang terangkat juga seolah hanya menyiratkan penasaran biasa.
“Perempuan, Pah. Namanya Bridget. Terus dia kecentilan gitu, langsung peluk Juna dan bilang suka sama dia. Jadinya Juna diejekin sama semua temen-temen di kelas.” Zen menjelaskan.
“Oh. Astagaa!” Mina dan Yungi kaget. Mereka bertatapan.
“Juna ga apa-apa?” Mina menatap Juna dengan khawatir.
“Iya, ga apa-apa, Bu. Dianya galak sama Bridget. Dia bilang dia udah punya pacar. Jadi, Bridget ga bisa jad pacar dia,” ujar Zen lagi.
“Terus Bridgetnya gimana? Nangis? Juna minta maaf sama dia? Galaknya gimana?” Mina terlihat khawatir.
“Tenang, Bu. Juna gentleman. Aku minta maaf sama dia. Cuma aku agak dingin aja sama dia soalnya dianya agresif. Aku ga suka sama dia,” jelas Juna.
“Ah gitu! Tapi Bridgetnya ga apa-apa? Juna ngerti ga kalau dia pasti sakit hati dan mungkin jadi kesel sama Juna,” ucap Mina. Dia memandang Juna melihat reaksinya.
Dan benar seperti diperkirakan bahwa dia terlihat khawatir.
“Maksud Ibu gini loh Jun! Iya Bridget ga bagus bersikap sama Juna karena dengan sikapnya seperti itu Juna juga jadi ga nyaman kan diejekin sama temen-temen, tapi Juna juga tidak boleh bersikap sama. Denga galakin dia dan bohong juga bilang punya pacar. Itu ga bagus, Nak!” Mina memberitahu dengan lembut. Sikapnya terlihat tenang. Ia beranjak dari duduknya dan pindah ke sebelah Juna lalu mengelus kepalanya lembut dan tersenyum.
“Tapi, Juna ga bohong Bu. Dia emang udah punya pacar kok!” ujar Zen membela Juna.
“Hah?” Mina kaget
“Eh? Juna udah punya pacar?” Yungi juga kaget. Responsnya lambat karena ia terpesona dengan komunikasi di antara Mina dan Juna.
“Iya, Pah, Bu. Mimi, anaknya Tante Jini sama Om Jun. Kan udah lama jadian,” jawab Zen lagi.
“Kayak kamu ga aja. Kamu juga sama Minami kan?” Juna ikut berbicara karena ia merasa diadukan Zen.
“Aku ini belain kamu! Kok malah ngaduin aku sih!” Zen jadi kesal.
“Wow! Wow! Wow! Tunggu sebentar! Ini apa-apaan? Ibu ga paham ini,” ujar Mina dan ia benar-benar merasa kaget. Ia langsung menaikkan suaranya sambil memegang pelipisnya.
“Ah, Ibu. Kak Juna dan Kak Zen favorit di sekolah loh Bu! Yuna jadi seneng!” Tetiba Yuna menimpali dengan polos.
“Eh!!!” Yungi dan Mina sekali lagi bertatapan. Mereka menelan ludah.
“Ah, Yuna mau bilang apa?” Tanya Yungi sambil tersenyum.
“Iya. ini hari pertama Yuna di sekolah kan? Dan semua anak perempuan mau berteman dengan Yuna karena kak Zen dan Kak Juna ganteng. Jadi, mereka semua baik kepada Yuna. Jadi, Yuna bahagia,” sahut Yuna lagi dengan polosnya. Ia tersenyum dan memang terlihat bahagia.
“Ada yang buli kamu, ga Yun? Bilang kakak,” sahut Juna. Dia melihat Yuna dengan penasaran.
“Buli apaan kak?” tanya Yuna. Wajahnya terlihat bingung.
“Maksud Kak Juna ada yang gangguin Yuna ga di sekolah? Atau ada yang ngomong ga baik sama Yuna, jadi Yunanya merasa sedih ga nyaman atau kesal, gitu!” Yungi berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti.
“Oh, gitu!” Yuna bilang tapi dia seperti sedang berpikir.
“Tadi pagi Pak Anjang, wakil kepala sekolah bilang kalau ibu cantik dan manis. Katanya Yuna juga cantik tapi wajah Yuna ga mirip sama Ibu. Itu bikin Yuna sedih,” ujar Yuna. Wajahnya berubah murung.
“Astagaa!” Yungi menatap Mina yang terlihat kaget.
“Sayang! Ga apa-apa. Ga mirip Ibu. Kamu lebih cantik daripada Ibu dan kamu sebenarnya paling imut dan cantik di antara kami. Betul kan Kak Zen, Kak Juna, Papa Yungi?” Mina menatap orang yang disebutkan satu-satu.
“Iya, bener. Yuna paling cantik. Ibu kalah!” Yungi berkata.
“Iya, Yuna cantik banget. Tadi Kak Zen denger ada yang kasih jepit rambut buat Yuna, ya? siapa namanya? Kevin ya?” Zen berusaha mengalihkan. Karakternya mirip Awan. Lebih tenang dan pintar membaca keadaan.
“Oh, Kak Zen tahu?” Wajah Yuna langsung berubah sumringah.
__ADS_1
“Si Kevin anak kelas 3B?” Juna memastikan sambil menatap Zen. Zen menganggukkan kepalanya.
“Woah! Dia kan si Ganteng Kalem itu ya!” Juna terkejut.
Kevin rupanya juga terkenal di kalangan anak kelas lima dan sebenarnya saingan mereka.
“Oke, baiklah! Tapi ini kalian bukannya masih terlalu kecil kan buat ngomongin pacar-pacaran atau naksir-naksiran. Ibu lebih suka denger kalian bahas soal pelajaran deh!” Mina mencoba mengalihkan semua topik. Ia meninggikan suaranya dan menambahkan aura tegas di dalamnya. Ia melihat anak-anaknya satu demi satu.
“Tapi Bu, hari ini emang harinya Yuna deh! soalnya banyak banget yang deketin dia dan banyak kasih hadiah. Ibu bisa periksa di tasnya.” Juna bilang lagi.
“Iya, Bu. Yuna senang hari ini. Oh, iya, ada juga teman-teman Yuna yang kasih permen buat ibu,” sahut Yuna.
“Permen buat ibu?” Mina tersenyum sambil tunjuk hidungnya sendiri.
“Iya, kan ibu kasih mereka muffin dan mereka bilang muffin buatan ibu enak.” Yuna tersenyum bahagia.
“Oh, gitu. Syukurlah kalau mereka menyukainya. Ibu senang. Jadi, hari ini Yuna senang, kan?” tanya Mina memastikan.
“Iya, tentu saja,” ujar Yuna sambil tersenyum.
“Syukurlah!” Mina tersenyum.
“Baiklah, sekarang selesaikan makannya. Setelah itu, kalian sudah yang harus kalian lakukan ya! Tapi, Juna, Zen, nanti sebelum kalian tidur, Ibu mau bicara dengan kalian, ya!” Nada Mina terdengar serius.
“Iya, Bu.” Keduanya menjawab kompak.
Mereka menyelesaikan makan malam dalam diam dan setelah itu melakukan rutinitas yang biasa mereka lakukan.
“Yuna, Ibu boleh masuk?” Mina berdiri di depan pintu kamar Yuna.
“Iya,” jawab Yuna dengan suara yang imut.
Mina tersenyum sambil membuka pintu kamar. Ia menghampiri Yuna yang sedang duduk di atas kasur mengamati semua hadiah yang ia terima dari sekolah.
“Wah, banyak sekali hadiahnya, Nak!” Mina duduk di dekat Yuna.
“Iya,” jawab Yuna sambil tersenyum.
“Oh, banyak sekali.” Mina menerimanya.
“Tolong sampaikan terima kasih kepada teman-temannya, Yuna. Bilang Ibu sudah menerimanya dan Ibu menyukainya.” Mina mengambil semua permennya dan menyimpannya di pangkuannya.
“Iya, aku akan bilang.” Yuna mengangguk.
“Nah, sekarang, ini rahasia Yuna dan Ibu ya! Yuna tidak boleh bilang kepada teman-teman di kelas,” ujar Mina.
Yuna mengernyitkan alisnya sambil menatap Mina.
“Semua permen ini untuk Yuna. SSSt!” Mina mengedipkan satu matanya dan menyimpan jari telunjuknya di bibirnya.
“Sungguh?” Nada Yuna bahagia.
“Tentu saja,” ujar Mina.
Sejak tadi ia menangkap kesan bahwa Yuna enggan memberikan semua permen hadiah itu kepada dirinya dan ia juga tahu Yuna sungkan meminta permen-permen itu. Pikiran anak sangat sederhana. Ia pikir jika permen-permen itu ia minta dari Mina, tentunya Mina akan sedih.
“Boleh aku berbagi dengan Kak Zen dan Kak Juna?” tanya Yuna dengan wajah sumringah.
“Ya, tentu saja,” ujar Mina sambil tersenyum.
“Yes!” Yuna bertepuk tangan. Dia langsung mengambil semua permennya dan berlari keluar kamar.
Hampir saja ia bertabrakan dengan Yungi yang baru saja membuka pintu kamar Yuna.
“Oh, mau ke mana?” tanya Yungi berdiri di muka pintu.
“Memberi permen ke Kak Zen dan Kak Juna, Pah!” ujar Yuna sambil terus berlari tanpa memperhatikan papanya.
“Kamu membelikan dia permen?” Yungi bertanya sambil berjalan mendekati Mina dan duduk di sebelahnya.
“Ga. itu yang tadi Yuna cerita. Permen buat aku tuker mufin itu!” Mina menjelaskan.
__ADS_1
“Ah ya itu! Terus kenapa jadi dikasih Zen dan Juna?” Yungi masih belum melihat hubungannya.
“Dia memberikannya kepadaku, aku berikan lagi ke Yuna dan Yuna ingin kasih ke Juna dan Zen,” jelas Mina.
“Oooh!” Yungi mengangguk.
“Papah mau permen ga?” Yuna kembali dengan beberapa permen di tangannya.
“Oh, ya, tentu saja. Terima kasih,” ujar Yungi sambil menerima permen yang diberikan Yuna dan ia kemudian duduk di hadapan mereka.
“Ini jepit rambut yang dikasih Kak Kevin, Nak?” Mina menunjuk pada sebuah jepit rambut yang berwarna pink.
“Iya,” ujar Yuna wajahnya terlihat malu dan ia senyum-senyum imut.
“Sudah coba dipakai?” tanya Mina.
“Belum,” jawab Yuna.
“Mau coba?” tanya Mina sambil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum.
“Iya, Bu.” sahut Yuna.
“Nah, lihat di kaca!” sahut Mina setelah ia memasangkan jepit itu pada rambut Mina.
“Wah! Cantik banget Yuna!” sahut Yungi dengan cepat memujinya. Dia tidak bohong karena memang ketika memakai jepit itu Yuna terlihat sangat imut.
“Maksih, Pah!” ujar Yuna sambil tersenyum malu.
“Ibu, gimana aku bilang sama temen-temen kalau aku senang menerima hadiahnya?” tanya Yuna sambil berjalan kembali ke ranjang.
“Yuna bilang terima kasih dan Yuna memakai pemberian mereka. Tentu saja tidak harus langsung pakai semuanya karena itu tidak bagus, Yuna juga repot kan! Tapi Yuna bisa pakai bergantian setiap hari dan menunjukkan kepada teman-teman Yuna kalau Yuna seang dengan hadiah mereka,” jelas Mina sambil mengelus kepala Yuna dengan lembut.
“Iya, Bu. Yuna mau begitu,” ujar Yuna lagi dengan imutnya.
“Bagus!” jawab Mina.
“Apa Yuna sudah siapkan untuk besok sekolah? Ibu cek untuk memastikan ya!” ujar Mina sambil beranjak dari ranjang.
“Iya,” jawab Yuna.
Yungi melihat ke arah Mina yang tengah memeriksa tas Yuna dan pakaian untuk sekolah pada keesokan harinya. Dia tersenyum bahagia dan pemandangan itu tak luput dari observasi Yuna.
“Papah,” ujar Yuna sambil memegang tangan ayahnya.
“Uhm?” Yungi mengangkat kedua alisnya.
“Papah bahagia sama Ibu?” tanya Yuna dan itu mengundan ekspresi yang agak kaget di wajah Yungi.
“Kenapa Yuna bertanya seperti itu?” tanya Yungi sambil tersenyum.
“Karena Yuna bahagia dengan Ibu. Kak Juna bilang alasan Ibu nikah sama Papah bukan karena cinta Papah tapi karena cinta Juna dan Yuna. Jadi, kalau Papah bahagia sama Ibu, Papah harus bilang sama Ibu,” bisik Yuna.
Yungi tertegun. Tapi tak lama kemudian, ia menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum.
“Ibu bilang kalau cintanya Ibu lebih besar sama Yuna dan Juna daripada Papah. Jadi, Papah harus baik kalau mau punya cinta yang besar dari Ibu,” bisik Yuna lagi.
Yungi tersenyum lagi dan ia mengelus kepala Yuna dengan lembut. Tatapannya hangat. Betapa kedua anaknya menyayangi dirinya dan begitu ingin ia bahagia. Itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa didefinisikan dalam hatinya.
“Iya, Papah akan berusaha,” bisik Yungi.
“Semangat,” bisik Yuna sambil memeluk Yungi.
“Sudah lengkap semuanya. Tinggal bekal sekolah ya! Yuna pintar ya. Ibu senang,” sahut Mina dan kembali menghampiri mereka. Yungi menatap Mina dengan penuh cinta.
“Sekarang Yuna boleh istirahat! Sudah waktunya tidur, kan?” Mina menunjuk jam dinding.
“Iya, Bu.” Yuna merapikan semua hadiah dan menyimpannya di boks perhiasan yang berukuran cukup besar. Setelah itu, ia kembali ke ranjang dan merebah sambil menarik selimutnya.
“Good night, Princess,” ujar Yungi sambil mencium kening Yuna bergantian dengan Mina.
Setelah itu keduanya keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar kedua anak lelakinya.
__ADS_1
Bersambung