
Setelah dua minggu menginap di rumah sakit, akhirnya mereka diperbolehkan pulang. Suasana di rumah menjadi lebih hangat dan ramai. Awal-awal, mereka menerima banyak kunjungan dari keluarga, saudara, tetangga dan teman dan mereka menyambutnya dengan sukacita.
“Kok ga ada yang mirip sama si Mina ya!!” Itu komentar saudara dari keluarga Mina. Tidak ada maksud yang buruk di sana, hanya saja mereka heran karena dominasi ayahnya pada wajah ketiga anak itu sangat kuat.
“Wah! Mirip si Yungi semuanya ya Pah!” Nah itu komentar Mamanya Yungi yang sengaja terbang dari Australia dengan ayahnya untuk melihat cucunya. Yang ini pastinya bangga karena cucu mereka sangat mirip dengan anak tunggalnya.
Yungi sebenarnya sangat senang melihat orang tuanya hadir saat ketiga anaknya lahir. Terlebih mereka sangat antusias saat melihat si kembar. Itu sangat beda ketika Erika melahirkan Juna. Ekspresi di wajah mereka dulu saat mengamati Juna tidak sama dengan yang mereka lakukan sekarang kepada Si Kembar. Mereka terlihat sangat biasa seolah melahirkan anak adalah hal yang alami dan kecil. Ini juga sama ketika Erika melahirkan Yuna. Bahkan di kelahiran yang kedua mereka hanya mengirimkan hadiah dan tidak melihatnya secara langsung.
Ini sama halnya dengan teman-teman mereka di Circle 7 yang terlihat sangat antusias ketika melihat ketiga anak Yungi dan Mina dan ikut berbahagia untuk mereka. Mereka memberikan hadiah yang wah dan bahkan Jay langsung terbang dari Singapura untuk memberikan hadiah.
“Mirip kamu Yungi!” itu komentar Vee.
Mereka melakukan video call dari negara masing-masing jauh sebelum Jay datang ke Bandung.
“Berarti si Yungi bogoh pisan nya ka si Mina. (Artinya Yungi sangat suka sama Mina ya!).” Jini menambahkan.
“Selamat, Bro!” Justin mengacungkan kedua jempolnya.
“Gimana rasanya, Bro?” Jun tersenyum.
“Selamat, Yun!” ucap Jay sambil tersenyum.
Yungi menjawab dengan ucapan terima kasih dan senyuman.
“Kamu bahagia, Min?” tanya Jay saat ia bertandang ke rumah Mina dan Yungi tengah menerima telfon dari kantor.
“Iya, Jay. Makasih udah dateng ya!” Mina tersenyum.
“Semoga kamu selalu bahagia, ya!” Jay tersenyum lirih.
“Makasih ya. Doa yang sama untuk kamu juga,” ucap Mina.
Mereka bertatapan cukup lama. Yang perempuan menyiratkan kebahagiaan dan yang lelaki menyiratkan kesedihan yang disembunyikan dan Yungi yang sejak tadi sudah menyudahi pembicaraan di telfon sejak lama mengamati interaksi mereka tidka jauh dari tempat mereka melakukan pembicaraan.
“Pah, Ibu cuma cinta Papah Kok! Meskipun Om Jay suka sama Ibu, dia akan ninggalin Papah,” bisik Zen sambil memegang lengan Yungi.
Yungi kaget saat Zen berkata seperti itu. Ia menatap Zen dan mengusap kepalanya.
“Iya, Papah percaya saa Ibu Kok!” Yungi berjongkok.
“Jangan bilang kepada Juna soal ini ya!” ucap Yungi.
“Juna udah tahu kok Pah! Makanya kami minta Ibu nikahin Papah, soalnya kalau ga, Ibu pasti dilamar Om Jay. Cuma masalah waktu aja Ibu akhirnya sama Om Jay kalau Papah ga ada,” jelas Zen.
Yungi terhenyak. Dia diam berpikir kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Gitu ya!” Dia tersenyum.
“Juna ga mau pisah sama Ibu. Zen juga ga mau pisah sama Juna dan Yuna. Jadi, hanya ini satu-satunya cara supaya kami tetap bersama, kan!” Zen menatap Yungi.
“Kalian jenius!” ucap Yungi sambil mengacungkan jempol.
__ADS_1
Zen tersenyum.
“Papah ga bisa lihat Ibu lama-lama sama laki-laki lain kecuali anak-anak papah nih! Jadi, Papah ke sana dulu ya!” ujar Yungi sambil mengedipkan satu matanya.
Zen menganggukkan kepalanya.
“Kapan kamu balik ke Singapura, Jay?” tanya Yungi sambil berjalan mendekati. Wajahnya menyunggingkan senyuman, menyembunyikan rasa cemburu yang sebenarnya sudah hampir sampai pada ubun-ubunnya.
“Ngusir, nih!” Jay menyindir.
“Ga lah! Kalau waktu kamu cukup luang, aku mau diskusi tentang sesuatu sama kamu. Aku perlu pendapat kamu soal kerjaan,” ujar Yungi.
“Oh gitu!” Jay menganggukkan kepalanya tanda oke.
“Aku tinggal dulu ya, Min,” ucap Jay dengan lembut. Yungi terlihat marah. Dia tidak suka cara Jay berbicara kepada Mina, tapi dia berusaha menahannya.
“Iya,” jawab Mina.
Mereka berdua pergi ke ruang kerja.
“Apa, Yun? Aku tahu ini ga ada kaitannya dengan kerjaan,” ucap Jay sambil tersenyum. Mereka duduk berhadapan di ruang kerja.
“Aku ga bohong, Jay. Aku mau tanya soal kerjaan.” Yungi meyakinkan. Dia kemudian mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam lacinya dan kemudian memberikannya kepada Jay.
“Aku tak yakin kontrak ini benar secara hukum. Apakah memungkinkan untukmu memeriksanya? Ini tidak gratis. Aku akan membayar dan bukan harga teman,” ucap Yungi dengan serius.
“Ah, gitu!” Jay menerima dokumen itu. Ia membukanya dan membacanya. Yungi membiarkannya beberapa waktu dan setelah Jay menutup dokumennya, ia menatap Yungi.
“Oh!” Yungi cukup kaget mendengarnya.
“Kok lawyer di perusahaan aku ngejelasin ga kayak gitu ya! Ini kayak ada permainan,” gumam Yungi.
“Kamu ga konfirmasi dulu sama tim kamu?” Jay menatap Yungi.
“Mereka handle semuanya dan cuma minta aku handle yang sifatnya praktis. Pantes perasaan aku ga enak.” Yungi tersenyum dan tatapannya sedih. Bagaimana bisa teman satu timnya membodohi dia.
“Kenapa mereka sampai kayak gitu sama kamu, Yun? Ada alasannya pasti?” Jay berbicara dengan nada serius.
“Mau take over? atau kamu ada masalah sama mereka?” sambung Jay.
Yungi diam dan mengembuskan napas panjang.
“Mungkin mereka dendam sama aku,” ucap Yungi.
“Hah? Kok bisa? Ada apa sebenarnya?” Jay menatap Yungi.
Mereka boleh bersaing soal Mina, tapi Jay orang yang cukup waras untuk bisa membedakan urusan pribadi dan pertemanan.
“Dulu, aku melaporkan Abraham ke bos karena dia korup, bos maafin dia dan kayaknya sih sekarang dia dendam sama aku,” jelas Yungi.
“Soalnya aku bikin perusahaan Konsultan bareng dia dan profit aku sering dicomot sama dia juga. Kayaknya ini ada kaitannya sama dendam dia sama aku dulu,” sambungnya.
__ADS_1
“Ngapain kamu bawa orang kayak gitu buat bikin perusahaan?” Jay melongo.
“Dia mohon-mohon sama aku, Jay. Jadi, aku pikir dia udah berubah,” ucap Yungi. Dia terlihat lemas.
“Tapi sekarang kamu udah keluar kan dari perusahaan konsultan itu!” Jay memastikan.
“Iya, soalnya Cash flow ga jelas dan banyak hal yang aku pikir ga masuk akal sih!” Yungi memegang pelipisnya.
“Menurut aku sih, permainanya ga satu orang, Yun. Kamu kalau lanjutin proyek ini, kamu bakalan jatuh sendirian. Mendingan kamu mundur dari sekarang,” ucap Jay.
“Tapi ini udah jalan hampir satu tahun dan aku dah tanda tangan pula buat lima tahun,” keluh Yungi.
“Kalau yang lima tahun itu ga bermasalah, tapi yang lima tahunnya lagi itu masalah. Uangnya bukan kamu yang pegang, kan?” Jay memastikan.
Yungi mengangguk pelan.
“Kalau gitu, proyek lima tahun realisasinya kamu kasih ke tim kamu aja.Kamu lepas aja. Anggap aja kamu dibayar untuk jasa profesi kamu bukan karena kamu ketua tim, ngerti ga?” Jay berkata lagi.
“Iya, aku ngerti,” jawab Yungi.
“Kenapa kamu ga nerusin perusahaan Papah kamu aja sih? Daripada ribet kayak gini?” Jay menatap Yungi.
“Hei, jawabannya sama dengan kamu. Kenapa kamu ga nerusin perusahaan papa kamu?” tanya Yungi balik.
“Karena aku punya kakak yang bisa diandalkan, kamu enggak. Kamu anak tunggal. Pada akhirnya orang tua kamu pasti minta bantuan kamu,” ujar Jay.
Yungi diam.
“Anggap kamu handle dua-duanya, ga ada masalah, kan?” tanya Jay.
“Masalah,” ucap Yungi.
“Kok bisa?” Jay mengernyitkan alisnya.
“Perusahaan Papa pusatnya di Australia, bukan di sini. Aku harus pindah ke sana kalau mau bantu Papah. Bener kok Papa udah pernah minta tolong sama aku. Tapi, masalahnya aku ga mau ninggalin Mina di sini,” jelas Yungi.
“Mina? Apa kaitannya sama dia?” Jay bingung.
“Bisnis Mina besarnya di sini. Dia juga dah nikmatin kehidupan dia di sini. Aku ga mau ngambil itu dari dia. Aku aja lah yang fit-in,” sahut Yungi.
Jay terkejut. Dia tak menyangka Yungi berpikir seperti itu. Dia merasa Yungi jauh lebih baik sekarang.
“Tapi kamu kan ayah, Yun. Pundak kamu sebagai penanggung jawab keluarga itu dipertaruhkan kalau pekerjaan kamu ga jelas,” ujar Jay.
“Kecuali...,” sambungnya.
“Apa?” Yungi terdengar mempunyai harapan.
“Kenapa kamu ga bikin perusahaan konsultan sendiri? Aku pribadi tertarik berinvest kalau kamu mau bikin perusahaan. Kamu juga bisa ajakin geng kita,” ucap Jay.
Keduanya bertatapan.
__ADS_1
Bersambung