Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 56 Kesalahan Besar


__ADS_3

Kewalahan. 


Itu adalah perasaan Mina saat itu. Di tengah kebahagiaan karena  kembali ke rumah dan berkumpul kembali dengan keluarga, Mina dihadapkan pada banyak kenyataan sedih. Bahwa orang tuanya sudah meninggal adalah salah satu hal yang paling berat dalam hidupnya. Mengurus hal ini pun rentetannya cukup panjang sebab ini menyangkut soal warisan dan posisi kursi di perusahaan. dan untuk urusan ini, Mina menyerahkan sepenuhnya kepada Sesil dan pengacara perusahaan. 


Urusan lainnya adalah tokonya. Seiring dengan persidangan yang berjalan, Mina mendapat kabar yang sekali lagi harus membuatnya kecewa. Tokonya mendapat kritikan tajam dari pelanggan yang datang ke sana. Diduga bahwa para pelanggan itu adalah penggemar berat Leo Sudarsono yang tidak terima meninggal gegara Mina. Mereka juga menolak fakta bahwa influencer itu adalah seseorang yang jahat dan gila. Beberapa tokonya harus tutup karena sadisnya pemberitaan di media oleh mereka. 


Yang paling menyedihkan adalah setelah hampir satu setengah tahun berjalan, hasil persidangan pada awalnya memutuskan bahwa Yungi dihukum lima tahun penjara. Yungi dikenai pasal membunuh untuk membela diri, merusak beberapa barang bukti, dan kelalaian karena tidak segera menelfon polisi ketika tahu Mina menghubunginya. Namun, Jay tidak tinggal diam. Dia membantu Yungi dan dengan menggunakan keahliannya sehingga hukuman Yungi dapat dikurangi menjadi dua tahun dengan tambahan membayar denda sejumlah uang yang sudah ditentukan oleh pihak pengadilan. 


Selama dua tahun Yungi di penjara, Mina pontang-panting  meminta bantuan banyak pihak yang berkaitan dengan penjaranya Yungi agar Yungi tidk diganggu. Dia sudah menghabiskan banyak uang untuk itu karena sogok sana dan sini. Dia tidak peduli bahwa cara yang dilakukannya itu tidak benar karena yang paling penting adalah Yungi aman di dalam sana. Yungi tidak pernah tahu tentang hal itu. 


Mina tidak kuat melihat Yungi yang begitu kurus dan tidak terurus. Batinnya tersiksa karena memilih menebus kesalahan Mina. Seharusnya dia yang kurus dan tidak terurus itu. Seharusnya dia yang berada di balik jeruji besi itu. Bukan Yungi. Pergolakan batinnya itu membuatnya tidak merasa baik. Setiap malam ia menangis dan merasakan penyesalan yang amat dalam. Yungi sering melarangnya agar tidak sampai bicara tentang fakta yang sebenarnya, bahwa dia harus kuat untuk menahannya karena bagi Yungi dua tahun itu tidak lama selama ia bisa melihat Mina dan anak-anaknya bahagia. 


Namun, Yungi salah besar. Mina bukanlah orang yang biasa melemparkan kesalahan pada orang lain, terlebih menutupinya. Jika ia salah ia akan bilang salah dan jika ia benar, ia akan mengatakan yang sejujurnya. Dengan karakter seperti itu, pada satu titik, Mina pasti akan lelah dan mengatakan apa adanya. 


“Bu,” ujar Zen pada suatu malam saat ia mendengar Mina terisak di kamarnya. Anak lelaki itu berdiri depan pintu kamar dan mengetuk pintunya beberapa kali. Di sebelahnya adalah Juna dan Yuna. 


Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu dan tak lama pintu dibuka. Mina berdiri di sana. Sekarang tinggi kedua anak lelaki Mina sudah melebihi tinggi Mina. Mereka sudah SMA kelas satu sekarang. Sementara tinggi Yuna sudah sama dengan tinggi Mina. 


“Ada apa, Nak?” Mina berusaha mengembangkan senyum meskipun matanya sembap dan hidungnya memerah. 


“Boleh kami masuk? Ayo kita bicara,” sahut Zen.


“Iya, tentu saja.” Mina membuka pintu lebih lebar. 


“Ibu.” Juna membuka percakapan. Ia memegang tangan Mina erat. Mereka duduk melingkar di atas ranjang. Tatapan ketiga anak itu penuh dengan rasa khawatir tetapi juga rasa sayang. 


Mina menatap mereka sambil berusaha tersenyum.


“Ibu tidak perlu menahan semuanya sendirian. Kami semua anak Ibu. Kami sayang Ibu. Ceritakan ada apa. Kami pikir kami sudah cukup dewasa untuk memahami semuanya.” Zen mengelus punggung Mina pelan. 


“Walaupun yang akan Ibu ceritakan itu buruk dan bisa jadi mempengaruhi hubungan kita,akan lebih baik jika kita bersama, jadi kita bisa mencari solusinya. Bukankah itu yang selalu ibu ajarkan kepada kami?” Yuna menatap Mina sambil tersenyum. Ia mengelus lengan kanan Mina. 


“Kalian,” kata Mina dengan suara tercekat. Ia menangis dan memeluk ketiga anaknya. 

__ADS_1


“Terima kasih. Ibu kuat karena kalian ada untuk Ibu.” Mina berkata di sela-sela isak tangisnya. 


Ketiga anak tersenyum. Mereka menunggu dengan sabar sampai Mina akhirnya lebih tenang dan siap berbicara. 


“Ibu sudah melakukan dua kesalahan besar,” kata Mina sambil mengembuskan napas panjang untuk memulai kalimat untuk membuka penjelasan. Ketiga anaknya tidak ada yang merespons karena mereka menunggu ibunya melanjutkan bicaranya. 


“Sebenarnya, Ibu-lah yang membunuh Leo, bukan papamu. Tapi, ayahmu bersikukuh untuk mengakuinya. Dia ingin ibu bersama dengan kalian dan dia yang menerima hukumannya. Ibu sudah bilang pada papah itu bukan ide yang bagus. Akan lebih baik jika ibu yang menerima hukumannya karena memang ibu yang melakukannya. Tapi papamu bilang, ....” suara Mina tercekat. Ia kembali menangis. 


Selama mereka mendengarkan penjelasan ibunya yang belum selesai itu, ekspresi di wajah mereka campur aduk. Awalnya mereka kaget dan setelahnya mereka menjadi sedih lalu lebih tenang. Sepertinya semuanya sudah paham dengan apa yang terjadi sebenarnya. Sekarang, mereka menyadari mengapa ibunya tampak memiliki beban yang begitu berat karena ternyata pikiran dan perasaanya tidak tenang. Meskipun Yungi yang menebus kesalahannya, Mina merasa itu bukan hal yang benar untuk dilakukan. Orang yang bersalah yang seharusnya menerima hukumannya. 


“Maafkan Ibu!” Mina sepertinya siap untuk melanjutkan. Ia mengusap air matanya di pipi dan kemudian mengatur napasnya. 


Yuna mengelus lengan ibunya. Sementara Juna mengelus punggungnya. 


“Ibu, kalau aku di posisi Papah, aku akan melakukan hal yang sama,” ujar Zen sambil mengusap air mata ibunya di pipinya. 


“Tidak, itu tidak benar. Tidak boleh melakukan itu,” ujar ibunya. Wajahnya tampak kaget. 


“Tapi aku akan tetap melakukannya,” ujar Zen menatap lembut ibunya.


Mina menggelengkan kepalanya.


“Karena aku sangat sayang Ibu. Aku tak akan membiarkan ibu menderita.” Zen tersenyum dan memeluk ibunya.


“Oh, Zen!” lirih Mina sambil mengeluarkan lagi air matanya. Juna dan Yuna ikut memeluk ibunya. 


“Lagipula, aku melihat keadaan ayah saat ibu diculik, Bu! Dia sangat putus asa dan hampir tidak bertahan. Satu-satunya yang bisa ayah lakukan untuk ibu adalah ini. Aku paham dengan pikiran ayah,” ujar Juna.


“Tentu saja salah kalau tidak mengakui kesalahan, Bu. Tapi dalam situasi ini biarkan ayah memainkan peranannya. Si kembar sangat memerlukan ibu saat ini. Kami saja tidak cukup untuk mereka.” Yuna ikut menguatkan. 


“Juna sangat paham perasaan ibu. Juna dan Zen minggu lalu pergi menjenguk papah. Apakah ibu tahu selama kami berbicara, dia hanya memikirkan kesehatan dan keadaan hati ibu. Dia bahkan bilang kepada kami agar ibu tidak perlu merasa bersalah lagi. Ibu harus kuat untuk kami semua. Sebelumnya kami tidak paham yang papah maksud, tapi sekarang kami paham. Dan Juna pikir papah benar. Ibu harus kuat untuk kami,” sahut Juna sambil tersenyum. 


Mina menatap Juna dan matanya kembali berkaca-kaca. 

__ADS_1


“Kami semua sayang ibu,” sahut Yuna. 


Sekali lagi mereka berpelukan. 


“Apakah sekarang perasaan ibu lebih baik?” tanya Zen. 


“Uhm, terima kasih ya!” ujar Mina sambil mengusap kepala Zen dengan lembut dan ia mengembangkan senyum. 


“Syukurlah! Kami sedih kalau ibu seperti ini,” sahut Yuna. 


“Jangan bersedih lagi. Kita semua akan baik-baik saja seperti yang ayah bilang,” sahut Juna. 


Mereka semua berpegangan tangan. 


“Ibu selalu punya kami seperti ibu yang selalu ada untuk kami. Tidak peduli keadaan kita baik atau tidak. miskin atau kaya, aku akan terus bersama Ibu.” Zen berbicara dengan lembut. 


“Oh, Zen! Kamu sudah dewasa sekarang. Ucapanmu membuat ibu bahagia,” sahut Mina.


“Karena ibu  yang mengajarkan kami begitu!” ucap Juna.


“Kalau pun suatu hari kami pergi, kami tidak benar-benar pergi, Bu. Hati kami selalu ada dengan Ibu. Jangan khawatir,” kata Yuna.


“Kenapa kau bilang pergi?” Juna tidak suka mendengar kata itu.


“Emangnya kakak ga akan kuliah dan bekerja? Waktu itu, kita pasti harus jauh kan dari Ibu dan papah juga. Tapi kita ga beneran pergi kan?” Yuna menjelaskan. 


“Ah, gitu! Kalau gitu sih kakak paham. Kirain kamu niat pergi dari kita,” sahut Juna.


“Ngapain pergi ke tempat yang ga ada ibunya, ga asyik Wee!” Yuna mengejek Juna. 


Semuanya tertawa. 


Bersambung 

__ADS_1


 


 


__ADS_2