
Setelah enam bulan bertahan sebagai dosen kontrak, akhirnya Yungi bisa kembali pada pekerjaannya yang ia dambakan. Ia bukannya mencibir profesi dosen. Tidak sama sekali. Hanya saja mengajar bukanlah jiwanya. Dia seorang petualang dan jika kakinya diikat di dalam kelas sehingga ia tak bisa bergerak bebas, tentu saja itu tidak pas.
Sekarang ia kembali bekerja di rumah, pada laptopnya dan itu bagus karena dengan begitu, ia bisa menjaga keluarganya dengan lebih leluasa. Terlebih, perut Mina sudah sangat besar. Hanya tinggal dua minggu menjelang kelahiran anak-anaknya. Tentunya ada banyak hal yang harus dipersiapkan.
Ketiga anaknya benar-benar bahagia. Mereka sangat antusias dalam prosesnya. Mendaftarkan Mina dan Yungi senam dan yoga hamil tentu saja dibantu Sesil, menyiapkan Mina susu dan vitamin, mendekorasi kamar untuk adik-adik mereka, memijit kaki ibunya, dan mengingatkan cek kehamilan adalah beberapa contoh yang mereka lakukan dan bentuk antusiasme mereka menyambut kelahiran adik-adik mereka. Yungi saja sampai merasa cemburu dan merasa tidak berguna sebab hampir semua perannya diambil anak-anak itu. Meskipun begitu, ia juga merasa bangga karena itu artinya anak-anaknya sangat solid dan menyayangi Mina dan ketiga calon adiknya.
“Ibu, boleh kami masuk?” Juna mengetuk pintu kamar ayah dan ibunya.
“Iya, tentu saja,” sahut Mina dan ia tahu saat Juna bilang kami, artinya ada Zen da Yuna juga di sbeelahnya.
Pintu terbuka dan ketiga anak masuk menghampiri Mina dan Yungi yang tengah duduk di sofa. Mina selonjoran dengan kaki di paha Yungi dan suaminya itu tengah memijit kakinya.
“Ibu ga apa-apa?” Juna terlihat khawatir.
“Iya, tidak apa-apa. Kenapa, Nak?” tanya Mina sambil senyum. Ketiga anaknya langsung duduk di antara Mina dan Yungi.
“Bolehkah malam ini kami tidur bersama dengan kalian? Kalau melihat tanggal perhitungan hanya tinggal 14 hari lagi, tapi kami khawatir adik kami ingin cepat bertemu dengan kami jadi mereka ingin keluar lebih cepat. Jadi, kami ingin bersama dengan Ibu dan Papah,” jelas Zen.
“Oh, gitu,” ujar Mina sambil menatap Yungi dan tersenyum.
“Ya, kalian boleh tidur di sini, tentu saja.” Yungi menjawabnya.
“Yessss!” Anak-anak bersorak bahagia.
“Kami akan cepat kembali,” ujar anak-anak bergegas ke kamarnya masing-masing dan tak lama kemudian kembali dengan membawa bantal dan selimut.
“Ayo bantu Papah gelar kasur di sini,” kata Yungi sambil mendorong kasur lipat yang dikeluarkan dari kloset.
“Iya, Pah!” jawab kedua anak lelaki. Sementara Yuna mendekati Mina dan mengusap-usap perut Mina yang sangat besar.
“Kami sudah punya nama untuk adik-adik kami,” ujar Yuna.
“Oh, iya?” Mina sumringah.
“Karena semuanya lelaki, kami semuanya sudah bersepakat,” ujar Yuna lagi.
“Uhm, siapa?” tanya Mina penasaran.
“Tunggu Kakak dan Papah ya, Bu. Nanti kami bilang,” ucap Yuna dengan semangat.
“Uhm,” gumam Mina.
Mereke berkumpul di kasur yang baru saja digelar.
“Pah, Bu, kami ingin mengambil nama teman-teman Ibu dan ayah. Jadi, kami pikir adik-adik kami akan menjadi 3Js.” Zen menjelaskan.
“Hah? Maksudnya?” Yungi mengernyitkan alisnya.
“Bagaimana kalau memberi nama mereka Justin, Jun, dan Jay?” ujar Juna.
“Dan menambahkan nama belakang Papah Yungi, seperti kami,” ujar Yuna.
“Oh!” Yungi tersentak.
“Uhmmm,” gumam Mina berpikir.
“Papa dan Ibu tidak setuju?” tanya Juna.
“Ah, kami harus bertanya dulu kepada mereka,” sahut Yungi.
__ADS_1
“Iya, itu benar,” jawab Mina.
“Kami sudah melakukannya dan mereka mengizinkannya,” jawab Zen.
“Eh?” Mina dan Yungi kaget. Mereka saling tatap.
“Apa Ibu dan Papah keberatan kalau kami memberi nama mereka dengan nama teman-teman Ibu dan Papah?” Yuna menatap ayah dan ibunya bergantian.
“Ti.. tidak, tentu saja tidak. Baiklah Jay, Justin, dan Jun. Itu nama adik-adik kalian,” sahut Yungi.
Wajah Yuna sumringah begitu juga wajah Juna dan wajah Zen.
“Ibu, lihat! perut ibu gerak-gerak. Adik-adik Yuna suka dengan namanya.” Yuna berkata dengan wajah yang sumringah.
Mina tersenyum. Ketiga kepala mungil menempel di perut Mina yang sangat besar dan mendapat respons tendangan kaki-kaki mini dari dalam perut ibu mereka.
“Woaaahhh!” Mereka tertawa bahagia.
Mina dan Yungi hanya saling menatap dan menyunggingkan senyum.
“Kamu ga apa-apa? Kayaknya kamu ga setuju nama teman-teman kita dipakai oleh anak-anak.” Yungi berbisik karena anak-anak sudah terlelap tidur. Mereka duduk bersender pada badan ranjang duduk bersebelahan. Yungi merangkul bahu Mina dan membelainya lembut.
“Iya. Kurang setuju sebenarnya. Tapi mereka terlihat bahagia. Juga ini hal sepele, jadi ga apa-apa. Lain kali kalau hal serius dan aku tidak setuju, aku pasti akan bilang,” jelas Mina dengan suara yang juga pelan.
“Baiklah,” ujar Yungi. Ia menarik Mina ke dalam pelukannya dan mengecup pucuk kepalanya lembut.
“I love you,” bisiknya.
“I love you too,” bisik Mina.
Mereka kemudian merebah. Mina mengambil posisi memiring dan Yungi membantunya untuk menahan perutnya dengan beberapa bantal. Setelah dirasa nyaman, Yungi kembali pada posisinya dan mengusap punggung Mina sampai akhirnya keduanya terlelap dalam mimpi.
“Baiklah, ini cek yang terakhir. Semuanya baik dan saya sih yakin kamu bisa lahiran normal. Tapi tetap jaga kondisi ya!” dokter melepaskan stetoskop kemudian menyimpannya di atas meja.
“Syukurlah!” Mina dan Yungi terlihat lega.
“Belum ada tanda-tanda melahirkan ya?” dokter memastikan.
“Beberapa kali sempat mulas dan sering kram perut juga, dok. Tapi mungkin itu false alarm aja kali ya!” Mina memberitahu.
“Iya. Tapi, memang waktunya sudah dekat sih, Min. Mau diinduksi aja, Min biar keluar sekarang atau mau tetap tunggu inisiatif mereka keluar sendiri aja. Bisa normal kok! Ga usah caesar,” ujar dokter.
“Normal aja, dok. Tunggu mereka siap,” ujar Mina sambil menatap perutnya dan mengelusnya.
“Baiklah! Kalau begitu jangan lupa minum obat, sering aktivitas yang bisa memposisikan bayinya. Paham kan maksud saya?” dokter menatap Mina.
“Iya, dok. Paham.” Mina mengangguk pelan.
“ASI kan?” dokter memastikan lagi.
“Iya, dok! Ini udah keluar juga.” Mina tersenyum.
“Bagus! Jarang perempuan sekarang mau ngasih asi kan. takut rusak katanya,” dokter menjelaskan.
“Oh gitu ya!” Mina mengernyitkan alisnya.
“Rusak gimana dok? perasaan punya istri bagus-bagus aja,” sahut Yungi ikut nimbrung.
Wajah Mina memerah dan dokter tertawa.
__ADS_1
“Syukur kalau Anda pikir begitu. Banyak suami cari perempuan di luar karena istri yang lagi hamil biasanya jarang menarik perhatian mereka. Katanya aura sensual mereka jadi berkurang dan suami jadi ga selera. Anda ga gitu kan, Mas Yungi?” dokter mengangkat satu alisnya.
“Eh, masa, dok? Saya perasaan sih nggak ya. Kalau boleh sih maunya tiap hari dok! Cuma saya tahu diri,” gumam Yungi dengan wajah yang terlihat malu.
“Anda hiper?” dokter mengernyitkan alisnya.
“Ga, dok, Cuma bawaan istri saya tuh bikin saya gemes gitu!” Yungi tersenyum.
“Oh, bucin ternyata,” ujar sang dokter dengan wajah terlihat santai.
Mina tertawa.
“Mina gimana? Mau tiap hari juga kalau lihat suaminya?” goda dokter.
“Apaan sih dokter? bercanda terus!” Mina tidak menjawab.
“Kalau suaminya minta suka dikasih ga?” dokter senyum-senyum.
“Dikasih dok!” jawab Yungi.
“Dia sangat tahu gimana nyenengin suaminya, dok! Saya ga ada komplen soal dia,” ujar Yungi.
“Itu kata yang bucin. Gimana nih Minanya?” dokter menatap Mina.
Mina tersenyum lagi.
“Kok dijawab senyum, Min?” tanya dokter.
“Yungi suami ideal, bukan?” sambungnya.
Mina diam sejenak.
“Sebenarnya dokter, menurut saya, maaf kalau pendapat kita tidak sama, tapi hmmm, ... pada dasarnya tidak ada lelaki yang ideal. Wanita membuat standar itu untuk mereka sendiri karena mereka menginginkan sesuatu dari lelaki berdasarkan kriteria yang mereka pikirkan itu. Bahkan kan sebenarnya sulit untuk mendefinisikan normal. Lelaki normal, lelaki ganteng, susah memutuskan definisi yang ajeg karena penilaiannya biasanya subjektif. Jadi, kalau saya pribadi, syukuri saja yang ada. Kekurangan dan kelebihannya diterima. Kalau kekurangannya bisa diperbaiki bersama, itu baik, kalau tidak ya ada caranya untuk meminimalisasi. Kan semua manusia pasti punya kekurangan. Saya di mata Yungi juga pasti punya kekurangan. Saling aja,” jelas Mina.
Kedua lelaki yang mendengarkan tidak berkomentar apa-apa. Mereka hanya menganggukkan kepalanya dan saling menatap sambil menyunggingkan senyum.
“Nah, itulah istri saya, dok!” Yungi tersenyum.
“Iya, Mas Yungi beruntung tuh!” ujar dokternya.
“Iya saya juga beruntung dok!” jawab Mina.
“Baiklah, smapai ketemu pas lahiran ya!” sahut dokter.
“Iya, dok, terima kasih,” sahut Yungi dan Mina bersamaan.
Mereka pamit.
Yungi menyetir sambil senyum-senyum sendiri.
“Kamu kenapa, Yun?” Mina menatap Yungi.
“Bahagia,” ujar Yungi.
Ia menatap Mina sejenak sambil tersenyum dan tak lama kembali mengarahkan matanya ke jalan.
Mina tersenyum meskipun ia tak paham apa yang sedang dipikirkan oleh Yungi. Setidaknya ia juga bisa merasakan kebahagiaan Yungi. Oleh karena itu, dia ikut tersenyum.
Mobil masih melaju di jalanan dan mereka larut dalam obrolan ringan dan menyenangkan.
__ADS_1
Bersambung