
Yungi tengah melakukan sesuatu di laptopnya saat Mina mengetuk pintu ruang kerja di rumah mereka.
“Aku ganggu ga?” kepala Mina muncul dari balik pintu.
“Nggak lah. Masuk sini!” Yungi melambaikan tangannya meminta Mina masuk.
“Ada apa, Babe?” Yungi tersenyum dan dengan segera ia menghentikan pekerjaannya di laptop.
“Lusa mulai kerja, kan?” Mina berdiri di hadapannya.
Yungi menganggukkan kepalanya.
“Anak-anak udah kasih kado mereka?” tanya Mina lagi sambil senyum. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Yungi.
“Iya, udah. Mereka lucu banget! Aku jadi terharu. Makasih ya! Itu pasti ide kamu, kan?” Yungi mencondongkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya meraih kepala Mina lalu mengelusnya pelan.
“Bukan ideku. Kebetulan aja ide mereka dan aku sama. Mereka memang anak-anak luar biasa,” sahut Mina berkata dengan bangga.
“Iya, kamu bener. Tapi kalau ide kalian sama, artinya kamu mau kasih hadiah juga nih buat aku?” Yungi bilang dengan percaya diri.
“Iya, bener. Nih!” Mina mengeluarkan kotak panjang kecil dari saku bajunya.
“Wow, apa ini?” tanya Yungi sambil menerima hadiahnya.
Ia mengamati hadiah itu dan tersenyum.
“Makasih ya!” sambungnya sambil menatap Mina.
“Iya, sama-sama. Semangat ya!” ujar Mina.
“Iya. Boleh aku buka?” tanya Yungi.
“Iya, tentu saja. Buka saja!” ujar Mina.
Yungi menuruti. Ia membukanya dan mendapati kotak kecil panjang dari bahan serat beludru berwarna merah. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati dan di dalamnya adalah sebuah balpoin dengan merek yang terkenal di dunia, berwarna perak dan ada ukiran namanya di dekat ujungnya.
“Oh, wah!” Yungi terenyuh.
“Kamu dosen. Pasti banyak nulis juga. Selamat ya!” Mina tersenyum.
“Makasih, Say!” Yungi berdiri dan berjalan menuju Mina memeluknya.
“Kamu suka hadiahnya?” tanya Mina sambil menatap Yungi.
“Sangat suka,” ujar Yungi dan memeluknya.
“Makasih ya!” lirihnya. Ia berkaca-kaca. Sebelumnya saat dia diterima pekerjaan sebagai konsultan di perusahaan pemerintah, Mina juga memberikan hadiah berupa sapu tangan dan dasi. Namun, kedua hadiah itu entah ke mana karena Erika yang menyimpannya. Ia pernah menanyakannya sekali, tapi pertanyaan itu berubah menjadi kecurigaan dan berujung pertengkaran. Setelah itu, Yungi memilih diam dan tak pernah menanyakan lagi hadiah-hadiah itu.
“Ini, kalau kau putar, namanya akan berubah,” sahut Mina sambil memutarnya dan terlihat nama Mina muncul di sana.
“Wah, bagus ini!” ujar Yungi. Kedua pasang mata berfokus pada pulpen itu.
“Dan kalau kamu buka dalamnya, ini di baliknya ada inisial nama anak-anak. Jumlah katanya terbatas, Jadi, aku tak bisa minta untuk mengukir semua nama anak-anak. Lihat! Ini J untuk Juna, Z untuk Zen, dan Y untuk Yuna,” jelas Mina sambil menunjuknya satu-satu.
“Kamu mikirin semuanya,” lirih Yungi dan ia benar-benar terharu.
“Makasih ya!” Yungi memeluknya lagi dan mencium pucuk kepala Mina.
Mina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Ah, masih ada hadiah lain,” ujar Mina sambil tersenyum.
“Oh ada?” Yungi agak terkejut. Masalahnya ia tidak mengharapkan hal itu. Bukankah bekerja untuk seorang suami seperti wajib hukumnya.
__ADS_1
“Tunggu sebentar,” ujar Mina. Dia keluar dari ruang kerja itu dan tak lama kemudian kembali lagi dengan sebuah figura foto kecil hiasan meja.
“Ini!” Mina memberikannya kepada Yungi. Isinya adalah foto mereka semua ketika liburan di Jepang memakai yukata dan hakata, di salah satu tempat di Kyoto.
“Astaga, Min! Padahal aku dah niat mau print sendiri. Nih liat! Aku lagi nyari-nyari foto buat di meja kerjaku,” ujar Yungi dengan cepat menunjukkan sesuatu di laptop.
“Makasih banyak, Babe!” Yungi menarik pinggang Mina dan duduk di atas paha Yungi dan melihat foto-foto di laptop Yungi.
“Oh, ini lucu sekali!” Mina menunjuk pada satu foto. Hanya anak-anak saja di sana.
“Aku print ini dan buat figura lain. Rencananya aku mau buat tiga,” sahutnya
“Oh, banyak sekali. Memangnya mejanya besar. Kan biasanya hanya Cubicle saja,” ujar Mina mengernyitkan alisnya.
“Cukup kok, Min!” Yungi meyakinkan.
“Oh gitu!” Mina menganggukkan kepalanya.
“Kamu ga penasaran sama foto yang satu lagi. Kan tiga kan? Foto kita dan anak-anak, foto anak-anak, terus yang ketiganya foto siapa?” tanya Yungi nadanya minta Mina menebaknya.
“Ga tahu?” Mina terlihat bingung.
“Ya kamu lah!” Yungi mencolek pipi Mina.
“Hah! Aku! Sendirian?” Mina terkejut.
“Iya,” jawab Yungi dengan percaya diri.
“Jangan ih! Jangan ... jangan!” Mina langsung menolak.
“Kenapa? Kamu ga suka?” Nada Yungi agak kecewa.
“Foto kita berdua aja,” ujar Mina.
Mina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Tapi kayaknya ga ada deh, yang cuma kita berdua.” Yungi sambil menggeser foto-foto di laptop.
“Buat saja sekarang,” ujar Mina. Dia mengambil HP Yungi dan memberikannya kepada Yungi.
“Oh! Oke kenapa tidak?” Yungi bersemangat.
“Selfi kan ya?” Yungi memastikan.
“Iya,” jawab Mina sambil merapikan diri.
Setelah itu mereka mengambil beberapa foto dengan banyak pose dan kemudian memeriksa hasilnya.
“Aku print yang ini,” sahut Yungi. Ia memilih foto ketika bibir mereka beradu.
“Jangan! Itu terlalu pribadi,” ujar Mina.
“Yang ini bagaimana?” Setelah ia melakukan pencarian lagi dan kemudian menunjukkannya kepada Mina.
“Nah, oke lah!” ujar Mina. Foto itu menunjukkan Mina yang tengah bersandar di bahu Yungi dan keduanya tersenyum bahagia.
Yungi tersenyum bangga.
“Aku proses deh!” sahut Yungi lagi.
“Eh, tunggu dulu! masih ada hadiah lain,” ujar Mina.
“Hah! Masih ada! Astagaa! Ini kan momenya ga terlalu gimana, Min. Jangan dibesar-besarkan!” Yungi merasa malu.
__ADS_1
“Oh, kamu ga suka?” wajah Mina terlihat sedih.
“Suka, pasti. Cuma aku jadi malu aja. Ini aku tuh jadi kayak macam anak lelaki yang disunatin gitu dikasih banyak hadiah. Padahal ini kan aku suami dan bekerja harus kan supaya bisa menafkahi gitu! Juga ini pekerjaan kedua aku, bukan yang pertama yang wajib selebrasi gitu, jadi, kayaknya ga layak juga aku dapat hadiah sebanyak ini!” sahut Yungi lagi. Wajahnya terlihat malu.
“Ah ga gitu dong! Kamu layak banget dapet hadiah yang terakhir ini. Kerja kamu keras loh buat yang ini!” sahut Mina sambil tersenyum.
“Oh, oke! Aku jadi penasaran,” ujar Yungi sambil mengernyitkan alisnya. Meskipun begitu, dia juga terlihat antusias.
“Nih!” Mina mengeluarkan satu bungkusan kecil dari sakunya. Bentuknya mirip dengan pulpen tadi dan kemasannya pun cukup mirip. Hanya saja yang pulpen bungkusnya berwarna merah, tapi yang ini hijau.
“Ini hadiah yang terakhir.” Mina memastikan.
“Ah, oke!” Yungi tersenyum.
Ia membuka bungkusan itu dengan hati-hati dan menganga saat mengetahui isinya.
“Min, ini beneran!” Mata Yungi berkaca-kaca. Ia menatap hadiah di tangannya yang ternyata adalah test pack dengan garis merah dua di dalamnya.
“Min!” Suara Yungi tercekat. Ia langsung memeluk Mina.
“Belum 100 persen akurat. Aku ke rumah sakit besok untuk cek.” Mina berkata dan membalas pelukan Yungi juga.
“Makasih, Min,” lirih Yungi.
“Kita ke rumah sakit besok. Aku pasti temenin kamu,” sambungnya.
“Selamat ya!” lirih Mina.
“No, selamat untuk kita!” bisik Yungi.
“Hasil usaha kegenitan kamu, tuh! Kan kerjanya keras tuh!” canda Mina.
Yungi nyengir.
“Anak-anak udah tahu?” tanya Yungi.
“Belum, kamu Papanya. Masa yang tahu mereka duluan!” Mina tersenyum.
“Tapi dulu aku yang tahu duluan soal Zen,” sahut Yungi.
“Iya itu momennya aja pas kebetulan. Kan kamu nanya alesan aku kenapa ga minum waktu itu,” sahut Mina.
“Lagian aku baru aja ceknya. Sebelum ke sini,” sahut Mina.
“Syukurlah!” Yungi tersenyum.
“Makasih, Min!” Yungi menatap Mina dengan hangat.
Mereka saling menyunggingkan senyum dan berciuman.
“Aku tidur duluan. Kamu masih harus mengerjakan sesuatu, kan?” Mina melepaskan pelukan.
“Iya,” ujar Yungi sambil menganggukkan kepalanya.
Ia kemudian mencium kening, pipi dan bibir mina lalu berjongkok mencium perut Mina.
“Love you, Baby dan Mamanya Baby,” ujar Yungi dengan lembut. Ia menengadah dan menatap Mina yang tengah tersenyum kepadanya
“I Love you,” lirih Yungi.
“Iya, aku juga,” jawab Mina sambil tersenyum.
Bersambung
__ADS_1