
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Yungi mengendarai mobilnya menuju toko. Sejak kegiatan tadi pagi, Mina belum pulang. Ada banyak hal yang harus dia kerjakan dan kebanyakan adalah urusan administrasi dan keuangan.
“Belum selesai?” Yungi muncul di balik pintu.
“Baru saja selesai.” Mina menutup laptop sambil melihat ke arah Yungi yang berjalan dengan membawa bungkusan di tangannya.
“Bawa apa itu?” tanya Mina sambil berdiri dan berjalan menuju Yungi yang duduk di sofa. Ia kemudian duduk di sebelahnya.
“Makan malam kita,” ujar Yungi sambil membuka bungkusan dan di dalamnya nasi goreng kesukaan Mina.
“Kamu belum makan malam?” tanya Mina kaget.
“Belum. Aku makan bareng kamu.” Yungi melirik sebentar ke arah Mina lalu kembali membuka bungkusan lainnya.
“Anak-anak udah makan. Si kembar dah bobo. Kakak-kakaknya masih mengerjakan tugas,” lapor Yungi.
“Syukurlah! Makasih, Say,” kata Mina.
Yungi tersenyum.
“Gimana acaranya? lancar?” Yungi bertanya. Mereka mulai menyantap makan malam.
“Iya. Semuanya baik,” ujar Mina sambil menyendok makanannya.
“Syukurlah!” Yungi tersenyum.
“Kamu dah selesai pekerjaan?” tanya Mina.
“Udah. Tadi sore,” jawab Yungi.
Mina mengangguk.
“Say, Mama telfon. Katanya Papa sama Mama kangen cucu. Tapi ga bisa ke sini. Jadi mereka undang kita ke sana,” sahut Yungi memulai percakapan.
“Ke mana? Australia?” tanya Mina memastikan.
“Iya,” jawab Yungi.
“Harus cari tanggal merah biar agak panjang liburannya. Jangan pas weekend,” sahut Mina.
“Iya, aku dah cari. Bulan ini ada dua tanggal merah. Minggu depan sama depannya lagi. Cuma kalau minggu depan ini aku ga bisa, ada urusan kantor. Kamu juga ada event di toko kamu, kan, terus anak-anak juga UTS. Jadi, gimana kalau kita pergi minggu depan? Mudah-mudahan kamu luang minggu depan, Say,” jelas Yungi sambil menunjukkan kalender di Hpnya.
“Iya, aku ikut aja. Minggu depannya lagi aku jadwalkan aja buat kepergian kita ke sana,” ujar Mina.
“Oke deh!” Yungi langsung mengetik sesuatu di Hpnya.
“Tapi jadwal anak-anak udah confirmed?” Mina meraih botol minum dan mendekatkannya ke mulut.
“Udah dong!” sahut Yungi.
“Sip. Aku ikut Komandan aja deh!” Mina senyum.
Yungi tertawa.
Mereka selesai makan. Yungi merapikan bekas makannya karena ia meminta Mina untuk merapikan barang-barang yang akan ia bawa pulang. Ia baru saja akan memasukkan bekas makan mereka ke tempat sampah saat melihat sebuah kartu nama tergeletak di sana.
“Kamu ga kehilangan ini?” Yungi memungut kartu nama itu dari tempat sampah dan menunjukkanya pada Mina.
“Kartu apa?” Sekilas Mina melihat ke arah Yungi.
“Leo Sudarsono.” Yungi membaca nama yang tertera di kartu nama itu.
__ADS_1
“Oh, buang saja!” Ekspresi di wajah Mina terlihat agak kesal.
“Oh, kenapa?” tanya Yungi. Dia tidak bertanya tentang alasan dibuangnya kartu itu, tetapi ekspresi di wajah Mina yang berubah.
“Tidak ada alasan,” sahut Mina. Sepertinya ia tidak paham bahwa yang Yungi maksud ‘kenapa’ adalah perubahan ekspresi di wajahnya.
“Kenapa ekspresi di wajahmu berubah?” Yungi memperjelas pertanyaanya.
“Karena kartu nama itu, tentu saja!” Mina menunjuk ke tangan Yungi.
“Buang aja,” lanjutnya.
“Siapa dia?” tanya Yungi penasaran.
“Entahlah! Bukannya tadi pagi kamu ketemu sama dia?” Mina menaikkan alisnya.
“Aku?” Yungi mengeryitkan alisnya, mencoba mengingat-ingat kejadian tadi pagi.
“Ah! Mungkin yang itu!” gumam Yungi saat pikirannya terpaku pada kejadian saat ia bertabrakan dengan seorang lelaki.
“Yang pakai kemeja biru ya! Tinggi, kelimis dan perlente gitu?” Yungi menjelaskan ciri-cirinya.
Mina mengangguk.
“Siapa dia?” tanya Yungi.
“Ga penting. Dia katanya selebgram terkenal. Followersnya udah jutaan apa puluhan juta, aku ga inget. Dia ngajak kolab sama aku. Katanya itu permintaan followersnya buat kolab sama aku. Jadi dia bikin poll gitu kolab sama siapa lagi gitu, terus nama aku muncul di sana dari salah satu fansnya dia dan aku paling banyak votingnya dan dia cari aku,” jelas Mina. Dia menjelaskan dengan agak malas.
“Kok ogah-ogahan gitu. Kan bagus! Toko kamu bisa lebih terkenal lagi,” ucap Yungi dengan nada heran.
“Gimana ya bilangnya? Aku ga nyaman sama dia,” sahut Mina.
“Oh, gitu!” Yungi menganggukkan kepalanya.
“Iya,” ujar Mina.
“Ya udah ayo pulang,” ujar Yungi.
“Udah beres, kan?” sambungnya.
“Iya,” ujar Mina sambil menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan menuju tempat parkir bergandengan tangan.
“Min.” Seseorang memanggilnya tepat saat mereka hendak memasuki mobil.
Keduanya langsung melihat ke arah sumber suara yang tidak jauh dari sana dan Leo berdiri di sana.
Ekspresi di wajah Mina berubah. Dia tidak terlihat senang, Mina bahkan mengeratkatkan pegangannya dengan tangan Yungi.
“Oh, Anda yang tadi siang ya?” Yungi langsung memposisikan Mina di belakangnya. Tentu saja, ia dapat membaca situasi yang tidak nyaman itu dengan cepat. Ia sendiri tidak terlalu menyukai lelaki di depannya itu. Entah kenapa! Padahal interaksi mereka terbilang sangat terbatas. Plus cara dia memanggil Mina yang sok-sokan akrab membangkitkan emosinya, tapi ia berhasil menahannya.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya Yungi lagi dengan sikap yang tenang tetapi suaranya bernada tegas dan agak tidak ramah.
“Saya boleh berbicara dengan Mina sebentar?” Leo bertanya dengan sopan.
“Iya, tentu saja. Tapi, urusan apa ya?” Yungi masih menahan Mina di belakangnya dan saat ia menoleh ke arah Mina, sekilas ia dapat melihat Mina enggan berbicara dengannya.
“Tentang bisnis. Ini pasti akan menguntungkan Mina,” ujar Leo lagi. Ia berbicara dengan penuh percaya diri dan dengan nada yang agak sombong.
“Saya sudah bilang bahwa saya tidak tertarik untuk kolab, Mas. Terima kasih atas ajakannya,” sahut Mina. Dia berdiri di sebelah Yungi dan menolak dengan cara yang sopan, bahkan ketika sebenarnya ia sama sekali tidak menyukai lelaki itu.
“Tolong dipikirkan lagi! Saya bukan orang yang mudah menyerah loh!” Leo berkata. Ia menatap Mina dalam dengan cara yang menakutkan sebenarnya seolah ia akan menerkamnya. Aura dominan dan kesombongan yang sangat kuat meliputi dirinya dan itu membuat Mina dan Yungi bertambah kesal tetapi harus bertahan.
__ADS_1
“Mohon maaf, Mas!” ucap Mina lagi. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil masih berusaha menyunggingkan senyum.
“Istri saya sangat sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Jadi, mohon maaf tidak bisa membantu Mas Leo. Ini sudha hampir pukul 10. Kami masih harus melakukan banyak urusan di rumah. Jadi, kami mohon pamit. Permisi.” Yungi agak menundukkan kepalanya memberi hormat sekaligus mengusir Leo secara tidak langsung.
“Ah, baiklah! Tapi saya belum menyerah loh!” Leo tersenyum.
Mina hanya tersenyum tapi terlihat ekspresi di wajahnya tidak nyaman.
Mereka memasuki mobil dan tidak lama mesin dinyalakan. Yungi terpaksa menekan klakson beberapa kali karena Leo berdiri tepat di hadapan mobilnya. Leo meminggir dan dengan begitu mobil Yungi dengan leluasa bisa pergi dari sana. Leo memandang mobil itu dari belakangnya dengan kedua tangan di saku, tatapan yang menakutkan dan senyum yang penuh dengan rasa percaya diri.
“Kamu menolak orang yang salah!” dia berkata kepada dirinya sendiri sambil tersenyum dan membawa dirinya pergi dari sana.
***
“Kamu bener! Dia orang yang menakutkan,” ucap Yungi. Dia melihat ke arah Mina sebentar lalu kembali melihat jalan.
“Kamu ga apa-apa, Say?” Yungi meraih tangan Mina yang terasa dingin dan menggenggamnya erat.
“Uhm,” ucap Mina. Dari nadanya saja bisa jelas terdengar bahwa dia sebenarnya apa-apa.
“Masih khawatir soal dia?” Yungi menatap Mina. Kali ini mereka sudah di rumah dan sedang bersiap untuk tidur.
“Iya. Aku ga nyaman sama dia. Ada sesuatu dari dia yang bikin aku agak gimana gitu!” Mina menghela napas panjang.
“Mau aku temenin kalau ke kantor?” Yungi mengelus kepala Mina pelan.
“Yang logis dong, Yun! Kan masalahnya ada di dia bukan di aku. Terus juga mau sampai kapan emang kalau kamu mau temenin aku? Kecuali aku kolab sama dia, baru dia ga akan gangguin aku kan,” ucap Mina kesal.
“Kalau gitu kamu kolab aja sama dia. Kan cuma sekali aja kan?” Yungi memastikan.
“Sekali gimana. Dia nawarin kontrak kolab selama setahun. Syuting, promosi bareng, Itu praktisnya kayak dia lagi endorse barang aku cuma ga dibayar. Nanti ada sesi denagn fans harus bareng juga. Ih ga ah! Kehadiran dia di sekitar aku aja bikin bulu kuduk aku merinding apalagi kalau berlama-lama sama dia. Ga ah!” Mina langsung menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tengah mencoba membuang sebuah gambar yang menjijikkan. Wajahnya saja sampai meringis.
“Susah juga ya!” Yungi berpikir.
“Pokoknya, aku ada di sisi kamu. Kalau kamu perlu ke toko, aku temenin kamu. Aku bisa kerja di sana. Aku pasti lindungin kamu. Yang jelas kalau kamu ga merasa nyaman, ga usah kerja bareng dia.” Yungi memegang tangan Mina.
“Iya,” ucap Mina sambil merebahkan dirinya disusul Yungi yang juga ikut berbaring di sebelahnya.
“Sini,” lirih Yungi sambil menarik Mina ke pelukannya.
“My baby,” bisik Yungi sambil mencium pucuk kepala Mina.
Mina tak berkata apa-apa. Sejujurnya, ia merasa begitu aman dan nyaman saat Yungi memeluknya. Tanpa ragu ia membalas pelukannya.
“Yungi!” ucap Mina sambil menengadah, menatap Yungi.
“Uhm,” jawab Yungi yang tengah menaikkan alisnya.
“I love you,” ucap Mina sambil menyunggingkan senyuman. Wajahnya terlihat bahagia dan matanya berbinar indah.
Wajah Yungi ikut berubah sumringah. Mina terlihat begitu cantik sekaligus rapuh di matanya dan ia semakin mencintainya.
“I love you too,” lirih Yungi dan mencium bibir Mina dengan lembut.
Mereka berciuman cukup lama dan tak lama kemudian melepaskannya. Mereka bertatapan dan saling menyunggingkan senyuman.
“Bobo?” Yungi berkata lirih sambil menatap Mina lembut.
“Iya,” ucap Mina dan ia memejamkan matanya.
Yungi mengembuskan napasnya panjang. Ia tersenyum lalu memejamkan matanya.
__ADS_1
Bersambung