
Bab 31 Kenangan
“Kamu di sini rupanya?” Yungi berjalan menuju Mina yang tengah merapikan seprai ranjang di kamar Juna. Itu di rumah Yungi.
Sudah hampir sebulan mereka pulang dari Jepang. Waktu anak-anak sekolah hanya tinggal seminggu lagi. Dan sesuai rencana, setelah mereka pulang dari Jepang, mereka akan merapikan kedua rumah.
Tentu saja Mina tidak sanggup melakukannya sendirian. Ada banyak hal yang harus ia lakukan dan urus juga. Jadi, ia meminjam asisten rumah tangga yang sudah sangat lama membantu di rumah ibunya, Mbak Juni, Mbak Ade, dan Mas Bondan. Mereka semuanya sudah menyelesaikan tugas di rumah Mina dan sekarang tengah membersihkan rumah Yungi.
“Sudah pulang? Ga jadi ke kampus?” tanya Mina. Sejenak ia melihat ke arah Yungi lalu kembali pada pekerjaannya. Ia merasa perjalanan yang dilakukan Yungi tak masuk akal jika dikaitkan dengan waktunya. Dia mengantarkan anak-anak ke eskul, lalu belanja beberapa barang dan ke kampus. Itu seharusnya cukup lama untuk dilakukan.
“Sudah. Tapi cuma sebentar. Hanya memastikan bahwa namaku dan kantorku sudah siap.” Yungi membantu Mina merapikan ranjang.
Juna dan Yuna punya dua kamar. Satu di rumah Yungi dan yang lainnya di rumah Mina. Kedua kamar di rumah Yungi hampir tidak pernah ditempati, jadinya Mina hanya mengganti seprai dan mencuci tirai kamar sebulan sekali. Namun, beres-beres di kamar itu dia lakukan biasanya seminggu sekali. Jika tidak ruangan akan cepat berdebu dan itu tidak bagus, khususnya untuk Juna dan Yuna yang hidung keduanya sangat sensitif terhadap debu. Itu penyakit bawaan dari Yungi yang hidungnya akan dengan mudah mendeteksi bahwa ruangan yang ia tempati kotor atau tidak. Makanya, ia jauh-jauh hari mengecek kantornya agar dia bisa merapikannya.
Kuliah mulai bulan September dan itu masih akhir Juni. Masih ada waktu dua bulan lagi sebenarnya. Namun, dia harus mulai membersihkan ruangan dan menyimpan beberapa buku di sana agar sewaktu ia mulai mengajar, ia sudah siap. Toh, praktisnya, ia akan mulai pertengahan Agustus karena ada banyak hal yang harus diurus juga di kampus.
“Bagus juga kamu pulang cepet! Aku mau masuk ke kamar kamu dong! Mau beresin juga. Sekalian ya?” Mina menatap Yungi sambil tersenyum. Tugasnya merapikan kedua kamar anaknya sudah selesai. Mbak Juni dan Mbak Ade yang akan menyapu dan mengepel dan juga memasag kembali tirai yang sudah dicuci.
“Pake minta izin segala! Masuk aja!” jawab Yungi.
“Ye!! Gimana sih! Aku belum pernah beresin kamar kamu yang itu. Dan itu kamar kamu sama Erika. Masa iya aku selonong boi masuk!” ujar Mina.
“Kalau ada kamunya aku lebih tenang,” sambungnya. Ia berjalan mendekati Yungi mengajaknya keluar dari kamar Juna.
“Bukan, kamu salah. Itu kamar kita. Ga ada Erika lagi! Cuma kita,” jawab Yungi. Ia menarik pinggang Mina dan memeluknya.
“Tetep ga enak kalau belum izin dan sekarang karena kamu udah bilang, aku ga akan sungkan masuk kamar kamu,” sahut Mina sambil membalas pelukan Yungi.
“Kamar kita,” bisik Yungi sambil tersenyum.
“Iya, itu. Kamar kita.” Mina menjawab lagi.
Mereka berjalan menuju kamar Yungi dan Yungi membuka pintunya.
“Jangan dicopotin dulu tirai-tirainya,” ujar Yungi. Itu karena saat pintu dibuka, Mina langsung berjalan menuju jendela dan hampir meraih pangkal tirai pada bagian atas.
“Oh, kenapa?” Mina berbalik dengan wajah yang tampak kaget.
“Kita kan belum pernah main di kamar ini! Ya masa buka-bukaan. Malu kan?” Yungi langusng memainkan alisnya. Senyumnya tengil.
“Astaga!! Yungi! Mesum kamu!” Mina menggelengkan kepalanya sambil mengerling.
“Kok mesum sih? Aku kan ngajakin istri sendiri. Masa ga boleh?” Nada Yungi manja. Ia menarik Mina ke pelukannya.
“Main yu!” lirih Yungi sambil mengecup kening Mina.
“Tadi malem baru aja main. Sekarang udah minta lagi,” gumam Mina pelan. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Rambutnya belum kering. Bibirnya masih terasa agak perih karena tadi malam Yungi tak berhenti memainkannya. Apalagi tanda merah yang cukup banyak menghiasi pada beberapa bagian leher dan dadanya itu pasti akan sangat lama hilang.
“Eh apa, Min? Ga kedengeran? Dua ronde? boleh atuh!” Yungi sengaja bercanda.
Mina hanya tersenyum. Ia tahu Yungi sebenarnya mendengar apa yang ia katakan, tapi pada saat yang sama juga ia tahu Yungi tak akan menghiraukannya. Tidak apa-apa. Mina pikir itu wajar juga. Mereka pengantin baru dan Yungi benar. Tidak ada alasan untuk menolaknya karena Yungi suaminya dan Mina juga menginginkannya.
Mina menikmati semuanya; sikap lembutnya dan agresifnya saat mereka akan atau sedang melakukannya. Dia suka saat Yungi tak pernah behenti menyebut namanya dengan cara yang sensual saat mereka bercinta. Dia suka mendengar suara lirih Yungi memanggil namanya dan bilang cinta kepadanya saat dia hampir mencapai puncaknya. Dia tak akan pernah lelah menikmati ekspresi di wajahnya saat ia menikmati dirinya. Dia menikmati semua sentuhan dan kecupan Yungi di tubuhnya, menyukai apa saja yang dilakukan kepadanya dan dia suka saat Yungi bilang terima kasih dan cinta kepadanya sambil mencium bibirnya dan keningnya dengan penuh kehangatan seusai mereka melakukannya. Dia bisa merasakan bahwa Yungi sungguh-sungguh mencintainya dan tentunya perasaan itu mutual.
“I love you and thank you!” lirih Yungi sambil mencium kening dan bibir Mina.
“I love you too,” lirih Mina sambil tersenyum. Mereka berbaring bersebelahan dengan posisi saling menghadap. Tubuh mereka berbalut selimut sampai pada bagian dada, menutupi hampir semua bagian tubuh mereka yang masih sama-sama telanjang.
“Kamu cukur rambut, Yun! Dosen rambutnya harus rapi loh!” lirih Mina sambil membelai rambut Yungi.
“Iya, aku udah ada rencana, kok!” bisik Yungi. Ia tersenyum. Dengan cepat mengecup bibir Mina dan melingkarkan tangannya di pinggang Mina yang ramping.
Mereka saling menatap.
“Kamu mau bilang sesuatu?” Mina mengangkat kedua alisnya.
“Kamu bisa baca pikiran aku rupanya,” ujar Yungi sambil tersenyum.
“Baca pikiran gimana? Aku bukan cenayang, Yun! Tapi kita kan udah kenal lama. Masa iya aku ga kenal gelagat kamu,” sahut Mina sambil mengelus pipinya pelan.
__ADS_1
Yungi tersenyum lagi. Mereka diam sejenak.
“Aku ga nyangka kalau aku akhirnya sama kamu,” lirih Yungi memulai percakapan. Ia menatap hangat Mina.
“Siapa yang akan nyangka, Yun! Ga ada juga kayaknya,” sahut Mina sambil tersenyum. Dia harus menyetujui pikiran Yungi yang itu.
“Kenapa kamu mau nikah sama aku, Min?” tanya Yungi. Wajah Yungi terlihat heran.
Mina diam sejenak berpikir.
“Karena aku sayang kamu, Yun,” sahut Mina sambil menatap Yungi lembut. Yungi agak tersentak dan itu bisa terlihat jelas dari ekspresi di wajahnya. Sepertinya ia tak menyangka bahwa Mina akan menjawab seperti itu. Mina kemudian menelungkup dan menopang dagunya dengan satu tangannya dan menyunggingkan senyuman ke arah Yungi.
“Sebenarnya, aku pernah berpikir sangat lama soal ini,” sahut Mina. Dia masih pada posisinya. Yungi diam, menunggu Mina melanjutkan bicaranya.
“Apa kamu tahu saat Zen berlutut di depanmu memohon agar kamu menikah denganku?” Mina menjeda lagi menunggu reaksi dari Yungi.
“Ah, iya, itu! Juna juga melakukan hal yang sama kepadamu,” sahut Yungi.
“Aku melihat Awan yang berlutut di sana. Waktu Zen juga memohon kepadaku agar menikah denganmu yang kulihat bukanlah Zen melainkan Awan. Bukan Zen yang memilihmu tapi Awan. Kupikir begitu,” ujar Mina. Yungi menganga.
“Awan sebenarnya tahu benar kalau aku sangat peduli sama kamu. Beberapa kali ia bahkan bilang cemburu sama kamu. Lucu buat aku sih! Aku kan milih dia, nikah juga sama dia, punya anak dari dia. Maksud aku apalagi yang dia mau. Aku sepenuhnya milik dia, kan? Kami pernah bertengkar gara-gara kamu. Apalagi pas tahu kalau kamu tetangga aku.” Mina tertawa.
“Serius?” Yungi penasaran. Tangannya mengelus kepala Mina.
“Iya. Tapi dia juga pernah bilang sama aku, jika ada lelaki yang lebih baik dari dia yang memperlakukan aku dan sayang sama aku, jagain aku dan ngerti aku, kamu orangnya.” Mina tersenyum sambil menatap Yungi.
“Woah! Itu dalam, Min!” Yungi terlihat sangat malu. Matanya berkaca-kaca.
“Aku ga tahu Awan mikir kayak gitu soal aku. Kurasa aku harus berterima kasih sama dia,” gumam Yungi dengan wajah yang masih terlihat malu.
“Tapi aku sama Erika juga sempat bertengkar gara-gara kamu,” sambung Yungi.
“Astaga! Aku ga tahu! Kok bisa?” Mina kaget. Ia memperbaiki posisi selimut yang melorot menutupi tubuh mereka yang masih sama-sama telanjang.
“Iya, sama kayak Awan. Cuma masalah waktu katanya aku endingnya sama kamu. Dia mah cuma batu loncatan aja. Semoga jalannya bukan karena aku selingkuh sama kamu atau karena kami cerai. Katanya gitu! Waktu dia bilang kayak gitu, aku juga sama kayak kamu, ga habis pikir. Aku nikah sama dia, walaupun aku ga bisa menuhin semua yang dia mau, tapi intinya aku milih dia, kan! Kenapa dia harus khawatir.” Yungi menjelaskan.
“Mungkin ada dari sikap kamu yang bikin Erika khawatir soal kita,” ujar Mina.
“Ga apa-apa. Orang luar emang sekilas ngeliat kita kayak gitu kok, Yun. Tapi kita yang ngejalanin mah perasaan ga ada yang aneh.” Mina menimpali.
“Ada, Min.” Yungi menatap Mina.
“Hah?” Mina tampak terkejut.
“Hati aku sakit pas kamu pergi ninggalin aku ke Jepang. Tiga tahun loh! Hati aku juga sakit pas tahu kamu mau nikah sama Awan. Aneh kan?” Yungi menjelaskan sambil menatap hangat Mina.
Mina menganga.
“Jadi, aku pikir sebenarnya aku suka sama kamu dari dulu, haha!” Yungi menggaruk bagian belakang kepalanya. Wajahnya terlihat sangat malu. Itu sama dengan wajah Mina yang juga terlihat sangat malu. Ia memalingkan wajahnya ke arah yang lain agar Yungi tak melihatnya.
“Kamu tahu aku senang karena aku orangnya yang jadi semua pertama kamu. Kadang aku mikir kenapa harus muter-muter, padahal kita deket, Min,” ujar Yungi lagi. Dia menarik Mina ke pelukannya, mengambil tangan Mina dan menciumnya.
“Cincinnya jangan pernah kamu lepas, ya!” lirih Yungi sambil menatap Mina.
Mina menatap Yungi sambil tersenyum.
“Ga mungkin aku pake terus Yungi! Sesekali mungkin harus aku lepas, kalau mandi atau beres-beres atau bikin kue kan ga nyaman.” Mina bercanda.
“Astaga! malah dibecandain,” ujar Yungi.
Mina tertawa kecil.
“Itu pas kamu ngajak nikah... kamu ga tahu ya pikiran aku kewalahan!” Yungi tersenyum dan ia mengelus bibir Mina pelan.
“Kamu ga tahu ya waktu itu. Aku sedih banget lihat Yuna. Dia bilang dia mau terus sama aku, tapi dia juga tahu kalau dia udah ambil sebagian kasih sayang aku buat Kak Zen. Aku jadi harus bagi banyak buat dia dan Juna dan Zen. Jadi, dia bahagia kalau ada Soraya yang mau jadi mamanya dia. Terus Soranya tiba-tiba ngilang. Dia langsung stres, shocked! Beneran terpukul! Aku ga tega liatnya, Yun! Sebelumnya Juna pas Erika ngilang juga kayak gitu, Yun! Nah, sekarang Yuna. Kalau kamu di posisi aku, aku yakin kamu juga bakalan ngelakuin hal yang sama. Plus tuh dua anak laki-laki pake ada drama segala, berlutut. Tapi yang aku lihat Awan pas Zen berlutut itu bener kok! Makanya aku punya keberanian ngajakin kamu nikah!” Mina tersenyum malu.
“Nikah itu serius dan besar. Tapi, aku pikir ga apa-apa. Urusan aku sama kamu bisa belakangan. Kita sama-sama dewasa dan kita juga udah berteman lama. Yang paling penting anak-anak dulu bahagia. Aku pikir kamu aman kalau sama aku. Kamu bisa sama aku sampai kamu menemukan seseorang yang kamu pikir tepat untuk kamu, jadi istri kamu jadi ibu buat anak-anak kamu.” Mina menatap Yungi hangat. Yungi menelan ludah. Ia terharu dengan perkataan Mina tapi ada sekilas terkandung juga rasa heran.
“Bentar! Kalau kamu ngomong sampai aku nemuin orang yang tepat, itu artinya kamu juga kan? Kamu juga nyari orang lain, papa buat Zen juga. Itu maksudnya kan?” Yungi terlihat agak marah.
“Aku ga ada niatan buat nyari lagi atau bahkan nikah lagi sesudah Awan meninggal. Fokus aku cuma di Zen. Alasan aku terima Awan juga karena aku cape papa sama mama bawel. Benar, pada akhirnya aku cinta dia. Itu karena dia memperlakukan aku baik banget dan aku menghargai usaha dia buat rumah tangga kami. Aku tuh enam bulan nikah aja, udah mikir mau cerai. Awan juga sebenarnya ga cinta sama aku. Yang dia suka Sesil. Dia pengennya nikah sama Sesil. Tapi, dia bilang sama aku dia mau memperjuangkan pernikahan kami. Jadi, dia minta aku untuk kasih kesempatan buat kami untuk berjuang dan bertahan. Jadi, aku sama dia tuh beneran sama-sama berjuang supaya pernikahan kami bertahan gitu.” Mina menjelaskan.
__ADS_1
Yungi kaget. Dia baru tahu tentang itu.
“Itu sama kayak kita sekarang,” lirih Yungi.
“Iya, sama kayak kita sekarang. Bedanya kamu cepet banget ngambil keputusan. Padahal aku sendiri ga yakin sama kamu bahwa kamu bakalan memperjuangkan.” Mina tersenyum.
“Emang kamu mikirnya gimana?” tanya Yungi.
“Aku pikir kamu bakalan jadi kamu aja. Ngabisin banyak wkatu di luar daripada di rumah. Pasti males juga kan kamu sama aku. Orang kita lebih sering bertengkar daripada akurnya,” ujar Mina.
“Wah, salah itu! Aku tuh ga seperti yang kamu bayangin. Aku ...”
“Aku tahu. Aku bisa liat kseungguhan kamu kok! Jadi, aku juga mikir kenapa aku ga kasih kamu kesempatan aja. Kan aku udah bilang aku peduli sama kamu dan sayang kamu juga.” Mina membelai kepala Yungi. Yungi tersenyum malu.
“Makanya, jangan ngelakuin hal-hal bodoh ya! Anak kamu udah lima!” ujar Mina sambil masih membelai rambut Yungi.
“Lima?” Yungi kaget.
“Jangan bilang kamu lupa dengan Love dan Hope,” nada Mina agak sedih.
“Ah, iya. Ga lupa, cuma belum terbiasa dengernya,” sahut Yungi. Ia berada di atas Mina.
“Mau nambah anak boleh kan?” tanya Yungi sambil tersenyum.
“Kebiasaan kamu!” Mina mengerling. Ia paham maksud Yungi.
“Ngapain lagi kita ga pake apa-apa kalau ga ada babak lanjutan, Min,” bisik Yungi. Ia menarik selimut.
Tak! Mina menjentikkan jari mungilnya di kening Yungi.
“Aduh Min! Jangan kayak gini dong!” suara Yungi agak berat.
“Sekali lagi ya! Kapan selesainya aku beres-beres ini!” Mina menatap Yungi.
Yungi mengangguk sambil tersenyum.
“Emang ga bisa besok-besok lagi?” tanya Yungi.
“Masih banyak kerjaannya, Yun. Aku pengennya semuanya selesai lusa, jadi akhir Minggu aku bisa jalan sama anak-anak. Kan mereka pengen nonton. Minggu depan Yuna dah mulai masuk sekolah. Aku pengen nganterin dia.”
“Oh, gitu!” Yungi tersenyum.
“Jadi, Yungi janji dulu! Sekali lagi ya!” Mina mengerti senyum tengil Yungi.
“Iya, janji! satu kali lagi sekarang. Nanti malem beda lagi, kan?” Yungi bertanya.
Mina menganga.
“Kalau ga cape ya!” Mina ga mau janji.
Yungi tersenyum. Mereka bertatapan.
“Yungi,” lirih Mina pelan sambil tersenyum.
“Uhm,” gumam Yungi sambil menatap Mina lembut.
“Aku cinta kamu,” ujar Mina dengan lembut.
Yungi menelan ludah. Ia sering mendengar Mina mengucapkan kata itu, tapi baru kali itu ia merasa merinding dan sangat berbeda. Ia bisa merasakan bahwa perasaan Mina sampai kepadanya dan ia bahagia. Matanya berkaca-kaca dan tak lama air mata mengalir di pipinya.
Mina kaget. Ia mengusap air mata di pipi Yungi tapi tak berkata apa-apa.
“Aku juga, Min. Aku cinta kamu.” lirih Yungi sambil memeluknya dan tak perlu lama mereka kembali bergumul di dalam selimut.
Bersambung
__ADS_1