Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 59 Tim Kompak


__ADS_3

"Ibu, jangan mencegah Juna dan Yuna tinggal dengan ayah yah! Sekarang kami punya misi.” Itu yang dikatakan oleh Juna pada suatu hari setelah Mina dan Yungi resmi bercerai dan hak asuh anak secara hukum sudah mulai diaktifkan. 


Mereka duduk di meja makan yang sama yang juga menyudahi hubungan antara Mina dan Yungi. Zen, dan ketiga adik lainnya juga ada di sana. Semua anaknya sudah mengetahui keadaan orang tua mereka. Mereka tentu saja sangat sedih, tetapi semuanya sudah terjadi. Yang bisa mereka lakukan adalah membantu ibu dan ayahnya agar kembali bersama. 


Jika dipikir-pikir kesalahannya sebenarnya tidak terlalu besar karena tidak ada unsur kesengajaan untuk menjalin hubungan dengan pihak ketiga, tetapi karena karakter Yungi itu posesif dalam sebagian hal, jadinya agak sulit membuatnya memaafkan. Selain itu, Yungi dan Jay dari dulu memang seperti teman tapi juga saingan. Jadi, ketika ia menemukan keadaan bahwa Mina pernah hampir akan ‘disentuh’ Jay, murkalah si Babang!


“Ibu minta maaf karena tidak bisa mengambil kalian dari Papah. Tapi, Ibu tidak akan berhenti untuk menghubungi kalian,” ujar Mina. 


Wajahnya terlihat sangat sedih dan lelah. Semua usaha sudah ia coba agar Yungi kembali kepadanya. Ia bahkan tak malu untuk berlutut agar kembali kepadanya dan masih dengan lantang mengatakan bahwa ia mencintainya. 


“Itu juga yang kami harapkan. Dulu, kami pikir kami tidak mau jika harus tinggal dengan Papah, tapi sekarang, aku punya pemikiran lain, Bu. Jadi, Ibu jangan khawatir,” ucap Juna lagi.


Mina mengernyitkan alisnya. Ia tak paham dengan yang dikatakan anaknya itu. Pun kalau ia menangkap ke mana arah pembicaraan itu, bukankah itu terlalu membebani anaknya. Bukan mereka yang seharusnya berjuang mendapatkan Yungi kembali, melainkan dirinya. 


“Aku dan Yuna akan berusaha meyakinkan ayah untuk memaafkan dan kembali pada Ibu. Tapi, ibu harus bertahan ya?” Juna memegang tangan Ibunya. Dan ternyata benar pikirannya!


“Oh. Sayang! Kenapa ini malah menjadi tugasmu. Ibu tidak berharap ini,” ujar Mina dengan nada yang lemas dan pasrah. Yungi selain posesif, memang keras kepala juga. 


“Tidak, Bu. Ketika masalah ini muncul, aku dan Zen sudah berdisuksi dan sebenarnya ini seperti prediksi kami. Jadi, kami hanya tinggal melakukan sisa dari rencananya,” ujar Juna lagi sambil menatap Zen dan Yuna bergantian. Yang ditatap saling menganggukkan kepalanya. 


“Ibu tidak paham,” ujar Mina lagi.  Yang itu, ia memang benar-benar tidak paham. 


“Dulu, kami berpikir bahwa akan ada kemungkinan seperti ini jika Papah tahu tentang masalah Ibu dan Om Jay. Jadi, kami merencanakan, kalau Papah mengambil keputusan untuk menceraikan ibu, Juna dan Yuna harus menawarkan diri ikut dengan Papah. Dengan begitu, mereka bisa meyakinkan Papah untuk kembali kepada ibu,” jelas Zen. 

__ADS_1


“Astagaa! Kalian tidak harus berpikir sejauh itu. Biar Ibu yang menyelesaikan masalah dengan Papah, ya! Kalian fokus saja dengan apa pun yang kalian kerjakan sekarang, tapi jangan lupa juga doakan Ibu dan Papah ya!” Mina kaget tetapi juga terharu. Ekspresi di wajahnya jelas menggambarkan itu. 


“Ibu, Ibu masih cinta Papah, kan?” tanya Yuna. 


“Ya, tentu saja,” jawab Mina tanpa jeda dan ragu.


“Kalau begitu, biarkan kami membantu Ibu,” ujar Zen dan Juna bersamaan. Mereka kaget karena mereka punya pikiran yang sama dan kompak mengatakan. Lalu mereka tertawa bersamaan.


“Kami juga ingin bantu. Kami sedih Papah pergi,” celoteh Jun.


“Kalian kalau ingin bantu kami, kalian harus belajar yang giat, buat prestasi yang bagus supaya kalian bisa dapat beasiswa pertukaran pelajar ke Australia. Kalau kalian ke sana, Ibu juga pasti akan ikut dengan kalian dan dekat dengan Papah. Kalian paham ga?” Yuna berbicara seolah dia adalah seorang ahli strategi.


“Siap Kak!” Ketiganya langsung memberi hormat.


“Nah, kalau begitu, mulai dari sekarang. Masuk kamar dan belajar,” ujar Juna. 


“Kami sayang Ibu.” Ketiga anak berjejer dan membuat tanda cinta dengan menyimpan kedua tangannya di pucuk kepala. 


“Semangat, Bu!” Mereka berkata lagi sebelum akhirnya mereka memasuki kamar untuk belajar. 


“Astaga!” Mina melongo. Ia menutup mulutnya. Namun, wajahnya sumringah karena kelakukan si Kembar.


“Ibu, jangan khawatir. Kami tim yang kompak,” ujar Zen sambil merangkul ibunya dan tersenyum. 

__ADS_1


Mina tersenyum dan menatap mereka dengan bangga. 


***


Suara musik pop di sebuah klub malam di Jepang mengalun indah. Jay adalah salah satu penikmatnya. Malam itu, dia ada janji dengan Jun dan Justin untuk membicarakan banyak hal dan salah satu topiknya tentunya adalah membuat Mina dan Yungi rujuk kembali.


Dia paling awal yang tiba di sana. Jadi, dia duduk di kursi bar yang berjejer panjang sehingga ia bisa langsung memesan dari bartender. Martini adalah menu minuman pembukanya. Dia menyisipnya pelan sambil menikmati alunan lagu pop Jepang yang ia sendiri tak paham liriknya. Tidak apa-apa. Toh melodinya masih enak didengar di telinga. 


Sesekali, ia mengarahkan pandangannya ke seluruh klub itu, mengamati ornamen dan beberapa orang yang lalu lalang di sana. Ia tersenyum lalu kembali pada gelas martininya dan menghela napas panjang. Matanya mengarah pada minuman yang gelasnya ia putar-putarkan pelan dan kareanya minuman di dalamnya juga ikut berputar seperti gelombang. 


“Menyedihkan!” gumamnya kepada dirinya sendiri. 


Ia masih menatap pada gelas minuman yang sudah terisi penuh lagi dan sekarang jari telunjuknya yang bermain-main di atas permukaan gelas dengan cara mengitarinya. Lalu setelah itu tatapannya menjadi agak kosong seolah pikirannya tengah membawanya pada suatu ingatan. 


Malam itu ketika ia bilang kepada Mina bahwa bertemu dengannya di klub itu adalah sebuah kebetulan adalah sebuah kebohongan. Kenyataannya ia memasang alat pada HP Mina untuk mengetahui pergerakannya. Bukan hanya Yungi yang kaget atas kehilangan Mina, melainkan Jay juga. Oleh karena itu, setelah kejadian itu, diam-diam Jay melakukan perbuatan itu. 


Malam itu juga Jay langsung mendatangi klub tempat Mina membuang rasa apa pun itu sebab yang ia pahami malam itu, Mina terlihat begitu putus asa. Ia mengambil satu ruang khusus dan menangis di sana. Jay yang mengawasinya sejak lama hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Dia mendekat saat Mina benar-benar mabuk. Ia membawanya ke hotel. Itu juga bukan karena ia punya maksud yang jelek. Dia pikir jika malam itu ia membawanya pulang, anak-anaknya di rumah pasti akan sangat sedih dan khawatir. 


Namun, saat di hotel itu, Mina berpikir dia Yungi. Dia memeluknya dan menciumnya. Jay yang secara pribadi memang memiliki hasrat kepadanya tidak bisa menahannya. Mereka akhirnya berciuman. Dan begitulah! one thing leads to another atau ibaratnya awalnya hanya ciuman tapi lama kelamaan mengarah pada yang lain. Mereka sudah tumpang tindih di atas ranjang dan sama-sama telanjang. Jay tidak bisa lagi menahannya. Ia baru saja akan melakukan aksinya ketika Mina tetiba menangkup wajahnya dan tersenyum lalu menyebut nama Yungi. 


Ekspresi di wajah Jay yang tengah dipenuhi dengan kebahagiaan itu berubah seketika menjadi kekagetan sekaligus kekecewan. Ia menatap perempuan yang di bawahnya itu dengan sedih dan memilih untuk tidak melanjutkan aksinya. Bagaimana bisa? Nama Yungi menyadarkan dirinya bahwa Mina tidak sedang bersama dirinya. Yang dia pikirkan adalah Yungi dan tentu saja sebagai lelaki yang juga mencintainya, dia menjadi tersinggung karenanya. Ia mengenakan kembali pakaian dan termasuk memakaikan pakaian Mina juga dan setelah itu memilih tidur di sofa menunggu Mina sampai sadar pada keesokan harinya. 


“Seharusnya aku melupakannya sejak lama,” lirihnya. Ia bicara kepada dirinya sendiri. 

__ADS_1


“Kau sangat menyedihkan!” gumam Jay lagi kepada dirinya sendiri lalu mendekatkan gelas yang berisi martini itu ke bibirnya. Ia menghela napas panjang dan kemudian meminum martininya dalam satu tenggakan.  


Bersambung 


__ADS_2