Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 47 Beli satu dapat dua


__ADS_3

Mereka melakukan pertemuan secara daring. Semuanya hadir dan semuanya sepakat untuk mendirikan sebuah perusahaan dengan nama yang sama, Circle 7. Perusahaan itu adalah perusahaan konsultan yang mewakili semua bidang mereka.


Jun ketua di dalam perusahaan itu. Tidak ada yang lebih baik dari dia karena di antara semuanya dia paling dewasa, matang dalam pemikiran dan strategi, paling berpengalaman dalam banyak hal, dan yang paling penting dia adalah orang yang paling bijaksana ketika mengambil keputusan. 


Tidak ada yang mudah ketika memulai dari nol. Mereka menyadari hal itu. Klien mereka yang pertama adalah kenalan keluarga mereka, teman-teman mereka di kampus dulu dan kenalan teman-teman mereka.  Perusahaan ayah Yungi bahkan termasuk di dalamnya. 


Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika mereka berusaha keras. Itu prinsip mereka. Basis perusahaan mereka di Bandung dan kantornya masih kecil. Secara praktis, mereka hanya mempekerjakan empat karyawan, termasuk di dalamnya adalah data dan tren analyst, staf administrasi, sekretaris, dan petugas kebersihan. Semuanya lelaki. Tidak ada rasisme di sini. Sebuah kebetulan saja yang memenuhi kualifikasi adalah mereka. 


“Min, ini udah hampir tiga bulan ya?” Yungi suatu malam memulai percakapan. Yungi duduk di sofa di kamar mereka, melihat-lihat beberapa dokumen. 


“Uhm,” gumam Mina. Dia berbalik dari duduknya di hadapan meja rias dan menatap Yungi. Sebelumnya, ia baru selesai menyisir rambutnya.


“Kenapa?” tanya Mina. Raut wajahnya terlihat penasaran. 


“Aku lagi memperhitungkan waktu renovasi toko kamu. Sudah berjalan tiga bulan. Mudah-mudahan sesuai perkiraan ya selesai di bulan ke-5,” ujar Yungi sambal masih berfokus pada dokumen.


“Kenapa emang?” Mina bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Yungi. 


“Ada beberapa yang lambat dilakukan. Beberapa barangnya indent. Jadi, memang harus nunggu. Kalau misalnya diganti dengan barang lain yang mirip tapi masih punya nilai yang sama, kamu keberatan ga? Aku bisa saranin beberapa barang sih kalau kamu mau,” ujar Yungi.


“Oh, gitu. Boleh deh! Daripada tambah lama renovasinya ya! Biaya membengkak haha!” Mina duduk di sebelah Yungi. 


“Iya itu yang aku pikirin. Ntar aku search dulu. Kamu boleh pilih yang menurut kamu cocok!” Yungi menjelaskan. 


“Oke, sip.” Mina mengangguk. 


Dia beranjak dari duduknya.


“Mau ke mana?” tanya Yungi. Ia memegang lengan Mina sambal menengadah. 


“Cek anak-anak, terus nyusuin si Kembar.” Mina menatap Yungi. 


“Kenapa?” tanya Mina. 


“Aku belum selesai,” ucap Yungi sambil senyum. 


“Masih lama ga? Jadwalnya si Kembar ga boleh telat loh! Ntar mereka nangis, protes!” sahut Mina. 


“Oh, ya udah. Mereka dulu deh! Nanti buruan balik lagi sini.” Yungi melepaskan lengan Mina.


“Iya, pasti balik lagi ke sini, mau ke mana emang aku, Yun?” tanya Mina.


“Ya, siapa tahu kamu keenakan sama si Kembar haha lupa sama papah mereka,”sahut Yungi sambil memainkan alisnya.


“Tsk….Tsk!” Mina berdecak sambil melengos meninggalkan Yungi. 


Dua jam kemudian Mina kembali ke kamar dan tidak mendapati Yungi di sana. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang kerja dan benar pikirannya. Yungi memang ada di sana sedang merapikan dokumen yang baru saja ia print. 


“Dah selesai?” Yungi tersenyum saat melihat Mina mendekatinya. 


“Iya.” Mina duduk di depan Yungi.


“Itu bahan alternatif yang kita obrolin tadi?” tanya Mina sambal menunjuk dokumen yang dipegang Yungi.


“Iya. Liat aja dulu,” sahut Yungi sambil menyerahkan dokumen itu kepada Mina.

__ADS_1


“Sip,” sahut Mina menerima dokumen itu lalu menyimpannya di atas meja. 


Yungi kaget. Ia menatap Mina.


“Kok ga dibaca?” Yungi melihat ke arah Mina dan dokumen itu.


“Ada yang lebih penting dari itu,” sahut Mina sambal menyunggingkan sebuah senyuman. Ia berjalan mendekati Yungi dan memeluknya.


“Kamu kenapa?” tanya Yungi dengan suara yang lirih dan membalas pelukan Mina. 


“Mau beli serabi, ga?” Mina tersenyum. Yungi sumringah. Serabi di sana bukanlah sembarang serabi.


“Wow? Udah buka nih tokonya? Dah ga forboden ini?” Yungi tersenyum dan menaikkan alisnya. 


“Baru hari ini. Kalau mau, aku kasih bonus deh beli satu dapet dua,” sahut Mina. 


“Yesssss!!!” Yungi tertawa. 


“Ayo!” ujarnya tanpa menunggu basa-basi. Dia langsung memegang tangan Mina dan berjalan tergesa menuju keluar ruang kerja.


“Eh, tapi pake pengaman ya!” Nada Mina memohon. 


“Oke, siap!” Yungi langsung memberi hormat dan dengan cepat menggendong istrinya ke kamar tidur mereka layaknya pengantin baru.


“Enak?” tanya Yungi setelah selesai melakukan.


“Apanya?” tanya Mina sambil merapikan pakaiannya. 


“Ya pake pengaman lah! Kan ini pengalaman kamu yang pertama,” sahut Yungi. Soal begituan Yungi jago mengingat semua detail khususnya ketika ia melakukannya dalam keadaan penuh dengan kesadaran. 


“Oh itu! Lumayan lah!” ucap Mina. 


“Emang harus gimana responsnya? Yang paling penting buat aku sih itu punya kamu,” jawab Mina. Ia memalingkan wajahnya karena malu.


“Hah!” Yungi melongo. Ia tersenyum. 


“Maksud aku, kamu puas ga? Kalau ga, aku cari cara supaya kita sama-sama enak,” bisik Yungi.


Mina menatap Yungi sambil tersenyum. Ia menangkup wajah Yungi dan mengecup bibirnya lembut. 


“Jawabannya bikin aku bingung loh, Min,” ujar Yungi.


“Aku ga bisa bahagiain kamu secara materi, paling tidak kebahagiaan ranjang kamu ga terganggu,” sambungnya. 


Mina tersenyum. 


“Itu artinya aku suka, Yungi, dan makasih banyak.” Mina mesem-mesem.


“You are the best,” ucap Mina sambil mengacungkan jempol. 


“Serius atau cume menghibur nih?” Yungi memicingkan matanya.


“Lima rius, bukan serius lagi ahahaha!” Mina memeluk Yungi dan mencium pipinya.


“Tidur ah! Ngantuk!” ujar Mina dan ia merebah. 

__ADS_1


Yungi tersenyum dan mengikuti Mina merebah di sampingnya. 


“I love you,” bisik Mina.


Yungi tersenyum. 


“Love you too,” sahutnya dan mereka memejamkan mata.  


***


Waktu terus berjalan. Si Kembar sudah berusia dua tahun sekarang. Zen dan Juna sudah duduk di kelas dua SMP dan Yuna di kelas 4 SD. Pernikahan Yungi dan Mina berjalan dengan baik dan bisa dikatakan harmonis. 


Meskipun begitu, jangan berpikir bahwa selama dua tahun itu mereka hidup bagai dongeng yang indah dan selalu bahagia. Tentu saja tidak. Ada banyak juga kemarahan yang akhirnya  menyulut pertengkaran, tetapi tidak  besar. Salah satu dari keduanya pasti akan mengalah dan cepat meminta maaf sehingga mereka juga cepat akur. 


Peran ketiga kakaknya untuk si Kembar juga semakin kentara dan solid. Itu membuat Mina dan Yungi bahagia. Tugas mereka boleh dikatakan agak ringan sebab keterlibatan ketiganya dalam menjaga adik-adiknya terbilang intens. 


“Ga mau bobo lagi, Pah?” tanya Juna saat Yungi mencoba menidurkan Justin dengan cara menggendong dan mengusap punggungnya pelan tak berhasil. 


“Iya,” jawab Yungi dengan suara yang terdengar lelah dan khawatir karena Justin terus menangis. 


“Sini, Juna yang gendong,” ujar Juna.


“Kamu kan ada tugas?” tanya Yungi.


“Udah selesai,” jawab Juna.


“Dah istirahat?” tanya Yungi.


“Baru selesai makan camilan sambil main game bentar,” jawab Juna lagi.


“Uhm,” gumam Yungi.


“Sini, Pah! Aku yang gendong,” ucap Juna lagi.


“Oke, deh!” sahut Yungi dan menyerahkan Justin kepada Juna. 


Dia baru saja akan masuk ke kamar si Kembar mengambil Jay untuk ditidurkan saat Yuna membawanya keluar dengan kereta dorong dan Jay hampir terlelap. Yungi menganga. Di belakangnya disusul Zen tengah menyanyikan lagu untuk Jun dan menggoyangkan ayunan bayinya. 


Yungi menggaruk kepalanya pelan. Di satu sisi, ia bangga melihat ketiga anaknya yang penuh dengan kasih sayang kepada adik-adiknya, tetapi di sisi lain, ia menganggap dirinya kurang berguna. Bahkan ketika makan, si kembar akan lebih lahap makan ketika disuapi oleh kakak-kakaknya dan ibunya ketimbang dirinya atau para Mbak di rumahnya. 


Ketiga kakaknya itu juga sudah tahu bagaimana cara membuat makanan untuk ketiga adik kembarnya itu. Hanya beberapa kali mereka mengamati ibunya melakukan itu dan mereka langsung terampil mempraktikkan cara membuat makanan bayi dengan benar. Mina saja sampai kaget dibuatnya. 


“Justin dah tidur?” Mina bertanya karena Yungi dengan cepat datang ke dapur dan berdiri di sampingnya dengan arah yang berlawanan. 


“Juna ambil alih,” ucap Yungi. Dari nadanya ada rasa cemburu di sana. Dia melipat kedua tangannya di dada dan memasang muka cemberut.


“Oh!” ucap Mina pendek. Dia paham yang terjadi. Itu sudah bagian keseharian mereka. 


“Aku ke ruang kerja aja ya! Masih ada yang harus dikerjakan. Tadinya mau malem, pengen maen dulu sama anak-anak, tapi ya udahlah merekanya juga sibuk,” jawab Yungi sambil menatap ke ruang keluarga. Mina tersenyum dan melihat ke arah ruang keluarga. Semua anaknya berkumpul di sana dengan pemandangan ketiga kakak yang tengah berusaha menidurkan ketiga adiknya.


“Mau dibuatin kopi ga?” tanya Mina. 


“Ga usah, masih ada kok!” jawab Yungi sambil berlalu meninggalkan Mina. 


“Oke deh!” ujar Mina sambil berdiri sejenak, menatap punggung Yungi yang berjalan menuju ruang kerja melewati ruang tengah. Ia mengamati Yungi yang sejenak menciumi semua anaknya dan kemudian berjalan menuju ruang kerjanya. 

__ADS_1


Mina tersenyum bahagia. Ia mengembuskan napas panjang dan masih dengan wajah sumringah ia berbalik dan melanjutkan pekerjaannya. 


Bersambung 


__ADS_2