
Yungi bangun dari tidurnya. Suara Mina muntah-muntah dari arah kamar mandi yang menyebabkannya. Ia meraih HP di atas nakas dan melihat waktu di sana, masih terlalu awal untuk bangun karena itu pukul 3 pagi.
“Mau ke rumah sakit, Min? Lambung kamu kayaknya kena itu!” ujar Yungi. Dia berdiri di muka pintu sambil menatap Mina dengan perasaan khawatir.
“Udah ke rumah sakit dan dikasih obat dan udah minum juga. Kayaknya aku stres ini mah!” ujar Mina setelah ia minum segelas teh hangat yang dibuatkan Yungi. Mereka duduk di ranjan bersebelahan dan bersandar pada badannya.
“Beneran ga mau ke rumah sakit nih?” Yungi bertanya lagi untuk memastikan.
“Aku dah minum obat,” sahut Mina sambil senyum memastikan.
“Ya udah!” sahut Yungi.
Pinjem bahu kamu bentar!” lirih Mina sambil mengistirahatkan kepalanya di bahu Yungi.
Yungi tak merespons, tapi tak mengelak saat Mina bersandar pada bahunya.
Sebenarnya jauh di dalam hati Mina, entah kenapa dia sangat ingin memeluk Yungi dan tidur di dalam pelukannya. Normalnya, mereka bahkan jarang skinship-an begitu, ketika dia ada dalam posisi hamil kok bisa-bisanya Mina tak mau jauh dari Yungi.
Yungi juga sama. Ketika Mina bersandar di bahunya, hatinya sumringah. Mina tidak tahu bahwa dirinya begitu ingin mencium pucuk kepala Mina dan mendekapnya erat sambil tidur. Nah, untuk Yungi sendiri itu aneh, karena dia tak punya ketertarikan istimewa kepada Mina. Atau bahkan sebenarnya pada perempuan lain juga. Dia melayani semua perempuan itu karena mereka yang mendekati dan menawari Yungi duluan.
“Uhmph!” Mina menggumam.
“Kenapa? Ga enak perut!” lirih Yungi.
“Uhmm,” gumam Mina.
“Apa yang bisa kubantu?” Yungi siaga.
“Mau dipijitin lagi kakinya?” tanya Yungi.
“Ga usah. Elusin punggung aku ya!” lirih Mina.
“Oke,” lirih Yungi dan dia melakukannya.
Mina memejamkan matanya dan setelah beberapa lama, Yungi bisa merasakan dengkuran halus dari mulut dan hidung Mina. Jadi, dia merebahkan Mina pelan, tapi Mina tak melepaskan Yungi. Ia memegang bajunya sehingga akhirnya Mina tidur dalam pelukan Yungi.
Yungi tersenyum. Ini gila! Pikirnya. Bagaimana bisa, ia sangat menginginkan hal itu dan itu terjadi. Dia menelan ludah dan perlahan ia mengecup pucuk kepala Mina dengan lembut dan melepaskanya dengan perasaan yang masih berdebar. Itu bisa kentara terlihat dari napasnya yang turun naik.
“Yun,” lirih Mina. Napas Yungi yang tak beraturan itu membuat Mina bangun.
“I-iya!” Yungi kaget. Lain soal dengan dia yang berpikir bahwa dia ketahuan mencium pucuk kepala Mina dan Mina siap memarahinya. Terlebih sekarang Mina mengangkat kepalanya dan menatapnya.
“Yungi,” ujar Mina membuka suara.
“Uhm,” gumam Yungi pelan. Dia berusaha tersenyum.
“Aku punya permintaan tapi kamu pasti anggap aku aneh,” ujar Mina. Wajahnya terlihat agak malu.
“Apa?” tanya Yungi sambil mengernyitkan alisnya dan nadanya terdengar penasaran.
“Boleh ga aku pegang punya kamu?” tanya Mina. Wajah dia memerah.
“Hah??? Pegang apa, Min?” Yungi juga sama tegangnya dengan Mina.
“Pegang punya kamu,” suara Mina memelan dan ia terlihat sangat malu. Ia bahkan menundukkan wajahnya.
Sial, kok dia imut sih! pikir Yungi.
“Kenapa?” tanya Yungi. Untuknya itu tidak masuk akal.
“Tolong jangan tanya. Boleh ga?” Mina masih menunduk.
Yungi pasrah. Mina terlalu imut.
Dia menuntun tangan Mina ke dalam selimut dan menyimpannya tepat di bawah perutnya.
Mina merasakan sesuatu tengah bangun, tapi ia diam. Ia memasukkan tangannya ke dalam celana Yungi dan memegagnya.
“Astagaa!” Yungi menarik napas panjang. Wajahnya kehilangan ekspresi.
Tangan mungil Mina itu terasa hangat saat menyentuh punyanya. Mina tidak mengelusnya atau melakukan permainan dengan tangannya. Dia murni hanya memegangnya dan sekarang ia bahkan tengah kembali tidur dengan lelapnya.
“Ya, kamu bener, Min, kok permintaannya aneh sih!” lirih Yungi. Dia menghela napas panjang. Lalu kembali memejamkan matanya.
***
Yungi bangun dari tidurnya. Kali ini Canon in D dari tuts piano yang ditekan dari arah ruang tengah yang membangunkannya. Ia menuruni ranjang dan berjalan menuju ke sumber suara.
__ADS_1
“Aku kira kamu ga bisa main piano?” ujar Yungi sambil menghampiri Mina. Mina berbalik. Dia tersenyum. Wajahnya terlihat lebih segar.
“Bisa, cuma jarang main. Sini duduk,” ujar Mina. Dia bergeser dan menunjuk tempat sebelahnya untuk duduk.
“Ayo main!” ujar Mina sambil menunjuk piano.
“Boleh! Main apa?” tanya Yungi. Itu setelah dia duduk di sebelah Mina.
“Canon in D aja!” ujar Mina.
“Oke,” ujar Yungi.
Mereka bersama menekan tuts piano dan tertawa ketika sama-sama melakukan kesalahan.
“Dah lebih baik?” tanya Yungi.
“Uhm,” gumam Mina sambil berjalan ke dapur.
“Mau kopi?” tanya Mina.
“Nanti aja aku bikin sendiri!” Yungi masih memainkan piano.
“Aku buatkan,” nada Mina memaksa.
“Kamu pergi dianter ke Bandara sama keluarga?” tanya Yungi.
“Ga ada yang nganter dan ga mau juga dianter. Aku udah bilang sama mereka dan udah bilang sama kalian juga,” jelas Mina.
“Mau sendirian?” tanya Yungi. Ia menerima cangkir kopi dari Mina.
“Ga juga! Cuma ga mau ribet!” sahut Mina.
Mereka pindah ke sofa.
“Ga kuliah?” tanya Mina sambil menatap Yungi yang duduk berhadapan dengannya.
“Jam sebelas,” ujar Yungi.
“Oh! masih ada dua jam lagi. Mau sarapan apa? Aku buatin,” sahut Mina.
“Wah spesial nih?” canda Yungi.
“Wajah kamu masih pucat gitu! Beneran ga apa-apa?” tanya Yungi.
“Iya lebih baik. Ga terlalu sering muntahnya,” ujar Mina.
“Kalau kayak gini kita kayak suami istri dan kamu lagi hamil hahah!” Yungi ngomong asal tapi Mina dibuat batuk karenanya.
“Astaga! Kenapa Min? Kamu ga apa-apa?” tanya Yungi. Dia mengelus punggung Mina pelan.
“Aku cuma kaget! Kok kamu pikirannya jauh gitu!” Mina beralasan.
“Iya kan habisnya kamu permintaannya aneh-aneh gitu! Terus juga kamu muntah-muntah gitu!” Yungi menjelaskan.
“Iya ya!” Mina pura-pura mikir.
“Kalau gitu ga jadi deh siapin sarapannya. Takut jadi suami istri beneran!” Mina ngomong asal.
“Eit! Jangan dong! Bikinin dong! Aku laper soalnya!” sahut Yungi.
“Tapi jangan ngomong yang aneh-aneh lagi ya?” sahut Mina.
“Iya, janji ga akan!” Yungi langsung membuat tanda menyegel mulutnya.
Mina pulang setelah ia merapikan rumah Yungi. Tidak boleh ada bau dirinya di dalam rumah itu. Dan saat Yungi kembali dari kuliah, dia mendapati rumahnya rapi dan bersih. Selimut dan seprai diganti dan yang lama sudah berada di dalam lemari dalam keadaan bersih pula.
Sebulan tak terasa sudah berjalan dan Mina sudah menyelesaikan semua persiapannya. Lusa dia akan berangkat ke Jepang. Malam itu mereka berkumpul di sebuah kafe dan memberikan hadiah kepada Mina.
“Kamu yakin ga mau dianter, Min?” tanya Vee.
“Iya, ga usah! Aku ga mau ribet,” ujar Mina.
“Tapi makasih banyak. Aku sangat menghargai kalian karena dah peduli sama aku,” sambungnya.
“Kontak-kontak ya!” ujar Jay sambil memegang bahu Mina.
“Iya,” sahut Mina sambil tersenyum.
__ADS_1
Yungi tidak berkata apa-apa. Dia tengah menata perasaannya. Pokoknya hari itu dia merasa sangat terpukul seolah akan kehilangan sesuatu yang besar tapi dia tak tahu apa jelasnya dan apa alasannya, mengapa dia seperti itu. Dia ingin mengatakan sesuatu seperti yang lain, tapi mulutnya seolah tak bisa mengatakan apa-apa.
***
Mina berjalan di dalam bandara. Ia membawa dua koper besar dan sudah check in sejak satu jam lalu. Sekarang yang tersisa hanyalah tas jinjing berisikan laptop dan tas kecil yang mengantongi pasport dan barang-barang pribadinya. Ia tengah berjalan menuju gate untuk kepergian pesawatnya saat suara Yungi memanggilnya tak jauh darinya.
“Ngapain kamu di sini?” Mina melotot. Itu beneran Yungi
“Masih ada waktu tiga jam, kan. Kita makan dulu ya!” ujar Yungi. Dia membawa tas jinjing Mina dan menarik lengan Mina ke sebuah kafe.
“Aku nanya, ngapain kamu di sini?” mereka duduk di sebuah kafe di dalam bandara.
“Pengen nganterin aja!” ujar Yungi.
“Tsk!” Mina mendelik kesal.
Mereka memesan makanan dan makan dan tak ada pembicaraan apa-apa. Hanya diam dan sibuk degan HP masing-masing.
“Aku harus masuk ke Gate, Yun!” ujar Mina setelah melihat jam tangannya.
“Oke,” ujar Yungi.
Mereka berjalan mendekati security check.
“Kamu Cuma bisa nganter sampai sini, kan? Cepetan balik sana!” suara Mina agak tercekat.
“Kamu duluan masuk!” ujar Yungi.
Mina mengembuskan napas. Dia menarik Yungi ke lorong kecil yang menghubungkan tempat atm dengan jalan di dalam bandara lalu memeluknya.
“Wow!” Yungi kaget.
“Jaga diri kamu baik-baik! Jangan mabuk sampai wasted lagi! Aku ga akan bisa jagain kamu lagi sekarang. Punya pacar beneran, Yun! Jangan yang jam-jaman!” lirih Mina. Ia menahan tangisan.
“Kamu juga! kontak-kontak!” ujar Yungi. Dia seolah akan mengatakan sesuatu tapi tak bisa keluar.
“Mina, aku juga ada permintaan aneh,” ujar Yungi.
“Apa?” tanya Mina dan mereka masih berpelukan.
“Boleh cium kamu ga sekali aja?” tanya Yungi agak ragu.
Mina tertawa. Dia melepaskan pelukannya dan ia berdiri sambil memejamkan matanya.
Yungi tersenyum. Dia mencium kening, kedua pipi Mina dan kemudian bibir Mina dan tak lama kemudian memeluknya dengan hangat.
“Kok aku agak keberatan ya kamu pergi hahahha!” Yungi tertawa pelan.
“Nah, kerasa kan! Butuh sama temen baik tuh!” ujar Mina berusaha mengalihkan.
Yungi tidak merespons.
“Yungi, permintaan aneh dari aku nih!” ujar Mina.
“Apa?” Yungi menatap Mina.
“Pegang perut aku,” ujar Mina.
“Perut kamu atau anu kamu!” bisik Yungi sambil senyum.
Plak! satu pukulan pelan mendarat di kening Yungi.
“Ouch! Sakit, Min!” Yungi meringis.
“Perut!” Mina mengerling.
“Oke,” ujar Yungi sambil tersenyum.
Dia mengelus perut Mina pelan-pelan meskipun dia tak mengerti alasannya. Mina tersenyum bahagia.
“Sampai jumpa,” sahut Mina.
“Iya, sampai ketemu! Nanti kami jenguk!” ujar Yungi.
Mereka berpisah di sana dan Mina berjalan menuju security Check.
“Apa ini?” Yungi di balik setir memegang dadanya yang tetiba terasa sakit seolah ia sudah kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuknya dan air matanya mengalir.
__ADS_1
Bersambung