Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 8 Ga Nafsu ah


__ADS_3

"Lempar bolanya sekuat yang kamu bisa aja. Jadi, aku bisa lihat kekurangan dan kekuatannya," ujar Yungi. Ia melempar bola pada Mina dan Mina menangkapnya.


"Oke." Mina menjawab dan ia mulai melemparkan bola ke dalam keranjang. Anak-anak mereka duduk di pinggir mengawasi.


"Aduh, Yun berapa kali lagi ini aku harus lempar? Kamu sengaja mau bunuh aku ya?" tanya Mina setelah hampir lebih dari dua puluh kali lemparan dan Yungi tidak juga melakukan sesuatu.


Napasnya hampir habis gegara terlalu sering lari-lari.


"Setidaknya sampai 50 lemparan," ujar Yungi dengan nada serius. Ia berdiri tak jauh di dekat Mina.


"Hah!!! Keburu aku mati dong, Yun! Gila kamu!!!" Mina ngomel. Ia menghentikan lemparannya.


Yungi tertawa renyah.


"Baiklah! Aku minta maaf. Aku bercanda, Min. Kesalahan kamu itu ada di posisi tangan dan pinggul kamu pas lagi nembak. Sini, aku ajarin," ujar Yungi sambil berjalan mendekati Mina.


Ia memposisikan Mina tepat di depannya hingga dadanya menempel dengan punggung Mina. Ia mengangkat tangan Mina seiring dengan tangannya dan memposisikan untuk menembak.


Sejenak ada sensasi tegang di sana. Untung saja Yungi masih bisa mengontrol dirinya padahal harum tubuh dan rambut Mina menyerang hidungnya tanpa ampun.


"Sekarang tembak!" lirih Yungi di tengah-tengah perjuangan menahan dirinya.


"Yeayyyy!" Semua berteriak saat Mina berhasil mencetak angka.


"Wahahahahaha! berhasil, Yun!!! Mina membalikkan tubuhnya dan memeluk Yungi sambil tertawa senang.


Mina tak sadar dengan yang dilakukannya dan bahkan tak juga sadar bahwa kini posisinya berubah membelakangi anak-anak dan Yungi mengedipkan satu mata dan mengacungkan jempol kanannya sambil tersenyum tengil kepada anak-anak. Zen dan Juna saling menatap. Mereka ikut tertawa. Mereka langsung tos menandakan bahagia.


"Ah, maaf!" sahut Mina saat ia sadar ia masih dalam pelukan Yungi. Ekspresi di wajahnya terlihat canggung.


"Ga apa-apa. Yang sering ya," ujar Yungi sambil tersenyum.


"Yeee, ngarep!" sahut Mina sambil mengerling. Ia memukul lengan Yungi.


Yungi tersenyum.


Beberapa kali Mina latihan dan kemudian mereka terlibat dalam pertandingan. Hanya beberapa babak dan tidak terlalu serius memang. Yungi dan Juna lawan Mina dan Zen lalu Yungi, Zen lawan Mina Juna dan terakhir Yungi Mina lawan Juna Zen. Begitulah sampai akhirnya mereka kelelahan dan memilih duduk di pinggir lapangan.


Yuna menghampiri mereka ditemani Bu Arni dan Pak Toto yang membawakan mereka minuman.


"Cape ya!" tanya Mina sambil melihat anak-anak.


"Iya, Bu. Boleh kami istirahat di dalam rumah?" tanya Juna setelah selesai minum yang disodorkan oleh Bu Arni.


"Ya, masuk aja. Jangan mandi dulu ya! Istirahat saja dulu!" sahut Mina.


"Oke," jawab Zen dan Juna kompak.


"Ibu," suara Yuna lembut.


"Hmm?" Mina menatapnya hangat.


"Boleh aku ikut Kak Zen dan Kak Juna?" tanya Yuna dengan wajah polosnya yang imut.


"Tentu saja," jawab Mina. Ia mengelus kepalanya pelan dan kemudian melepaskannya.


Dengan cepat, anak itu berlari menyusul kedua kakaknya dan menyisakan hanya Mina dan Yungi di pinggir lapangan.


"Kamu udah lebih baik sekarang?" tanya Yungi setelah mereka hening beberapa saat.


Keduanya duduk bersebelahan dengan kaki selonjoran dan kedua tangan ke belakang menopang berat tubuh.


Mina melirik ke sebelahnya dan menatap Yungi sejenak.


"Jika aku melihat mereka, aku menjadi lebih baik," ujar Mina sambil melihat sebentar ke dalam rumah lalu menatap lapangan sambil tersenyum. Yungi paham 'mereka' maksudnya adalah anak-anak mereka.


Ia lalu menganggukkan kepala.


"Min, boleh aku tanya sesuatu?" Yungi menatap Mina. Nadanya serius.


Mina melirik ke arah Yungi sambil mengernyitkan alisnya.


"Apa?" tanya Mina.


"Hmm, dulu, kamu... dan Jay, dekat kan?" tanya Yungi. Wajahnya terlihat agak tegang, khawatir Mina tersinggung dengan pertanyaannya.


Mina menganggukkan kepala.


"Kan sudah kubilang itu juga karena kamu yang selalu bikin masalah dan kami yang tersisa untuk menyelesaikan masalahmu," sahut Mina santai. Namun, itu tak membuat Yungi santai.


"Hmm, tapi apa kamu pernah punya perasaan istimewa ga sama dia?" Nada Yungi lebih serius.

__ADS_1


Mina menatap Yungi seolah ia paham ke mana tujuan Yungi bertanya.


"Bukan dia yang melakukannya." Mina menatap Yungi dalam.


"Eh?" Yungi bengong.


"Aku tidak pernah melakukan apapun dengan dia. Not even close, Yun!" Mina berkata dengan nada agak sedih.


"Aku sedih kalau kamu nuduh dia kayak gitu. Bagiku kamu juga istimewa, Yun. Semua teman di Circle 7 itu istimewa. Di antara semua temen cowok di Circe 7, kamu yang paling brengsek. Kamu ga nyadar, kan? Paling nyusahin, tahu ga? ... " Mina menjeda dan menatap wajah Yungi yang kini terlihat agak sedih.


"Tapi aku ga akan pernah ninggalin kamu. Karena kamu temen aku." Mina tersenyum.


Yungi mengangguk sambil tersenyum.


"Tadi malam kamu nangis, kenapa?" tanya Yungi beralih pada pertanyaan lain.


"Tadi malam!" Mina menjeda.


Ia diam cukup lama sebelum menjawab. Yungi dengan sabar menunggunya.


"Karena aku ga paham dengan takdir. Apa yang akan kulakukan dengan kita. Berkaitan dengan anak-anak itu lebih mudah daripada berurusan sama kamu, Yun. Kalau aku buka diri sama kamu, bisa ga aku percaya sama kamu? Ada banyak hal yang aku khawatirkan," suara Mina memelan. Tatapannya agak kosong.


Yungi menganga. Pasalnya yang ia pikirkan juga sama.


"Aku juga berpikir sama. Bagaimana kita mau menjalani hubungan ini. Tapi, aku akan mengikuti yang kamu mau. Aku akan memulai hubungan yang lebih baik dengan anak-anak dan aku ingin bantuanmu. Sungguh kalau kupikir aku ini ga tahu malu hahahha! Selalu saja bergantung sama kamu ya! Hahaha!" Ada nada tidak nyaman dari tertawanya.


"Padahal aku ini lelaki. Harusnya kamu yang lebih bergantung sama aku ya!" sambung Yungi.


"Ah, nggak juga, Yun. Setiap manusia kan punya kelemahan dan pasti perlu bantuan orang lain. Aku ga keberatan kok! Aku sudah bilang berkali-kali. Kamu bisa andelin aku," sahut Mina lagi sambil menepuk bahu Yungi pelan.


Yungi sekali lagi mengangguk dan tersenyum.


"Aku beruntung punya teman sepertimu." Yungi berkata.


"Syukurlah kalau kamu nyadar hahaha!" Mina beranjak dari duduknya lalu menepuk-nepuk bagian belakang dan tangannya, membersihkan dirinya dari debu.


"Aku masuk duluan. Aku mau tidur siang sebentar. Aku lelah," sahut Mina dan ia pergi berjalan menjauh meninggalkan Yungi.


"Hmmm!" Yungi hanya bergumam dan masih pada posisinya. Matanya terpaku pada punggung imut yang tak lama menghilang di balik pintu.


Yungi diam sejenak. Dia tersenyum pada dirinya sendiri. Dia bahagia punya teman seperti Mina. Orang lain pasti akan bilang bahwa dia sangat beruntung karena punya istri seperti Mina dan bahwa dia sangat bersyukur. Jadi, dia melakukannya.


Setidaknya saat itu dia bergumam pada dirinya sendiri, tidak akan pernah menyentuh perempuan lain selain Mina dan bahwa dia akan berusaha menjadi ayah dan suami yang baik untuknya.


***


Pagi itu mereka berbicara seperti biasa dengan santainya tentang apa saja dalam kehidupan sehari-hari mereka di meja makan sampai sebuah WA datang ke HP Mina.


"Oh no!" Mina melotot sambil melihat ke arah HPnya.


Wajah kedua anak lelaki langsung tegang. Mereka saling menatap lalu menganggukkan kepala.


"Zen, telfon Pak Ujang. Buruan!" Mina beranjak dari duduknya.


"Ada apa, Min?" Yungi menatapnya. Ia terlihat sangat bingung.


"Kalian sudah tahu apa yang harus kalian lakukan, bukan?" Mina menatap kedua jagoannya sampai mereka menganggukkan kepala.


"Okay, good. Now go!" ujar Mina lagi dan keduanya langsung berhamburan setelah menelfon Pak Ujang sopir kantor yang kadang-kadang Mina minta bantuan darinya.


"Ada apa sih, Min?" Yungi terlihat bingung dan sekarang jadi ikutan panik.


"Nanti, aku jelasin. Sekarang mendingan kamu ke kamar deh," ujar Mina.


"Hah! Kenapa?" tanya Yungi.


"Aku bilang nanti aku jelasin waktunya ga banyak," sahut Mina lagi.


Kedua anak sudah bersiap di luar dengan pakaian olahraga dan siap berangkat ke sekolah untuk eskul dan Mina sedang mempersiapkan Yuna. Pak Ujang dan Rosa, Asisten Mina langsung membawa anak-anak seperti perintah Mina.


"Yun, mama sama papa aku lagi otw ke sini. Jadi, sekarang kita siap-siap," sahut Mina.


"Oke, terus gimana. Pesan kue kesukaan mama sama papa kamu atau gimana?" Yungi agak kaget karena mereka datang mendadak.


"Aduh! bukan itu!" Mina memegang pelipisnya.


Ia berjalan menuju sofa bed dan merapikannya dengan cepat lalu menyemprotkan minyak wanginya ke sofa bed itu.


"Yun, sini!" Mina menarik Yungi ke ranjangnya. Ia menarik selimutnya sepenuhnya membiarkan ranjang itu hanya berbalut seprai warna hijau muda.


"Guling guling di sini, buruan!" ujar Mina lagi sambil menunjuk ke ranjangnya.

__ADS_1


"Di sini!" Yungi menunjuk ke arah ranjang Mina.


"Iya, ayo!" sahut Mina sambil menarik Yungi dan memintanya melakukan aksi yang dia katakan.


"Kayak gitu! cukup?" tanya Yungi setelah beberapa kali berguling-guling di atas ranjang. Mina langsung menaiki ranjang dan membauinya.


"Duh! kayaknya kurang ini. Mana parfum kamu? Minta dikit aku semprotin ke sini," ujar Mina.


Yugi langsung mengambil dari meja rias dan memberikannya ke Mina. Setelah itu, Mina langsung menutup dengan selimut dan kemudian menyemprotkan lagi minyak wangi Yungi dan minyak wanginya.


"Mungkin ini bisa." Mina berbicara kepada dirinya sendiri, menyisakan Yungi yang sedang bingung.


Ia berjalan ke arah lemari dan baru saja akan membukanya saat bunyi di HPnya menyuarakan ada WA yang masuk. Mina melihat sejenak dan terbaca di permukaan nama Sesil dengan jelas. Ia mengambil HP di atas ranjang dan dengan cepat membukanya.


"Astagaaaa!!!! Aaaarghhh!" Mina menjerit kesal dan langsung membanting HPnya.


"Kamu kenapa, Min? Tenang dulu. Kenapa sih?" Yungi bingung.


Ia mengambil HP Mina dan membaca pesan dari Sesil untuk Mina. Jelas isinya hanya bilang bahwa mama dan papanya akan datang dengan Sesil dan juga Tante Yasmin. Tidak ada yang aneh ataupun mencurigakan di sana.


"Sini duduk dulu! Jelasin sama aku, singkatnya aja. Apa yang terjadi? Akan ada kehebohan apa ini?" Yungi menatap Mina dengan lembut. Mina diam. Ia menatap Yungi kemudian jam dindingnya.


"Yungi, kamu mau jatah kan?" Mina menatap Yungi.


"Hah! Gimana... gimana, Min?" Yungi melotot. Kalau Yungi sedang minum, airnya pasti sudah menyembur keluar.


"Kamu mau jatah, kan? Aku kasih sekarang," sahut Mina.


"Min, kamu lagi ngejek aku ya?" Yungi tetiba panik.


"Ga. Aku ga bohong. Ayo kalau kamu mau," ujar Mina tapi suaranya lemas.


Yungi terhenyak.


Dia berpikir.


Orang itu kalau mau bercinta biasanya kan menunjukkan aura bahagia, sensual, seksi, ya pokoknya yang menjurus lah, tidak seperti Mina yang wajahnya loyo lemas letih lesu. Mana ada dorongan buat main.


"Ga usah, Min. Ga nafsu ah!" jawab Yungi. Dia bermaksud bercanda tapi sepertinya salah tempat.


Memang bibir Mina tersenyum, tapi ekspresi di wajahnya dan sorot matanya menyiratkan kesedihan yang dalam.


"Oke deh!" jawab Mina pelan dengan senyum yang masih dipaksakan. Sekali lagi ia melihat ke arah jam dinding.


"Ya udah, yuk kita lanjutin makan," ujar Mina. Mina berjalan melewatinya.


Yungi ingin minta maaf, tapi lidahnya tetiba kelu. Mereka diam-diaman beberapa saat selama makan sampai akhirnya Yungi membuka suara lagi.


"Min!" Yungi menatap Mina yang tengah asyik menonton di HPnya.


"Uhm?" jawab Mina. Ia menatap Yungi. Ekspresi di wajahnya terlihat lebih tenang.


"Tadi, soal yang itu, ... nolak itu, kita.. uhm." Kata-kata Yungi tak beraturan.


"Apa? Soal jatah, Yun? Ga apa-apa. Ga usah dipikirin. Aku lupa kalau kamu ga bakalan kesetrum sama aku," sahut Mina sambil tersenyum.


"Eh, bukan gitu, cuma tadi, aku kalau ngedadak, ..." ujar Yungi. Ia tak bisa melanjutkan penjelasan.


"Ga apa-apa, Yun. Kan udah dibilang ga ada masalah. Santai aja!" ujar Mina sambil tersenyum.


"Oh, uhm, oke!" Yungi mengiyakan tapi perasaannya tidak nyaman.


"Masih mau kopinya?" Mina menawarkan.


"Ga, cukup. Perlu pesenin makanan apa, buat Mama sama yang lainnya?" tanya Yungi lagi.


"Ga perlu. Yang mereka butuhin sudah ada di sini." Mina tersenyum.


"Kamu belum pernah ketemu sama mama aku ya?" tanya Mina.


"Pernah.... selewat aja tapi." Yungi menjawab.


"Hmm," ujar Mina sambil menganggukkan kepala.


"Jangan aneh kalau denger obrolan mereka dan juga liat sikap mama sama papa aku, ya!" Mina beranjak dari duduknya, membawa piring-piring kotor ke bak cuci dan kembali lagi merapikan meja.


Yungi mengangguk canggung.


"Siap-siap, dulu Yun. Ganti bajunya sana!" ujar Mina.


"Oke," ujar Yungi. Dia berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke kamar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2