Cinta Bisa Menyusul

Cinta Bisa Menyusul
Bab 36 Dokter kepo


__ADS_3

Bab 36


“Ibuuuuu!” Semua anak-anak berlari menuju Mina yang tengah menyiapkan sarapan pagi di dapur lalu memeluknya dengan erat sambil tersenyum bahagia. Yungi dengan celana piyama batik dan kaos oblong putihnya menyusul berjalan di belakang mereka dengan santai dengan wajah sumringah. 


“Woah! Ada apa ini?” Mina tersenyum yang dihampiri ketiga anaknya dan langsung dipeluk sebenarnya sudah bisa memperkirakan arti senyum dan wajah mereka yang terlihat bahagia. 


“Benar ada bayi di perut Ibu?” Yuna yang paling pertama bertanya. Tatapannya harap-harap cemas.


Mina tersenyum. Ia mengelus kepala Yuna dan mengangguk pelan. 


“Yessssss!” Ketiga anak langsung jingkrak-jingkrak. 


“Ada dua atau satu?” Juna menyusul Yuna bertanya. 


Mina langsung tertawa. 


“Belum tahu sayang! Kan belum cek ke rumah sakit. Hari ini kita akan tahu!” ujar Mina. 


“Kami boleh ikut ke rumah sakit? Please! Please!” ketiga anak memohon dengan cara yang imut dan membuat Mina tersenyuh.


“Ooh sayang! Tentu saja!” Mina mengangguk dan memeluk mereka.


“Terima kasih, Bu. Sekarang kami akan sarapan dan setelah itu bersiap. Mulai sekarang kami janji kami akan bantu Ibu dan berusaha tidak merepotkan Ibu,” Juna berkata. 


“Oh, manis sekali! Terima kasih ya!” Mina berkaca-kaca. 


“Ibu, boleh kami pegang perut Ibu?” Zen tersenyum sambil menatap Mina. 


“Tentu saja!” Mina mengangguk. 


Tangan Anak-anak yang mungil itu mendekati perut Mina dan mereka merabanya dengan sangat lembut dan hati-hati seolah khawatir. 


“Ade bayi, kami akan menjadi kakak yang baik,” ucap Juna.


“Iya, aku akan menjagamu,” sahut Zen.


“Yuna juga. Yuna akan jadi kakak yang baik!” kata Yuna. 


“Oh, kalian semua pasti akan menjadi kakak yang baik. Sekarang, kita sarapan ya! Ayo ke meja!” Mina memeluk mereka. Yungi yang menyaksikan tak jauh dari mereka terlihat begitu bahagia. Senyumannya lebar dan matanya berbinar. 


“Aku bantu siapkan!” ujar Yungi. 


“Kami juga akan siapkan,” ujar anak-anak. 


Mereka bersama menyiapkan sarapan pagi dan tak lama mereka sudah duduk di sana menikmati sarapan roti dan jus jeruk. 


***


“Waah, ini anak-anaknya cantik dan tampan-tampan ya?” Perawat yang bertemu dengan Mina dan Yungi  menunjuk pada Zen, Juna, dan Yuna. Mereka sedang mendaftar untuk pemeriksaan di rumah sakit dan salah satu perawat yang bertugas terlihat kagum pada anak-anak Yungi dan Mina. 


“Terima kasih,” ujar Yungi dengan sopan sambil menyunggingkan senyum. Ada nada bangga di dalamnya. 


Perawat menganggukkan kepala dan menunduk malu.  Wajah dan telinganya agak memerah. Sepertinya rasa kagumnya itu bukan hanya untuk anak-anaknya, melainkan ayahnya juga. 


“Ini anak yang keempat?” tanya perawat yang lainnya. 


“Iya,” jawab Mina sambil tersenyum. 


Perawat mencatatnya di sebuah buku. 


Setelah itu mereka duduk di ruang ruangan yang tak jauh di sana menunggu giliran dipanggil. 


“Apa kabar, Min?” dokter yang bertugas adalah dokter yang pernah membantunya melahirkan Zen. 


Dia agak kaget saat Yungi dan anak-anak berada bersamanya. 


Bagaimana tidak? Itu dokter yang sama yang menangani Erika juga dan dia tahu benar Yungi adalah ayah Juna dan Yuna. 

__ADS_1


“Oh, bagaimana ceritanya ini!” dokter tersenyum. 


“Ini Juna dan Yuna kan? Dan ini Zen?” dokter yang bernama Hans itu mengamati wajah anak-anak itu satu demi satu. 


“Ceritanya panjang, dok!” ujar Mina. 


“Ya, tidak apa-apa. Yang penting kalian sehat!” dokter itu tidak banyak bertanya. Usianya yang hampir mencapai 60 itu sepertinya sudah mengajarkan banyak hal. 


“Iya, terima kasih, dok!” sahut Mina. 


“Ini bukan kehamilan keempat kan ya, Min?” dokter mengamati catatannya.


“Bukan, dok! Ini ketiga.” Mina menjawab. 


“Bukan ketiga. Ini kedua kan, Bu?” Zen melihat ke arah Mina. 


Mina terkejut. Ia menelan ludah dan menatap Yungi. 


“Ah, anak-anak, karena ibu harus berbicara dulu dengan dokter, kalian ikut Papa dulu di luar ya! Ibu gugup jadi dia salah bicara. Nanti kalau USG kita kembali,” ujar Yungi dengan cepat ia paham dan membaca situasi. Ia berhasil menggiring ketiga anaknya keluar. 


“Maaf, saya hanya ingin memastikan catatan yang ditulis perawat, Min,” ujar dokter Hans. 


“Iya, tidak apa-apa. Catatan dulu menjelaskan kalau Mina hanya melahirkan sekali saja. Kenapa menjadi dua kali? Mina lupa atau bagaimana?” tanya dokter. 


“Sebenarnya, jauh sebelum Zen saya pernah melahirkan, dok! tapi tidak ada yang tahu.” Mina berkata dengan pelan. 


“Suamimu tahu?” dokter tampak tenang. Sepertinya cerita seperti itu juga sudah terlalu banyak ia dengar. 


“Yang mana dok? Ayahnya Zen atau yang ini?” Mina terlihat bingung. 


Dokter tersenyum. 


“Keduanya kalau begitu. Aku dengar ayah Zen meninggal dari Papamu. Aku ikut belansungkawa dan maaf waktu itu tidak datang ke acara pemakaman karena aku ikut seminar di Jerman,” dokter menjelaskan. 


“Tidak apa-apa dok! Terima kasih,” ujar Mina. 


“Awan tidak tahu, tapi Yungi tahu karena dia ayah Love dan Hope,” jelas Mina. 


“Love dan Hope?” dokter mengernyitkan alisnya.


“Saya melahirkan sewaktu kuliah, dok. Di Jepang. Bayinya kembar dan meninggal ketika usia mereka satu tahun.” Mina menjelaskan. 


“Ah begitu!” dokter menganggukkan kepalanya. Dia mencatat sesuatu di catatan medisnya. 


“Zen tidak tahu tentang ini!” sahut Mina. 


“Ya, saya bisa lihat itu!” sahut dokter lagi. 


“Bagaimana kok bisa berakhir dengan suami Erika? Ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan pekerjaanku dan tampak kepo ya! Tapi, .... Mina,  kamu perempuan yang cerdas dan baik, aku pikir kamu tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kusukai.” Dokter Hans menatap Mina. 


“Tidak, dokter. Aku tidak berselingkuh. Kami menikah karena anak-anak yang memintanya,” ujar Mina. 


“Oh, dan kamu mau begitu saja?” dokter itu bicara dengan nada menyindir.


“Sebenarnya, Yungi dan saya sudah sangat lama berteman. Dan tentang bayi kami yang meninggal itu, dia tidak tahu apa-apa sampai kami menikah, dok. Bagaimana aku bisa hamil anaknya juga bukan suatu cerita yang patut dibanggakan. Dia mabuk dan memaksa saya melakukannya dan saya merahasiakannya dari dia karena saya belum siap berbagi hidup dengan orang lain. Jadi, dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Jika saya bercerita kepada dia sewaktu saya hamil anaknya, saya tahu dia akan bertanggung jawab, meskipun kami tidak saling cinta.  Tapi saya tidak mau itu dan saya tidak menyesal melakukan itu dok.  Saya sangat berharap dokter bisa menyimpan ini sebagai bagian dari kerahasiaan pasien dan dokter saja.” Mina menjelaskan dan dari cara bicaranya ia memohon kepada dokter itu.


“Tentu saja. Saya sangat paham itu.” Dokter Hans tersenyum. 


“Ketika Erika bercerai dari Yungi, saya mengurus anak-anak Yungi, bukan karena Erika atau Yungi yang menitipkannya, tapi karena memang saya suka anak-anak, dok! Ketika Yungi akan menikah untuk kedua kalinya, calon istrinya kabur dan anak-anak jadi stres. Saya tidak bisa membiarkan itu. Anak-anak tidak boleh menderita seperti itu, terlebih anak-anak memohon agar saya menjadi ibu mereka,” sahut Mina. 


“Ah, begitu! Sekarang bagaimana? Ini bukan hasil paksaan juga?” dokter Hans menatap Mina. 


“Ini?” Mina menunjuk perutnya. Sang dokter mengangguk.


“Aduh, bukan dok! Tidak seperti itu!” Wajah Mina memerah. 


“Yungi dan saya, kami sedang berusaha untuk membangun keluarga. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak,” ujar Mina. 

__ADS_1


“Ah, gitu! Jadi cintanya nyusul ya!” ujar dokter sambil senyum-senyum. 


Mina tersenyum. Wajahnya memerah karena malu. 


“Baiklah! Itu cukup untuk membunuh rasa penasaran bagaimana kalian akhirnya bersama,” ujar dokter.


Mina tersenyum. 


“Panggil suami dan anak-anakmu. Kita akan lakukan USG. Jadi, mereka akan tahu,” ujar dokter itu.


“Iya,” sahut Mina. 


Dia berjalan keluar dan tak lama orang-orang yang diminta masuk, ditemani dua perawat yang dengan cepat mempersiapkan mesin USG dan mempersiapkan Mina di ranjang. 


Yungi tersenyum melihat Mina. Tangan mereka bertautan dan anak-anak terlihat antusias saat alat itu menunjukkan sesuatu di perut Mina melalui monitor yang tak jauh dari mereka. 


“Oh, ini hebat!” dokternya tetiba senyum lebar.


“Kenapa, dok?” Yungi terlihat bingung. 


“10 Minggu dan ada tiga kantung ya!” dokter mengedipkan satu matanya kepada Yungi. 


“Tiga kantung?” Yungi bingung.


“Bayinya kembar tiga,” jelas dokter sambil mengacungkan jempol. 


Anak-anak yang mendengarnya berteriak dengan gembira, tetapi dengan cepat Yungi membuat mereka tenang karena bagaimana pun mereka sedang di rumah sakit. 


Yungi dan Mina melotot karena kaget. Mereka saling menatap lalu tersenyum. 


“Jika sepuluh minggu, ini artinya saya hamil selama dua bulan lebih ya,dok! tapi saya menstruasi, dok!” Mina kaget.


“Iya, itu sering terjadi. Tidak apa-apa. Mungkin karena janinnya tiga jadi proses di dalamnya memerlukan waktu yang lebih dan kadang kalau lelah akan terjadi pendarahan.” dokter menjelaskan.


“Mens-nya ga lama kan?” tanya dokter.


“Iya, ga dok! satu sampai dua hari,” ujar Mina lagi.


“Tuh kan! kalau bahasa manusia mah lagi proses di dalam perutnya. lagi berbenah,” ujar dokter senyum. 


“Selamat ya, semuanya!” sahut dokter dan dia menulis resep untuk vitamin dan obat lainnya untuk Ibu hamil. 


“Terima kasih, dok!” sahut yungi. 


Setelah mengunjungi rumah sakit, mereka makan siang di sebuah restoran dan tak lelah anak-anak menunjukkan kebahagiaan mereka tentang kehadiran calon adik mereka dengan cara yang imut.


“Jadi, masing-masing dari kita bisa menjaga satu orang,” begitu kata Juna. Zen dan Yuna mengangguk sambil tersenyum bahagia.


Yungi dan Mina hanya saling menatap dan tertawa. 


“Mereka tidur juga akhirnya!” ujar Mina saat melihat ke kursi belakang mobil dan mereka terlelap dalam posisi duduk. 


“Mereka terlalu senang,” sahut Yungi. Mina mengiyakan. 


“Kamu ga craving for something, Babe?” tanya Yungi.


“Uhm, pengen jambu kristal.” Mina berkata dengan tenang.


“Oke, kita mampir dulu ke supermarket kalau gitu!” ujar Yungi. 


“Ga ah! Pengen beli dari emang-mang yang di pinggir jalan!” Mina menjawab sambil memperhatikan pinggir jalan.


“Oke, kalau gitu kita keliling aja dulu, nyari ya!” ujar Yungi. 


“Uhm,” jawab Mina.  


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2