
Semenjak kejadian mimpi basah itu, Yungi memilih menjauh dari Mina. Dia sudah berkonsultasi dengan gugel bahwa mimpi basah dari hasil dengan teman sendiri menunjukkan bahwa dia seorang yang gila dan maniak. Tentu saja itu tidak boleh terjadi. Pilihannya adalah menjauh supaya dia tenang.
Namun, semakin ia menjauh semakin ia merasa bahwa Mina dekat dengannya. Setiap kali ia punya masalah, Mina adalah orang yang pertama ada untuknya. Dan ini dalam banyak hal.
Dia pernah dipukuli oleh seorang lelaki dan teman-temannya yang mengaku bahwa dia adalah pacar dari perempuan yang pernah ia ajak ke hotel. Itu waktu dia kuliah. Tapi, itu bukan salah dia. Perempuan itu yang membayar uang hotel dan semuanya dan artinya perempuan itu yang menginginkan dia. Artinya juga dia tidak bersalah. Lalu kenapa sekarang jadi dia yang menjadi korbannya.
Waktu kejadian itu terjadi, sebenarnya orang yang dia hubungi itu Jun dan Justin, tapi yang datang Mina dengan wajah yang terlihat sangat khawatir ditemani Jay yang mengomel tidak jelas karena waktu itu dia nyaris pingsan.
"Yun, besok ada jadwal terapi. Jangan lupa ya! Nanti aku jemput," ujar Mina melalui telfon.
"Iya," ujar Yungi. Itu setelah tiga bulan kejadian.
“Pacarnya Mas Yungi udah cantik, ramah, baik, setia gitu! Keren, Mas. Mantap! Jangan dilepas tuh! Susah! Zaman sekarang dapetin yang gitu!” dokter terapi mengacungkan jempol ke Yungi sambil menatap Mina yang duduk di pinggir ruangan sambil berbicara dengan orang lain yang sepertinya sedang menunggu juga. Mereka terlihat saling menyunggingkan senyum dan berbicara dengan fokusnya.
“Bukan pacar saya, dok!” sahut Yungi. Dia agak kaget sambil melihat ke arah Mina.
“Oh, Istri!!” dokter tambah salah paham.
“Nikah muda, toh!” sambungnya sambil menganggukkan kepalanya.
“Eh, aduh! Bukan. Temen aja kok!” ujar Yungi sambil tersenyum.
“Oh! sayang sekali! Padahal dia baik, ramah, sopan, setia pula. Duh! Kalau dia mau ama saya alamat diembat hahaha!” dokter terapisnya tertawa.
Yungi diam. Dia menatap Mina yang kebetulan juga melihat ke arah Yungi.
Mina mengangkat kedua alisnya bingung. Yungi mengalihkan pandangannya.
“Kalau dia bukan pacar Mas, pacarnya yang sering ke sini sama dia?” tanya dokter kepo.
“Oh, bukan, dia temen juga. Kami satu circle,” jawab Yungi cepat. Dia tahu Mas yang dimaksud itu Jay.
“Oh, gitu! itu si Mbaknya udah punya cowok?” dokter tidak berhenti di sana.
Yungi diam. Dia baru menyadari dia tahu sedikit tentang kehidupan Mina.
“Min, kok kamu mau sih nganterin aku bolak-balik rumah sakit kayak gini!” Yungi melirik ke arah Mina. Mereka tengah berada di mobil Mina.
“Pake nanya segala!” Mina menggelengkan kepala. Tatapannya fokus pada jalan.
“Eh, ya harus nanya-lah! Kan aku jadi mikir yang iya-iya, gitu!” Yungi bilang lagi.
“Apa?” Mina melihat ke arah Yungi sebentar.
“Iya kali ... eh kamu ... su- ...su- ...suka sama aku, gitu?” Yungi berbicara tapi nadanya ragu.
Mina tertawa kecil.
“Iya, Yun! bener! Aku syuuuuuka bangeeet sama kamu. Aku tuh takut kamu sakit. Aku tuuh syayaaaaang bangeet sama kamu!” Mina berbicara dengan gaya yang puitis tapi semi mengejek dan menyindir. Kebetulan mobil berhenti karena lampu merah dan lalu lintas cukup padat juga, jadi ia bisa dengan leluasa melihat ke arah Yungi sambil mengedip-ngedipkan matanya centil.
“Hayang utah aing, Min ningali maneh jiga kitu (Aku ingin muntah liat kamu kayak gitu!)” Yungi memegang perutnya seolah benar-benar merasa mual.
“Amit-amit!” gumamnya.
__ADS_1
Mina tertawa renyah.
“Enya atuh barinage, Yungi! Maneh teh! (Iya makanya, Yungi, Kamu tuh gimana!). Kan kamu temen aku, Yun. Kalau yang lain bisa, aku ga ada di sini kali. Semuanya juga peduli sama kamu. Jangan mikir yang aneh-aneh, Yungi! Bersyukur aja kamu punya temen-temen yang baik!” Mina tertawa lagi.
Yungi tersenyum. Dia diam sejenak dan tetiba di otaknya muncul pertanyaan lain.
“Kamu dah punya pacar, Min?” tanya Yungi lagi setelah sempat ada keheningan sejenak di antara mereka.
“Ga tertarik dan ga ada niatan.” Mina menjawab singkat dengan tenang.
“Lesbi kamu?” Yungi menatap Mina.
“Ouch! That’s harsh! Jangan ngomong gitu Yun, kasian yang Lesbi! Aku ga tertarik yang begituan, pokoknya! Mau sendiri sampai mati,” sahut Mina.
“Hus! Jangan ngomong gitu!” Yungi kaget. Baru kali itu sebenarnya mereka ngobrol soal kehidupan pribadi.
“Emang kenapa? Kan ini kehidupan aku!” nada Mina terdengar agak kesal dan itu membuat Yungi diam sejenak.
“Jadi, yang bawah masih segel dong!” Yungi mencoba bercanda karena Mina sepertinya kesal.
“Tai maneh (Taik kamu!)” Mina manyun karena kesal.
“Duh! Jangan marah-marah mulu! Cuma nanya, Min. Ga boleh ya?” Yungi berbicara dengan nada yang agak menyesal.
“Turun Maneh! (Turun kamu!)” Mina makin kesal. Mina melihat ke arah Yungi sejenak.
“Ah oke! Aku diem!” Yungi langsung merebahkan dirinya dan pura-pura memejamkan matanya.
***
Malam itu Mina baru saja mengemas semua barangnya. Dia akan melakukan perjalanan ke Jepang dengan keluarganya. Liburan kuliah dan liburan keluarga juga. Rencananya mereka akan terbang besok malam, tapi keluarganya mau menginap di hotel di Jakarta satu malam, jadi mereka memutuskan untuk berangkat lebih awal.
Sayangnya, Mina tidak bisa berangkat bersama ke Jakarta. Ada satu pesanan kue pelangganya yang memesan di sore itu dan dia sudah berjanji untuk melakukannya. Mina sudah membuka bisnis kuenya sejak di tingkat satu kuliah dan dia senang karena dia sudah punya banyak pelanggan. Jadi, jika dia tidak melayani mereka dengan baik, dia khawatir pelanggannya akan berpindah ke yang lain. Jadi, dia memutuskan untuk pergi dari rumah dan langsung ke bandara.
Dia baru saja merebah saat menerima telfon.
“Yungi?” Mina mengernyitkan alisnya sambil menatap layar telfon. Itu cukup aneh untuknya. Seumur mereka berteman, Yungi hampir tidak pernah menghubunginya duluan.
“Halo!” Nada Mina penasaran dan suaranya bukan Yungi. Suara seorang lelaki itu adalah pelayan dari sebuah pub yang memberitahu bahwa temannya itu dalam keadaan mabuk parah dan harus dijemput pulang karena pubnya mau tutup.
Mina mengiyakan. Ia menutup telfon dan bergegas pergi menuju alamat yang disebutkan si pelayan. Ketika memasuki ruangan pub itu sudah sepi, Hanya tinggal Yungi yang tertidur di pojokan. Dibantu oleh pelayan yang sebelumnya menelfon, Mina membawa Yungi ke dalam mobil dan setelah itu ia berpikir sejenak. Bingung! Mau bawa si Yungi ke mana? Ke rumah dia tidak mungkin karena dia juga mau pergi besok! Ke base camp jauh dari lokasinya. Apa bedanya dengan membawanya ke rumahnya langsung. Akhirnya, dia memutuskan untuk membawa Yungi ke hotel terdekat.
“Si Brengsek ini bener-bener ga bisa jaga dirinya!” Mina kesal. Ia masih melajukan kendaraannya ke arah hotel. Sesampainya di sana pun, ia meminta bantuan seorang petugas hotel untuk membawa Yungi ke kamarnya.
Yungi tertidur di atas kasur dan pelayan hotel sudah membantu Mina membelikannya obat hangover dan juga mengganti bajunya yang terkena banyak muntahan dirinya sendiri dengan piyama hotel.
“Yun, aku balik ya! Besok aku harus pergi ke bandara pagi-pagi soalnya!” suara Mina pelan. Ia duduk di sebelah Yungi yang tengah terbaring. Yungi diam.
“Besok aku WA kamu deh!” sahut Mina lagi. Ia beranjak dari duduknya dan baru saja akan membalikkan badannya saat tetiba tangan Yungi memegang tangannya.
Mina kaget. Ia kembali duduk.
“......!” gumam Yungi.
__ADS_1
“Apa, Yun? Ga kedengeran!” ujar Mina. Dia mendekatkan telinganya ke mulut Yungi.
Dan tetiba kedua tangan Yungi memeluk Mina erat.
“Astagaa, Yungi!!” Mina kaget dan ia berusaha melepaskan dirinya.
“Pleaseeee! Aku ga suka sendirian! Jangan tinggalin aku. Jangan tinggalin aku sendirian, pleaseee, temenin aku, Min! Pleaseee!” Yungi nangis.
Mina tambah kaget. Dia diam tidak memberontak dan posisinya masih dalam pelukan Yungi.
Yungi mulai meracau. Tentang bagaimana perasaannya dengan keluarganya bahwa keluarganya tidak pernah mencoba untuk memahami dirinya atau perasaannya dan dia merasa dia diabaikan padahal dia anak satu-satunya. Dia juga bercerita tentang teman-temannya di circle 7 termasuk Mina yang Yungi pikir sangat misterius dan aneh dengan cara berpikirnya tentang hidup. Tapi dia juga menyebutkan hal-hal baik yang Mina dan teman-teman lain dalam Circle 7 lakukan untuknya dan dia sangat bersyukur untuk itu.
Mina hanya tersenyum saat mendengar ocehannya.
“Min,” lirih Yungi.
“Hmm?” jawab Mina dan mereka masih pada posisinya, berpelukan.
“Temenin aku ya! Jangan pergi!” bisiknya.
Mina diam.
Bingung! Kan dari tadi dia juga ga pergi ke mana-mana terus dia gimana bisa pergi, Yungi memeluknya kuat.
“Min, pleasee!” Yungi memohon. Ia menangis lagi.
“Iya, oke, nanti besok subuh aku pulang,” ujar Mina sambil tersenyum. Mereka saling menatap.
“Beneran?” Yungi tersenyum.
“Iya, aku ga akan ke mana-mana,” sahut Mina.
Yungi senyum. Dia dengan cepat menarik tubuh Mina dan membaliknya lalu menindihnya.
“Eh, Yun, mau apa?” Mina kaget. Dia tak sempat bilang apa-apa lagi karena bibir Yungi menggamit bibirnya dengan cepat.
“Yungi apaan sih! Lepasin!” Mina mendorong Yungi. Itu waktu bibir Yungi sudah berpindah ke bagian yang lain.
“Yungi, pleaseee! Jangan! Yungi,ga mau!” ratap Mina sambil masih melakukan perlawanan.
“Pleaseee! Aku ga mau ngelakuin sama seseorang yang ga akan inget apa-apa besoknya! Aku ga mau kayak gini! Yun, pleaseee!” suara Mina hampir habis, sama dengan tenaganya.
Mina terus berteriak dan seberapa besar usaha yang ia coba keluarkan menahan Yungi untuk tidak melakukan pemaksaan itu kepadanya, sama sekali tak membuahkan hasil.
Mina membekap mulutnya dengan kedua tangan mungilnya menahan tangisnya. Sementara Yungi tertidur lelap di sampingnya. Perlahan dia menuruni ranjang. Dia merasakan perih yang amat sangat di antara selangkangannya tapi dia harus menguatkan dirinya sebab dia ingin segera meninggalkan kamar itu. Setelah memunguti pakaiannya di lantai dan mengenakannya dengan cepat, dia berjalan keluar kamar sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang dibanjiri air mata.
Dia melajukan mobilnya sambil menangis sesenggukan dan di sepanjang jalan itu tak sekali pun mulut Mina berhenti mengeluarkan kata-kata sumpah serapah untuk Yungi. Beberapa kali ia memukul-mukul setirnya membuang amarah dan bahkan berteriak juga saat rasa perih di bagian bawahnya terasa semakin menusuk.
Sekali lagi Mina menangis di bawah shower. Kucuran air yang membasahi rambut dan tubuhnya tidak meredakan amarah di hatinya. Dan dia harus membawa kenyataan pahit itu bersama dengannya terbang ke Jepang.
Bersambung
__ADS_1