
Lina yang sedang duduk di sofa menonto tv itu membuka pesan di ponselnya.
kamu akan nyesal menolak aku Lin!!
isi pesan Adit kepada Lina. Lina benar benar ketakutan apa yang akan dilakukan Adit sebenarnya. Dan juga siapa yang akan dia lukai?? apakah mbak nya atau siapa??
Dia sangat ketakutan memikirkan itu.
Tanpa Lina sadari Adrian masuk ke apartemen.
Kamu ngelamunin apa?? tanya Ian.
Lina yang kaget atas kedatangan Ian hanya tersenyum.
Ada apa baby??
Bukan nya menjawab Lina malah membuka ponselnya dan menyodorkannya kepada Adrian.
Adrian membaca pesan itu! Dasar laki laki tak tau diri.
Aku takut dia nyakitin mbak Reni.
Atau mungkin yang lain atau jangan jangan kamu???
Lina mengeluarkan pertanyaan di otak nya itu dengan ketakutan.
Kenapa orang yang dulu dia cintai itu berubah???
Menyadari kekasihnya ketakutan Adrian langsung memeluknya.
Bagaimana kalau kita percepat pernikahan kita saja. Mungkin itu bisa menghentikan dia ucap Ian.
Lina mengangguk tanda setuju.
Kalau begitu lusa kita berangkat ke rumah kamu baby. Nanti aku akan ajak mama sama papa tutur Ian.
Lina kembali mengangguk, dia berharap setelah dia menikah Adit tidak akan mengganggunya lagi.
Sebenarnya Adrian ingin saja menyelesaikan Adit dengan cara menyuruh bos ya memecatnya. Adrian sudah menyelidiki Adit dan dia sudah tau tempat Adit bekerja. Dia bekerja di salah satu perusahaan sahabat Adrian. Dia tau tempat tinggal Adit. Tapi dia tidak mau menggunakan kekuasaannya, dan juga karena Adit adalah kekasih Reni. Yang tak lain tak bukan adalah mbak nya Lina.
__ADS_1
Kamu sudah makan baby??
Belum
Makan yok aku bawa makanan ini ajak Ian.
Lina mengikuti langkah Adrian yang sudah menuju meja makan.
Kamu gak mandi dulu sayang?? tanya Lina.
Nanti aja aku sudah kelaparan.
Tumben..
Dari siang aku gak makan baby!
Kenapa??
Gak selera!!! Gak ada kamu disana.
Ada ada aja, kaya bocah aja kamu Ian.
Gak ada rencana baby?? ucap Ian sambil melirik piringnya dan Lina bergantian.
Rencana apa?? tanya Lina purapura, padahal dia tau Adrian minta di suapi.
Gak ada ya,, ucap Ian kesal dan meraih sendok di piring nya.
Lina yang melihat tingkah Adrian hanya terkekeh, dia memang bingung dengan pria di samping nya ini. Dihadapan orang lain dia akan menjadi pria yang dingin dan sedikit arogan tapi di hadapannya Ian akan menjadi pria posesif dan kadang menjadi seperti anak kecil.
Lina menarik sendok di tangan Adrian dan mulai menyuapinya. Setelah menyendok ke mulut Adrian, pria itu kemudian menyodorkan sendok itu ke mulut Lina.
Kenapa makan aja di bikin ribet seh tutur Lina dalan hati.
Bagaiman kabar tanda kepemilikan ku baby tanya Ian pada Lina yang sedang duduk di meja rias mengaplikasikan cream malam nya ke wajahnya.
Udah mulai hilang, besok aku mau kerja ahhh bosen aku di rumah.
Iya.. iya.. besok kamu kerja baby jawab Ian yang sudah memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Sayang aku telepon mama dulu ya ucap Ian yang sedang mencium leher Lina.
Iya sana buru titah Lina.
Adrian meraih ponselnya dan mencari no mamanya dan langsung memanggil.
Tut.. tut..tut..
Tak lama Miskha mengangkat telepon Adrian.
Halo nak..
Halo ma..
Ma.. mama sama papa siap siap ya lusa kita berangkat ke rumah Kina untuk meminta restu ibu Lina. Aku dan Lina mau memperceat pernikahan ma, kalau bisa minggu depan.
Kenapa?? apa terjadi sesuatu?? apa kamu hamilin Lina?? bentak Miskha
Tenang aja ma .. mana berani aku hamilin.Tenang ma Iah belum khilaf kok tutur Ian terkekeh.
Miskha hanya tersenyum dia tau anaknya ini memang selalu patuh padanya
Baiklah ada masalah apa tanya Miskha.
Adrian pun menceritakan tentang Adit.
Baiklah nanti mama akan beritahu papa. Papa mu belum pulang.
Emang kemana ma?, inikan sudah malam.
Main catur di rumah tetangga.
Ok ma bye sampai ketemu lusa ucap Ian mematikan panggilannya.
Setelah itu dia mencari keberadaan Lina. Dia akhirnya menemukannya di balkon.
Adrian memeluknya dari belakang membenamkan wajahnya diantara leher dan pundak Lina, menghirup aroma tubuh Lina yang mejadi candu baginya.
Lina hanya tersenyum mengusap rambut Adrian. Adrian sangat nyaman dengan ini.
__ADS_1